Claim Missing Document
Check
Articles

Monitoring End-Tidal CO2 pada Wanita Hamil: Fokus pada Keselamatan Pasien Yulianti Bisri, Dewi; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 3 (2024): November
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i3.195

Abstract

Pada seksio sesarea, keselamatan pasien adalah menjaga keselamatan ibu dan bayi. Anestesi untuk seksio sesarea dapat dilakukan dengan anestesi umum, anestesi neuraxial atau gabungan spinal-epidural. Keuntungan dari anestesi umum termasuk induksi cepat, keandalan, reproduktifitas, pengendalian, menghindari hipotensi. Sedangkan kelemahan anestesi umum meliputi kemungkinan aspirasi ibu, masalah penatalaksanaan jalan napas, narkotisasi neonatus, dan awarenes ibu. Efek anestesi umum pada bayi adalah karena penyebab fisiologis dan farmakologis. Penyebab fisiologis meliputi hipoventilasi ibu, hiperventilasi ibu dan pengaruh perpanjangan waktu induction-delivery dan uterine incission-delivery yang mempengaruhi aliran darah uteroplacental, sedangkan penyebab farmakologis adalah obat induksi anestesi, obat blokade neuromuskuler, konsentrasi oksigen rendah, N2O dan anestesi inhalasi. Masalah manajemen jalan napas adalah masalah terbesar karena mungkin jalan napas yang sulit pada wanita hamil mengingat adanya kenaikan berat badan dan lingkar leher, leher relatif pendek, dan buah dada membesar. Hipoventilasi akan mengurangi ketegangan oksigen pada ibu dan pada gilirannya akan menyebabkan perubahan asam-basa neonatal atau depresi biokimia. Hiperventilasi ibu juga dapat menimbulkan potensi bahaya pada janin selama anestesi umum dengan mengurangi tekanan oksigen janin. Kesimpulannya, pemasangan kapnograf pada ibu hamil yang dilakukan dengan seksio sesarea dengan anestesi umum mutlak diperlukan untuk memeriksa keberhasilan intubasi dan menentukan end-tidal CO2.
Preeklampsia dan Risiko Penyakit Kardiovaskuler di Masa Depan Yulianti Bisri, Dewi; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 8 No 1 (2025): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v8i1.194

Abstract

Preeklampsia adalah gangguan kehamilan spesifik yang mengakibatkan hipertensi dan disfungsi multiorgan, merupakan penyebab utama kematian ibu di seluruh dunia dan mempengaruhi 2% hingga 8% dari semua kehamilan. Didefinisikan sebagai timbulnya hipertensi setelah kehamilan 20 minggu dengan proteinuria, disfungsi organ, atau disfungsi uteroplacental. Ada bukti bahwa efek ini bertahan setelah bayi dilahirkan. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, faktor risiko untuk terjadi preeklampsia adalah obesitas, hipertensi kronis, diabetes mellitus, penyakit ginjal kronis, preeklampsia sebelumnya, lupus eritematosus sistemik, usia >40 tahun, primiparitas, kehamilan ganda, fertilisasi in vitro, dan riwayat keluarga preeklampsia. Preeklampsia dikaitkan dengan insiden di masa depan untuk peningkatan kejadian gagal jantung 4 kali lipat dan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan kematian karena jantung koroner atau penyakit kardiovaskular 2 kali lipat. Pre-eklampsia terkait dengan risiko serangan jantung empat kali lipat lebih tinggi dalam satu dekade setelah melahirkan. Oleh karena itu, penting dilakukan pemantauan faktor risiko kardiovaskular seumur hidup pada wanita dengan riwayat preeklampsia.
Kehilangan Penglihatan Pascabedah Laminektomi dalam Posisi Prone Sumardi, Fitri Sepviyanti; Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.038 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i4.193

