Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Kerusakan Deoxyribonucleic Acid (DNA) Spermatozoa Memengaruhi Tingkat Kebuntingan Sapi Brahman (DAMAGE TO DEOXYRIBONUCLEIC ACID (DNA) SPERMATOZOA AFFECTING THE LEVEL OF PREGNANCY IN BRAHMAN CATTLE) Langgeng Priyanto; Agung Budiyanto; Asmarani Kusumawati; Kurniasih Kurniasih
Jurnal Veteriner Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.284 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.1.119

Abstract

The relationship among of sperm DNA damage in cows with pregnancy rates has not been widely studied. The purpose of this study to determine the relationship of sperm DNA damage with pregnancy rate on Brahman cows. The sperm DNA damage rate was measured by Sperm-BosHalomax® from 2 samples of male Brahman bull straw (40002 and 40885) and pregnancy rate was measured from the success rate of artificial insemination. In 14 female Brahman cows divided into two groups. One group of 7 in the artificial insemination with 40002 males with 37.11% sperm DNA damage and one in artificial insemination with 40885 with 10.65% sperm DNA damage. The data obtained were analyzed descriptively by comparing sperm DNA damage with pregnancy rate. The results showed that at 37.11% sperm DNA damage level was found pregnancy rate 57.11% with ultrasound on 30 day and pregnancy rate 42.80% with ultrasound to 45 day. Result of research on sperm DNA damage level of 10.66% found pregnancy rate 57.11% with ultrasound to 30 day and level pregnancy 57.11% with ultrasound 45 days. The results of this study have concluded that there is a difference in the rate of sperm DNA damage with pregnancy rate in Brahman cows. The sperm DNA damage has an effect on pregnancy rate on Brahman cows.
Tingkat Kerusakan DNA Spermatozoa Memengaruhi Profil Protein Spermatozoa pada Semen Beku Sapi Brahman (LEVEL OF SPERMATOZOA DNA DAMAGES AFFECTS SPERMATOZOA PROTEIN PROFILES IN BRAHMAN BULLS FROZEN SEMEN) Langgeng Priyanto; Agung Budiyanto; Asmarani Kusumawati; Kurniasih Kurniasih
Jurnal Veteriner Vol 19 No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.73 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2018.19.4.512

Abstract

The purpose of this study was to investigate the relationship between spermatozoa DNA damages with spermatozoa protein profiles of after freezing. The rate of spermatozoa DNA damages was measured by Sperm-Bos-Halomax from two Brahman bull straw samples and the spermatozoa protein was isolated by separating the upper and lower fractions of the centrifugation results. The protein profiles were then analyzed using SDS PAGE with a 12.5% separating gel concentration. The data obtained were analyzed descriptively by comparing level of spermatozoa DNA damages with spermatozoa protein profiles of upper and lower fractions. The results of the analysis showed that in the upper fractions at 37.11% level of spermatozoa damages, one protein band (29 kDa) and at 10.66% level of DNA spermatozoa damages 9 protein bands (128 kDa, 110, 91, 55, 44, 29, 27, 25 and 20 kDa) were found, respectively. Meanwhile, in the lower fractions of frozen semen, at 37.11% level of spermatozoa DNA damages 4 protein bands (105, 82, 56 and 25 kDa), and at 10.66% level of spermatozoa DNA damages 8 protein bands (109, 95, 79, 69, 50, 44, 24 and 18 kDa) were found, respectively. It can be concluded that there are differences in the spermatozoa protein profiles between different levels of spermatozoa damages.
Penambahan Suplemen Zinc (Zn) pada Sinkronisasi Estrus Kambing Ras Campuran Muhammad Rosyid Ridlo; Agung Budiyanto
Jurnal Nasional Teknologi Terapan (JNTT) Vol 1, No 1 (2017): NOVEMBER
Publisher : Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.01 KB) | DOI: 10.22146/jntt.34088

