Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisis Kemampuan Memproduksi Teks Persuasif Siswa Kelas VIII MTs Nurul Yaqin Praya Tahun Pelajaran 2021/2022 Rona Restu Victoria; Johan Mahyudi; Saharudin Saharudin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v4i2.2722

Abstract

Teks persuasif merupakan teks yang berupa karangan yang bertujuan untuk memengaruhi pembaca. Karangan ini membutuhkan data sebagai penunjang. Kemampuan memproduksi teks persuasif di kelas VIII MTs Nurul Yaqin Praya masih tergolong rendah disebabkan oleh pembelajaran bahasa Indonesia yang kurang diminati siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan memproduksi teks persuasif siswa kelas VIII MTs Nurul Yaqin Praya dari aspek struktur teks dan kaidah kebahasaan teks persuasif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil memproduksi teks persuasif siswa kelas VIII MTs Nurul Yaqin Praya sebanyak 30 siswa dari 63 siswa kelas VIII yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan memproduksi teks persuasif siswa kelas VIII MTs Nurul Yaqin Praya pada aspek struktur teks dan kaidah kebahasaan berada pada kategori rendah. Hasil deskripsi data terkait kemampuan memproduksi teks persuasif siswa kelas VIII MTs Nurul Yaqin Praya tampak 28 siswa dari 30 siswa dalam sampel penelitian berada pada kategori kurang dalam memproduksi teks persuasif. Sementara siswa yang memenuhi kategori baik hanya 1 orang siswa dan berkategori cukup 1 orang siswa. Nilai tertinggi berada pada angka 84,5, nilai terendah berada pada angka 34,5, dan nilai rata-rata berada pada angka 51,5.
Analisis Strukturalisme Genetik Pada Novel Gadis Kretek Karya Ratih Kumala Rais Arham Dinata; Saharudin Saharudin; Khairussibyan Khairussibyan
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v4i2.2725

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk, mendeskripsikan struktur internal dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala, Mendeskripsikan peristiwa sosial masyarakat Indonesia yang melatari lahirnya novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala dan, mendeskripsikan genetik pada teks novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Metode penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu teknik baca dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitan ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini, hasil analisis novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala dapat disimpulkan sebagai berikut: Struktur internal novel Gadis Kretek ini memiliki penokohan, latar, alur, penokohan, tema, amanat serta pandangan dunia. Kemudian selanjutnya meliputi unsur ekstrinsik yaitu realitas sosial masyarakat Indonesia melatari lahirnya novel Gadis Kretek. Mengupas kondisi perkretekan dari masa penjajahan Belanda, Jepang, Kemerdekaan, hingga modern. Kondisi perkretekan di Indonesia abad ke-15 hingga abad ke-21. Kretek (klobot) pertama kali dikenalkan di abad-15 seiring perkembangan zaman, masyarakat lokal mengembangkan serta menjadikan kretek sebagai produk warisan budaya. Selanjutnya budaya Jawa di dalam novel meliputi, adat nikah, tradisi jaga ari-ari bayi, dan tradisi Gunung Kawi. Kemudian genetik di dalam teks novel Gadis Kretek meliputi kehidupan sosial pengarang dan genetik novel atau relasi dengan lingkungan sosial. Pengarang menciptakan novel Gadis Kretek melalui dua fakta: Fakta keluarga dan Sejarah perkretekan di Indonesia. Dapat disimpulkan novel Gadis Kretek memiliki relasi kuat dengan fakta sosialnya. Latar sosial Ratih Kumala memberikan pengaruh terhadap terciptanya novel Gadis Kretek.
Kosakata Bahasa Gaul dalam Novel Dignitate dan Kaitannya dengan Pembelajaran Bahasa di SMA Tiara Putri Suciana; Saharudin Saharudin; Sukri Sukri
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2020): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v2i2.2734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsian bentuk-bentuk kosakata bahasa gaul dalam novel Dignitate karya Hana Margaretha, mengetahui fungsi dari bentuk-bentuk bahasa gaul di dalamnya, dan berupaya mengetahui relevansi bentuk-bentuk kosakata bahasa gaul dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA kelas XII. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuk-bentuk kosakata bahasa gaul terdiri dari tiga belas kategori, namun dalam hasil penelitian ini ditemukan enam yaitu kategori adverbia, adjektiva, verba, fatis, pronominal, dan introgativa, (2) selanjutnya adalah fungsi dan konteks kosakata bahasa gaul yang ditemukan dalam penelitian ini, terdapat 5 kategori yaitu fungsi informatif, ekspresif, direktif, estetis, dan fatis, (3) relevansi bentuk-bentuk kosakata bahasa gaul dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA kelas XII dapat dihubungkan dengan kurikulum 2013 dengan kompetensi isi dan kebahasa novel
WANITA “AHMADI” DALAM NOVEL MARYAM: KAJIAN PSIKOLOGI B.F. SKINNER Muhammad Hambali; Saharudin Saharudin; Muh. Khairussibyan
SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik Vol 24 No 1 (2023): SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik
Publisher : Diterbitkan oleh Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember bekerja sama dengan Himpunan Sarjana - Kesusastraan Indonesia (HISKI), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/semiotika.v24i1.31804

