Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Implementation of Kurikulum Merdeka in creating a more effective learning environment Dede Supriatna; Laksmi Dewi; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 2 (2026): Inovasi Kurikulum, May 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i2.324

Abstract

Improving the quality of education by implementing the Kurikulum Merdeka to create an effective learning environment is crucial. This curriculum is designed to address the challenges of 21st-century learning through a flexible, student-centered approach. This study aims to analyze the effectiveness of the Kurikulum Merdeka implementation in creating an effective learning environment at Labschool Kebayoran Junior High School. The method used was a mixed-methods convergent parallel design that integrated quantitative and qualitative data. Data were collected through student questionnaires and teacher interviews. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative data were analyzed using the Miles and Huberman model. The results showed that most students assessed the implementation of the Kurikulum Merdeka as effective in creating a conducive learning environment and increasing activity and comfort during the learning process. However, obstacles persisted, including student confusion during the curriculum transition period and suboptimal mastery of the material by some teachers. In conclusion, the Kurikulum Merdeka is considered effective in improving the quality of the learning environment, though it requires greater teacher preparedness and ongoing student mentoring.   Abstrak Peningkatan kualitas pendidikan melalui implementasi Kurikulum Merdeka dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif sangat penting untuk dilakukan. Kurikulum ini dirancang untuk menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21 dengan pendekatan yang fleksibel dan berpusat pada murid. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas implementasi Kurikulum Merdeka dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif di SMP Labschool Kebayoran. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan desain convergent parallel yang mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui angket kepada murid serta wawancara dengan guru. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar murid menilai implementasi Kurikulum Merdeka mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif serta meningkatkan keaktifan dan kenyamanan dalam proses pembelajaran. Meskipun demikian, masih ditemukan kendala berupa kebingungan murid selama masa transisi kurikulum dan belum optimalnya penguasaan materi oleh sebagian guru. Kesimpulannya, Kurikulum Merdeka dinilai efektif dalam meningkatkan kualitas lingkungan belajar, meskipun memerlukan peningkatan kesiapan guru serta pendampingan berkelanjutan bagi murid. Kata Kunci: efektivitas pembelajaran; implementasi Kurikulum Merdeka; lingkungan belajar
Studi Independen Kampus Merdeka and industry collaboration in developing graduate competencies Neneng Halimatusadiah; Laksmi Dewi; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 23 No. 2 (2026): Inovasi Kurikulum, May 2026
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v23i2.332

Abstract

Political interference in teacher recruitment has become a critical issue in the education sector because it can impact the quality and integrity of the education system. In many cases, the recruitment process is influenced by political interests, nepotism, and unfair selection practices, thus undermining the principle of meritocracy. This situation can lead to the selection of teachers who lack professional qualifications and competencies, ultimately impacting the quality of education and the effectiveness of the learning process. This study aims to analyze the forms of political interference in teacher recruitment and assess their impact on the quality of education. This study conducted a literature review, analyzing academic journals and prior research on political interference and teacher recruitment. The data obtained were analyzed descriptively through thematic analysis to identify key patterns and findings.  The results show that political interference generally occurs through political pressure, manipulation of recruitment procedures, and bias toward certain candidates. These practices undermine teacher professionalism, reduce transparency in recruitment, and contribute to a decline in educational quality. This study concludes that a transparent, accountable, and merit-based recruitment system is crucial for minimizing political interference and improving the quality of education.   Abstrak Ketenagakerjaan Indonesia mengarah pada peningkatan kebutuhan tenaga kerja terampil di berbagai sektor industri pasca pandemi COVID-19, sementara pendidikan abad ke-21 semakin menekankan kurikulum yang fleksibel dan personal serta kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan masyarakat. Penelitian ini mengkaji bagaimana kebijakan Kampus Merdeka yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendukung kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dalam memperkuat kompetensi lulusan, dengan fokus khusus pada kegiatan Studi Independen. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur naratif dengan sintesis tematik terhadap artikel jurnal nasional dan internasional terindeks, prosiding, serta buku akademik yang terbit pada rentang 2019-2024. Tinjauan tersebut ditelaah, dikodekan, dan disintesis secara kritis berdasarkan tiga pertanyaan penelitian. Temuan menunjukkan bahwa integrasi yang kuat antara pendidikan tinggi dan industri memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dan menyelaraskan kurikulum dengan praktik industri yang aktual, sehingga secara substansial meningkatkan relevansi pendidikan dengan pasar kerja yang dinamis dan kompetitif serta memperkuat keterampilan pemecahan masalah dan soft skills mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan optimal kebijakan Kampus Merdeka memerlukan kolaborasi yang erat dan terkelola dengan baik antara perguruan tinggi dan industri untuk menghasilkan lulusan siap kerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan pasar kerja yang cepat, sehingga meningkatkan daya serap lulusan di dunia kerja. Kata Kunci: kampus merdeka; kolaborasi industri; kompetensi; studi independen
Model implementasi kurikulum Ornstein dan Hunkins: (modernisme dan postmodernisme) La Ode Muhammad Safarudin; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 18 No. 2 (2021): Inovasi Kurikulum, August 2021
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v18i2.36396