Abstract

The aim of this study was to understand the effect of using Zinc (Zn) to oestrous synchronization in Indonesian Mixed Breed Goat. The number of 12 does aging 24-36 months and a buck were used in this experiment in order to natural copulation purpose. The experimental animals were devided into 2 groups. The first group was given oestrous synchronization using polyurethane sponge which contained of medroxi progesterone acetate 60 mg through intra vaginal for 14 days (control). The Second group was synchronized in the same method as the first group and supplemented with Zn 20 mg/head by peroral. The does that have been oestrous then mated naturally. The experimental results indicate the number of natural copulation in second group was higher than control (83% vs 50%). Oestrous uniformity occurred in both groups. The Oestrous onset in second group was earlier than control (36 vs 48 jam) and duration of oestrous was longer than control (12 vs 48 jam).Maximum oestrous quality score was higher than control (7.17±0.75 vs 6.67±0.52). The conclusion is the addition of Zn Supplement improves the quality of oestrous during oestrous synchronization by intra vaginal polyurethane sponge which contained of medroxi progesterone acetate 60 mg in Indonesian mixed breed goat.
Gambaran darah pada Kasus Distokia, Retensi Plasenta dan Anestrus pada Sapi Betina Peranakan Friesian Holstein (PFH) di Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembang Dwi Walid Retnawati; Yanuartono; Agung Budiyanto
Jurnal AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. 4 No. 2 (2020): Desember 2020 (AgroSainTa)
Publisher : Bidang Penyelenggaraan, Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan - Pusat Pelatihan Pertanian - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian - Kementerian Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51589/ags.v4i2.5

