Ihsana Sabriani Borualogo
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung

Published : 49 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Psychology Science

Studi Deskriptif Persepsi Siswa, Orang Tua dan Guru Mengenai Perundungan pada Siswa SMP di Kota Bandung Sekar Aulia Putri; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7427

Abstract

Abstract. This study aims to determine the perceptions of students, parents and teachers regarding bullying behavior. The research participants in this study were junior high school students (N= 328) in Bandung City grade 7 (n = 184), grade 8 (n= 75) and grade 9 (n = 69). Then the participants in this study were parents, consisting of fathers (N= 226), mothers (N= 229) and teachers (N= 140). Data collection in this study was conducted online and offline using google forms and questionnaires. The sampling technique used was cluster random sampling. Clusters in this study were determined based on school type (public and private) and school base (religious and non-religious). The measuring instrument used refers to Olweus' bullying theory with four answer options 1= Strongly disagree; 2= Disagree; 3= Agree; 4= Strongly agree. With reliability tests on students, parents and teachers (Cronbach alpha>.05) This study used a quantitative approach, the data were analyzed using descriptive analysis. The results showed that students, parents and teachers assessed that bullying is an aggressive act committed by students against other students intentionally, aiming to harm the victim. Students also assess what is said to be bullying if there are repeated aggressive actions. However, parents and teachers considered that aggressive actions committed only once could be considered as bullying. Students, parents and teachers consider that bullying behavior occurs because of the power imbalance between the perpetrator and the victim. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi siswa, orang tua dan guru mengenai perilaku perundungan. Partisipan penelitian pada penelitian ini yaitu siswa SMP (N = 328) di Kota Bandung kelas 7(n = 184), kelas 8(n = 75) dan kelas 9(n = 69). Kemudian yang menjadi partisipan dalam penelitian ini yaitu orang tua, yang terdiri dari bapak (N = 226), ibu (N = 229) dan guru (N = 140). Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara online dan offline dengan menggunakan google form dan kuesioner. Teknik sampling yang digunakan yaitu cluster random sampling. Cluster pada penelitian ini ditentukan berdasarkan tipe sekolah (negeri dan swasta) dan basis sekolah (agama dan non agama). Alat ukur yang digunakan mengacu pada teori perundungan Olweus dengan empat pilihan jawaban 1= Sangat tidak setuju; 2= Tidak Setuju; 3= Setuju; 4= Sangat Setuju. Dengan uji reliabilitas pada siswa, orang tua dan guru (Cronbach alpha >.05) Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan siswa, orang tua dan guru menilai bahwa perundungan merupakan tindakan agresif yang dilakukan siswa terhadap siswa lain secara sengaja, bertujuan untuk menyakiti korban. Siswa juga menilai yang dikatakan sebagai perundungan yaitu jika ada tindakan agresif yang dilakukan berulang. Namun orang tua dan guru menilai tindakan agresif yang dilakukan hanya sekali dapat dikatakan sebagai perundungan. Siswa, orang tua dan guru menilai bahwa perilaku perundungan terjadi karena adanya power imbalance antara pelaku dan korban
Studi Komparasi Kepuasan Pertemanan dan Subjective Well-Being Remaja Panti Asuhan pada Saat dan Setelah Pandemi COVID-19 Alika Tsania Fauziah; Ihsana Sabriani Borualogo
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7428