Abstract

Kehilangan penglihatan pascabedah nonocular sangatlah jarang, akan tetapi, harus dipertimbangkan sebagai komplikasi pascabedah yang tidak diinginkan. Kehilangan penglihatan unilateral atau bilateral secara tiba-tiba yang terjadi pascaanestesia umum telah dilaporkan dan dihubungkan dengan berbagai sebab diantaranya syok haemorhagik, hipotensi, hipotermia, kelainan koagulopathi, trauma langsung, emboli, dan penekanan pada bola mata yang berlangsung lama. Kasus: seorang laki-laki berusia 60 tahun dengan diagnosis radiculopathi setinggi L4 e.c protunded disc L4-5 dan L5-S1 yang menjalani laminektomi dalam anestesi umum. Terjadi komplikasi pascabedah berupa kehilangan penglihatan yang disertai opthalmoplegi total akibat oklusi arteri retina sentralis, sindroma kompartemen orbita akut, dan pseudotumor tipe miositis.Visual Loss after Prone Lumbar Spine SurgeryVisual loss after nonocular surgery is a rare but devastating postoperative complication. Sudden unilateral or bilateral visual loss occurring after general anesthesia has been reported and attributed to various causes including haemorrhagic shock, hypotension, hypothermia, coagulopathic disorders, direct trauma, embolism, and prolonged compression of the eyes. Case: a man, 60 years-old with diagnosis radiculopathy in level L4 e.c. protunded disc L4-5 and L5-S1 who required laminectomy in general anesthesia. An unusual complication of visual loss with total opthalmoplegy was caused by central retina artery occlusion, acute ischemic orbital compartement syndrome, and pseudotumor type myositis.
Pressure Reactivity Index (PRx): A Concept to Optimize Cerebral Perfusion Pressure in Traumatic Brain Injury Uhud, Akhyar Nur; Bisri, Dewi Yulianti; Jasa, Zafrullah Khany; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24244/jni.v14i2.693

Abstract

Two common factors contributing to poorer outcomes in TBI patients are high intracranial pressure (ICP) and low cerebral perfusion pressure (CPP). These two factors constitute a vicious circle that will have a negative impact on TBI patients. An increase in ICP will cause a decrease in CPP, while a reduction in CPP will cause ischemia, which will worsen the high ICP. However, increasing the CPP by increasing MAP will not help the situation; in fact, it may worsen the impact due to impairment of cerebral autoregulation (CA). Therefore, it is critical to manage TBI patients with an ideal CPP. Pressure reactivity index (PRx) is a measurement of the linear relationship between the mean arterial pressure (MAP) and ICP. A positive correlation between ICP and MAP indicates an impairment of CA, which suggests a suboptimal CPP value. The basis of PRx theory is that the rise, because of the presence of CA, an increase in MAP should not be followed by the rise in ICP because there is a compensatory effect in the form of a decrease in cerebral blood volume, so that ICP does not increase. That being said, this mechanism will not work when the limit of autoregulation is exceeded. Based on PRx and CPP, an optimal CPP could be obtained by using a U-shaped curve. The outcomes of TBI patients can be enhanced by treating them according to their optimal CPP (CPPopt).
Managemen Anestesia Spinal untuk Seksio Sesarea Wanita Hamil dengan Morbid Obesitas dan Preeklampsi Berat Yulianti Bisri, Dewi; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 8 No 2 (2025): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v8i2.221