Abstract

Gangguan reproduksi mempunyai kontribusi yang besar dalam meningkatkanpenurunan populasi dan produksi susu, hal ini disebabkan oleh rendahnyastatus kesehatan hewan maupun kesehatan reproduksinya. Gangguanreproduksi yang sering terjadi di peternak saat ini adalah distokia, retensiplasenta, anestrus. Beberapa aspek penyebab gangguan reproduksi antara laindipengaruhi oleh genetik, nutrisi, seleksi, kondisi fisiologis. Kondisi fisiologisdapat dilihat atau ditentukan dari pemeriksaan hematologi. Pemeriksaanhematologi yang sering digunakan untuk mengukur derajat kesehatan hewanadalah jumlah sel darah merah, hemoglobin, hematokrit. Penelitiandilaksanakan di kawasan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU),Kampung Areng, Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembang Provinsi JawaBarat. Penelitian ini menggunakan sapi betina jenis Peranakan(PFH), mengalami gangguan reproduksi berupa distokia, retensiplasenta, sedang kasus anestrus, sapi tidak mengalami estrus postpartus lebihdari 3 bulan, umur 3 sampai 10 tahun. Sapi dikelompokkan menjadi 5kelompok. Kelompok 1 yaitu 7 ekor sapi mengalami distokia, kelompok 2 yaitu7 ekor mengalami retensi plasenta, kelompok 3 yaitu 7 ekor mengalamianestrus, kelompok 4 yaitu 7 ekor sapi yang tidak mengalami distokia danretensi plasenta, dan kelompok 5 yaitu 7 ekor sapi yaitu dengan siklus estrusnormal. Hasil pemeriksaan darah sapi jenis PFH kasus distokia tersaji dalamTabel 1. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 1 yaitu rata-rata nilaieritrosit sebesar 5.67 0.81 x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 9.311.17 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 21.8 4.55 %. Hasil penilitian inimenunjukkan kelompok 4 yaitu yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 7.19 0.44x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 11.23 0.51 g/dl, rata-rata nilaihemtokrit sebesar 30.16 3.23 %. Hasil analisis menunjukkan sapi yangmengalami kasus distokia dan sapi kontrol memberikan perbedaan nyataterhadap rata-rata jumlah eritrosit, hemoglobin dan hematokrit (p<0.05). Hasilpemeriksaan darah sapi jenis PFH kasus retensi plasenta tersaji dalam Tabel 2.Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 2 yaitu rata-rata nilai eritrositsebesar 10.22 9.53 x10 /μl., rata-rata nilai hemoglobin sebesar 10.26 0.8g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 24.71 3.35 %. Hasil penilitian inimenunjukkan kelompok 4 yaitu yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 7.19 0.44x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 11.23 0.51 g/dl, rata-rata nilaihemtokrit sebesar 30.16 3.23 %. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalamikasus retensi plasenta dan sapi kontrol yang tidak mengalami retensi plasentamemberikan perbedaan nyata atau signifikan terhadap rata-rata hemoglobindan hematokrit (p<0.05) sedangkan pada nilai rata-rata jumlah eritrosit tidakmemberikan perbedaan nyata atau tidak signifikan (P>0.05). Hasilpemeriksaan darah sapi jenis PFH kasus retensi plasenta tersaji dalam Tabel 3.Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 3 yaitu rata-rata nilai eritrositsebesar 13.17 19.78. x10 /μl., rata-rata nilai hemoglobin sebesar 9.24 0.53g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 21.03 2.27 %. Hasil penilitian inimenunjukkan kelompok 5 yaitu yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 6.06 0.49x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 9.23 0.62 g/dl, rata-rata nilaihemtokrit sebesar 20.9 2.47 %. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalamikasus anestrus dan sapi kontrol tidak memberikan perbedaan nyata atau tidaksignifikan terhadap rata-rata jumlah eritrosit, nilai hemoglobin dan nilaihematokrit (P>0.05). Kesimpulan pada penelitian ini yaitu hematologi (jumlaheritrosit, nilai hemoglobin dan nilai hematokrit) pada kasus distokia dan retensiplasenta mengalami penurunan sedangkan pada kasus anestrus mengalamikenaikan terhadap sapi kontrol.
Gambaran Makromineral Ca, P, Mg dan K Pada Kasus Distokia, Retensi Plasenta dan Anestrus pada Sapi Betina Peranakan Friesian Holstein (PFH) di Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembang Dwi Walid Retnawati; Yanuartono Yanuartono; Agung Budiyanto
Jurnal Penelitian Peternakan Terpadu Vol 2, No 2 (2020): April 2020
Publisher : UPPM Politekik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36626/jppt.v2i2.288

