Claim Missing Document
Check
Articles

PENERAPAN KOMPOSISI DINAMIK PADA FILM DOKUMENTER SOLO ECO CITY Rizca Haqqu; Freddy Yusanto; Dimas Satrio Wijaksono
Dimensi : Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Seni Desain Grafis Vol. 1 No. 02 (2020): Terbitan September 2020
Publisher : University of Nahdlatul Ulama Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55757/dimensi.v1i02.61

Abstract

Film dokumenter selama ini dianggap sebagai sebuah realitas murni yang dituangkan dalam sebuah tayangan audio visual sebagai jenis representasi lain dari realita itu sendiri. Salah satu karya film Dokumenter yang mengungkap realita tentang tatanan kota hijau yaitu “Solo Eco Ciy”. Pada film tersebut penulis bermaksud untuk mendeskripsikan penerapan komposisi Dinamik pada setiap Teknik pengambilan gambarnya. Pada film Dokumenter Solo Eco City, komposisi dinamik diganakan untuk menempatkan obyek pada sepertiga bidang garis imajiner atau biasa disebut dengan Rule of thirds. Penempatan obyek pada salah satu pada empat buah titik simpang dimaksudkan untuk menciptakan ruang kosong atau arah gerak. Penerapan komposisi Dinamik pada film Dokumenter Solo Eco City ini bermaksud memaksimalkan ruang kosong atau arah gerak sebagai background yang mampu memberikan motivasi serta penekanan pada obyek utama
Makna Social Drinking pada Film Korea Selatan di Netflix Tahun 2024: Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce Moch. Nauval Al Gifari; Rizca Haqqu
SABER : Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi Vol. 4 No. 2 (2026): April : Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/saber.v4i2.3653

Abstract

This study aims to analyze the cultural meaning of social drinking displayed in South Korean films on Netflix in 2024 through the perspective of Charles Sanders Peirce's semiotic theory. Social drinking, as a cultural phenomenon, is not only a social habit in South Korea but is also often used as a narrative element in films to convey cultural values, social dynamics, and interpersonal relationships. Qualitative research methods with a semiotic analysis approach are used to explore the meaning displayed on the representamen, object, and interpretant sides of social drinking in the films Badland Hunters, Officer Black Belt, Mission: Cross, Wonderland, and My Name is Loh Kiwan. The results of the study show that social drinking represents the culture of togetherness of South Korean society that is woven into various contexts, such as work relationships, family, and friendships. In terms of representamen, visual signs in the form of symbols of drinking culture such as soju, banquet tables, and the movement of pouring drinks to each other create a strong picture of togetherness. From the object side, social drinking becomes a medium to highlight solidarity and release social pressure, especially in a hierarchical and competitive work culture. The resulting interpretation shows a dualism of meaning: on the one hand, it strengthens harmony and the value of togetherness, while on the other hand it displays the dark side of this culture, such as excess consumption and its influence on social pressure. This study provides new insights into the role of South Korean films as a medium for conveying global cultural messages, which are able to influence local cultural interpretations outside their country of origin. In addition, this study is expected to enrich the literature on semiotics in visual communication studies with a focus on drinking culture as an element of representation.
Analisis Resepsi Maskulinitas Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Daffa Ridwan Nurhakim; Rizca Haqqu
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Blantika: Multidisciplinary Journal
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v2i1.64

Abstract

Maskulinitas merupakan sebuah konsep yang hadir karena disebabkan adanya kontrkusi sosial dimasyarakat yang tidak terikat oleh jenis kelamin artinya bisa dipertukarkan sifatnya antara laki-laki dan perempuan. Nilai-nilai Maskulinitas bisa digambarkan melalui media massa seperti film, karena film merupakan sebuah komunikasi massa visual yang banyak digemari oleh banyak masyarakat dan bisa menggambarkan realita sosial yang ada dimasyarakat. Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Marcella FP. Menceritakan sebuah konflik keluarga yang rumit dan menyebabkan seluruh anggota keluarganya mempunyai sifat/karakter yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif serta menggunakan paradigma konstruktivis dan menggunakan teori analisis resepsi dari Stuart Hall. Khalayak mengkonsumsi media dan menerima pesan secara berbeda karena dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman para khalayak itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi pemaknaan khalayak terhadap maskulinitas pada film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini berdasarkan 3 posisi Stuart Hall. Dari 7 unit analisis yang diteliti menunjukan bahwa keempat posisi informan berada pada Dominant Position dimana setiap scene menampilkan nilai maskulinitas yang berbeda dan ada juga beberapa informan yang berada Negotiated Position dan Oppositional Position.