Abstract

Seksio sesarea mempunyai berbagai masalah dengan harus mempertimbangkan keselamatan ibu dan bayi. Preeklampsi merupakan penyulit kehamilan. Obesitas juga merupakan penyulit kehamilan. Penyulit preeclampsi dan obesitas dapat mempengaruhi seluruh organ tubuh dan bukan saja pada masa kehamilan dan post partum, akan tetapi, juga beberapa bulan-tahun setelah selesai masa nifas. Seorang perempuan umur 28 tahun dengan G1P0A0 mengalami hipertensi sejak umur kehamilan 20 minggu, berat badan sekarang 107 kg, tinggi badan 167 cm, BMI 38,36 kg/m2, sedangkan berat badan waktu diketahui positip hamil sekitar 70 kg. Obat yang diberikan preoperasi adalah methyldopa 3 x 250 mg per oral dan di high care unit (HCU) diberikan nicardipin intravena 3,4 mL/jam (2 ampul nicardipin dilarutkan dengan NaCl 0,9% menjadi 50 mL). Anestesi dilakukan dengan spinal anestesi, tusukan setinggi L4-L5 dengan jarum 27G, memakai obat bupivacain 0,5% hiperbarik 2cc, fentanyl 0,5 cc dan morfin 0,05 mg. Bayi lahir dengan berat badan 2,2 kg, panjang badan 46 cm. Apgar score 1 menit 8 dan 5 menit 9. Kontraksi uterus diukur dengan linear analog scale (LAS) dan hasilnya 8-9. Selama operasi diberikan nicardipin 10 mL/jam. Pascabedah pasien dirawat kembali di HCU, dengan nicardipin 10 mL/jam. Analgetic pascabedah dengan meperidin 100 mg dan dexketoprofen 100 mg dalam 500 mL untuk 24 jam dengan hasil VAS 2
Hubungan Usia dengan Kejadian Hipotermia pada Pasien Anestesi Umum Sevoflurane Aini, Quratul; Saadah, Hindun; Bisri, Tatang
ACTA Medical Health Sciences Vol. 4 No. 1 (2025): Acta Medical and Health Sciences
Publisher : ACTA Medical Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

