Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Proses Penyembelihan dan Waktu Mati Sempurna Sapi Bali sebagai Hewan Kurban di Kabupaten Manokwari Priyo Sambodo; Isti Widayati; Dwi Nurhayati; Alnita Baaka; Purwaningsih .; John A Palulungan; Rizki Arizona; Noviyanti .; Noveling Inriani; Elfira K Suawa; Sientje D Rumetor; Muhammad J Wajo
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.76415

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek kesejahteraan hewan berdasarkan tata cara pemisahan dan handling sapi ketika akan disembelih, berapa lama waktu maksimal sapi Bali yang disembelih mati sempurna dan indikator kematian apa yang paling lama hilang setelah sapi disembelih. Penelitian ini dilakukan pada 57 ekor sapi Bali yang disembelih di 5 masjid di Kabupaten Manokwari yang menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban. Pengamatan tata cara pemisahan dan handling sapi dilakukan dengan observasi. Waktu henti darah memancar dihitung sejak awal darah memancar sampai tidak lagi memancar. Indikator kematian lain (refleks pupil, refleks kornea, pernafasan ritmik, tonus rahang, tonus lidah, refleks ekor, refleks anus, dan refleks tracak) dihitung setelah waktu henti darah memancar diperoleh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data henti darah memancar dihitung rerata dan simpangan bakunya, sedangkan indikator lain disajikan dengan range tiap menit dalam tabel. Pemisahan antara lokasi penempatan dengan penyembelihan dan penggunaan kandang jepit modifikasi untuk handling telah dilakukan disebagian besar lokasi pengamatan. Waktu henti darah memancar pada penelitian ini adalah 2,93 menit. Refleks kornea dan tonus lidah merupakan indikator tercepat yang hilang, yaitu 4-5 menit setelah darah berhenti memancar, kemudian berturut-turut diikuti dengan pernafasan ritmik dan tonus rahang, yaitu masing-masing 5-6 menit serta refleks ekor dan refleks tracak, yaitu 6-7 menit. Refleks anus merupakan indikator terlama yang hilang, yaitu 7-8 menit setelah darah berhenti memancar. Kesimpulan: sebagain besar masjid telah memperhatikan kesejahteraan hewan berdasarkan lokasi dan tata cara penyembelihan. Sapi Bali sebagai hewan kurban di Kabupaten Manokwari mengalami mati sempurna pada menit ke 13,93 dan indikator kematian terakhir yang hilang adalah refleks anus.
KAJIAN DEOXYRIBONUCLEIC ACID (DNA) BARCODE PADA SPESIES Tarsius bancanus, Tarsius spectrum, DAN Tarsius dianae DENGAN MENGGUNAKAN GEN CYTOCHROME OXIDASE SUB-UNIT I (COX1) Alnita Baaka; Rini Widayanti
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.227 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.926

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman genetik gen COX1 pada Tarsius spectrum (T. spectrum), Tarsius dianae (T. dianae), dan Tarsius bancanus (T. bancanus). Sampel yang digunakan adalah 4 sampel jaringan T. spectrum asal Sulawesi Utara, 1 sampel jaringan T. dianae asal Sulawesi Tengah, 2 sampel jaringan T. bancanus asal Lampung, dan 3 sampel jaringan T. bancanus asal Kalimantan. Selanjutnya dilakukan isolasi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), pengurutan, dan data dianalisis menggunakan program MEGA v. 5.0. Hasil amplifikasi diperoleh produk PCR sebesar 1633 pasang basa (pb), hasil pengurutan DNA ditemukan 240 situs nukleotida dan 16 situs asam amino yang berbeda. Jarak genetika menggunakan Kimura-2 parameter paling tinggi 16,1%, paling kecil 0%, dan rata-rata 8,3%. Pohon filogenetika menggunakan metode Neighbor joining berdasarkan urutan nukleotida dan asam amino COX1 dapat membedakan antara T. bancanus, T. spectrum, dan T. dianae, namun tidak dapat membedakan antara T. bancanus asal Kalimantan dan T. bancanus asal Lampung.
Nugget daging kelinci sebagai alternatif protein hewani masyarakat Sekitar Cagar Alam Pegunungan Arfak: Rabbit meat nuggets as an alternative animal protein for Communities Around The Arfak Mountain Reserve Hotlan Manik; Fransiska R. V. Sitanggang; Freddy Pattiselanno; John Arnold Palulungan; Alnita Baaka; Angelina N. Tethool; Evi W. Saragih; Noviyanti Noviyanti; Noveling Inriani; Muhammad Junaidi; Merlyn N. Lekitoo
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v4i2.381