Abstract

Dalam menentukan arah penerapannya, kurikulum memerlukan model-model yang nantinya dapat dijadikan acuan, pedoman atau arahan bagi pergerakan kurikulum ke depan. Allan C. Ornstein dan Francis P. Hunkins dalam bukunya “Curriculum: Foundation, Principles, and Issues”, edisi ke-7, memaparkan model-model penerapan kurikulum, yang dibagi menjadi dua kategori model, yaitu model yang beraliran modernis dan model beraliran postmodernis. Dalam artikel ini, peneliti akan melihat sejauh mana perbedaan antara kedua jenis kategori model tersebut, dan apa implikasinya bagi implementasi kurikulum di Indonesia. Penulis menggunakan metode studi literatur pada artikel ini, yakni tentang model-model implementasi kurikulum modernisme dan juga postmodernisme. Temuan dalam penelitian ini yaitu terdapat perbedaan di antara model-model implementasi kurikulum tersebut (aliran modernisme dan aliran postmodernisme), dan juga model-model implementasi kurikulum tersebut memberikan pengaruh terhadap perjalanan kurikulum di Indonesia.  
Teacher efforts to prepare implementation of Kurikulum Merdeka in elementary school Isti Qotimah; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62003

Abstract

The Kurikulum Merdeka seeks to improve the quality of human resources according to community needs. This research aims to describe and analyze teacher readiness in implementing the Kurikulum Merdeka for elementary schools in Coblong District to determine the curriculum's implementation based on diverse school backgrounds. This research uses a quantitative approach through descriptive methods with instruments like questionnaires and documentation studies. The sample for this research was all elementary school teachers who implemented the Kurikulum Merdeka and were selected to run the Sekolah Penggerak program, totaling 45 teachers. The findings relate to teachers' emotional, cognitive, and behavioral readiness in implementing Kurikulum Merdeka. Most teachers are ready to implement Kurikulum Merdeka by participating in training and socializing with other teachers. Readiness is also demonstrated in designing, implementing, and assessing learning. Positive behavior towards curriculum implementation is realized through partnerships and time management efforts to achieve goals. Overall, in every aspect of teacher readiness, it shows that most Sekolah Penggerak elementary school teachers in Coblong District, Bandung City, are ready to implement Kurikulum Merdeka.   Abstrak Kurikulum merdeka berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kesiapan guru dalam implementasi kurikulum merdeka sekolah dasar Kecamatan Coblong guna mengetahui implementasi kurikulum berdasarkan latar belakang sekolah yang beragam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode deskriptif dengan instrumen berupa angket dan studi dokumentasi. Sampel penelitian ini adalah seluruh guru sekolah dasar yang menerapkan kurikulum merdeka dan terpilih untuk menjalankan program sekolah penggerak berjumlah 45 guru. Hasil temuan berkaitan dengan kesiapan emosi, kognitif dan perilaku guru dalam implementasi kurikulum merdeka. Sebagian besar guru siap mengimplementasikan kurikulum merdeka dengan mengikuti pelatihan maupun bersosialisasi kepada guru lainnya. Kesiapan juga ditunjukan dalam merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran. Perilaku positif terhadap implementasi kurikulum terwujud melalui adanya kemitraan dan upaya manajemen waktu untuk mencapai tujuan. Secara keseluruhan, pada setiap aspek kesiapan guru menunjukkan bahwa sebagian besar guru sekolah dasar penggerak di Kecamatan Coblong Kota Bandung telah siap mengimplementasikan kurikulum merdeka. Kata Kunci: Pendidikan; kurikulum; kesiapan guru; sekolah dasar
Instructional design research trends towards digital transformation of education systems in ASEAN Jajang Kusnendar; Deni Darmawan; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68630