General anesthesia is a procedure to eliminate pain centrally accompanied by reversible loss of consciousness. General anesthesia has several complications, one of which is hypothermia. There are several factors that influence the occurrence of hypothermia during surgery including age. This study aims to determine the relationship between age and the incidence of hypothermia in patients with general anesthesia. This type of research is quantitative research with a cross-sectional research design. The sampling technique used consecutive sampling with a total of 31 respondents with inclusion and exclusion criteria. The instruments in this study were observation sheets and tympanic thermometers for body temperature. Data collection was carried out with observation sheets and data were analyzed using the Spearman rank test. The results of the study showed that almost all respondents were adults (96.8%). The results of the study showed no significant relationship between age and the incidence of hypothermia (p-value 0.375). There was no significant relationship in this study, possibly caused by several other factors that influenced the relationship between age and the incidence of hypothermia. DOI : 10.35990/amhs.v4n1.p1-8 REFERENCES Handayani T, Azizah AN. Hubungan antara usia dengan kejadian hipotermi pasien pasca operasi dengan general anestesi RS PKU Muhammadiyah Bantul. Unisa. 2022;1(1):1–18. Handayani T, Azizah N. Hubungan antara usia dengan kejadian hipotermi pasien pasca operasi dengan general anestesi di RS PKU Muhammadiyah Universitas Aisyiyah Bantul. Yogyakarta. 2022;1. Wulandari R, Wibowo H, Yudono T. Hubungan usia dengan hipotermi pada pasien lanjut usia post general anestesi di ruang pemulihan Rumah Sakit Jatiwinangun Purwokerto. Viva Medika: Jurnal Kesehatan, Kebidanan dan Keperawatan. 2022;15(2):12–19. Ramadhan D, Faizal M, Fitri N. Pengaruh konseling dengan pendekatan thinking, feeling dan acting (TFA) terhadap tekanan darah pada pasien pre operasi. Jurnal Profesional Perawat Penelitian. 2023;5(2):637–41. Fitriani D, Nurohman E, Armanda L. Determinan faktor hipotermi pasca operasi dengan general anestesi di instalasi bedah sentral RSUD Banten. HEME: Health and Medical Journal. 2023;5(1):50–7. Millizia A, Maghfirah P, Rizaldy M. General anestesi pada tindakan esofagogastroduodenoscopy. Galenical: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh. 2023;2(4):44–52. Firdaus, Suandi M, Adriani P. Hubungan usia dan IMT dengan kejadian hipotermi pasca general anestesi di RS Bhayangkara Bengkulu. Jurnal Inovasi Penelitian. 2022;3(7):6945–8. Sherwood L. Introduction to human physiology. 8th ed. Jakarta: Yolanda Cossio; 2014. Robinson N, Hall G, Fawcett W. How to survive in anaesthesia: a guide for trainees. 4th ed. Oxford: BMJ Books/Wiley-Blackwell; 2012. Caniago A. Hubungan lama operasi dengan hipotermi pasien pasca spinal anestesi di instalasi sentral RSU Permata Madina Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara. Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM). 2022;197–201. Allene M. Postoperative hypothermia and associate factors at Debre Berhan Comprehensive Specialized Hospital 2019: a cross-sectional study. Int J Surg Open. 2020;24:112–6. Xu R, Hu X, Sun Z, Zhu X, Tang Y. Incidence of postoperative hypothermia and shivering and risk factors in patients undergoing malignant tumor surgery: a retrospective study. BMC Anesthesiol. 2023;23(1):2–11. Pratama IMA. Hubungan antara usia dengan hipotermi pada pasien pasca general anestesi di ruang IBS RSUD Buleleng. Itekes. 2021;1(1):35–45. Rahmanto ET, Novitasari D, Sukmaningtyas W. Hubungan lama operasi dengan hipotermi pada pasien pasca spinal anestesi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional [Internet]. 2024;6(4):1449–56. Available from: http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP Pringgayuda F, Purbianto, Putra A. Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipotermi pada pasien pasca general anestesi. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti Lampung. 2020;8(1):10–9. Wulandari R, Aprisunadi, Susanti F, Kalsum U. Hubungan lama operasi dengan hipotermi pada pasien pascaoperasi general anestesi di ruang pemulihan kamar operasi RS TK.II Moh Ridwan Meuraksa. Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan. 2024;14(2):128–37. Available from: http://ejournal.urindo.ac.id/index.php/kesehatan Widiyono, Suryani, Setiyajati A. Hubungan antara usia dan lama operasi dengan hipotermi pada pasien pasca anestesi spinal di instalasi bedah sentral. J Ilmu Keperawatan Medikal Bedah. 2020;3(1):55–65. Mubarokah PP. Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipotermi pasca general anestesi di instalasi bedah sentral RSUD Kota Yogyakarta. Poltekkes Kemenkes. 2017;1(1):44–57. Fajari M, Ernawati D, Azizah A. Faktor-faktor yang mempengaruhi hipotermi pada pasien post general anestesi: literature review. Universitas Aisyiyah Yogyakarta. 2022;1:1–6. Liu M, Qi L. The related factors and countermeasures of hypothermia in patients during the anesthesia recovery period. Am J Transl Res [Internet]. 2021;13(4):3459–65. Available from: www.ajtr.org Panji P, Cindryani M. Anestesiologi dan terapi intensif. 1st ed. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 2019.
Tatalaksana Anestesi pada Pasien Anak dengan Cystic Craniopharyngioma yang Menjalani Gamma Knife Radiosurgery Widiastuti, Monika -; Halimi, Radian Ahmad; Fuadi, Iwan; Rahardjo, Sri; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3082.611 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i2.353