Abstract

ABSTRACT  Sigim and Sinaytousi Village communities are indigenous Papuans who live in buffer zones adjacent to Arfak Mountains Nature Reserve (CAPA). People with low of education, especially the economy, encourage community members close to the CAPA area to exploit forests to obtain animal food through poaching. Efforts to solve the problem using participative sociocultural approaches with transfer methods of science and technology, in the form of training and assistance in the production and processing of rabbit as an alternative animal protein. (2) Group partners have been able to implement a good rabbit breeding system through increased management and population capability through natural breeding systems, (3) nugget products rabbit meat has been accepted by the villagers. The activity is expected to be able to socialize the group's partners to the village area around the buffer area of arfak mountain nature reserve.  Keywords: Meat; Nuggets; Protein; Rabbit   ABSTRAK Masyarakat Kampung Sigim dan Sinaytousi merupakan suku asli Papua yang mendiami daerah penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak (CAPA). Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah terutama ekonomi sehingga mendorong anggota masyarakat yang berdekatan dengan areal CAPA untuk mengeksploitasi hutan untuk mendapatkan pangan hewani melalui perburuan liar. Upaya pemecahan masalah tersebut menggunakan pendekatan sosiokultural partisipatif dengan metode transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, berupa pelatihan dan pendampingan dalam produksi dan pengolahan hasil ternak kelinci sebagai alternatif protein hewani. Hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut diantaranya adalah (1) Mitra kelompok telah mampu memproduksi nugget daging kelinci secara mandiri (2) Mitra kelompok telah mampu menerapkan sistim beternak kelinci yang baik melaui peningkatan kemampuan manajemen dan populasi melalui sistim perkawinan alami, (3) Produk nugget daging kelinci telah diterima oleh masyarakat kampung. Kegiatan diharapkan mampu disosialisasikan mitra kelompok ke daerah kampung sekitar kawasan penyangga cagar alam pegunungan arfak. Kata kunci: Daging; Kelinci; Nugget; Protein
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OUTPUT PRODUKSI TERNAK BABI DI KABUPATEN MANOKWARI Stepanus Pakage; S Y Randa; Sara Yulanda Demetouw; Alnita Baaka
Wahana Peternakan Vol. 7 No. 2 (2023): Wahana Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v7i2.948

Abstract

This study's objective is to determine the factors that affect the output of pig production in Manokwari Regency. This survey included 30 local pig producers in total. Direct observation and questionnaires were used to gather data. The data can be analyzed using multiple regression. The results showed that the factors influencing the output of pig production in Manokwari Regency were the breeder's age, land and litter size. With an average breeder age of 45.30 years with an average ownership of 8.21 m2 and an average litter size of 5.63 tails.
Distribution, Development, Stabilizer, and Consumers Areas of Livestock and Forages-Based Crops; An Emperical Status of Bordered Keerom Regency, West New Guinea-Indonesia Mulyadi, Mulyadi; Gusbager, Piter; Sagrim, Meky; Runtuboi, Yubelince Yustencin; Iyai, Deny Anjelus; Inriani, Noveling; Baaka, Alnita; Pakage, Stepanus
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 34 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2024.034.03.5

