Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Marine Waste Analysis And Abundance of gastropods In Mangrove Ecosystem Tongkaina, North Sulawesi M. Alaksmar Djohar; Farnis B. Boneka; Joshian N. W. Schaduw; Stephanus V. Mandagi; Kakaskasen A. Roeroe; Deiske A. Sumilat
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27597

Abstract

This study aims to analyze the relation of marine debris to gastropods in the mangrove ecosystem. This research was conducted from October to December 2019 in the Tongkaina mangrove forest. The method used in this research is the line transects method with 2 different stations. Then do the data analysis of waste density, gastropod abundance index, frequency, diversity index, uniformity, and dominance. Then, analyzing a simple linear regression and correlation is performed to see the relationship between marine debris and gastropod abundance in a mangrove ecosystem. The results showed that the highest inorganic marine debris in the Tongkeina mangrove ecosystem is plastic and followed by cloth, wood, metal and the least was glass. The species of Gastropods found in the mangrove ecosystem are Littoraria scabra, Nerita undulata and Terebralia sulcata. The highest abundance of gastropod species was found at station 2 in transects 1 by Littoraria scraba. The results of the linear regression analysis show that there is a relationship between waste and abundance of gastropods. The increasing amount of waste, lower the abundance of gastropods. Where the correlation value is -0.20506.Keywords: Correlation; Marine debris; Gastropods; Mangrove Ecosystem. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis  hubungan  sampah laut terhadap gastropoda di ekosistem mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai Desember 2019 di hutan mangrove Tongkaina.  Metode yang digunakan adalah metode line transek dengan 2 stasiun berbeda. Kemudian dilakukan analisa data kepadatan sampah, indeks kelimpaha gastropoda, frekuensi, indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominasi. Selanjutnya dilakukan analisa regresi lineier sederhana serta korelasi untuk melihat hubungan yang terjadi antara sampah dan kelimpahan gastrooda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah anorganik jenis plasik yang tertinggi di ekosistem mangrove pantai Tongkaina diikuti sampah jenis Kain, Kayu, Logam dan yang paling sedikit adalah sampah jenis kaca. Jenis gastropoda yang ditemukan di ekosistem mangrove yaitu Littoraria scabra, Nerita undulata dan Terebralia sulcata. Nilai kelimpahan jenis gastropoda tertinggi terdapat di stasiun 2 di transek 1 oleh Littoraria scraba. Hasil analisa regresi linier menunjukan bahawa ada hubungan yang terjadi  antara sampah dan kelimpahan gastropoda yang dilihat dari anlisis regresi linier sederhana. Semakin meningkatnya jumlah sampah maka semakin rendah kelimpahan gastropoda. Dimana nilai korelasinya sebesar -0.20506.Kata Kunci : Korelasi; Sampah Laut; Gastropoda; Ekosistem Mangrove.
Rekruitment Tropical Box Mussels, Septifer Bilocularis In Tiwoho Coastal Area Palit, Deyti A.; Boneka, Farnis B.; Kaligis, Early Y.; Rimper, Joice R. T. S. L; Lumenta, Cyska; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.35726