Abstract

Gangguan reproduksi mempunyai kontribusi yang besar dalam meningkatkan penurunan populasi dan produksi susu, hal ini disebabkan oleh rendahnya status kesehatan hewan maupun kesehatan reproduksinya. Mineral merupakan komponen nutrisi yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan kesehatan, produksi, reproduksi dan kekebalan tubuh seperti metabolisme protein, energi dan biosintesa zat-zat makanan esensial. Ruminansia membutuhkan mineral berupa makromineral seperti kalsium (Ca), phospharus (P), magnesium (Mg), potasium /kalium (K). Defisiensi mineral dapat mengakibatkan penurunan produksi dan gangguan reproduksi pada sapi. Penelitian dilaksanakan di kawasan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU), Kampung Areng, Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembang Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan sapi betina jenis Peranakan Friesian Holstein (PFH), mengalami gangguan reproduksi berupa distokia, retensi plasenta, sedang kasus anestrus, sapi tidak mengalami estrus postpartus lebih dari 3 bulan, umur 3 sampai 10 tahun. Sapi dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 yaitu 7 ekor sapi mengalami distokia, kelompok 2 yaitu 7 ekor mengalami retensi plasenta, kelompok 3 yaitu 7 ekor mengalami anestrus, kelompok 4 yaitu 7 ekor sapi yang tidak mengalami distokia dan retensi plasenta, dan kelompok 5 yaitu 7 ekor sapi yaitu dengan siklus estrus normal. Hasil pemeriksaan mineral sapi jenis PFH kasus distokia menunjukkan kelompok 1 yaitu rata-rata kadar Ca sebesar 8.06 + 3.26 mg/dl, rata-rata kadar P sebesar 10.05 + 2.94 mg/dl, rata-rata Mg sebesar 2.89 + 1.49 mg/dl, rata-rata K sebesar 11.86 + 3.79 mEq/L. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 4 yaitu yaitu yaitu rata-rata kadar Ca 11.28 + 2.62.mg/dl, rata-rata kadar P sebesar 7.27 + 1.83 mg/dl, rata-rata Mg sebesar 0.54 + 1.86 mg/dl, rata-rata K sebesar 0.59 + 5.76 mEq/L. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalami kasus distokia dan sapi kontrol tidak memberikan perbedaan nyata terhadap rata-rata kadar kalsium dan fosfor (P>0.05), sedangkan pada nilai rata-rata kadar magnesium dan nilai kalium memberikan perbedaan nyata atau signifikan (P<0.05). Hasil pemeriksaan mineral sapi jenis PFH kasus retensi plasenta menunjukkan kelompok 2 yaitu rata-rata kadar Ca sebesar 8.07 + 4.04 mg/dl, rata-rata kadar P sebesar 8.04 + 2.92 mg/dl, rata-rata Mg sebesar 2.29 + 0.12 mg/dl, rata-rata K sebesar 9.27 + 1.71mEq/L. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 4 yaitu yaitu yaitu rata-rata kadar Ca 11.28 + 2.62.mg/dl, rata-rata kadar P sebesar 7.27 + 1.83 mg/dl, rata-rata Mg sebesar 0.54 + 1.86 mg/dl, rata-rata K sebesar 0.59 + 5.76 mEq/L. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalami kasus retensi plasenta dan sapi kontrol memberikan perbedaan tidak nyata terhadap rata-rata kadar kalsium, nilai fosfor dan magnesium (P>0.05), sedangkan pada nilai rata-rata kadar kalium memberikan perbedaan nyata atau signifikan (P<0.05). Hasil pemeriksaan mineral sapi jenis PFH kasus anestrus menunjukkan kelompok 3 yaitu rata-rata kadar Ca sebesar 9.77 + 4.69 mg/dl, rata-rata kadar P sebesar 11.06 + 5.43 mg/dl, rata-rata Mg sebesar 2.23 + 0.12 mg/dl, rata-rata K sebesar 9.77 + 1.93 mEq/L. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 5 yaitu yaitu yaitu rata-rata kadar Ca 9.53 + 1.83.mg/dl, rata-rata kadar P sebesar 11.06 + 5.43 mg/dl, rata-rata Mg sebesar 3.03 + 0.43 mg/dl, rata-rata K sebesar 5.79 + 0.49 mEq/L. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalami kasus retensi plasenta dan sapi kontrol memberikan perbedaan tidak nyata terhadap rata-rata kadar kalsium, nilai fosfor dan magnesium (P>0.05), sedangkan pada nilai rata-rata kadar kalium memberikan perbedaan nyata atau signifikan (P<0.05). Kesimpulan penelitian ini yaitu kadar kalsium mengalami penurunan sedang kadar fosfor, magnesium, kalium mengalami peningkatan pada kasus distokia, retensi plasenta dan anestrus.
Karakteristik Calving Interval pada Sapi Jawa-Brebes di Kabupaten Brebes Jawa Tengah Indonesia Agung Budiyanto; Slamet Hartanto; Imawan Daru Prasetya; Ismu Subroto; Zulfianto Hadratus Asy&#039;ari; Erent Sahat Timotius Sihombing; Yaflet Elifelet Mabel; Annisa Sonia Orintamara; Muhammad Wildan Nasir
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.77833

