Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Uji Aktivitas Antidiabetes Akar Kayu Kuning (Arcangelisia flava) Fatmawati; Susilawati; Liniyanti D Oswari; Dzakiyah; Fahira Anindita
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 7 No. 3 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v7i3.151

Abstract

Penelitian ini menggunakan ekstrak akar kayu kuning (Arcangelisia flava) untuk melihat aktifitas sebagai antidiabetes yang dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur wistar yang diinduksi aloksan. Rancangan penelitian ialah studi eksperimental secara in vivo dengan pendekatan post test with control group design. Penelitian ini menggunakan 70 ekor tikus dan dibagi secara acak menjadi 14 kelompok dengan jumlah tikus lima ekor perkelompok yaitu kontrol negatif (NaCMC 0,5%), kontrol positif (acarbose 4,5 mg/kgBB), ekstrak heksana akar kayu kuning(dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB), ekstrak etil asetat akar kayu kuning (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB), ekstrak etanol akar kayu kuning (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB), dan ekstrak aquades akar kayu kuning (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB). Seluruh kelompok diinduksi dengan aloksan 160 mg/kgBB sehingga mempunyai glukosa darah sewaktu ≥200 mg/dL (pretest). Setelah 15 hari diberi perlakuan, dilakukan pengukuran glukosa darahnya (posttest). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dosis 750 mg/kgBB, ekstrak etil asetat (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB) dan ekstrak aquadest (dosis 250 mg/kgBB, 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB) memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah dan hanya etil asetat dosis 750 mg/kgBB, aquadest dosis 500 mg/kgBB dan 750 mg/kgBB yang mampu menurunkan kadar glukosa darah hampir menyerupai kontrol positif (acarbose). Dari hasil uji fitokimia didapatkan adanya alkaloid dan flavonoid di dalam ekstrak etanol, etil asetat dan aquades, dan tannin hanya terdapat dalam ekstrak etanol dan etil asetat.
Uji Aktivitas Penghambatan Enzim -glucosidase Ekstrak Air dan Ekstrak Etanol Kayu Kuning (Arcangelisia flava) Fatmawati; Susilawati; Liniyanti D. Oswari; Fadiya; Nadya
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v8i1.163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktifitas penghambatan kerja enzim α-glucosidase oleh ekstrak air dan ekstrak etanol dari daun, batang dan akar dari kayu kuning (Arcangelisia flava) secara in vitro. Aktifitas enzim - glukosidase diukur pada panjang gelombang 400 nm berdasarkan jumlah p-nitrofenol yang dihasilkan. Daya hambat kerja enzim -glukosidase ini dilihat dari nilai IC50. Dari nilai IC50 untuk ekstrak air daun, batang dan akar sebesar 195,161; 138,9881 dan 48,68632 g/mL dan ekstrak etanol daun, batang dan akar sebesar 365,8793; 123,0814 dan 66,9616 g/mL, bagian akar mempunyai potensi yang lebih baik untuk menghambat aktifitas enzim -glukosidase daripada bagian daun dan batang kayu kuning, dimana ekstrak air akar kayu kuning mempunyai potensi paling baik untuk menghambat kerja enzim -glukosidase daripada ekstrak lainnya walaupun potensinya lebih rendah dari acarbose. Dari uji fitokimia didapatkan pada ekstrak air dan ekstrak etanol daun mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, saponin dan tanin, dan pada ekstrak air maupun ekstrak etanol batang kayu kuning mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, dan saponin, sedangkan pada ekstrak air akar terdapat alkaloid, flavonoid, triterpenoid dan tanin, dan pada ekstrak etanol akar mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, saponin dan tanin. Ekstrak air dan ekstrak etanol dari akar kayu kuning (Arcangelisia flava) berpotensi menghambat kerja enzim α-glucosidase.
HUBUNGAN ANTARA GEJALA KLINIS DAN LOKASI PERLENGKETAN LESI PADA PENDERITA ENDOMETRIOSIS Qherine Bhelqis; Hartati; Fatmawati; Firmansyah Basir; Rara Inggarsih
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v10i2.340