Abstract

The purpose of this study was to determine 1) the types of substrates on which Septiver attached, and 2) the number of tropical boxes mussel recruits at different size aggregation. The meter was placed on one side of the mussel aggregation, and it was pulled up to the other side through the middle of the mussel aggregation.  There were two different sizes of aggregation, namely small aggregation with a diameter of 5-25 cm, and large aggregation with a diameter > 1 meter. Aggregation samples were carried out by placing a core with a diameter of 10 cm in the center of the small mussel aggregation, then at the edge and the middle position of the large aggregation. All aggregation in the core was removed and inserted into the labeled sample plastic. The sampling was applied 4 times on different mussel aggregations, as replication. The results show that young mussels (recruiters) are attached to algae stems, mussel byssus, and dead hard coral. The number of mussel recruits was square-root transformed to obtain homogeneity data, before being tested using One-Way Analysis of Variance.  The results showed that the recruitment of Septifer was influenced by the size of the aggregation (P<0.05, 1-way ANOVA). The average recruitment of Septiver in the middle position has a higher number of recruits than to the edge position (SNK test, P < 0.05), as well as the average recruitment in the middle position was higher than to the small aggregations (SNK-Test, P < 0.05). However, no recruits differ among edge position of large aggregation and small aggregation occurs (SNK test, P > 0.05).  Discussion of different factors affecting attachment occurs.Keywords: box mussel; Septifer; recruit; aggregation; larva; TiwohoAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) jenis-jenis substrat yang menjadi tempat menempel kerang mudah Septiver, dan 2) jumlah rekruit kerang kotak tropis pada ukuran aggregasi kerang yang berbeda. Pengukuran ukuran aggregasi kerang dilakukan dengan meletakkan meteran pada salah satu sisi aggregasi kerang, selanjutnya meteran ditarik sampai ke sisi yang lain melewati bagian tengah aggregasi kerang.  Ada 2 jenis ukuran aggregasi, yaitu aggregasi kecil dengan ukuran diameter aggregasi 5 – 25 cm, dan aggregasi besar, yaitu dengan ukuran diameter aggregasi kerang > 1 meter.   Pengukuran diameter aggregasi dilakukan  4 kali, masing-masing dengan aggregasi berbeda, sebagai ulangan.  Sampel aggregasi kerang dilakukan dengan meletakkan kor (‘cor’) dengan diameter 10 cm di bagian tengah pada aggregasi kerang kecil, posisi pinggir dan tengah aggregasi besar.  Sampel diambil juga sebanyak 4 kali (ulangan) pada masing aggregasi yang berbeda, sebagai ulangan. Kerang disortir dengan bantuan mikroskop, di mana kerang dengan ukuran < 3 mm adalah yang disebut sebagai rekruitmen, dipisahkan dari substrat yang menjadi tempat menempel, selanjutnya kerang diukur panjangnya dengan menggunakan mistar, dengan ketelitian 1 mm. Hasil penelitian teridentifikasi bahwa kerang muda menempel pada  substrat alga, rambut (byssus), dan substrat keras karang mati. Data jumlah rerkuit telah ditransform dengan menggunakan akar, sebelum diuji dengan Analisa Varians 1 Arah (One-Way ANOVA).  Hasil menunjukkan bahwa rekruit kerang Septifer adalah dipengaruhi oleh ukuran aggregasi (P<0.05, 1 Arah ANOVA).  Rata-rata rekruit kerang yang berada di posisi tengah memiliki jumlah rekruit yang lebih besar dibandingkan dengan rata-rata rekruit yang menempel pada posisi pinggir (Uji SNK, P < 0.05). Sama halnya dengan rata rekruit yang ada di posisi tengah aggregasi besar adalah lebih besar dibandingkan dengan jumlah rekruit dari aggregasi kecil (Uji-SNK, P < 0.05).  Hal yang berbeda, di mana tidak ada perbedaan rata-rata rekruit yang ada di posisi pinggir aggregasi besar dibandingkan dengan yang ada di aggregasi kecil (uji SNK, P>0.05). Faktor yang mempengaruhi penempelan dan rekruit dari agrregasi dengan ukuran berbeda didiskusikan.Kata kunci: Kerang Kotak; Septifer; recruit; aggregate; larva; Tiwoho
Persentage of Coral Cover and Megabenthos Diversity in “Tanjung Jaha”, Tanjung Pulisan Waters, North Minahasa Regency Daryanto, Adityas Andrew; Mamangkey, Noldy Gustaf; Manembu, Indri S; Boneka, Farnis B.; Sinjal, Cathrien A. L; Kambey, Alex D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.36426