Abstract

Abstract. Relationships with friends are important for adolescents, especially adolescents in residential care. For two years, they were required to lockdown due to the pandemic and now they are required to adapt back to normal life. This study is a longitudinal study comparing friendship satisfaction and subjective well-being (SWB) of adolescents in residential care during and after the COVID-19 pandemic. During the pandemic, there was a significant difference between the first year pandemic and the second year pandemic. Orphanage adolescents are more well-being in the first year of the pandemic. The sample selected in this study is the same sample as the previous study. Respondents of this study (N = 74; 66.2% female and 33.8% male). The sampling technique used was cluster random sampling. The measurement tools were friendship satisfaction from Children's World and CW-SWBS5. The compare means paired sample t-test analysis was used to see whether or not there were differences in friendship satisfaction and SWB during and after the COVID-19 pandemic. As a result, SWB during (M = 74.00) and after the COVID-19 pandemic (M = 74.32) showed no significant difference (M = -.324) with a significant (.894 > .05). Friendship satisfaction and friendship factors also did not show a significant difference where all significant values were more than .05 (p > .05). Abstrak. Relasi dengan teman merupakan hal yang penting bagi remaja, khususnya remaja panti asuhan. Selama dua tahun dituntut untuk melakukan lockdown karena terjadinya pandemi dan sekarang dituntut untuk beradaptasi kembali dengan kehidupan normal. Penelitian ini merupakan studi longitudinal yang membandingkan kepuasan pertemanan dan subjective well-being (SWB) remaja panti asuhan pada saat dan setelah pandemi COVID-19. Pada saat pandemi, di dapatkan hasil adanya perbedaan signifikan antara pandemi tahun pertama dan pandemi tahun kedua. Remaja panti asuhan lebih well-being di tahun pertama terjadinya pandemi. Sampel yang dipilih pada penelitian ini merupakan sampel yang sama dengan penelitian sebelumnya. Responden penelitian ini (N = 74; 66.2% perempuan dan 33.8% laki-laki). Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur nya adalah kepuasan pertemanan dari Children’s World dan CW-SWBS5. Analisis compare means paired sample t-test digunakan untuk melihat ada atau tidak adanya perbedaan kepuasan pertemanan dan SWB pada saat dan setelah pandemi COVID-19. Hasilnya, SWB pada saat (M = 74.00) dan setelah pandemi COVID-19 (M = 74.32) tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan (M = -.324) dengan signifikan (.894 > .05). Kepuasan pertemanan serta faktor-faktor pertemanannyapun tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan yang dimana semua nilai signifikannya lebih dari .05 (p > .05).
Studi Deskripsi Subjective Well-Being Korban Poliviktimisasi Perundungan di Kota Bandung Labibah Nur Hasanah; Borualogo, Ihsana Sabriani
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10052

Abstract

Abstract. Bullying has a negative impact on the subjective well-being (SWB) of children and adolescents. In Indonesia, there is a lot of research discussing bullying and its relationship with the SWB of children, but research on polyvictimization of bullying is still limited. Polyvictimization of bullying is a condition where students experience more than one form of bullying incident conducted by different perpetrators in different settings. This study aims to provide a description of cases of polyvictimization of bullying in schools by other student in school and also at home conducted by siblings experienced by junior high school students in the city of Bandung, and how their SWB is described. Participants in this study were junior high school students in Bandung in grades 7, 8, and 9 (N = 160) with a gender ratio of 56.3% female and 43.8% male. The sampling technique used was cluster random sampling. The measurement tools used included the frequency of bullying from Children's Worlds (α = 0.895), socio-economic status (SES), CW-PNAS (α = 0.975), and CW-SWBS5 (α = 0.525). The results of the study showed that the average SWB scores of male students who were victims of polyvictimization of bullying (M = 79.0; SD = 22.1) were higher than the SWB scores of female students (M = 59.7; SD = 30.2). Female students also showed a more dominant negative affect (M = 67; SD = 30.5) compared to male students (M = 53; SD = 31.8). Overall, junior high school students who were victims of polyvictimization of bullying in Bandung had SWB scores (M = 68.1; SD = 27.4), which means that these students did not feel a sense of well-being. Abstrak. Perundungan memberikan dampak yang negatif teerhadap subjective well-being (SWB) anak dan remaja. Di Indonesia banyak penelitian yang membahas mengenai perundungan dan hubungannya dengan SWB anak, namun penelitian yang membahas mengenai poliviktimisasi perundungan masih terbatas. Poliviktimisasi perundungan adalah kondisi di mana siswa mengalami lebih dari satu perundungan yang dilakukan oleh pelaku yang berbeda dan dilakukan pada setting tempat yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi kasus poliviktimisasi perundungan di sekolah dan di rumah oleh siswa lain di sekolah dan juga saudara kandung yang dialami oleh siswa SMP di Kota Bandung dan bagaimana deskripsi SWB mereka. Partisipan pada penelitian ini adalah siswa SMP di Kota Bandung yang berada di kelas 7, 8 dan 9 SMP (N = 160) dengan perbandingan jenis kelamin sebanyak 56.3% perempuan, 43.8% laki-laki. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah frekuensi perundungan dari Children’s Worlds (α=.895), socio economic status (SES), CW-PNAS (α=.975) dan CW-SWBS5 (α=.525). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor SWB siswa laki-laki korban poliviktimisasi perundungan (M = 79. ; SD = 22.1) lebih tinggi dibandingkan dengan skor SWB siswa perempuan (M = 59.7; SD = 30.2). Siswa perempuan juga menunjukkan lebih dominan negative affect (M = 67; SD = 30.5) dibandingkan dengan siswa laki-laki (M = 53; SD = 31.8). Secara keseluruhan siswa SMP yang menjadi korban poliviktimisasi perundungan di Kota Bandung memiliki skor SWB (M = 68.1; SD = 27.4), yang berarti siswa SMP korban poliviktimisasi perundungan di Kota Bandung tidak merasa well-being.