Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : FKIP e-PROCEEDING

PhET (PHYSICS EDUCATION TECHNOLOGY) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA Iwan Wicaksono; Indrawati Indrawati; Supeno Supeno
FKIP e-PROCEEDING Vol 5 No 1 (2020): Prosiding Webinar Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran IPA saat ini menekankan pada pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat. Simulasi interaktif PhET (Physics Education Technology) mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret melalui penciptaan tiruan-tiruan bentuk pengalaman mendekati suasana sebenarnya dalam berjalan dalam situasi tanpa resiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keefektifan media pembelajaran simulasi interaktif PhET (Physics Education Technology) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMP. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan one group pre-test post-test design. Subjek penelitian meliputi SMPN 5 Situbondo, SMPN 2 Srono Banyuwangi, SMPN 1 Prajekan Bondowoso, Mts Negeri 1 Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis melalui skor N-gain siswa 0,63 berkategori sedang. Nilai rata-rata pre-test sebesar 44,54 sedangkan nilai rata-rata post-test sebesar 81,45. Hasil analisis dengan menggunakan uji paired sample t-test menunjukkan nilai taraf signifikansi sebesar 0,00 (<0,05) yang artinya ada perbedaan rata-rata antara pre-test dengan post-test, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan media pembelajaran simulasi interaktif PhET (Physics Education Technology) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP.
LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS INKUIRI DENGAN BANTUAN SCAFFOLDING KONSEPTUAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PENALARAN ILMIAH FISIKA SISWA SMA Puji Utami; Supeno Supeno; Singgih Bektiarso
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Scientific reasoning atau penalaran ilmiah merupakan suatu kemampuan untuk dapat membantu siswa menyelesaikan persoalan kognitif, mengenalkan kepada siswa mengenai ide yang berubah, serta alasan untuk perubahan ide tersebut. Penalaran ilmiah merupakan suatu keterampilan abad 21 yang sangat penting diajarkan di kelas sains sebagai upaya untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan dunia yang berubah. Pembelajaran fisika di sekolah diharapkan dapat mengembangkan kemampuan bernalar siswa melalui hasil pengamatan terhadap fenomena alam yang ada serta dapat menunjukkan alasan yang tepat tentang mengapa dan bagaimana fenomena tersebut dapat terjadi. Data dari penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kemampuan penalaran ilmiah yang dimiliki oleh siswa masih rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan penalaran ilmiah adalah dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Namun, penerapan penalaran ilmiah yang kompleks dengan model pembelajaran inkuiri masih mengalami kesulitan terutama dalam hal melibatkan siswa dalam proses inkuiri. Sehingga peneliti menawarkan solusi dengan membuat LKS berbasis inkuiri dengan bantuan scaffloding konseptual. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan dilaksanakan di kelas XI MIPA di SMA. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa LKS berbasis inkuiri disertai scaffolding konseptual dapat digunakan untuk pembelajaran berbasis inkuiri sehingga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan penalaran ilmiah fisika siswa SMA. Kata Kunci : scientific reasoning; scaffolding konseptual; inkuiri
MEDIA PICTORIAL RIDDLE BERBASIS PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA I Ketut Mahardika; Indrawati Indrawati; Supeno Supeno
FKIP e-PROCEEDING Vol 5 No 1 (2020): Prosiding Webinar Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu road maps penelitian KeRis 21st Century Science Teaching Model (21st Century STM) yang mampu mendorong keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran diperlukan di era new normal ini. Media pictorial riddle merupakan suatu media pembelajaran berupa gambar teka-teki yang menggambarkan suatu masalah yang ada di lingkungan sekitar serta pendekatan inkuiri merupakan pendekatan belajar dengan menggunakan pendekatan induktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keefektifan media pictorial riddle berbasis pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan one group pre-test post-test design. Subjek penelitian meliputi: siswa di SMAN 1 Cluring Banyuwangi, SMAN 3 Jember, SMAN 1 Prajekan Bondowoso, dan SMAN 1 Panarukan Situbondo. Data penelitian yang diperoleh menunjukkan, terdapat peningkatan nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa skor N-gain menunjukkan hasil sebesar 0,54 berkategori sedang. Nilai rata-rata pre-test ke empat sekolah sebesar 43,25 sedangkan nilai rata-rata post-test sebesar 79,58. Hasil analisis dengan menggunakan uji paired sample t-test menunjukkan nilai taraf signifikansi sebesar 0,00 (< 0,05), dapat di artikan terdapat perbedaan rata-rata antara pre-test dengan post-test, sehingga mengindikasikan pengaruh penggunaan media pictorial riddle berbasis pendekatan inkuiri dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMA.
IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERSTRUKTUR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SCIENTIFIC EXPLANATION SISWA SMA Teguh Wijayanto; Supeno Supeno; Singgih Bektiarso
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan penjelasan ilmiah (scientific explanation) adalah suatu kemampuan dalam bernalar yang dapat membantu siswa dalam memahami ilmu pengetahuan dalam hal penyelidikan ilmiah. Terdapat tiga komponen penting yang harus ada dalam penjelasan ilmiah. Komponen tersebut diantaranya klaim, bukti, dan penalaran. Fakta di lapangan membuktikan bahwa siswa memiliki tingkat scientific explanation rendah, dibuktikan dalam menjawab soal penjelasan dimana siswa masih belum bisa memberikan suatu bukti nyata dalam fenomena alam yang memperkuat penjelasan. Siswa cenderung tidak jelas dalam menyampaikan kesimpulan yang telah didapatkan melalui proses penyelidikan. Sehingga perlu adanya suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan scientific explanation siswa. Kemampuan scientific explanation ini dapat diterapkan melalui pembelajaran berbasis penyelidikan yakni Inkuiri. Pembelajaran inkuiri secara terstruktur adalah suatu model pembelajaran inkuiri dengan level terendah sehingga dapat mudah diterapkan terhadap siswa yang belum pernah diberikan model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran inkuiri terstruktur dapat melatih siswa untuk berpikir secara kritis dengan menemukan atau memecahkan sendiri tentang suatu permasalahan yang telah didapatkan dengan panduan guru. Pada penerapannya diperlukan suatu stimulus berupa LKPD sebagai sarana berlatih siswa dalam kegiatan pembelajaran, hal tersebut diterapkan untuk meningkatkan kemampuan scientific explanation siswa. Implementasi model pembelajaran inkuiri terstruktur dapat meningkatkan kemampuan scientific explanation siswa.Kata Kunci: scientific explanation, inkuiri terstruktur, LKPD
MODEL GUIDED INQUIRY DISERTAI TEKNIK PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN FISIKA Ayu Wulansari; Singgih Bektiarso; Supeno Supeno
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model pembelajaran guided inquiry merupakan suatu kegiatan belajar mengajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, dan analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Fakta dilapangan dalam pembelajaran guided inquiry siswa masih merasa kesulitan dalam proses pembelajaran. Untuk mempermudah siswa dalam proses pembelajarannya maka disertai teknik peta konsep. Dimana teknik peta konsep dapat digunakan untuk mengungkapkan konsepsi, menyelidiki apa yang telah diketahui, menolong siswa mempelajari cara belajar, dan sebagai alat evaluasi. Adapun langkah-langkah pembelajaran guided inquiry yaitu mendapatkan perhatian dan menjelaskan proses inquiry, menyajikan permasalahan inquiry atau kejadian yang tidak sesuai, Meminta siswa merumuskan hipotesis untuk menjelaskan permasalahan atau kejadian, mendorong siswa untuk mengumpulkan data untuk menguji hipotesis, merumuskan penjelasan dan/atau kesimpulan, merefleksikan situasi bermasalah dan proses berpikir yang digunakan untuk menyelidiki. Dengan demikian, siswa dapat dengan memudah memahami materi kaitan konsep-konsep yang telah dipelajarinya.Kata kunci: model guided inquiry, pembelajaran fisika, peta konsep
PENGARUH MODEL PROBLEM-BASED LEARNING BERBASIS CONTROVERSIAL ISSUES PADA PEMBELAJARAN IPA TERHADAP KETERAMPILAN ARGUMENTASI ILMIAH SISWA SMP Supeno Supeno; Miftahul Hasanah; Ulin Nuha
FKIP e-PROCEEDING 2022: Seminar Nasional N-ConferSE III 2022