Abstract

Endometriosis merupakan kondisi kronik dimana terjadi implantasi jaringan fungsional endometrium di luar kavum uterus.Diagnosis endometriosis cukup sulit dan sering tidak terdeteksi dalam waktu lama sehingga penelitian ini bertujuan untuk membantu penegakkan diagnosis lebih cepat karena dapat memperkirakan lokasi lesi lebih awal. Penelitian ini berjenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel berjumlah 102 pasien. Lokasi perlengketan terbanyak berada di uterus sebanyak 54 pasien (52,9%) dan gejala klinis yang paling banyak adalah dismenore yaitu sebanyak 71 pasien (69,6%). Hubungan gejala dismenore dengan lokasi perlengketan di uterus didapatkan nilai p sebesar 0,732 dan hubungan gejala dispareunia dengan lokasi perlengketan di cul de sac didapatkan nilai p sebesar 0,525. Sedangkan penelitian tentang hubungan antara gejala klinis diskezia dengan lokasi di rektum menghasilkan nilai p value 0,031 dan nilai PR 10,90 (95% CI 1,19 – 99,78). Tidak ada hubungan yang bermakna antara gejala klinis dismenore dengan letak perlengketan di uterus dan hubungan antara gejala klinis dispareunia dengan letak perlengketan di cul de sac. Namun, terdapat hubungan antara gejala klinis diskezia dan lokasi perlengketan di rektum.
SPECIFIC ROLE OF IL-1Β IN URIC ACID-RELATED INFLAMMATION : A NARRATIVE REVIEW Rona Hawa Kamilah; Salni; Ziske Maritska; Fatmawati
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jkk.v11i2.396

Abstract

Inflammatory conditions in hyperuricemia are caused by monosodium urate crystals that induce the release of IL-1β, marking a crucial milestone in the pathogenesis of hyperuricemia. Several studies have linked the relationship between serum uric acid levels and the release of IL-1β. IL-1β plays a key role in the pathogenesis of gout. The IL-1β signaling is currently considered an initiating event that triggers uric acid inflammation and promotes the recruitment of a large number of neutrophils to the inflammatory site. Neutrophil activation caused by crystals results in the inhibition of apoptosis, degranulation, the release of reactive oxygen species (ROS), TNF-α, IL-1β, and PGE2, as well as the formation of extracellular neutrophil tissue, further reinforcing the inflammatory process. Recent research indicates that hyperuricemia patients have significantly higher levels of IL-1β. Other studies suggest that elevated IL-1β levels correlate with a more severe anatomical pathology in the joint tissues of rat ankles, including synovial hyperplasia, cartilage damage, and bone erosion.
Flavonoids and Their Role As Anti-Inflammatory Agents Fatmawati; Aliah Ramadhani Puteri; Humairah Binti Huda
Biomedical Journal of Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Vol 10, No 2, 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bji.v10i2.187

Abstract

The human civilizations have been using plants and herbs for their rich sources of phytonutrients and bioactive compounds. Polyphenols are one of the groups of beneficial compounds found naturally, they include a wide variety of molecules and are divided into 4 main categories, which are flavonoids, phenolic acids, lignans, and stilbenes. It is estimated that more than 10,000 flavonoid compounds have been isolated and then identified, with the results finding that the majority of flavonoids are widely accepted as therapeutic agents. It is found in various flowers, fruits, and leaves such as red peppers, celery, parsley, chamomile, mint, and ginkgo biloba. Flavonoids are known for their anti-inflammatory properties using a mechanism that is thought to be different. The mechanism used may include an enzyme inhibition mechanism for enzymes that regulate transcription factors. This has a very important role, one of the roles being the control of mediators involved in an inflammatory process. The study for this systematic review was conducted without a time constraint using scientific databases such as Google Scholar and ScienceDirect, with 5 years’ time limitation. Previous research has validated the pharmacological characteristics of some flavonoids and their potential health advantages.
Determination of Secondary Compounds in Extracts from Catfish (Pangasius sp) Siti Rusdiana Puspa Dewi; Sadakata Sinulingga; Fatmawati Fatmawati; Maharani Natasya; Siti Devita Utami; Putra Ramadhan Algiffary Irianto Dunda
JURNAL KIMIA MULAWARMAN Vol 21 No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v21i1.1009

Abstract

Ikan patin (Pangasius sp.) umumnya dijumpai pada perairan air tawar di Indonesia, seperti di Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera Selatan, ikan jenis ini digunakan sebagai salah satu kuliner seperti pindang dan brengkes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia metabolit sekunder dari ekstrak ikan patin (Pangasius sp.). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi deskriptif dengan menggunakan ekstrak yang diperoleh dari kulit, tulang, dan daging ikan patin. Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak dari pelarut etanol, etil asetat, dan n-heksana dengan proses maserasi dan akudes dengan proses infusa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ekstrak etanol, kulit ikan mengandung alkaloid, saponin, dan steroid; pada tulang mengandung flavonoid dan saponin; pada daging mengandung alkaloid, saponin, dan flavonoid. Pada ekstrak etil asetat, kulit dan tulang ikan mengandung alkaloid; sedangkan pada daging mengandung flavonoid dan steroid. Pada ekstrak n-heksana, kulit ikan mengandung alkaloid dan steroid; tulang ikan mengandung alkaloid; dan daging ikan mengandung saponin dan terpenoid. Pada akuades, kulit ikan mengandung alkaloid, saponin, tanin, dan steroid; tulang ikan mengandung alkaloid; danging ikan mengandung alkaloid, flavoid, dan saponin. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Pangasius sp. memiliki metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, dan steroid.
Anti-hyperuricemia Potential of Ethyl Acetate Fraction from Ethanolic Stem Extract of Arcangelisia flava Fatmawati, Fatmawati; Saleh, Irsan; Parisa, Nita; Salni, Salni; Izzah, Puspita Nurul; Subandrate, Subandrate; Athiah, Medina
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v12i2.13510