Abstract

This study aims to examine the psychology of the main character in the novel Maryam by Okky Madasari in order to determine the response stimulus experienced by the main character and other characters with the literary psychology approach of B.F. Skinner. The data source of this research is the novel Maryam by Okky Madasari. The results showed that the psychology of Maryam's character as a woman "Ahmadi" was closely related to the stimulus response she experienced. The response stimuli include; (1) operant conditioning, found 5 conditioning data, one of which was through the stimulus given by her family, (2) formation, found 8 shaping data, where it is said that the characters Fatimah, Jamil and Zulkhair helped shape Maryam, (3) reinforcement , found data with a total of 7 reinforcers including primary and secondary reinforcement, primary reinforcer responded by Mrs. Maryam and secondary reinforcer when Maryam helped Zulkhair, (4) generalization, found 6 generalization data, where the stimulus from Mr. and Mrs. Zul was then generalized by the character Maryam and (5) avertive stimulus, found 5 avertive stimulus data, one of which was when Maryam's character violated the rules given by her parents. Thus, the psychology of Maryam's character is formed or patterned through these five stages and the most influential in shaping Maryam's "Ahmadi" figure is the stimulus response from Maryam's character and other characters.
Kekerasan Verebal pada Nama Julukan Bahasa Sasak Masyarakat Bebuak, Kopang, Lombok Tengah Lalu Taufan Halas; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 8, No 1: January 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v8i1.13362

Abstract

This research took place in the Bebuak village, Kopang district, Central Lombok regency. The purpose of this study is to describe the lexicon of verbal violence in Sasak language nicknames in Bebuak village in everyday communication. The theoretical approach used is the anthropolinguistic approach. While, the methodological approach to research uses qualitative descriptive methods. For data collection using observation, record and interview. There are two results which can be drawn from this research. The first result is verbal abuse on nicknames in the Sasak language of the Bebuak people is calssified into two form, words and phrases. The second result is classification of the nickname function which consists of three function; the function of jokes/familiarity, the function of ridicule/insulting and the function as a differentiating identity. There are three sociocultural implications for Sasak society, namely the impact related to language ethics, which if the regulation is violated will get customary sanctions in the form of apologizing (mengaksama), fines (dedaosan) and not being spoken to for acertain time (kasepekang). Second, it is related to the norms inherent in the Bebuak community, namely the fading of the culture of manners in language and third, it relates to the psychis of the victim of verbal abse nicknames, where the victim will feel inferior, uncomfortable and embarrassed when the nickname is used in public places.
Metafora Leksikal dalam Teks Berita pada Situs Goal.com Rina Nurjani Safitri; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
Kode : Jurnal Bahasa Vol 12, No 3 (2023): Kode: Edisi September 2023
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/kjb.v12i3.48278

