Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MANUNGGALING RASA LAN SYARI’AT : EMOSI DALAM PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL Muhammad Mahfud; Solihin; Afifatus Sholeha; Sugiyanto; Abd. Hadi; Maksum; Titin Nurhidayati
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026) In Press
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1537

Abstract

Pendidikan Islam tradisional tidak hanya menekankan aspek kognitif dan normatif syariat, tetapi juga memberi ruang yang luas bagi pengelolaan emosi (rasa) sebagai bagian integral dari proses pembentukan adab dan karakter peserta didik. Konsep mununggaling rasa lan syariat merepresentasikan kesatuan antara dimensi batiniah dan lahiriah dalam praktik pendidikan Islam yang berakar pada tradisi tasawuf dan budaya Islam Nusantara. Namun, kajian mengenai peran emosi dalam pendidikan Islam tradisional masih relatif kurang mendapat perhatian dalam diskursus akademik modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dan peran emosi dalam pendidikan Islam tradisional melalui perspektif mununggaling rasa lan syariat, serta menelaah relevansinya terhadap pembentukan karakter dan internalisasi nilai-nilai keislaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis konseptual terhadap literatur klasik Islam, karya-karya tasawuf, serta kajian pendidikan Islam tradisional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa emosi dalam pendidikan Islam tradisional berfungsi sebagai medium utama internalisasi syariat, di mana rasa cinta, takut, hormat, dan ikhlas diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan kepatuhan etis. Integrasi rasa dan syariat terbukti membentuk relasi pedagogis yang humanis dan transformatif antara guru dan murid, sekaligus memperkuat pendidikan adab sebagai fondasi utama pembelajaran. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan dimensi emosional dan spiritual dalam praktik pendidikan Islam kontemporer sebagai upaya menyeimbangkan pendekatan kognitif dengan pembentukan karakter dan kesadaran moral peserta didik.
EMPAT MODEL HUBUNGAN AGAMA DAN SAINS MENURUT JOHN F. HOUGHT DAN RELEVANSINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Muhammad Mahfud; Asnawan; Fadilatul Fauziah; M. Khoiruddin; Sugiyanto; Solihin
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026) In Press
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1584

Abstract

Makalah ini mengkaji relasi antara agama dan sains berdasarkan perspektif pemikiran John F. Haught. Agama dipahami sebagai kepercayaan teistik terhadap Tuhan yang bersifat personal sebagaimana berkembang dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam, sedangkan sains dipandang sebagai usaha rasional dan empiris manusia untuk memahami gejala serta hukum alam semesta. Dalam perjalanan sejarah, hubungan antara agama dan sains sering kali diwarnai oleh ketegangan dan konflik yang bersumber dari perbedaan pendekatan metodologis, epistemologis, dan ontologis. Namun, dalam perkembangan pemikiran kontemporer, muncul kecenderungan untuk membangun dialog dan integrasi antara keduanya. Melalui pendekatan konseptual dan analitis, makalah ini menjelaskan pengertian agama dan sains serta mengulas empat model relasi agama dan sains menurut John F. Haught, yaitu konflik, kontras, kontak, dan konfirmasi. Keempat model tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara agama dan sains tidak selalu bersifat saling bertentangan, melainkan dapat bersifat dialogis dan saling melengkapi. Pendekatan konfirmasi menegaskan bahwa agama mampu memberikan kerangka makna, nilai, dan motivasi bagi aktivitas ilmiah, sementara temuan-temuan sains dapat memperdalam dan memperkaya pemahaman teologis. Oleh karena itu, integrasi agama dan sains menjadi penting untuk menghindari pemisahan pengetahuan secara dikotomis serta membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang realitas.
JEMBATAN ATAU JURANG? BEDAH KRITIS ATAS TUJUH MODEL INTERDISIPLINER DALAM KAJIAN ISLAM (DARI INTEGRASI HINGGA KONFLIK METODOLOGIS) Muhammad Mahfud; Fadilatul Fauziah; M. Khoiruddin; Solihin; Afifatus Sholeha; Sugiyanto; Abd. Hadi; Titarini; Muhammad Hori
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Januari 2026) In Press
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v3i1.1588

Abstract

Contemporary Islamic studies face new dynamics with the development of modern science. The interdisciplinary approach offers an opportunity to enrich the understanding of Islam but also has the potential to create methodological conflicts. This article examines seven interdisciplinary models in Islamic studies—ranging from integration, interconnection, critical dialogue, synthesis, Islamization of knowledge, critical deconstruction, to epistemological conflict models. Using a literature review approach, this paper explores the strengths, weaknesses, and academic implications of each model. The research findings suggest that the interconnection and critical dialogue models are the most adaptive for the development of modern Islamic studies, while the methodological conflict model tends to sharpen paradigm differences without achieving a common ground. This article concludes that the interdisciplinary approach has the potential to serve as a constructive bridge—provided it is conducted with a dialogical, critical, and non-hegemonic attitude.