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Scientific argumentation is one of the skills students really need in this century. Learning science by involving argumentation skills will provide opportunities for students to build knowledge and understanding with all the right information, link between stigmas, and improve thinking skills. The reality in the field is that students still have difficulty in developing their argumentation skills. In an effort to improve scientific argumentation skills, several learning innovations are needed that can go hand in hand with indicators of scientific argumentation skills in building students' familiarity with these skills. Therefore, this study aims to determine the effect of using the controversial issues-based Problem-Based Learning model on students' scientific argumentation skills. The sample used in this study was 64 class VII students of SMP N 7 Jember with a quasi-experimental research design in which the control class and the experimental class were randomly selected. Students' argumentation skills were measured using a post-test after several science learning meetings were held by applying the problem-based learning model accompanied by controversial issues in the experimental class. The results showed that there were differences in scientific argumentation skills in the experimental class using PBL learning based on controversial issues. Evidenced by the significant influence of controversial issues-based PBL on students' scientific argumentation skills based on accumulated data on the average mean value in the experimental group (79.94) and in the control class (62.82), data on improving scientific argumentation skills is strengthened by the value of the independent t-test. In the t-test sig.(2-tailed) is at 0.000 where <0.05 this indicates that there is a difference between the control class and the experimental class.
Pengaruh Model Problem-Based Learning Berbasis Controversial Issues pada Pembelajaran IPA terhadap Keterampilan Argumentasi Ilmiah Siswa SMP Miftahul Hasanah; Supeno Supeno; Ulin Nuha
FKIP e-PROCEEDING 2022: Seminar Nasional N-ConferSE III 2022
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Argumentasi ilmiah merupakan salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan peserta didik untuk abad ini. Pembelajaran IPA dengan melibatkan keterampilan argumentasi akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membangun pengetahuan dan pemahaman dengan segala informasi yang tepat, mengaitkan antara stigma, dan meningkatkan keterampilan berpikir. Realita di lapangan siswa masih kesulitan dalam mengembangkan keterampilan argumentasinya. Dalam upaya meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah, diperlukan beberapa inovasi pembelajaran yang dapat berjalan beriringan dengan indikator keterampilan argumentasi ilmiah dalam membangun keakraban siswa dengan keterampilan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model Problem-Based Learning berbasis controversial issues terhadap keterampilan argumentasi ilmiah siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 64 siswa kelas VII SMP N 7 Jember dengan desain penelitian quasi eksperimen dimana kelas kontrol dan kelas eksperimen dipilih secara acak. Keterampilan argumentasi siswa diukur menggunakan post-test setelah dilakukan beberapa pertemuan pembelajaran IPA dengan menerapkan model problem-based learning disertai dengan controversial issues pada kelas eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan keterampilan argumentasi ilmiah pada kelas eksperimen dengan memakai pembelajaran PBL berbasis controversial issues. Dibuktikan dengan adanya pengaruh signifikan PBL berbasis controversial issues terhadap keterampilan argumentasi ilmiah siswa berdasarkan akumulasi data rata-rata nilai mean pada kelompok kelas eksperimen (79.94) serta pada kelas kontrol (62.82), data peningkatan keterampilan argumentasi ilmiah diperkuat dengan nilai independent t-test. Dalam uji t-test sig.(2-tailed) berada di angka 0.000 dimana < 0.05 hal tersebut menandakan adanya perbedaan antarkelas kontrol maupun kelas eksperimen.