Abstract

Teks berita adalah teks yang berisikan tentang kejadian, peristiwa, atau informasi yang berupa fakta yang disebarkan kepada masyarakat melalui beberapa media. Penggunaan gaya bahasa seperti metafora leksikal sering dijumpai dalam penulisan teks ini. Tidak hanya mampu meningkatkan kualitas sebuah teks, metafora leksikal juga bisa menimbulkan ambiguitas bagi khalayak pembaca jika digunakan secara berlebih. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan kategorisasi, makna, dan fungsi metafora leksikal dalam teks berita pada situs GOAL.com. Data dikumpulkan dengan teknik baca dan teknik catat dan dianalisis menggunakan pendekatan linguistik sistemik fungsional dengan teori Saragih (2006) dan teori Gibbs (1994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 44 metafora leksikal yang ditemukan dalam 7 teks berita. Terdapat 9 data dengan pola nomina-nomina, 31 data dengan pola nomina-verba/verba-nomina, dan 3 data dengan pola nomina-adjektiva. Metafora leksikal digunakan untuk menggambarkan kehebatan seorang pemain, kekalahan, kemenangan, kerja keras, pencetakan gol, aktivitas dan posisi, benda, klasemen, penyebutan, dan taktik dalam sepak bola. Fungsi metafora pada teks berita tersebut adalah untuk mengatasi kesulitan padanan kata, menciptakan kekompakan makna yang dihasilkan, dan memberikan kejelasan makna dan pikiran. Kata Kunci: Metafora Leksikal, Teks Berita, Sepak Bola. 
ASSEMBLING THE ISLAMIC MOSAIC OF THE SASAK TRIBE THROUGH TRADITIONAL CLOTHING Dina Hartini; Baiq Rosida Hidayati; Dwina Rahmayani; Fadhilatul Nahdiah; Eka Putra Hariadi; Saharudin Saharudin
SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan Vol. 7 No. 1 (2024): The Interplay of Religion, Culture, and Community Engagement in Promoting Socia
Publisher : Prodi Sosiologi Agama dan Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sangkep.v7i1.9159

Abstract

The traditional clothing of the Sasak tribe is clothing that the people of Lombok usually wear at various events such as weddings, traditional ceremonies, or welcoming guests. Men's traditional clothing is called pegon, while women's traditional clothing is called lambung. When wearing traditional Sasak clothing, there are also several accessories such as keris, slewoq, dodot, and sapuq for men and pangkak, tongkak, and bendang/slewoq for women. The traditional clothing used by the Sasak tribe in daily life cannot be separated from religion, especially Islam which is the religion of the majority of the people of the island of Lombok. The aim of this research is to find out what Islamic meanings are contained in the traditional clothing of the Sasak tribe. This research is a type of qualitative descriptive research conducted in the Central Lombok area, specifically in Bebuak Village, Kopang District. The data collection techniques used in this research were direct observation and interviews. The research results show that there are many Islamic meanings contained in the traditional clothing of the Sasak-Lombok tribe, such as monotheism, purity, gentleness, tranquility, and so on. Thus, the traditional clothing of the Sasak-Lombok tribe not only has an aesthetic function but also has a religious function.
Studi Antropolinguistik Terhadap Nama Makanan Begawe Di Kecamatan Praya Barat Daya Rona Restu Victoria; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i4.7486

