Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Tantangan dan Kendala Pengendalian African Swine Fever Roza Azizah Primatika; Etih Sudarnika; Bambang Sumiarto; Chaerul Basri
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.61084

Abstract

African Swine Fever (ASF) is a highly contagious hemorrhagic viral disease that attacks pigs and wild pigs causing economic losses for farms small and large scale. ASF outbreaks that occurred in several regions in the world have caused unrest for the livestock sector. The rapid spread of the ASF virus has resulted in very high pig mortality. ASF virus transmission can occur through direct or indirect contact. Urine and faecal excretion of pigs is an important route of ASF transmission. The ASF virus has three transmission cycles, namely the silvatic, domestic and wild boar cycles. Outbreaks that occur in several countries encourage the strategy of controlling and overcoming the disease through surveillance. ASF disease control that has been carried out includes improving farm biosecurity management systems and limiting the movement of animals and animal products before the ASF vaccine is found.
Factors Associated with the Level of Knowledge of Dairy Cattle Farmers Towards Brucellosis in Kawasan Usaha Peternakan (Kunak), Bogor District Muhammad Hilman bin Jahaluddin; Yusuf Ridwan; Chaerul Basri
Buletin Peternakan Vol 44, No 3 (2020): BULETIN PETERNAKAN VOL. 44 (3) AUGUST 2020
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v44i3.54390

Abstract

Level of farmer’s knowledge have an importance role in the disease prevention and control of livestock. The purpose of this research was to evaluate the level of KUNAK dairy cattle farmer’s knowledge regarding brucellosis and factors that associated to it. A series of questions were asked to the respondents regarding their knowledge of brucellosis. Respondents of 70 farmers were selected with cluster random sampling technique for this research. Data were collected through interviewing respondent using the questionnaire regarding the knowledge of brucellosis in terms of its mode of transmission, symptoms, prevention and treatment. Questionnaire was done in the form of closed question. The analysis was done using chi square test in determining the association of factors affecting level of dairy cattle farmer’s knowledge and odds ratio (OR) in determining the strength of affecting level of dairy cattle farmer’s knowledge. The general result of the level of knowledge of farmers in KUNAK were good being the majority of them were in that category. The farmers of KUNAK had a higher level of knowledge in terms of prevention and symptoms of brucellosis than mode of transmission or treatment of it. The factor that has the most significance to the level of knowledge of KUNAK dairy farmers are the ones with a working experience more than 5 years in this field with 18 times more knowledgeable than farmers with less than 5 years of working experience. The need of disease awareness programs was required for the farmers in broadening their minds towards other aspects of a disease for them to better combat the problems in their day to day business.
Distribusi Skabies pada Peternakan Sapi Potong di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan: Distribution of Scabies in Beef Cattle in Barru District, South Sulawesi Meisi Nuriski; Ardilasunu Wicaksono; Chaerul Basri
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.97

Abstract

Abstract Beef cattle farms in Barru district are susceptible to various diseases, including scabies. This study aims to analyze data about the distribution of disease temporally by measuring the spreading speed, and spatially by mapping risk areas for scabies over the past three years. The data of this study was collected using the records from Dinas Peternakan and conducting interviews using structured questionnaires. This research was a descriptive study by measuring the incidence rate and describing the risk map using geographic information system (GIS). The results of this study indicate that, based on the incidence rate, the average distribution rate of scabies in beef cattle in Barru is 13 cases per 10.000 head/year. This incidence rate always increases every year. Furthermore, the highest incidence of the disease occurs in Mallusetasi with an incidence rate of 35 cases per 10 000 head/year. The three areas that are classified as high risk are Mallusetasi, Tanete Riaja, and Barru. Control measures that have been carried out were not successful to reduce the spread of the disease. Keywords : Beef cattle; Distribution; Incidence rate; Risk; Scabies Abstrak Peternakan sapi potong di Kabupaten Barru rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk skabies. Penelitian ini bertujuan menganalisis data distribusi kejadian penyakit secara temporal dengan mengukur kecepatan penyebaran, dan secara spasial dengan memetakan wilayah berisiko skabies selama tiga tahun terakhir. Data dalam penelitian ini menggunakan rekapan dari Dinas Peternakan dan wawancara mendalam menggunakan kuesioner terstruktur. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan mengukur incidence rate dan menggambarkan peta risiko menggunakan geographic information system (GIS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan incidence rate, kecepatan rata-rata penyebaran skabies pada sapi potong di Kabupaten Barru sebesar 13 kasus per 10000 ekor—tahun. Nilai incidence rate tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. Kejadian penyakit paling tinggi terjadi di kecamatan Mallusetasi dengan incidence rate sebesar 35 kasus per 10000 ekor—tahun. Terdapat 2 wilayah yang tergolong ke dalam risiko tinggi, yaitu Kecamatan Mallusetasi dan Kecamatan Tanete Riaja. Tindakan pengendalian yang telah dilakukan belum berhasil dalam mengurangi kecepatan penyebaran penyakit. Kata kunci: Sapi potong; Incidence rate; Penyebaran; Risiko; Skabies
Analisis Sebaran Kasus African Swine Fever pada Babi Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019–2020 Roza Azizah Primatika; Etih Sudarnika; Bambang Sumiarto; Chaerul Basri
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.2.164-171