Abstract

Distribution, development, stabilizer, and consumer areas status of livestock development become the objective of this research. Little is known concerning the portrait of livestock production in the neighborhood region of Indonesia and Papua New Guinea such as Keerom Regency in Papua Province. The descriptive method employed was using desk study. The measured parameters were population structure, carrying capacity, regional development, and suitability commodity using LQ. The finding shows that Skanto and Arso Timur hold the first two districts with a high population of the goat. The 2 districts out of 11 districts have no swine recorded. The Skanto District has the highest cattle population recorded, i.e. 4136,38 AU, followed by Arso Timur, Arso, and Arso Barat. Production of fodder from crop yields is harvested from Senggi and Arso, followed by Skanto, Web, Arso Barat, Yaffi, and Arso Timur. Corn is the highest production of crops. Senggi can be a central of livestock development, followed by Arso, Skanto, Web, and Arso Barat. The KPPTR calculation for Keerom regency shows Web district has the highest value of 379.31 ST, while the lowest is Skanto. The goat sector from the point of agribusiness density shows optimum values reached by the Skanto district. The cattle sector from the point of regional density is dominantly shown by Arso Barat. The cattle sector from the point of economic density is dominantly shown by the Skanto district. The criterion found commonly is very dense compared to dense, medium, and rare. The total values of this finding range from 6 to 12 for EU, EW, and UW. In the EU, the WK (CA) of the three commodities is greater found, i.e.  18 areas compared to WPP (DDA) only found 13 areas. The figures for cattle are under 0,50, not achieving 1,00 and greater than that of 1,00. Only in the Skanto district, the LQ mark of the goat reached 0,539. However, swine is the common livestock raised by farmers in Keerom Regency.
Peran juleha dalam pemantauan qurban di Masjid Darul Ulum Amban Manowari: The role of certified halal slaughterers (Juleha) in monitoring qurban slaughter at Darul Ulum Mosque, Amban, Manokwari Wajo, Mohamad Jen; Widayati , Trisiwi W.; Widayati, Isti; Nurhayati, Dwi; Tethool, Angelina N.; Baaka, Alnita; Purwaningsih, Purwaningsih; Noviyanti, Noviyanti; Inriani, Noveling; Arizona, Rizki; Palulungan, John A.; Sumpe, Iriani; Rumetor, Sientje D.; Saragih , Evi W.; Lekitoo, Merlyn N.; Manik, Hotlan
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v6i2.549

Abstract

ABSTRACT  This community service activity aimed to improve the technical compliance of qurban animal slaughter based on halal principles and animal welfare standards at Darul Ulum Mosque, Amban Village, West Manokwari District, Manokwari Regency. A case study approach with participatory techniques was employed, involving certified Halal Slaughterers (Juleha), qurban committees, university students, and experts. The activities covered antemortem inspection, slaughtering, postmortem examination, and meat distribution. The results showed that the slaughtering process was conducted in accordance with Islamic Sharia principles, ensuring the proper severance of the three main channels efficiently and swiftly. Postmortem inspection revealed parasitic infestations (fasciola hepatica and parampistomon) in several organs, which were handled appropriately following established protocols. Improvements are still needed in animal holding facilities, particularly regarding feed, water supply, and sanitation prior to slaughter. This program significantly enhanced the technical capacity of Juleha and the qurban committee, strengthening the implementation of halalan thayyiban and animal welfare principles at the mosque community level. Keywords: Animal welfare; halal slaughter; Juleha; postmortem inspection; qurban   ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan teknis penyembelihan hewan qurban sesuai prinsip halal dan kesejahteraan hewan (animal welfare) di Masjid Darul Ulum, Kelurahan Amban, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus dengan teknik partisipatif, melibatkan Juru Sembelih Halal (Juleha), panitia qurban, mahasiswa, dan tenaga ahli. Kegiatan dimulai dari pemeriksaan antemortem, penyembelihan, pemeriksaan postmortem, hingga distribusi daging. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh proses penyembelihan telah dilakukan sesuai prinsip syariat Islam, dengan memastikan pemotongan tiga saluran utama secara cepat dan efisien. Pemeriksaan postmortem menemukan infestasi parasit (fasciola hepatica dan parampistomon) pada beberapa organ, yang ditangani sesuai protokol. Faktor sanitasi dan ketersediaan pakan serta air di penampungan ternak sebelum pemotongan masih perlu ditingkatkan. Kegiatan ini berkontribusi nyata dalam meningkatkan kapasitas teknis Juleha dan panitia qurban serta memperkuat implementasi prinsip halalan thayyiban dan animal welfare di tingkat komunitas masjid. Kata kunci: Juleha; kesejahteraan hewan; pemeriksaan postmortem; penyembelihan halal; qurban
The Effectiveness of Integrated Farming Systems in Improving Household Food Security Kamakaula, Yohanes; Baaka, Alnita
West Science Nature and Technology Vol. 3 No. 03 (2025): West Science Nature and Technology
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/wsnt.v3i03.2248