Abstract

Kraniofaringioma merupakan tumor otak jinak dengan karakteristik kistik dan kalsifikasi, yang letaknya dikeliingi oleh stuktur vital sehingga sulit untuk dilakukan reseksi total. Terapi kombinasi dengan Gamma knife radiosurgery (GKRS) merupakan pilihan terapi paling tepat. Prosedur GKRS yang kompleks meliputi banyak tahap dengan durasi 6-10 jam, memerlukan pemberian anestesi pada pasien yang tidak kooperatif. Kasus ini mengenai pasien anak perempuan berusia 4 tahun dengan cystic craniopharyngioma. Pasien dengan keluhan pandangan mata buram, dari pemeriksaan fisik didapatkan papil atrofi bilateral. Hasil magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan massa tumor yang menekan kelenjar hipofise inferior. Pasien menjalani prosedur GKRS selama 6 jam dengan anestesi sedasi sedang menggunakan Propofol 75 mcg/kg/menit. Hemodinamika selama prosedur stabil, tidak terjadi komplikasi. Pemilihan teknik anestesi dapat berupa anestesi umum atau sedasi, tergantung pada kondisi pasien, dokter anestesi, operator, dan fasilitas. Pertimbangan anestesi pada GKRS antara lain prosedur dilakukan di luar kamar operasi, durasi panjang, transportasi ke beberapa tempat seperti radiologi dan cathlab, imobilisasi kepala untuk mencegah pergeseran frame stereotaktik, pasien sendiri di dalam ruang radiasi, prinsip neuroanestesi pediatrik.Anesthetic Management of Pediatric Patient with Cystic Craniopharyngioma Underwent Gamma Knife RadiosurgeryAbstractCraniopharyngioma is a benign tumor characterized by cystic and calcification, surrounded by vital structures therefor it is difficult to perform total tumor resection. Combination with Gamma knife radiosurgery (GKRS) is the best treatment option. The complexities of GKRS consisting of several phases lasts for 6-10 hours. Anesthesia is needed for uncooperative patients. This is a case of a 4-year-old girl with cystic craniopharyngioma. The patient had chief complaint of blurry vision, physical examinations revealed bilateral papil atrophy. Result of MRI showed tumor mass compressing inferior hypophyse. Patient underwent the procedure under moderate sedation with Propofol at 75 mcg/kg/min for 6 hours. Intraoperative hemodynamic condition was stable without adverse events. Choice of anesthesia either general anesthesia or sedation, depends on the condition of patient, considerations from anesthesiologist dan neurosurgeon, dan availability of facilities. Unique considerations for GKRS are; a non-operating room anesthesia, long duration, transportation to other units such as radiology and cathlab, head of the patients need to be immobilized to prevent frame displacement, the patient will be alone in the treatment room, and principles of pediatric anesthesia and neuroanesthesia.
Pertimbangan Anestesi Perioperatif untuk Pasien Bedah Saraf dengan Covid-19 Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2788.911 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i1.324

Abstract

Coronavirus yang baru, severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) pertamakali timbul di Wuhan, Provinsi Hubei Cina, pada bulan Desember 2019, dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia ke lebih dari 190 negara. Pasien harus ditapis untuk covid-19 menggunakan kombinasi riwayat penyakit, computed tomography (CT) dada, dan pemeriksaan real time quantitative polymerase chain reaction (RT-qPCR) bergantung kebijakan institusinya. Keluhan neurologis seperti dizziness, headache, hypogeusia dan hyposmia, sering (36%) pada pasien covid-19. Encefalopati dan perubahan status mental juga terjadi pada pasien yang telah terinfeksi dengan virus SARS-CoV-2. Penyakit serebrovaskuler lebih sering pada covid-19 yang berat; acute ischemic stroke telah dilaporkan pada 5,7% dan gangguan kesadaran pada 15% pasien. Tindakan pembedahan rutin kranial dan spinal aman untuk dilakukan. Operasi endoscopic endonasal tidak aman dan harus dihindari. Ekstubasi setelah anestesi umum bila memungkinkan dilakukan di ruangan tekanan negatif, personil tetap memakai alat pelindung diri (APD) level 3. Harus dihindari pasien batuk saat ekstubasi. Setelah ekstubasi, pasang oksigen binasal, dan pasien harus memakai masker bedah dan aliran oksigen tinggi harus dihindari (berikan 6L/menit) untuk menghindari terjadinya aerosolisasiPerioperative Anesthesia Consideration for Neurosurgical patients with Covid-19AbstractThe novel coronavirus, severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) emerged in Wuhan, Hubei province China, in December 2019, and spread fast to all the world more than 190 countries. Patients should be screened for covid-19 using a combination of history, computed tomography (CT) chest, and real time quantitative polymerase chain reaction (RT-qPCR) testing depending on institutional policies. Neurological symptom as dizziness, headache, hypogeusia and hyposmia, common (36%) at covid-19 patient. Encephalopaty and changed mental status exist in patient infected by SARS-CoV-2 virus. Cerebrovascular diseases more in severe covid-19; acute ischemic stroke had reported in 5.7% and altered level of consciousnes in 15% patient. Surgical measuremet cranial and spinal rutine is safe, endoscopic endonasal surgery not safe and must be avoided. Extubation after general anesthesia if possible do air negative pressure room, and personil still use personal protection equipment (PPE) level 3. Must be avoid patient cough during extubation. After extubation, give oxygen nasal canule, surgical mask, and high flow oxygen (give 6 L/min) avoided given the risk of aerosolization
Korelasi antara Stroke dengan Covid-19 Bisri, Dewi Yulianti; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1800.035 KB) | DOI: 10.24244/jni.v10i2.356