Abstract

Sapi Jabres sebagai sumber daya genetik ternak lokal Indonesia harus dilindungi dan dilestarikan. Namun, kajian karakteristik kinerja reproduksi terutama calving interval pada sapi Jabres pada berbagai umur masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui calving interval sapi Jabres di kabupaten Brebes. Metode yang digunakan adalah survei dengan purposive sampling. Data diolah secara statistik menggunakan analisis deskriptif. Data disajikan dengan nilai rata-rata ± standar deviasi. Sampel data diambil dari catatan penampilan reproduksi dari 90 ekor sapi Jabres. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa calving interval sapi Jawa Brebes di desa Pangerasan Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes pada umur 3-5 tahun sebesar 399,2±8,5 hari, umur 6-8 tahun sebesar 416,1±11,0 hari, dan umur lebih dari 9 tahun sebesar 408,0±12,6 hari. Kesimpulan penelitian ini adalah calving interval pada sapi Jabres pada semua umur cukup baik tetapi belum ideal. 
Konstruksi Plasmid pET-15b dengan Gen tat Virus Penyakit Jembrana Asmarani Kusumawati; Lalu Unsunnidhal; Agung Budiyanto; Erif Maha Nugraha Setyawan; Sri Gustari
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.79217

Abstract

Virus Penyakit Jembrana adalah virus yang menyebabkan jembrana pada sapi bali. Vaksin protein rekombinan dibuat dengan memasukkan DNA atau gen yang mengkode protein imunogenik ke dalam vektor ekspresi prokariotik sehingga dapat mengekspresikan protein rekombinan yang akan dijadikan vaksin. Salah satu gen struktural virus penyakit jembrana adalah gen tat yang mengekspresikan protein tat yang digunakan sebagai vaksin protein rekombinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkloning pET15b dengan gen tat. Konfirmasi gen pET-15b pada bakteri transforman dilakukan dengan koloni PCR, kemudian dilakukan isolasi plasmid dan dilaksanakan konfirmasi menggunakan metode PCR dengan primer untuk deteksi gen tat dan primer sekuensing untuk vektor pET15b. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri transforman sudah berisikan DNA rekombinan pET15b-tat yang terkonfirmasi melalui koloni PCR dengan band sebesar 179 bp, kemudian dikonfirmasi lanjut melalui PCR pada hasil isolasi plasmid dari bakteri transforman yang didapatkan band sebesar 179 bp untuk primer deteksi gen tat dan 514 bp untuk primer sekuensing pada vektor pET15b, 179 bp dan 514 bp sesuai dengan target amplikasi untuk primer deteksi dan primer sekuensing yang digunakan.
MOLECULAR EXPRESSION OF WINGLESS-TYPE MMTV INTEGRATION SITE FAMILY MEMBER 4 GENE USING Escherichia coli BL21 Agung Janika Sitasiwi; Wayan Tunas Artama; Agung Budiyanto; Edy Dharmana
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 1 (2017): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.407 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v11i1.5891

Abstract

This research was conducted to find out the Wnt4 recombinant proteins which expressed by Escherichia coli (E. coli) BL21 carrying the recombinant DNA wnt4 (E. coli transformation). Research materials were E. coli BL21 transformation and E. coli BL21 non-transformation (negative control). The expression of recombinant protein was conducted by culturing E. coli for 24 hours in Luria-Bertani (LB) media with isopropyl β-D-1-thiogalactopyranoside (IPTG) induction. Recombinant protein was isolated by sonication of pellet bacteria. Protein analysis performed by 15% sodium dodecyl sulphate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE). The results showed that recombinant protein with a molecular weight of 33 kDa has been expressed by E. coli BL21 transformation successfully. 
Kemampuan Rectovaginal Endoscopy (RVE) Mendeteksi Berahi dan Gambaran Kadar Estrogen Selama Siklus Berahi Kambing Dony Nurcahya; Widagdo Sri Nugroho; Agung Budiyanto; Budi Pramono
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 3 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.85245