Abstract

Wabah African Swine Fever (ASF) pertama di Indonesia terjadi pada tahun 2019 dan menyebar hingga tahun 2020 ke hampir seluruh kabupaten di Sumatera Utara. African Swine Fever dilaporkan menginfeksi babi domestik di peternakan. Kasus ASF dilaporkan oleh petugas veteriner melalui sistem informasi kesehatan hewan nasional Indonesia (iSIKHNAS). Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis kartografi untuk mengetahui sebaran arah dan pola kasus ASF tahun 2019–2020 di Provinsi Sumatera Utara. Analisis yang digunakan untuk mengetahui sebaran kasus ASF di Sumatera Utara tahun 2019-2020 adalah analisis kartografi yaitu standard deviational ellipse, sedangkan analisis pola kasus ASF menggunakan Moran’s Index. Sebaran kasus ASF tahun 2019 mengikuti arah barat laut-tenggara, sedangkan pada tahun 2020 mengikutiarah timur-barat. Pola kejadian kasus ASF tahun 2019 dibagi menjadi 4 kuadran, terdiri dari 34 kasus di kuadran pertama, tinggi tinggi (HH) dan 203 kasus di kuadran ketiga, rendah rendah (LL). Terdapat satu kasus di area hotspot dan 36 kasus di area coldspot. Pola kejadian kasus ASF tahun 2020 terdiri dari kuadran I tinggi tinggi (HH) sebanyak 81 kasus dan kuadran III rendah rendah (LL) sebanyak 173 kasus. Terdapat 10 kasus di area hotspot dan 55 kasus di area coldspot. Upaya pengendalian ASF dapat dilakukan di wilayah hotspot dan upaya pencegahan ASF dapat dilakukan di wilayah coldspot.
POLA PEMELIHARAAN BURUNG WALET PADA PULAU-PULAU UTAMA PENGHASIL SARANG BURUNG WALET DI INDONESIA Dede Sri Wahyuni; Hadri Latif; Mirnawati B Sudarwanto; Chaerul Basri
Jurnal Sain Veteriner Vol 40, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.69112

Abstract

Burung walet di Indonesia umumnya dibudidayakan pada rumah burung walet (RBW) secara tradisional dengan pola pemeliharaan tertentu. Pola pemeliharaan menjadi salah satu faktor pendukung bagi burung walet untuk memproduksi sarang burung walet (SBW) dengan kualitas baik secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemeliharaan burung walet di RBW di pulau-pulau utama penghasil SBW di Indonesia. Suatu survei terhadap total 44 RBW di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan telah dilakukan untuk mengetahui pola pemeliharaan di masing-masing pulau tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Pertanyaan dalam kuesioner terdiri atas karakteristik bangunan, kebersihan, sumber makanan dan udara, dan lingkungan RBW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan RBW umumnya bertingkat, dengan atap beton, dinding bata semen, lantai plester semen, dan sirip kayu. Rumah burung walet dibersihkan dibersihkan dengan cara digores/disapu dalam waktu kurang dari dua bulan. Kotoran burung walet umumnya digunakan untuk kebutuhan sendiri. Rumah burung walet umumnya tidak menyediakan bahan untuk menarik serangga atau pakan tambahan. Pakan burung walet umumnyaHymenoptera , dan sumber airnya adalah kolam di dalam gedung RBW. Lingkungan RBW merupakan kawasan pemukiman dan dekat dengan jalan raya. Pembinaan dan pemantauan terhadap pola pemeliharaan burung walet perlu terus dilakukan untuk mendapatkan SBW yang berkualitas baik. 
The Role of Dairy Farmers in Surveillance and Control Program of Brucellosis in Bogor Regency Heris Kustiningsih; Etih Sudarnika; Amiruddin Saleh; Chaerul Basri; Mirnawati Sudarwanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.77617