Abstract

Spektrum klinis covid-19 sangat luas, mulai dari gejala minor yang tidak spesifik, seperti demam, batuk kering dan diare, kadang-kadang dikombinasikan dengan pneumonia ringan dan dispnea ringan, hingga pneumonia berat dengan dispnea, takipnea, dan gangguan pertukaran oksigen, menyebabkan disfungsi paru berat, memerlukan ventilasi mekanik, terjadi syok atau kegagalan organ multipel. Bukti awal yang tidak dipublikasikan menunjukkan bahwa pada pasien dengan covid-19 positip terjadi peningkatan risiko stroke iskemik akut. Keluhan neurologik yang sering terjadi adalah sakit kepala, pusing, perubahan pengecapan dan penciuman, lima persen memiliki risiko terjadinya stroke iskemik akut. Coronavirus mempunyai kecenderungan untuk menginvasi susunan sarap pusat (SSP). Perubahan penciuman yang telah dilihat pada covid-19, diposulatkan karena refleks akses dari virus ke otak melalui rute transcribial, walaupun masih perlu dibuktikan untuk severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Satu laporan dari Cina menunjukkan bahwa keluhan neurologis seperti dizziness, sakit kepala, hypogeusia dan hyposmia, sering terjadi (sekitar 36%) pada pasien covid-19. Ensefalopati dan perubahan status mental juga terjadi pada pasien yang telah terinfeksi dengan virus SARS-CoV-2. Penyakit serebrovaskuler lebih sering pada covid-19 yang berat; stroke iskemik akut telah dilaporkan terjadi pada 5,7% pasien dan gangguan kesadaran pada 15% pasien, dan 1% kejadian perdarahan serebral. Kelainan SSP yang memerlukan tindakan pembedahan memerlukan penanganan khusus karena efek teknik dan obat anestesi terhadap SSP, serta perlindungan tenaga kesehatan untuk mencegah transmisi penyakit. Tigapuluh delapan persen pasien covid-19 dengan komplikasi serebrovaskuler meninggal.Correlation between Stroke and Covid-19AbstractThe clinical spectrum of Covid-19 is very broad, ranging from minor no specific symptom, such as fever, dry cough and diarrhea, some time combined with mild pneumonia and mild dyspnoe to severe pneumonia with dyspnoe, tachypnoe and exchange disorders, leading to severe pulmonary dysfunction, necessary ventilation, shock and multiple organ failure. Preliminary unpublished evidence suggest that patient with covid-19 have an increased risk of acute ischemic stroke. Neurologic complaints that oven occurs are headache, dizziness, change in taste and smell. Five percent risk of developing acute ischemic stroke. Coronavirus has a tendency to invade the central nerve system (CNS). The olfactory change that have been seen in covid-19, are attributed to reflex access from the virus to the brain via the transcribial route, although this remain to be proven for severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). One report from China showed that neurological complaint, such as dizziness, headaches, hypgeusia and hyposmia, were common (about 36%) in covid-19 patients. Encephalopathy and altered mental status also occurs in patients who have been infected with the SARS-CoV-2 virus. Cerebrovascular disease is more common in severe covid-19; acute ischemic stroke has been reported to occurs in 5.7% of patients and impaired consciousness in 15% of patients, and 1% cerebral hemorrhage was found. CNS disorders that require surgery require special treatment because of the effect of techniques and anesthetics on the CNS, as wll as the protection of health professionals to preventdiseses transmission. Thirty-eight percents of covid-19 patient with cerebrovascular complication died.
Penggunaan Obat Anti Epilepsi untuk Terapi Profilaksis Bangkitan pada Cedera Otak Traumatik Ruslami, Rovina; Bisri, Tatang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3260.66 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol5i1.60