Abstract

Arcangelisia flava, with its secondary metabolites in flavonoids, has shown promising potential as an alternative treatment for hyperuricemia. The study aimed to determine the effectiveness of the ethyl acetate fraction from the ethanolic stem extract of Arcangelisia flava in inhibiting xanthine oxidase. This research, conducted at the Medical Basic Chemistry Laboratory Universitas Sriwijaya in September–December 2022, used in vitro study methods. The stem of Arcangelisia flava was extracted by maceration using ethanol. The ethanolic stem extract of Arcangelisia flava was then fractionated using n-hexane and ethyl acetate. The ethyl acetate fraction and ethanolic extract of Arcangelisia flava were measured to inhibit the xanthine oxidase using UV-vis spectrophotometry with allopurinol as a comparison. The IC50 was calculated by linear regression. The ethanol extract and ethyl acetate fraction have flavonoids, alkaloids, terpenoids, and quinones. The IC50 value of the ethanol extract was 30.04 ppm, the ethyl acetate fraction was 23.99 ppm, and the allopurinol was 17.16 ppm. The ethyl acetate fraction inhibited xanthine oxidase better than the ethanol extract. The study's significant finding is that the ethyl acetate fraction of the ethanolic stem extract of Arcangelisia flava strongly inhibits xanthine oxidase, offering a potential new avenue for treating hyperuricemia.
The Effectiveness of Cinnamon extract (Cinnamomum burmannii) to reducing ureum level in male Rattus norvegicus Unilateral Ureteral Obstruction (UUO) model Evi Lusiana; Theodorus Theodorus; Nita Parisa; Fatmawati Fatmawati; M. Ivan Pratama
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 5 No. 1 (2022): Vol 5, No 1, 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v5i1.112

Abstract

Cinnamon extract's effectiveness as a renoprotective has not been previously investigated due to its widespread use in daily life, either as a cooking ingredient or as a herb. The aim of this study is to determine the effectiveness extract of cinnamon (Cinnamomum burmannii) as a renoprotective in lowering urea levels in the kidneys. An in vivo experimental study with a pre-post test and control group design was conducted at the Faculty of Medicine's Animal House and Biotechnology Laboratories. Male white rats (Rattus norvegicus) were used as the research subjects. Thirty rat were divided into five groups: negative control, positive control, cinnamon extract at 50 mg/kgBW, 100 mg/kgBW, and 200 mg/kgBW. The data were processed using SPSS 22.0. Cinnamon extract doses of 100 mg/kgBW and 200 mg/kgBW were the most effective in reducing urea levels and suspending the progression of the renal fibrosis process in Wistar male white rats with unilateral ureteral obstruction (UUO) model.
Persepsi Ibu Tentang Susu Formula dan Model Pemberian Susu Formula Pada Anak Bawah Dua Tahun Muhammad Rusdi; Ardesy Melizah Kurniati; Ella Amalia; Syarif Husin; Fatmawati Fatmawati
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 4 No. 3 (2021): Vol 4, No 3, 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v4i3.122