Abstract

Tanjung Pulisan waters, especially the “Tanjung Jaha” are one of the diving tourism areas and have been designated as part of Likupang Special Economic Zone (SEZ), which has also been included in one of five super-priority tourist destinations in Indonesia. Based on the assumptions that tourism activities in the area would be very massive, it is presumed that the “Pantai Kecil” area will be affected by those activities. Therefore, this study aims to provide data on coral cover and megabenthic diversity, as a basis data for further research and or for policy decisions in the region. This study used the Benthos Belt Transect (BBT) method and the Underwater Photo Transect (UPT) method and they were analyzed with CPCE (Coral Point Count with Excel Extensions) and Microsoft Excel. The results showed that the percentage of coral cover in “Tanjung Jaha” was categorized as “Good” with a value of 55.92% which included 41.36% hard corals and 15.31% soft corals. At this location, 26 megabenthos were found which consisted of 5 different taxa and the diversity index was categorized as “Medium” with the value of H’=1.36.Keywords:     Coral Cover; Diversity; Pantai Kecil; Tanjung PulisanAbstrakPerairan Tanjung Pulisan, khususnya “Tanjung Jaha” merupakan salah satu daerah wisata penyelaman dan telah ditetapkan menjadi bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang dan juga masuk dalam salah satu dari lima destinasi wisata super prioritas di Indonesia. Dengan aktivitas pariwisata yang akan sangat masif, diperkirakan wilayah “Tanjung Jaha” akan terdampak oleh aktivitas pariwisata. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk menyediakan data tutupan karang dan keanekaragaman megabentos, sebagai data awal sebagai informasi bagi riset selanjutnya maupun pada kebijakan yang akan berlaku di daerah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode Benthos Belt Transect (BBT) dan metode Underwater Photo Transect (UPT) dengan analisa menggunakan CPCe (Coral Point Count with Excel extensions) dan Microsoft Excel. Hasil analisis menunjukan persentase tutupan karang di “Tanjung Jaha” terkategorikan “Baik” dengan nilai 55.92% yang terdiri dari 41.36% karang keras dan 15.31% karang lunak. Di lokasi ini ditemukan 26 megabentos dari 5 taksa berbeda dengan indeks keanekaragaman terkategorikan “Sedang” dengan nilai H’=1.36.Kata kunci: Keanekaragaman; Pantai Kecil; Tutupan Karang; Tanjung Pulisan
Polychaeta Communities in Subtidal Zone Soft Substrate of Manado Bay, North Sulawesi Lumingas, Aaron R. T.; Boneka, Farnis B.; Ompi, Medy; Mamangkey, Noldy G. F.; Manembu, Indri S.; Undap, Suzanne L.; Lumingas, Lawrence J. L.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.39518

Abstract

This study aims to analyze the structure of the Polychaeta community on the soft substrate of the subtidal zone in Manado Bay. Samples were taken by grab at 3 stations namely ST1 located at a depth of 8 m with black mud substrate; ST2 is located at a depth of 26 m with blackish sand substrate, and ST3 are located at a depth of 18 m with blackish sand as a substrate. From the three sampling stations, 27 species of 253 Polychaeta individuals were identified. Station 1, which is located near the mouth of the Bailang River, has high individual abundance but low species diversity. Station 2, which is located near the Megamas area, has moderate individual abundance but high species richness. Station 3, which is located around the Faculty of Medicine, Unsrat Malalayang, has low individual abundance but high species richness. Substrate types and anthropogenic disturbances such as enrichment of organic matter are thought to be determinants of individual abundance, composition, and species richness of Polychaeta in Manado Bay.Keywords: Polychaeta; biodiversity; soft substrate; Manado BayAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas Polychaeta pada substrat lunak zona subtidal di Teluk Manado. Sampel diambil dengan grab pada 3 stasiun yakni ST1 terletak pada kedalaman 8 m dengan substrat lumpur berwarna hitam; ST2 terletak pada kedalaman 26 m dengan substrat pasir berwarna kehitaman; dan ST3 terletak pada kedalaman 18 m dengan substrat pasir berwarna kehitaman. Dari tiga stasiun sampling tersebut berhasil diidentifikasi 27 spesies dari 253 individu Polychaeta. Stasiun 1 yang terletak dekat muara Sungai Bailang memiliki kelimpahan individu tinggi tetapi keanekaragaman spesies rendah. Stasiun 2 yang terletak dekat kawasan Megamas memiliki kelimpahan individu sedang tetapi kekayaan spesies tinggi. Stasiun 3 yang terletak di sekitar pemukiman belakang Fakultas Kedokteran Unsrat Malalayang memiliki kelimpahan individu rendah tetapi kekayaan spesies tinggi. Jenis substrat dan gangguan antropogenik seperti pengayaan bahan organik diduga merupakan faktor penentu kelimpahan individu, komposisi dan kekayaan spesies Polychaeta di Teluk Manado. Kata Kunci: Polychaeta; keanekaragaman hayati; substrat lunak; Teluk Manado
Food Habits of Lencam Lethrinu Food Habits of Lencam Lethrinus rubrioperculatus Sato, 1978 (Fish: Lethrinidae) Tampi, Aprillia A.; Bataragoa, Nego E.; Rangan, Jety K.; Rembet, Unstain N. W. J.; Mandagi, Stephanus V.; Boneka, Farnis B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.43931