Abstract

Brucellosis is an infectious and zoonotic disease that causes a negative impact on the health and economy of people in almost all countries. The prevalence of brucellosis in several regions in Indonesia is still quite high. The purpose of this study was to analyze the role of farmers in the brucellosis control and surveillance program in Bogor Regency. The study was conducted through a survey of 151 farmers in Bogor Regency from May to July 2022. A total of 68.9% of respondents are aged 25-50 years with an education level of 69.8% are low educated (Elementary School, Junior High School) and not in school . The experience of raising more than five years (58.2%) with the number of dairy cattle ownership is less than five heads, namely 41.7%. The brucellosis prevention practices that need to be improved are related to the use of disinfectants when cleaning the cage, livestock group management practices (separating pregnant cows from other cows, separating cows with suspected brucellosis from other healthy cows, separating newly purchased cows for two weeks before being merged with cows). long in the cage). The practice of brucellosis control that needs to be improved is proper handling of the placenta and cows infected with brucellosis properly. Surveillance practices that need to be improved are the practice of recording and reporting cases of miscarriage in the final trimester. After identifying farmer practices, it is very important to plan interventions in the form of training with a curriculum that refers to the level of farmer practice that is still lacking. It is hoped that by conducting training interventions for farmers, the level of knowledge of farmers will increase and the level of practice of farmers will also increase.
Potensi Penularan Bovine Tuberculosis pada Sapi Perah dan Manusia di Wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa, Indonesia Andi Eka Putra; Chaerul Basri; Etih Sudarnika
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.2.139-147

Abstract

Kejadian kasus tuberkulosis pada manusia di Indonesia dilaporkan masih tinggi. Bovine tuberculosis pada sapi perah diduga turut berperan dalam meningkatkan kasus tuberkulosis karena dapat menular ke manusia (zoonosis). Penularan penyakit ini antar ternak dan ke manusia perlu dikendalikan untuk menurunkan tingkat kejadian kasus. Potensi penularan kasus antar ternak dan ke manusia di suatu wilayah dapat diperkirakan dengan mengombinasikan data pemeriksaan sampel susu dan praktik manajemen peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan potensi penularan kasus tuberkulosis pada sapi perah dan manusia di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa yang merupakan sentra peternakan sapi perah di Indonesia. Pemeriksaan bakteri Bovine tuberculosis dengan metode PCR konvensional dilakukan terhadap 163 sampel susu dari 92 peternakan yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data praktik manajemen peternakan dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur. Potensi penularan kasus diperkirakan dengan nilai yang diperoleh dari metode Multiple Criteria Decision Analysis (MCDA). Kriteria yang digunakan antara lain data pemeriksaan sampel susu, dan praktik manajemen pemeliharaan yang terdiri atas manajemen kesehatan, higiene sanitasi dan biosekuriti. Pemeriksan terhadap susu tidak menemukan bakteri M. bovis pada seluruh sampel yang diperiksa. Potensi penularan kasus tuberkulosis antar ternak sapi perah memiliki nilai 0.53 (sedang) dan potensi penularannya ke manusia memiliki nilai 0.4 (sedang).
Skrining Susu terhadap Mycobacterium bovis pada Peternakan Sapi Perah di Wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa, Indonesia Andi Eka Putra; Chaerul Basri; Etih Sudarnika; Santi Lestari
Jurnal Sain Veteriner Vol 41, No 3 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.82787