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) merupakan salah satu penyebab bangkitan dan epilepsi. Bangkitan pasca COT (post traumatic seizure/PTS) didefinisikan sebagai bangkitan dini (early PTS) jika terjadi dalam 7 hari pasca COT, atau sebagai bangkitan lanjut (late PTS) bila terjadi sesudah 7 hari pasca COT. Sampai saat ini tidak cukup data yang mendukung rekomendasi level I untuk terapi profilaksis PTS. Kejadian early PTS tidak berhubungan dengan luaran terapi yang lebih buruk. Namun karena insidensinya cukup tinggi, terapi profilaksis dapat menurunkan insidensi early PTS, dan sebagian epilepsi berhubungan dengan cedera kepala sebelumnya, maka terapi profilaksis dapat dipertimbangkan. Terapi profilaksis diindikasikan hanya untuk mencegah early PTS pada kasus COT berat (GCS 8). Terapi profilaksis tidak direkomendasikan untuk mencegah late PTS karena belum ada bukti yang mendukung. Fenitoin (phenytoin=PHT) merupakan obat yang paling banyak diteliti dan digunakan untuk mencegah early PTS, diberikan segera selama 1 minggu. PHT memiliki profil farmakokinetik yang rumit, berbagai efek samping yang memerlukan pemantauan klinis yang ketat dan pemeriksaan kadar obat dalam darah. Obat anti epilepsi (OAE) lain seperti valproat, karbamazepin, dan fenobarbital masih sangat terbatas datanya, memiliki isu keamanan dan farmakokinetik, sehingga saat ini tidak direkomendasikan untuk terapi profilaksis bangkitan pada COT. Levetiracetam (LEV) merupakan OAE yang lebih baru dengan profil farmakokinetik yang lebih bersahabat, namun data terkait efikasi dan keamanan masih terbatas. Diperlukan studi lebih lanjut untuk memperlihatkan jika LEV dapat menggantikan PHT dalam terapi profilaksis bangkitan pasca COT.The Use of Antiepileptic Drugs for Posttraumatic Seizure Prophylaxis after Traumatic Brain Injury?Traumatic brain injury (TBI) is one of the cause of seizure and epilepy. Post traumatic seizure (PTS) is classified as early PTS if occurs within 7 days after injury, and as late PTS if occurs after 7 days following injury. The incidence of PTS is rather high, and seizure prophylaxis could decrease the incidence of early PTS. Furthermore, part of epilepsy are thought to be the result of previous head trauma. Therefore, prophylaxis therapy can be considered. Currently, there are insufficient data to support a Level I reccomendation for seizure prophylaxis after TBI. Early PTS is not associated with worse outcome. It is only indicated for preveting early PST in severe TBI (GCS 8), and not recommended for preventing late PTS due to lack of evidence to support it. Phenytoin (PHT) has been extensively studied and used for prophylaxis of PTS; it is administered during the first seven days after TBI. PHT