Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Hubungan Antara Obesitas Dengan Kejadian Preeklamsia Berat Pada Ibu Hamil Trimester 3 Di RS Fatimah Kabupaten Lamongan Zaky Fakhriantono, Haidar; Dwi Ariningtyas, Ninuk; Prahasanti, Kartika; Nur Sucahyo, Eko
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 3 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i3.28584

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, salah satunya disebabkan oleh preeklamsia, yaitu kondisi hipertensi spesifik selama kehamilan. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang memicu terjadinya preeklamsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan kejadian preeklamsia berat pada ibu hamil trimester 3 di \ Fatimah Kabupaten Lamongan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 344 ibu hamil dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,6% responden mengalami obesitas dan 15,4% mengalami preeklamsia berat. Terdapat hubungan signifikan antara obesitas dengan kejadian preeklamsia berat (p-value 0,000). Disimpulkan bahwa obesitas pada ibu hamil trimester 3 berhubungan dengan peningkatan risiko preeklamsia berat. Penelitian ini menyarankan pentingnya edukasi dan pemantauan status gizi ibu hamil untuk mencegah komplikasi kehamilan.
Perbedaan Anestesi Metode ERACS dan Non-ERACS terhadap Penurunan Rasa Nyeri pada Operasi Sectio Caesarea di Rumah Sakit Wiyung Sejahtera Surabaya Rista Nabilah, Widya; Rochman, Syaiful; Dwi Ariningtyas, Ninuk; Suyuthi, Imam
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 2 No 3 (2025): JurnalMU: Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v2i3.28597

Abstract

Latar Belakang: Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) merupakan pendekatan terbaru dalam manajemen perioperatif yang bertujuan untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi rasa nyeri pascaoperasi. Tujuan: Menganalisis perbedaan efektivitas metode anestesi ERACS dan non-ERACS dalam menurunkan nyeri pascaoperasi pada pasien sectio caesarea. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 96 pasien post-SC yang dibagi dalam dua kelompok berdasarkan metode anestesi yang diterima, yaitu 48 pasien ERACS (bupivakain intratekal dengan morfin) dan 48 pasien non-ERACS (bupivakain intratekal dengan petidin intramuskular). Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) pada jam kedua pascaoperasi. Hasil: Dari hasil analisis uji chi-square menunjukkan bahwa pasien yang menerima metode ERACS mengalami nyeri lebih ringan dibandingkan kelompok non-ERACS (p<0,05). Kesimpulan: Metode anestesi ERACS lebih efektif dalam menurunkan rasa nyeri dan mempercepat pemulihan pasca sectio caesarea dibandingkan dengan metode non-ERACS. Penerapan metode ini dapat menjadi rekomendasi dalam manajemen perioperatif operasi sesar untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan mempercepat pemulihan.
Differences in the Development of Language and Social Independence in Children with Speech Delay and Sensorineural Hearing Loss based on the Age for Early Intervention and the Duration of Auditory-Verbal Therapy Purwanti, Zamrotu Iva; Romdhoni, Achmad Chusnu; Suryawan, Ahmad; Purnami, Nyilo; Ariningtyas, Ninuk Dwi
Folia Medica Indonesiana Vol. 59, No. 4
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Highlights : • This study explored the significance of auditory-verbal therapy as an early intervention for children with speech delay and sensorineural hearing loss, a topic that deserves further research in developing countries such as Indonesia. • The findings highlight the significance of age and therapy duration on the language development of children with speech delay and sensorineural hearing loss. Abstract Speech delay is primarily attributed to sensorineural hearing loss, which may significantly impact a child's language development and social independence. Consistent and periodic auditory-verbal therapy as an early intervention has the potential to positively influence language development, thereby fostering independence in children. The objective of the research was to examine the differences in the development of language and social independence among children who have speech delay and sensorineural hearing loss at the children's age for early intervention and with the duration of auditory-verbal therapy taken into consideration. The research employed an analytical-observational design with a cross-sectional approach and total sampling. The sample comprised 29 children who were undergoing the weekly routine of auditory-verbal therapy at Yayasan Aurica, Surabaya, Indonesia. The tool utilized in this study was the Pre-Screening Developmental Questionnaire. The data underwent bivariate analysis, specifically using the Chi-squared test with a significance level set at a p-value of <0.05. The language development analysis resulted in a p-value of 0.013 for the age variable and a p-value of 0.019 for the therapy duration variable. Meanwhile, the social independence analysis yielded a p-value of 0.229 for the age variable and a p-value of 0.111 for the therapy duration variable. In conclusion, the influence of age on early intervention had a significant difference from that of the duration of auditory-verbal therapy on the language development of children with speech delay and sensorineural hearing loss. Conversely, age and therapy duration did not exert any meaningful difference in terms of their influence on the children's social independence development.
Hubungan Antara Paritas dan Anemia Pada Ibu Hamil Terhadap Kejadian BBLR di RS PKU Muhammadiyah Surabaya Haykal Ade Dayanegara; Ninuk Dwi Ariningtyas; Gina Noor Djalilah
JurnalMU: Jurnal Medis Umum Vol 3 No 1 (2026): JurnalMU : Jurnal Medis Umum
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jmu.v3i1.32614