Abstract

This study was conducted to determine the type and composition of food contained in the stomach of the Spotchheek emperor Lethrinus rubrioperculatus in Napo Keluar Nain Likupang waters based on sex and body size. Samples were taken from the catch of fishermen and then the fish samples were then taken to the laboratory for data collection. The method used to determine the composition of fish food used the Index of preponderance (IP). The results showed that the food habits of Spotchheek emperor in Napo Luar Nain Likupang waters with the types of food contained in the stomach of Spotchheek emperor, namely fish, shrimp, gastropods, Polychaeta, crabs (megalopa), and octopus where the main food of Spotchheek emperor is IP fish (94,16%). While the main food based on sex and length of body size is fish, with male IP 96.98% and female 91.15% respectively, while based on body length of Spotchheek emperor where small IP 91.06%, medium IP 98.45% and large IP 82.22%. Keywords: Food, Likupang, preponderance Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis dan komposisi makanan yang terdapat dalam lambung ikan lencam Lethrinus rubrioperculatus di Napo Keluar Nain Perairan Likupang berdasarkan jenis kelamin dan ukuran tubuh. Sampel diambil dari hasil tangkapan nelayan kemudian sampel ikan selanjutnya dibawah ke Labolatorium untuk pengambilan data. Metode yang digunakan untuk mengetahui  komposisi makanan ikan digunakan indeks bagian terbesar (IBT). Metode ini  digunakan untuk menilai bermacam-macam jenis makanan ikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebiasaan makanan ikan lencam di Napo Keluar Nain Perairan Likupang dengan jenis makanan yang terdapat dalam lambung ikan lencam yaitu ikan, udang, gastropoda, polychaeta, kepiting (megalopa) dan octopus di mana makanan utama dari ikan lencam adalah ikan IBT (94,16%). Sedangkan makanan utama berdasarkan jenis kelamin dan panjang ukuran tubuh yaitu ikan, dengan masing-masing IBT  jantan 96,07% dan betina 91,15% sedangkan berdasarkan panjang ukuran tubuh ikan lencam IBT kecil 91,98%, sedang 98,45% dan besar 82,22%. Kata kunci: Makanan, Likupang, Indeks Bagian Terbesar.
Species and Density of Limpets (Patellogastropoda) in The Intertidal Rocky Shore Akaiwa Poluan, Irene; Rumengan, Inneke F.M.; Paruntu, Carolus P.; Bara, Robert A.; Sumilat, Deiske A.; Boneka, Farnis B.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.66339

Abstract

Rocky intertidal shores are dynamic coastal ecosystems characterized by strong environmental gradients that generate distinct patterns of organism zonation. Limpets (Patellogastropoda) play a crucial role as primary herbivores and ecological indicators in these habitats. This study aimed to examine species composition and density of limpets in the upper and lower intertidal zones of the rocky intertidal shore of Akaiwa, Tomioka, Amakusa, Japan. The research was conducted from February to March 2025. Sampling was conducted using a quadrat sampling method with quadrats measuring 25 cm × 25 cm, randomly placed within a 10 m × 15 m study area across the upper and lower intertidal zones. Limpet specimens were identified based on shell morphological characteristics, and species density was calculated and statistically compared between zones using a t-student test. The results recorded eight limpet species belonging to the families Lottidae and Nacellidae, with seven species occurring in the upper zone and six species in the lower zone. Limpet density in the upper intertidal zone ranged from 1.60 to 20.80 ind/m² and was dominated by Lottia tenuisculpta, whereas the lower zone exhibited higher densities ranging from 1.60 to 28.80 ind/m², with a significant dominance of Cellana toreuma. The study concludes that limpet community structure is strongly influenced by vertical intertidal zonation. Further long-term studies are recommended to elucidate temporal dynamics of limpet communities in relation to seasonal variation and environmental change. Keywords: Amakusa, density, limpet, Akaiwa rocky shore, intertidal zonation   Abstrak Pantai intertidal berbatu merupakan ekosistem pesisir yang dinamis dengan gradien lingkungan yang kuat, sehingga membentuk pola zonasi organisme yang khas. Limpet (Patellogastropoda) berperan penting sebagai herbivora utama dan indikator ekologis pada ekosistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis dan kepadatan limpet pada zona atas dan zona bawah pantai rocky intertidal Akaiwa, Tomioka, Amakusa, Jepang. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari-Maret 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode quadrat sampling menggunakan kuadrat berukuran 25 cm × 25 cm yang ditempatkan secara acak di area 10 m × 15 m pada zonasi intertidal bagian atas dan bawah. Spesimen limpet diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi cangkang, kemudian dianalisis kepadatan jenis dan diuji perbedaannya antar zona menggunakan uji t-student. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan spesies limpet dari famili Lottidae dan Nacellidae teridentifikasi, dengan tujuh spesies pada zona atas dan enam spesies pada zona bawah. Kepadatan limpet di zona atas berkisar antara 1,60-20,80 ind/m² dan didominasi oleh Lottia tenuisculpta, sedangkan zona bawah memiliki kepadatan lebih tinggi, yaitu 1,60-28,80 ind/m², dengan dominasi Cellana toreuma yang berbeda nyata secara statistik. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa struktur komunitas limpet dipengaruhi kuat oleh zonasi vertikal intertidal. Disarankan penelitian lanjutan dilakukan secara temporal untuk memahami dinamika komunitas limpet terhadap variasi musim dan perubahan lingkungan. Kata kunci: Amakusa, kepadatan, limpet, pantai berbatu Akaiwa, zonasi intertidal
Ecological Analysis of Megabenthos in Coral Reef Ecosystems of The Waters Surrounding Bahoi Village, North Minahasa Regency Grathia Charity; Manembu, Indri S.; Mamangkey, N. Gustaf F.; Rumengan, Antonius P.; Boneka, Farnis B.; Tilaar, Sandra O.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65927