Abstract

This study investigates the effectiveness of Integrated Farming Systems (IFS) in improving household food security in Indonesia using a quantitative approach. A total of 70 farming households were surveyed through structured questionnaires, with responses measured on a Likert scale (1–5). Data were analyzed using SPSS version 25, including descriptive statistics, reliability and validity testing, correlation, and regression analysis. The results show that IFS significantly and positively influence household food security, with the strongest effects observed on food availability and food accessibility, followed by food utilization and stability. Regression analysis confirmed that IFS explained 41.3% of the variance in household food security (β = 0.642, p < 0.001). These findings highlight that IFS not only increase food production and income but also contribute to dietary diversity and resilience against external shocks. The study concludes that integrated farming is an effective strategy to strengthen rural household food security and supports Indonesia’s broader goal of achieving sustainable food sovereignty.
KAJIAN DEOXYRIBONUCLEIC ACID (DNA) BARCODE PADA SPESIES Tarsius bancanus, Tarsius spectrum, DAN Tarsius dianae DENGAN MENGGUNAKAN GEN CYTOCHROME OXIDASE SUB-UNIT I (COX1) Baaka, Alnita; Widayanti, Rini
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.926

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman genetik gen COX1 pada Tarsius spectrum (T. spectrum), Tarsius dianae (T. dianae), dan Tarsius bancanus (T. bancanus). Sampel yang digunakan adalah 4 sampel jaringan T. spectrum asal Sulawesi Utara, 1 sampel jaringan T. dianae asal Sulawesi Tengah, 2 sampel jaringan T. bancanus asal Lampung, dan 3 sampel jaringan T. bancanus asal Kalimantan. Selanjutnya dilakukan isolasi deoxyribonucleic acid (DNA), amplifikasi dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), pengurutan, dan data dianalisis menggunakan program MEGA v. 5.0. Hasil amplifikasi diperoleh produk PCR sebesar 1633 pasang basa (pb), hasil pengurutan DNA ditemukan 240 situs nukleotida dan 16 situs asam amino yang berbeda. Jarak genetika menggunakan Kimura-2 parameter paling tinggi 16,1%, paling kecil 0%, dan rata-rata 8,3%. Pohon filogenetika menggunakan metode Neighbor joining berdasarkan urutan nukleotida dan asam amino COX1 dapat membedakan antara T. bancanus, T. spectrum, dan T. dianae, namun tidak dapat membedakan antara T. bancanus asal Kalimantan dan T. bancanus asal Lampung.
Curahan tenaga kerja dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemeliharaan entok di Distrik Wanggar Kabupaten Nabire : Outpouring of labor and factors affecting duck cultivation in Wanggar District, Nabire Regency Mawarni, Nafi’ah; Murwanto, Agustinus; Pakage, Stepanus; Baaka, Alnita; Nuhuyanan, Lambertus E.
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 14 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v14i1.392