Abstract

Latar Belakang: Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor utama penyebab meningkatnya angka kematian dan kesakitan bayi. Dua faktor maternal yang diduga berperan penting dalam kejadian BBLR adalah paritas dan anemia pada ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas dan anemia pada ibu hamil terhadap kejadian BBLR. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan kohort retrospektif yang dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Surabaya pada periode Januari 2023–Januari 2024. Data diperoleh dari rekam medis sebanyak 1295 ibu hamil. Variabel yang dikaji adalah paritas, anemia, dan kejadian BBLR. Uji statistik menggunakan Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian BBLR (p = 0,009), di mana ibu dengan paritas berisiko (primipara atau multipara ≥4) cenderung lebih banyak melahirkan bayi dengan BBLR dibandingkan paritas tidak berisiko. Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR (p = 0,183). Kesimpulan: Paritas berisiko memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian BBLR, sementara anemia tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Intervensi lebih lanjut perlu difokuskan pada ibu hamil dengan paritas berisiko untuk mencegah BBLR.
HUBUNGAN ANTARA PERAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN RESIKO DEPRESI PERINATAL DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH SURABAYA Achmada Nadia Shobrina; Era Catur Prasetya; Ninuk Dwi Ariningtyas; Uning Marlina
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 3 (2023): Proceeding Series Fakultas Kedokteran
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ps.v2i1.19422

Abstract

Perinatal depression is a feeling disorder that occurs during pregnancy or after pregnancy or both that lasts more than 14 days and interferes with the mother's quality of life. Perinatal depression appear as the result of various risk factor, divided into family factor, family financial factor, mother’s health factor and demographics factor. to determine the relationship between the role of family support and the risk of perinatal depression at the Muhammadiyah Hospital in Surabaya. This research was conducted with analytic observational using cross sectional method. Respondents were selected by simple random sampling technique. A total of 96 respondents obstetric polyclinic patients at Muhammadiyah Surabaya Hospital filled out the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) questionnaire and the Apgar Family questionnaire. Data were analyzed using the Spearman correlation test on the SPSS platform. The results of this study were obtained for good family support obtained 80 (83.3%), not good 11(11.5%) and those who get family support are not good 5 (5.2%). For the results of the level of depression, it was found that 38 people (39.6%) had no risk of depression, 30 people (31.3%) had disorders that might cause discomfort and 28 people (29.2%) were at risk of depression. The results of the Spearman bivariate test analysis yielded a value of p = 0.047 (p <0.05) and r = -0.204.The results of this study indicate that there is a relationship between family support and perinatal depression. There is a significant relationship between family support and perinatal depression at Muhammadiyah Surabaya Hospital.Keyword: Family Support, perinatal depression
PERAN CALCIUM PADA PREEKLAMPSIA Ninuk Dwi Ariningtyas
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 2 (2023): Proceeding Series Fakultas Kedokteran
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ps.v1i2.18444