Abstract

Tuberkulosis adalah penyakit dengan tingkat kejadian kasus tinggi pada masyarakat di Indonesia. Bovine tuberculosis pada sapi perah disebabkan oleh bakteri M. bovis, diduga turut berperan dalam menyebabkan kasus tuberkulosis karena dapat menular ke manusia (zoonosis) melalui konsumsi susu. Wilayah tengah dan timur Pulau Jawa merupakan sentra peternakan sapi perah di Indonesia yang masih melaporkan tingginya kasus tuberkulosis pada manusia. Informasi mengenai keberadaan bakteri M. bovis pada susu yang dihasilkan di wilayah tersebut belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk skrining keberadaan M. bovis di susu pada peternakan sapi perah di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa. Sampel susu diambil dari 163 ekor sapi menggunakan metode cluster random sampling dari 3 provinsi yaitu Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Sampel susu diuji dengan menggunakan PCR konvensional dengan metode multiplex PCR untuk mengidentifikasi M. bovis dan M. tuberculosis dalam waktu bersamaan. Skrining dengan uji PCR terhadap 163 sampel susu dari peternakan sapi perah di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa menunjukkan bahwa susu yang dihasilkan oleh sapi perah yang dipelihara di wilayah ini tidak mengandung bakteri M. Bovis dan M. Tuberculosis.
Penilaian Pendedahan Kualitatif Virus Penyakit Mulut dan Kuku melalui Pemasukan Kulit Sapi Mentah Garaman dari Malaysia ke Indonesia di Pelabuhan Tanjung Priok, Indonesia Basri, Chaerul; Sekarsana, Disty Ayu; Lukman, Denny Widaya
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 12 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.12.1.65-75

Abstract

Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menjadi perhatian semua negara karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Penyakit ini sangat mudah menyebar antar negara atau wilayah sehingga dikategorikan sebagai transboundary animal disease. Salah satu penyebab penyebaran PMK adalah perdagangan hewan dan produk hewan antar negara atau wilayah. Lalu lintas kulit sapi mentah dapat membawa risiko penyebaran PMK. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian risiko pendedahan kualitatif terhadap masuk dan tersebarnya PMK dari kulit sapi mentah garaman ke Indonesia. Penilaian ini dilaksanakan dengan mengembangkan biological pathway terhadap likelihood pendedahan agen penyakit melalui kulit sapi mentah garaman dari negara asal Malaysia ke Indonesia. Tingkat likelihood (kemungkinan) kualitatif pada penilaian pendedahan (exposure assessment) didasarkan pada Biosecurity Import Risk Analysis Guidelines 2016, sedangkan tingkat ketidakpastian ditentukan berdasarkan pedoman yang diberikan oleh The European Food Safety Authority (EFSA). Penilaian akhir pendedahan virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok menunjukkan tingkat likelihood sedang, dengan tingkat ketidakpastian yang rendah. Tingkat likelihood sedang mengindikasikan bahwa peluang kemungkinan kejadian tersebarnya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia memiliki peluang yang sama besar yaitu antara terbawa atau tidak terbawanya virus PMK melalui kulit sapi mentah garaman dari Malaysia. Penerapan biosekuriti sebagai tindakan mitigasi untuk mengurangi risiko penyebaran virus PMK perlu diterapkan pada tempat kedatangan kulit sapi mentah garaman dan di gudang penyimpanan kulit.
Kejadian Penyakit Surra pada Sapi Potong di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2015-2017 Syah, Alfiyan; Basri, Chaerul; Wicaksono, Ardilasunu
Jurnal Medik Veteriner Vol. 3 No. 2 (2020): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol3.iss2.2020.145-153

Abstract

Trypanosomiasis (Surra) merupakan salah satu penyakit yang menjadi kendala dalam pengembangan sapi potong di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Penyakit Surra menyebabkan kematian dan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis data kejadian penyakit Surra dengan mengukur kecepatan distribusi, mengamati distribusi kasus dan memetakan area yang berisiko terkena penyakit Surra. Data kasus Surra digunakan pada studi ini berasal dari Dinas Peternakan Kabupaten Barru pada tahun 2015-2017. Informasi yang berkaitan dengan manajemen ternak dan cara-cara untuk mendiagnosis penyakit diperoleh dengan angket menggunakan kuesioner yang dikirim ke Dinas Peternakan Kabupaten Barru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka tertinggi penyebaran penyakit Surra adalah di Kecamatan Mallusetasi dengan rata-rata 7 kasus per 10.000 ekor per tahun. Tingginya angka kejadian ini menunjukkan perlu lebih banyak perhatian dari pemerintah daerah, seperti mengoptimalkan pengawasan lalu lintas ternak, membangun sistem pelaporan penyakit Surra untuk meningkatkan partisipasi publik dan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara teratur.