Abstract

The curriculum implementation in ASEAN countries is interesting to examine, especially in order to achieve the direction of the digital transformation roadmap of the education system. Research on instructional design can be used as one of the parameters to understand how the general description of implementation achieves curriculum goals. This study aims to examine instructional design research in ASEAN countries during the period 2018-2024 on the implementation of the national curriculum towards the digital transformation of the education system through (1) investigating the general description of instructional design research, (2) examining research characteristics from aspects of research objectives, (3) explaining the implications of findings both theoretically and practically. The documentation study was conducted through bibliometric analysis of articles with keywords against article titles containing the phrase "instructional design" in ASEAN countries from the Scopus database, which produced as many as 37 selected articles during the 2018-2024 period. The results show that the general description and direction of instructional design research objectives in ASEAN countries have been presented comprehensively. Besides that, the theoretical and practical implications of instructional design research on the road map for digital transformation of education systems in ASEAN have been considered.   Abstrak Implementasi kurikulum di negara ASEAN menarik diteliti khususnya dalam upaya mencapai arah peta jalan transformasi digital sistem pendidikan. Riset tentang instructional design bisa dijadikan salah satu parameter untuk memahami bagaimana gambaran umum implementasi untuk mencapai tujuan kurikulum. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji riset instructional design di negara ASEAN selama periode 2018-2024 pada implementasi kurikulum nasional dalam menuju transformasi digital sistem pendidikan, melalui: (1) investigasi gambaran umum penelitian instructional design, (2) mengkaji karakteristik penelitian dari aspek tujuan penelitian, (3) menjelaskan implikasi temuan baik secara teoritis maupun praktis. Studi dokumentasi dilakukan melalui analisis bibliometrik terhadap artikel dengan kata kunci terhadap judul artikel yang mengandung frasa “instructional design” di negara ASEAN, dari database scopus yang menghasilkan sebanyak 37 artikel terpilih selama periode tahun 2018-2024. Hasil menunjukan bahwa gambaran umum dan arah tujuan penelitian instructional design di negara ASEAN telah tersaji secara komprehensif, selain itu implikasi teoritis dan praktis dari riset instructional design terhadap peta jalan transformasi digital sistem pendidikan di ASEAN sudah dianggap sejalan. Kata Kunci: bibliometrik; desain pembelajaran; kurikulum; pendidikan; transformasi digital
Integrating PjBL and service-learning to improve 21st-century skills in tourism education Rosita Rosita; Armandha Redo Pratama; Erry Sukriah; Rudi Susilana; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.69249

Abstract

Students must master 21st-century skills in preparation for success in a digital society. The development of these skills is closely related to deep learning, such as analytical reasoning, problem-solving, and teamwork. Learning models such as PjBL and service-learning are two constructivist learning models that have the potential to improve student learning outcomes in all cognitive, affective, and psychomotor aspects. This research aimed to assess tourism students’ learning outcomes in these three aspects in one of the courses that integrate PjBL and service-learning. The assessment results showed optimal learning outcomes in all three aspects of competency. These findings support the results of previous studies regarding the effectiveness of using PjBL and service-learning. Achieving optimal learning outcomes using these two learning models requires teachers who are ready to be open to changes in teaching practices, and flexible in planning students' learning experiences. However, there are still several significant obstacles in the implementation process that need further research.    Abstrak Keterampilan abad 21 harus dikuasai siswa sebagai persiapan untuk sukses dalam masyarakat digital yang berubah cepat. Pengembangan keterampilan ini terkait erat dengan pembelajaran mendalam, seperti penalaran analitik, pemecahan masalah, dan kerja tim. Model pembelajaran seperti PjBL dan service-learning merupakan dua model pembelajaran konstruktivis yang memiliki potensi meningkatkan capaian pembelajaran siswa di semua aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang mendukung keterampilan abad 21. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi capaian pembelajaran mahasiswa di ketiga aspek tersebut pada mata kuliah yang menerapkan penggabungan PjBL dan service-learning di Program Studi Manajemen Resort & Leisure, Universitas Pendidikan Indonesia. Hasil evaluasi menunjukkan capaian pembelajaran yang optimal di ketiga aspek kompetensi. Mahasiswa mampu mencapai tingkat teratas capaian pembelajaran baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Hal ini berarti pencapaian yang diperlukan pada tingkat yang lebih rendah pun telah berhasil dicapai. Meskipun demikian, pencapaian learning outcome yang optimal menggunakan kedua model pembelajaran ini membutuhkan pengajar yang siap bersikap terbuka terhadap perubahan dalam praktik pengajaran, dan fleksibel dalam merencanakan pengalaman belajar siswa. Kata Kunci: capaian pembelajaran; pendidikan pariwisata; project-based learning; PjBL; service-learning
Evaluation of the project for strengthening the Profil Pelajar Pancasila Mutiara Eka Betari; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 3 (2024): Inovasi Kurikulum, August 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i3.71960