Abstract

Abstract  This study aims to determine the amount of labor outpouring of duck farming and determine the effect of the number of livestock ownership, cage area, area for raising ducks freely, livestock experience on the outpouring of entok farming labor. This research was conducted in Wanggar District, Nabire Regency on July 4 – 24, 2022. The method used in this study is the descriptive method. The subject of this study was an entok breeder in Wanggar District, the sample of respondents studied was 52 breeders. The data analysis used is descriptive statistical analysis and to find out the comparison, multiple linear analysis is used with the stepwise method. The results of this study were obtained: (1) The outpouring of entok maintenance labor in Wanggar District has an average of 29.04 HOK/breeder/year with a standard deviation of 10.62 HOK/breeder/year. (2) The number of livestock ownership, the area of the pen, the area of the barn, and the experience of raising livestock together have no effect on the outpouring of labor. (3) The results of the stepwise regression analysis are only the number of livestock ownership which has a significant effect on the outpouring of labor. Every increase in the number of duck will increase the outpouring of labor by 0.1479 HOK / year. Keywords: Cage area; Farming ducks; Farming experience; Number of Livestock Ownership; Outpouring of Labor.   Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya curahan tenaga kerja pemeliharaan entok dan mengetahui pengaruh jumlah kepemilikan ternak, luas kandang, luas tempat umbaran, pengalaman beternak terhadap curahan tenaga kerja pemeliharaan entok. Penelitian ini dilaksanakan di Distrik Wanggar Kabupaten Nabire pada tanggal 4 – 24 Juli 2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Subjek penelitian ini adalah peternak entok di Distrik Wanggar, Sampel responden yang diteliti sebanyak 52 peternak. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan untuk mengetahui perbandingan digunakan analisis linear berganda dengan metode stepwise. Hasil penelitian ini diperoleh: (1) Curahan tenaga kerja pemeliharaan entok di Distrik Wanggar memiliki rata-rata sebesar 29,04 HOK/peternak/tahun dengan standar deviasi sebesar 10,62 HOK/peternak/tahun. (2) Jumlah kepemilikan ternak, luas kandang, luas tempat umbaran, dan pengalaman beternak secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap curahan tenaga kerja. (3) Hasil analisis regresi stepwise hanya jumlah kepemilikan ternak yang memiliki pengaruh nyata terhadap curahan tenaga kerja.  Setiap kenaikan jumlah ternak entok akan menambah curahan tenaga kerja sebesar 0.1479 HOK/tahun.. Kata kunci: Curahan Tenaga Kerja; Jumlah Kepemilikan Ternak; Luas kandang, Pemeliharaan Entok; Pengalaman beternak
Co-Authors A Yaku A. W. Wenda Abdul Rahman Ollong Aisyah Bauw Alexander Yaku Angelina N. Tethool Angelina N. Tethool Arizona, Rizki Chrysostomus, H. Y. Claude Mona Airin D D Rahardjo D Nurhayati D T.R Saragih D. A. Iyai Daniel Y. Seseray Darius Trirbo Deny Anjelus Iyai Deny Anjelus Iyai Deny Anjelus Iyai Desni Saragih Diana Sawen Djonly Woran Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati, Dwi Elfira Kariane Suawa Evi W. Saragih Fransiska R. V. Sitanggang Freddy Pattiselanno Fredrik R.S. Mauri Gusbager, Piter H Fatem H Mofu Hanike Monim Hans Mamboai Hotlan Manik Hotlan Manik Inriani, Noveling Iriani Sumpe Isti Widayati Isti Widayati Iyai, Deny Anjelus John Arnold Palulungan Lekitoo, Marlyn N M Arim M Baransano M L Orisu Makarius Bajari Maria Arim Mawarni, Nafi’ah Maya Novi Meky Sagrim, Meky Miksen M. Sangkek Mohamad Jen Wajo Mubarokah, Wida W. Muhammad J Wajo Muhammad J. Wajo Muhammad Junaidi Mulyadi Mulyadi Murwanto, A. Gatot Murwanto, Agustinus Noveling Inriani Noviyanti Noviyanti . Noviyanti Noviyanti Noviyanti Noviyanti Noviyanti Noviyanti, Noviyanti Nuhuyanan, Lambertus E. Onesimus Yoku Priyo Sambodo Priyo Sambodo Purwaningsih Purwaningsih Purwaningsih - Purwaningsih . Purwaningsih Purwaningsih Purwaningsih Purwaningsih Rinetha Stella Suabey Rini Widayanti Rini Widayanti Rizki Arizona Rizky Arizona Runtuboi, Yubelince Yustencin S Y Randa S Y Randa S. Pakage Sara Yulanda Demetouw Saragih , Evi W. Sembiring, Rinawati Sientje D Rumetor Sientje D. Rumetor Sintje Lumatauw, Sintje Siti Halimatus Saadiyah Stepanus R. Pakage dan B.W. Irianti Taberima, Sartji Trini Susmiati Wida W. Mubarokah Widayati , Trisiwi W. Widayati, Isti WIDODO, ALUSIUS PRATOMO EDI Wolfram Mofu Y Syufi Yafed Muyan Yafed Syufi Yohanes Kamakaula Kamakaula Yohanes Kamakaula Kamakaula