Abstract

Preeklampsia merupakan penyakit multisistem yang sampai saat ini belumdiketahui penyebabnya dengan pasti. Dia antara beberapa teori yang berkembangdiantaranya adalah kerusakan endotel ibu yang kemungkinan berasal dari meningkatnyakonsentrasi plasma lipid peroksidase yang sangat reactif dan radikal bebas yangsumbernya oleh karena hipoperfusi plasenta.Pada preeklampsia didapatkan penurunan kadar 1,25-(OH)2D3 yang berakibatmenurunnya absorbsi calcium sehingga menurunkan calcium ionized serum sehinggamenstimulasi parathyroid hormon. Parathyroid hormon ini mengakibatkan peningkatanreabsorbsi calcium ditubulis distal ginjal dan terjadilah hipocalciuria. Tapi padakenyataannya kadar calcium ionized serum dilaporkan normal pada wanita hamil normaldan preeklampsia.Regulasi calcium juga berperan terhadap terjadinya kontraksi otot polos vaskular.Meningkatnya kadar calcium intraselular akan meningkatkan tonus otot polos, resistensivaskular perifer dan tekanan darah. Dan 1,25-dihydroxyvitamin D merangsang calciuminflux pada berbagai sel termasuk sel otot polos. Suplementasi calcium akanmengahambat meningkatnya 1,25-dihydroxyvitamin D sehingga akan mengurangicalcium intraselular otot polos vaskular
Kehamilan Prematur dengan Eklampsia Hipertensi Emergensi dan Sindrom HELLP Parsial: Laporan Kasus Supratikto; Intan Rachmi Putri; Muhammad Anas; Eko Nursucahyo; Ninuk Dwi Ariningtyas
PROCEEDING UMSURABAYA Vol 1 No 2 (2026): Proceeding Series LSPID UMSURA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pc.v1i2.33110

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan prematur yang disertai eklampsia merupakan kegawatdaruratan obstetri yang memicu risiko kematian serta menjadi faktor penyebab utama morbiditas maternal dan perinatal. Prioritas intervensi klinis dalam kondisi ini meliputi pemulihan stabilitas hemodinamik maternal, terminasi bangkitan kejang, manajemen krisis hipertensi, serta penentuan waktu terminasi kehamilan yang optimal. Kasus: RSUD Dr. Soegiri Lamongan menerima pasien rujukan dari puskesmas Mantup, Seorang perempuan berusia 31 tahun, G2P1001, usia kehamilan 31 minggu setelah mengalami dua episode kejang tonik-klonik general. Pasien datang dalam kondisi hipertensi emergensi (181/117 mmHg), proteinuria masif (+3), Hipoalbumin (3,2 gram/dL) dan peningkatan enzim transaminase (SGOT 473 U/L, SGPT 155 U/L) dengan trombosit normal (184.000 u/L) secara klinis mengarah pada diagnosis sindrom HELLP parsial. Langkah stabilisasi awal dilakukan dengan pemberian oksigen nasal kanul, profilaksis MgSO4, antihipertensi, dan injeksi deksametason untuk stimulasi kematangan paru janin. Terminasi kehamilan dilakukan secara Sectio caesarea setelah maturasi paru tercapai. Pasien mengalami fase pemulihan pasca operasi dengan baik dan dipulangkan, diizinkan rawat jalan dengan terapi antihipertensi oral. Kesimpulan: Penanganan eklampsia prematur dengan keterlibatan multiorgan memerlukan tatalaksana yang cepat. Stabilisasi hemodinamik, restriksi cairan untuk mencegah risiko edema pulmonal serta ketepatan momentum pelaksanaan terminasi kehamilan.