Abstract

Basic education plays a crucial role in forming students' character and competencies. The Merdeka Curriculum in Elementary Schools carries out the Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) to instill Pancasila values and develop students into lifelong learners with character. Evaluation of the achievement of P5 is essential to ensure its effectiveness and identify areas for improvement. This research aims to evaluate the achievement of P5 in Elementary Schools using the CIPP Model. This research uses a descriptive evaluation method with data collected through interviews, observation, document study and questionnaires. The results of the context evaluation show that the curriculum at SDPN 252 Setiabudi, Bandung City follows the principles of Kurikulum Merdeka, providing freedom in adapting learning and integrating Pancasila values. Input evaluation shows that facilities are adequate, but several deficiencies need to be corrected. Teachers need additional training to understand the development of project modules. Process evaluation shows that the implementation of P5 is going well, but there are obstacles related to the lack of timeliness and coordination of the Expo-Project, requiring better planning. Product evaluation shows that P5 has succeeded in developing positive student behavior and awareness of Pancasila values.   Abstrak Pendidikan dasar berperan krusial dalam membentuk karakter dan kompetensi peserta didik. Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar mengusung Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dan mengembangkan peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat yang berkarakter. Evaluasi ketercapaian P5 menjadi esensial untuk memastikan efektivitasnya dan mengidentifikasi area perbaikan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi ketercapaian P5 di Sekolah Dasar menggunakan Model CIPP. Penelitian ini menggunakan metode evaluasi deskriptif dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, studi dokumen, dan angket. Hasil evaluasi konteks menunjukkan kurikulum di SDPN 252 Setiabudi Kota Bandung sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka, memberikan kebebasan dalam adaptasi pembelajaran dan integrasi nilai-nilai Pancasila. Evaluasi input menunjukkan fasilitas memadai, namun beberapa kekurangan perlu diperbaiki. Guru membutuhkan pelatihan tambahan untuk memahami pengembangan modul proyek. Evaluasi proses menunjukkan pelaksanaan P5 berjalan baik, tetapi ada hambatan terkait ketidaktepatan waktu dan koordinasi Expo-Project, memerlukan perencanaan yang lebih baik. Evaluasi produk menunjukkan P5 berhasil mengembangkan perilaku positif peserta didik dan kesadaran akan nilai-nilai Pancasila. Kata Kunci: CIPP; evaluasi proyek pembelajaran; P5; sekolah dasar
Analyzing Platform Merdeka Mengajar utilization in high school teachers in Jakarta Elsa Kurnia Hudiana; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.76185

