Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Respons Peningkatan Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Bibit Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.) terhadap Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh dan Media Tanam yang Berbeda Al Adawiah, Alin Robiah; Rosniawaty, Santi; Anjarsari, Intan Ratna Dewi
Agrikultura Vol 34, No 1 (2023): April, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i1.42875

Abstract

Tanaman secang dapat diperbanyak secara generatif dengan melibatkan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) untuk memperbaiki perkecambahan dan meningkatkan pertumbuhan kecambah sebelum pembibitan. Sementara itu, media tanam yang tepat dibutuhkan pada saat pembibitan untuk mendukung pertumbuhan bibit yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan perendaman ZPT auksin dan sitokinin serta media tanam yang berbeda dalam meningkatkan persentase perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit secang. Penelitian dilakukan pada bulan September-Desember 2021 di Kel. Gunung Gede, Kec. Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada ketinggian 317 mdpl. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 14 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah perendaman benih secang menggunakan larutan ZPT (tanpa perendaman, perendaman dalam aquades, indole-3 acetic acid [IAA] 1,25 ppm, naphthalene-1-acetic acid [NAA] 1,25 ppm, 6-benyl amino purine [BAP] 1,25 ppm, IAA 1,25 ppm + BAP 1,25 ppm, NAA 1,25 ppm + BAP 1,25 ppm) dan jenis media tanam (topsoil, topsoil + pukan sapi 2:1). Hasil penelitian pada fase perkecambahan menunjukkan bahwa IAA + BAP 1,25 ppm mampu memberikan persentase perkecambahan dan kecepatan berkecambah terbaik sebesar 66,5% dan 7,3% KN/etmal. Hasil penelitian fase pembibitan menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan perendaman larutan ZPT dengan penggunaan media tanam terhadap jumlah daun dan diameter batang bibit secang pada umur 12 minggu setelah tanam (MST).  Perlakuan perendaman NAA 1,25 ppm + BAP 1,25 ppm memberikan hasil terbaik pada jumlah daun umur 6 MST dan diameter batang bibit umur 12 MST. Penggunaan media tanam topsoil mampu meningkatkan hasil jumlah daun dan bobot kering total bibit secang.
Potensi Bahan Organik Cair Berbasis Limbah Bonggol Pisang Terhadap Pertumbuhan Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Anjarsari, Intan Ratna Dewi; Primadi, Ilhamsyah; VZ, Cucu Suherman
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.46200

Abstract

Tersedianya unsur hara dan air yang cukup merupakan salah satu syarat untuk keberhasilan kegiatan pembibitan dalam perbanyakan tanaman teh. Pertumbuhan bibit yang baik ditandai dengan seimbangnya pertumbuhan perakaran dan batang dengan daun. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi dan interval pemberian bahan organik cair (BOC) bonggol pisang dalam meningkatkan pertumbuhan bibit teh serta untuk mendapatkan informasi konsentrasi dan interval BOC bonggol pisang yang memberikan pengaruh terbaik untuk pertumbuhan bibit teh. Percobaan dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Maret 2022 di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang berada pada ketinggian ±1.350 m dpl. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji yaitu pupuk urea sebagai kontrol, dan kombinasi konsentrasi BOC bonggol pisang (10%, 20%, 30% dan 40%) dengan interval pemberian BOC (7 dan 14 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BOC bonggol pisang pada konsentrasi 40% dengan interval 7 hari sekali (28,60 cm) memberikan pengaruh lebih baik untuk variabel panjang akar (12 MSP) dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik urea (19,88 cm).  Pemberian BOC bonggol pisang konsentrasi 10 – 40% yang dikombinasikan dengan interval aplikasi 7 hari dan 14 hari dapat menjadi alternatif pemupukan organik pada pembibitan setek teh klon GMB 7 yang berumur delapan bulan.
Keefektifan Penggunaan Pupuk Anorganik dan Aplikasi Kitosan dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Teh (Camellia sinensis L.) Rachman, Annisa Lugina; Anjarsari, Intan Ratna Dewi; Soleh, Mochamad Arief; Rezamela, Erdiansyah
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.53754

Abstract

Selama lima tahun terakhir, produktivitas teh di Indonesia cenderung fluktuatif dengan tren meningkat. Salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas tanaman teh adalah melalui pemupukan.  Aplikasi pupuk anorganik dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman the. Kitosan merupakan senyawa organik turunan kitin yang berasal dari limbah atau cangkang kepiting dan udang dimana salah satu peran dari  kitosan dapat meningkatkan kandungan klorofil sehingga diharapkan aktivitas fotosintesis tanaman  teh lebih efektif Pemberian pupuk anorganik N, P, K dan kitosan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pucuk teh sehingga terjadi peningkatan produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons morfologis, dan fisiologis tanaman teh menghasilkan klon GMB 7 serta menentukan kombinasi dosis pupuk anorganik dan bahan organik cair yang mengandung kitosan. Percobaan dilaksanakan pada bulan Juni 2023 sampai dengan September 2023  di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, Jawa Barat dengan ketinggian tempat 1.250 m dpl. Tanaman yang digunakan adalah tanaman teh menghasilkan (TM) klon GMB 7 umur  tujuh  tahun. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Percobaan terdiri dari sembilan perlakuan kombinasi pupuk anorganik dan kitosan  dan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pemberian pupuk anorganik N, P, K dan bahan organik cair kitosan pada tanaman teh menghasilkan klon GMB 7, berpengaruh  terhadap pertumuhan dan hasil  meliputi indeks klorofil daun dan nilai konduktansi stomata dan bobot segar pucuk, namun tidak berbeda nyata terhadap bobot kering pucuk dan rendemen pucuk. Perlakuan yang diberikan memberikan hasil yang berbeda-beda di setiap pengamatannya pada parameter jumlah peko, jumlah burung dan rasio peko-burung. Kombinasi pemberian 75% pupuk anorganik dan 30 ml/l bahan organik cair kitosan memberikan pengaruh yang paling baik terhadap bobot  pucuk segar tanaman teh klon GMB 7. Kombinasi ini juga memberikan pengaruh yang terbaik pada respons jumlah pucuk peko, jumlah pucuk burung, indeks klorofil daun dan nilai konduktansi stomata.