Abstract

Deteksi estrus yang tepat pada kambing akan menentukan keberhasilan inseminasi buatan (IB). Rectovaginal endoscopy (RVE) merupakan alat deteksi estrus pada kambing yang dimodifikasi dengan perpaduan spekulum yang dilengkapai kamera terhubung dengan layar monitor. Alat RVE ini membantu peternak memastikan saat IB yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Rectovaginal endoscopy (RVE) untuk mendeteksi gejala estrus pada  kambing-domba dan mengetahui gambaran estrogen selama siklus berahi kambing-domba. Metode penelitian dengan membandingkan deteksi estrus menggunakan kawin alami dengan pejantan (kelompok 1, kontrol) dengan konvensional/penglihatan mata langsung (Kelompok 2) dan RVE (kelompok 3). Masing-masing kelompok menggunakan 16 ekor kambing dengan ras jawa randu dengan Body Condition Score(BCS) 2,5-3 (kondisi bagus). Deteksi lendir dilakukan pada masing kelompok perlakuan dan diberi nilai (score). Setelah terdeteksi estrus, kelompok 2 dan 3 dilakukan inseminasi buatan (IB) sedangkan kelompok 1 kawin alami dengan pejantan. Data pengamatan estrus analisis secara deskriptif sedangkan data pengamatan lendir dianalisis menggunak Chie-Square. Koleksi serum darah untuk pemeriksaan kadar estrogen diambil pada hari ke-0, 3, 12, dan 15 siklus untuk mendapatkan gambaran kadar estrogen. Hasil deteksi estrus berdasarkan pengamatan lendir diketahui terdapat perbedaan signifikan diantara kelompok (P < 0,05). Pada hari ke-0 nilai profil hormon estrogen 36,14 pg/ml, tampilan gambar alat RVE menunjukkan lendir jernih bening dan terlihat banyak disaluran serviks sampai ke vulva. Hari ke-3 profil hormon estrogen 11,13 pg/ml, terlihat leleran pekat dan sedikit keruh dan hanya terlihat di sekitaran serviks. Hari ke-12 tampilan profil hormon estrogen 8,74 pg/ml terlihat lendir menjadi pekat keruh dan hanya terdapat di sekitar serviks. Hari ke-15 dengan tampilan hormon estrogen 15,82 pg/ml terlihat leleran bening dan hanya di sekitaran serviks. Disimpulkan bahwa penggunaan alat metode baru RVE memberikan pengaruh terhadap deteksi gejala estrus yaitu mampu mendeteksi lendir berdasarkan masing-masing fase siklus berahi.    
Hubungan Komunikasi Interpersonal Perawat dengan Kepuasan Pasien Hamdiah, Dedeh; Budiyanto, Agung
Faletehan Health Journal Vol 11 No 01 (2024): Faletehan Health Journal, Maret 2024
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v11i01.684

Abstract

Health service centers in Indonesia were growing and developed rapidly, resulting on many choices in health services that patients can entrust in carrying out their health care. Patients’ expectation when choosing health services was the ability of health staff to respond quickly to patient complaints and to deal with them in a professional manner. The research objective was to determine the relationship between nurse interpersonal communication and patient satisfaction at Pontang Community Health Center in 2023. The correlation method with a cross-sectional approach was used in this research. Of the 150 inpatients as a population, 75 respondents were involved as the samples by Solvin formula. The data collection was done by interviews, observations, and a questionnaire. The research results showed that the majority of respondents stated that the interpersonal communication of nurses was good (62.7%) and the majority of respondents stated that patient satisfaction in the inpatient unit was not satisfied (54.7%). The statistical test results by using chi-square test obtained a p-value of 0.024 (p<α), which means that there was a relationship between nurse interpersonal communication and patient satisfaction at the inpatient unit of Pontang Community Health Center. The researchers concluded that there was a need of reinforcement in inpatient nurses, such as training on interpersonal communication and service excellence.