Abstract

This study analyzes the utilization of the Platform Merdeka Mengajar by 5.046 teachers across 117 public high schools in Jakarta, aiming to evaluate the extent to which the platform is used by teachers in supporting the implementation of the Kurikulum Merdeka. The central research question is: To what extent do public high school teachers in Jakarta utilize the Platform Merdeka Mengajar to support the implementation of the Kurikulum Merdeka? Using a quantitative descriptive method, secondary data from the platform's dashboard were analyzed, focusing on three metric levels that measure activities such as independent training, teaching tools, assessments, and validated teacher actions. The findings reveal that independent training videos and teaching tools are the most frequently used features, reflecting their accessibility and relevance to teachers' professional needs. However, features such as webinars and validated actual actions show lower levels of participation, indicating a need for improvement in utilizing these features. This study concludes that the Platform Merdeka Mengajar holds great potential to support teacher professional development and the implementation of the Kurikulum Merdeka. However, further efforts are needed to enhance the use of underutilized features and adjust content to meet teachers' needs better.   Abstrak Penelitian ini menganalisis pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar oleh 5.046 guru di 117 SMA negeri di Jakarta, dengan tujuan untuk mengevaluasi sejauh mana platform tersebut digunakan oleh guru dalam mendukung penerapan Kurikulum Merdeka. Pertanyaan utama penelitian ini adalah: Sejauh mana pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar oleh guru SMA Negeri di Jakarta dalam mendukung penerapan Kurikulum Merdeka? Menggunakan metode deskriptif kuantitatif, data sekunder dari dashboard platform dianalisis, dengan fokus pada tiga level metrik yang mengukur aktivitas seperti pelatihan mandiri, alat pembelajaran, asesmen, dan tindakan nyata yang tervalidasi oleh guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur video pelatihan mandiri dan alat pembelajaran merupakan fitur yang paling banyak digunakan, mencerminkan aksesibilitas dan relevansinya dengan kebutuhan profesional guru. Namun, fitur seperti webinar dan tindakan nyata yang tervalidasi menunjukkan tingkat partisipasi yang lebih rendah, yang mengindikasikan perlunya peningkatan dalam pemanfaatan fitur-fitur tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Platform Merdeka Mengajar memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan profesional guru dan penerapan Kurikulum Merdeka, tetapi perlu upaya lebih untuk meningkatkan pemanfaatan fitur yang kurang digunakan dan menyesuaikan konten agar lebih sesuai dengan kebutuhan guru. Kata Kunci: impelementasi kurikulum; guru sekolah menengah atas; Kurikulum Merdeka; platform merdeka mengajar; PMM
Exploring cross-curriculum numeracy understanding and implementation in Santa Angela teachers Romlah Tresna Dewi; Rusman Rusman
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 1 (2025): Inovasi Kurikulum, February 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i1.78561

Abstract

Numeracy literacy is a key component in achieving the 4th Sustainable Development Goal and is part of Indonesia’s National Graduate Competency Standards, as outlined in Permendikbudristek No. 5 of 2022. However, data from the National Education Report Card over three years consistently shows that numeracy achievements lag reading literacy. Numeracy, a critical 21st-century skill, extends beyond mathematics, supporting students' ability to think critically and engage productively in a data-driven world. The Merdeka Curriculum highlights the significance of developing numeracy as a foundational competency across subjects. This study explores non-mathematics teachers' understanding and implementation of cross-curricular numeracy at Saint Angela Primary School. A mixed-methods approach was used, combining quantitative analysis of teacher responses to the questionnaire and thematic analysis of qualitative data on their views and experiences. Findings reveal that while most teachers have a solid understanding of numeracy and have attempted integration into lessons, the frequency of implementation remains low. Challenges include limited training, insufficient resources, and time constraints in lesson planning. This study underscores the need for enhanced teacher support and professional development to promote effective numeracy integration, with broader implications for curriculum design in primary education.   Abstrak Literasi numerasi merupakan komponen kunci dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-4 dan menjadi bagian dari Standar Kompetensi Lulusan Nasional Indonesia sebagaimana diatur dalam Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022. Namun, data dari Rapor Pendidikan Nasional selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan bahwa capaian numerasi secara konsisten lebih rendah dibandingkan capaian literasi membaca. Numerasi, sebagai keterampilan penting abad ke-21, tidak hanya relevan dalam pelajaran matematika, tetapi juga mendukung kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan berkontribusi secara produktif dalam dunia yang dipenuhi data. Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pengembangan numerasi sebagai kompetensi dasar lintas mata pelajaran. Penelitian ini mengeksplorasi pemahaman dan implementasi numerasi lintas kurikulum oleh guru nonmatematika di SD Santa Angela. Pendekatan metode campuran digunakan dengan analisis kuantitatif terhadap respons kuesioner guru serta analisis tematik terhadap data kualitatif terkait pandangan dan pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar guru memiliki pemahaman yang baik tentang numerasi dan telah mencoba mengintegrasikannya dalam pembelajaran, frekuensi penerapannya masih rendah. Tantangan utama meliputi kurangnya pelatihan, keterbatasan sumber daya, dan waktu untuk perencanaan pembelajaran. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan tambahan dan pengembangan profesional bagi guru untuk mendorong integrasi numerasi yang efektif, serta implikasinya terhadap pengembangan kurikulum di sekolah dasar. Kata Kunci: integrasi lintas kurikulum; kurikulum Merdeka; literasi numerasi