Abstract

Megabenthos are a group of organisms larger than 1 cm that inhabit the seafloor and are sensitive to environmental changes. Information regarding megabenthos in Bahoi Village has not yet been published; therefore, this study was conducted to fill the data gap related to benthic community structure in the area. Data were collected at three stations representing different levels of ecological pressure using the Benthos Belt Transect  method, with a transect length of 70 m and an observation width of 2 m, resulting in a total surveyed area of 140 m² per station. Target megabenthos recorded included Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, and Drupella cornus. Based on the analysis, Station 1 (near settlement and non-MPA) showed densities of Diadema spp. of 2.11 ind/m², Linckia laevigata of 0.04 ind/m², Tridacninae of 0.03 ind/m², and Drupella cornus of 0.07 ind/m², with H’ = 0.29, C = 0.88, and E = 0.2. Station 2 (MPA) recorded densities of Diadema spp. of 0.007 ind/m², Linckia laevigata of 0.029 ind/m², Tridacninae of 0.014 ind/m², and Drupella cornus of 0.014 ind/m², with H’ = 1.27, C = 0.30, and E = 0.9. Station 3 (far from settlement and non-MPA) showed densities of Linckia laevigata of 0.19 ind/m² and Diadema spp. of 0.07 ind/m², with H’ = 0.58, C = 0.61, and E = 0.8. The patterns of ecological indices indicate a strong relationship between the intensity of human intervention and habitat characteristics in determining the stability of megabenthic communities. Keywords: megabenthos, coral reefs, community, benthos belt transect, Bahoi Village   Abstrak Megabentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar laut dan berukuran lebih dari 1 cm yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Informasi mengenai megabentos di Desa Bahoi hingga kini belum dipublikasikan sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan data terkait struktur komunitas bentik di wilayah tersebut. Pengumpulan data dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili perbedaan tingkat tekanan ekologis menggunakan metode Benthos Belt Transect sepanjang 70 m dengan lebar pengamatan 2 m sehingga total area pengamatan 140 m² per stasiun. Megabentos target yang ditemukan meliputi Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, dan Drupella cornus. Berdasarkan analisis data, Stasiun 1 (dekat permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 2,11 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,04 ind/m², Tridacninae sebesar 0,03 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,29, C=0,88, dan E=0,2. Stasiun 2 (DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 0,007 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,029 ind/m², Tridacninae sebesar 0,014 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,014 ind/m² dengan H’=1,27, C=0,3 dan E=0,9. Stasiun 3 (jauh dari permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Linckia laevigata sebesar 0,19 ind/m² serta Diadema spp. sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,58, C=0,61 dan E=0,8. Pola indeks ekologi menunjukkan hubungan kuat antara tingkat tekanan intervensi manusia dan karakteristik habitat terhadap stabilitas komunitas megabentos. Kata kunci: megabentos, terumbu karang, komunitas, benthos belt transect, Desa Bahoi