has numoerus side effects and drug interactions, has complex non-linear pharmacokinetics that require therapeutic drug monitoring. Data from other AEDs like valproate, carbamazepine, and phenobarbital are very limited. They also have sevral safety and pharmackinetics issues. Therefore they are not recommended for preventing PTS. Levetiracetam (LEV) is a newer AED with a more friedly characteristics. However the data regarding the efficacy and safety is limited. Further investigations is needed to evaluate if LEV is a reasonable alternative to PHT for preventing PTS in patients with TBI.
Co-Authors , Rizki , Suwarman - Irwan, - A. Himendra Wargahadibrata A. Muthalib Nawawi Agus Junaidi Aini, Quratul Akbar, Ieva B Alifahna, Muhammad Rezanda Andie Muhari Barzah, Andie Muhari Ardi Zulfariansyah Arief Kurniawan Bambang Suryono, Bambang Christanto, Sandhi Christanto, Sandhi christiana, monica Dedi Fitri Yadi Dewi Yulianti Bisri Diana C. Lalenoh, Diana C. Diana Lalenoh Erias, Muhammad Erwin Pradian Ezra Oktaliansah Firdaus, Riyadh Firdaus, Riyadh Fithrah, Bona Akhmad Fithrah, Bona Akhmad Fitri Sepviyanti Sumardi Giovanni, Cindy Giovanni, Cindy Hamzah, Hanzah Hermawanto, Agung Hindun Saadah, Hindun Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ieva B. Akbar Ike Sri Redjeki Indrayani, Ratih Rizki Iwan Abdul Rachman Iwan Fuadi Jasa, Zafrullah Khany Kusuma Harimin, Kusuma Laksono, Buyung Hartiyo Lalenoh, Diana Christine Lalenoh, Diana Christine Limawan, Michaela Arshanty M. Dwi Satriyanto M. Erias Erlangga, M. Erias M. Sofyan Harahap Mariko Gunadi Martinus, Fardian Martinus, Fardian MM Rudi Prihatno, MM Rudi Muh. Rumli Ahmad Muhamad Adli Boesoirie, Muhamad Adli Muhammad Habibi Ningsih, Diana Fitria Ningsih, Diana Fitria Noer Rochmah, Elly Nugraha, Ade Aria Nugraha, Ade Aria Nuryanda, Dian Oetoro, Bambang J. Oetoro, Bambang J. Okatria, Ahmado Pontjosudargo, Fransiska Ambarukmi Priyadi, Hendri Putri, Andika C. Putu Pramana Suarjaya Radian Ahmad Halimi Rahmadsyah, Teuku Rahordjo, Sri Rasman, Marsudi Rasman, Marsudi Reza Widianto Sudjud Rose Mafiana Rovina Ruslami, Rovina Ruby Satria Nugraha Ruli Herman Sitanggang Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Saputra, Tengku Addi Saputra, Tengku Addi SATRIYAS ILYAS Septiani, Gusti Ayu Pitria Soefviana, Stefi Berlian Sri Rahardjo Stella, Angela Subekti, Bambang Eko Subekti, Bambang Eko Suryaningrat, IGB Susanto, Bahtiar Sutanto, Sigit Sutanto, Sigit Suwarman Suwarman, Suwarman Suwarman, S Suwarman, S Syafruddin Gaus Thayeb, Srilina Theresia C. Sipahutar Theresia Monica Rahardjo Uhud, Akhyar Nur Widiastuti, Monika - Wirawijaya, Dear Mohtar Wirawijaya, Dear Mohtar Wirawijaya Wullur, Caroline Wullur, Caroline Yunita Susanto Putri Zaka Anwary, Army