Abstract

Air susu ibu (ASI) direkomendasikan untuk terus diberikan bersama dengan makanan pendamping ASI hingga anak berusia dua tahun. Terdapat beberapa indikasi medis sehingga anak harus mendapatkan susu formula pada rentang usia tersebut. Namun, banyak ibu yang memberikan susu formula tanpa alasan indikasi medis. Belum diketahui apakah keputusan memberikan susu formula tersebut dipengaruhi persepi ibu tentang susu formula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi ibu tentang susu formula, model pemberian susu formula, dan hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian observational analitik dengan desain potong lintang, pada populasi ibu yang memiliki anak di rentang usia 6-24 bulan yang terdaftar di Puskesmas wilayah kerja Kecamatan Ilir Timur II Palembang. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan metode consecutive sampling hingga mencapai 96 responden. Ibu yang memberikan susu formula tanpa indikasi medis dan bersedia berpartisipasi selanjutnya diwawancarai. Sebanyak 70,8% responden memiliki persepsi negatif terhadap susu formula. Sebagian besar memberikan susu formula secara parsial (75%). Uji Chi-Square menunjukkan tidak adanya hubungan antara persepsi ibu tentang susu formula dan model pemberian susu formula (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara persepsi ibu tentang susu formula dengan pemberian susu formula pada anak bawah dua tahun di Kecamatan Ilir Timur II Palembang.
Pemanfaatan Produk Alam dalam Mengatasi Resistensi Antimikroba: Tinjauan Naratif Sistematis Menuju Inovasi Kesehatan Berkelanjutan Rona Hawa Kamilah; Fatmawati
Proceedings National Conference Sinesia Vol. 1 No. 2 (2025): Accelerating SDGs Implementation in Indonesia towards a Golden Indonesia 2045
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/ncrcs-sinesia.v1i2.92

Abstract

Resistensi antimikroba (AMR) telah menjadi ancaman kesehatan global yang serius, mengurangi efektivitas antibiotik konvensional dan menantang sistem kesehatan masyarakat. Produk alam, termasuk senyawa turunan tumbuhan dan jamur endofit, merupakan sumber potensial agen antimikroba baru. Tinjauan naratif sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merangkum studi-studi terbaru (2020–2025) mengenai potensi antimikroba produk alam dan perannya dalam inovasi kesehatan berkelanjutan. Pencarian literatur dilakukan secara komprehensif di PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, dan ResearchGate. Studi disaring berdasarkan relevansi, kualitas metodologi, dan ketersediaan teks lengkap. Sebanyak 38 studi memenuhi kriteria inklusi, menyoroti efektivitas flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan fenolik terhadap bakteri resisten obat, seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli. Mekanisme aksi meliputi gangguan membran sel, inhibisi pembentukan biofilm, dan intervensi pada quorum sensing bakteri. Meskipun bukti in vitro kuat, translasi klinis masih terbatas karena variasi metode ekstraksi, standar dosis, dan data farmakokinetik. Temuan ini menekankan potensi produk alam dalam menangani AMR sekaligus mendukung inovasi kesehatan berkelanjutan, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara. Upaya kolaboratif diperlukan untuk menstandarisasi metodologi, memvalidasi efektivitas in vivo, dan mengintegrasikan produk alam ke strategi kesehatan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals.
Co-Authors Alderiantama Akhmad Aliah Ramadhani Puteri Anwar, Chairil Ardesy Melizah Kurniati Athiah, Medina Aulia Firdha Tariza Dalilah Dazakiah Dwi Handayani Dwi Handayani Dzakiyah Dzakiyah Dzakiyah Ella Amalia Ella Amalia, Ella Erizka Rivani Ester G Pansserga Ester Gonzales Panserga Fadiya Fadiya Fadiya Fahira Anindita Fahira Anindita Fahira Aninditia Fidalia Firmansyah Basir Firmansyah Seta Basyir Gita Dwi Prasasty Gita Dwi Prasasty Hafid Syahputra Hartati Humairah Binti Huda HUSNUL KHOTIMAH Irfannudin Irfannudin Izzah, Puspita Nurul Jayawarsa, A.A. Ketut Kusumo Hariyadi Kusumo Hariyadi L.O Oswari Liniyanti D Oswari Liniyanti D. Oswari Liniyati D Oswari Liniyati D Oswari M Athiah M Fakhri Altiyan M Fitra Romadhon M. Ivan Pratama Maharani Natasya Maharani Puspita Sari HS Mgs Irsan Saleh Mohammad Fazel Iftikhar Syahdafy Muhammad Irsan Saleh Muhammad Rusdi Muhammad Usman Salim Nadia Permata Sari Nadya Nadya Nadya Naomi W Tioline Nita Parisa Nurlutfiyyah Aini Prima Maya Sari Putra Ramadhan Algiffary Irianto Dunda Qherine Bhelqis Qherine Bhelqis RACHMAT HIDAYAT Radiyati Umi Partan Rara Inggarsih Rara Inggarsih Rifka Purnama Sari Rini Yana Rini Yana Rini Yana Rizka Amelia Rona Hawa Kamilah Rona Hawa Kamilah S Sinulingga Sadakata Sinulingga Safira Azahra Safyudin Safyudin Salni Salni Siti Devita Utami Siti Rusdiana Puspa Dewi Sri Hartati Sri Wahyuni Subandrate Subandrate Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati Syarif Husin Theodorus Theodorus Venny Larasati Yundari, Yundari Ziske Maritska