Abstract

Tradisi begawe orang Sasak di Praya Barat Daya mencerminkan nilai-nilai sosial-budaya dan spiritual yang mendalam, dengan leksikon kuliner berfungsi sebagai penanda identitas simbolis. Terlepas dari penelitian sebelumnya tentang penamaan makanan tradisional, tidak ada yang secara sistematis menganalisis hierarki semantik mereka dalam konteks ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan istilah-istilah kuliner begawe menggunakan teori hiponimi-hipernimi, menjelaskan signifikansi budaya dan bahasanya. Diterapkan pendekatan deskriptif kualitatif, menggabungkan data primer (wawancara dengan informan) dan data sekunder (literatur), dianalisis melalui empat tahap: pengumpulan, pengurangan, presentasi, dan verifikasi. Studi ini mengidentifikasi 62 leksikon kuliner, mengkategorikannya berdasarkan metode persiapan (misalnya, tedang, tekulup), bahan, dan makna simbolis. Analisis semantik mengungkapkan begawe urip (perayaan) dan begawe pati (berkabung) sebagai hipernim, dengan sub-ritual (misalnya, nyongkol, nelung) sebagai hiponim, menunjukkan bagaimana bahasa mengkodekan nilai-nilai budaya. Penelitian ini berkontribusi untuk melestarikan warisan kuliner Sasak dan menawarkan model studi interdisipliner yang menghubungkan linguistik, antropologi, dan pengarsipan digital.
TUTURAN SARKASME PADA ANAK-ANAK JOKI TO’I DALAM KOMUNITAS PECINTA PACUAN KUDA DI KABUPATEN BIMA Andri Adiman; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13212

Abstract

This research based on an interest in sarcasm in the community of horse racing lovers in Panda, Palibelo subdistrict, which is very cruel compared to sarcasm in the community in general. The aim of this research is to discover the forms and functions of sarcasm in this community. This research used a qualitative approach with data collection methods, namely the listening method through note-taking techniques, skilful involvement, free folding and skill methods through face-to-face techniques. The result of this research show that the community of horse racing fans useed sarcasm as a means to motivate each other. In addition, in the sarcasm speech used by the horse lover community in Panda village, meanwhile the general function of this study provides information that coarse language is not only bad in social life, there are also positive values contained in it, that is strengthen the sense of brotherhood in community life.
Analysis of terms in the sasak nyunat tradition and their pedagogical implications Ahmad Supriadi Guna Putra; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42432

Abstract

This study examines the linguistic forms and cultural meanings embedded in the nyunat (circumcision) tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It addresses a research gap in which circumcision traditions in Indonesia have mostly been explored from anthropological and health perspectives. The study aims to document, classify, and interpret ritual lexicons as cultural markers that embody identity, social roles, and spiritual values. Through qualitative methods involving observation, interviews, and document analysis, supported by audio–video recordings, the research constructs a taxonomy of ritual lexicons categorized into three semantic domains—berjap ‘getting ready’, begawe ‘holding a celebration’, and perebaq jengkis ‘ending the ceremony’. This taxonomy demonstrates how ritual language organizes cultural knowledge and encodes social order. Theoretically, the study advances the field of anthropological linguistics by showing how ritual lexicons function as systems that preserve and negotiate cultural meaning across generations. Pedagogically, the findings highlight the potential integration of local ritual lexicons into heritage-based education, cultural literacy, and digital storytelling programs to promote linguistic awareness and cultural sustainability.   Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk linguistik dan makna budaya yang tertanam dalam tradisi nyunat (khitan) masyarakat Sasak dari perspektif linguistik antropologi. Kajian ini menanggapi kesenjangan penelitian, di mana tradisi khitan di Indonesia sebagian besar telah diteliti dari sudut pandang antropologis dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan, mengklasifikasikan, dan menafsirkan leksikon-leksikon ritual sebagai penanda budaya yang merepresentasikan identitas, peran sosial, dan nilai-nilai spiritual. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang didukung oleh rekaman audio–video, penelitian ini membangun taksonomi leksikon ritual yang dikategorikan ke dalam tiga domain semantik, yaitu berjap (‘bersiap’), begawe (‘mengadakan perayaan’), dan perebaq jengkis (‘menutup upacara’). Taksonomi ini menunjukkan bagaimana bahasa ritual mengorganisasi pengetahuan budaya dan mengodekan tatanan sosial. Secara teoretis, penelitian ini memperluas bidang linguistik antropologi dengan menunjukkan bagaimana leksikon ritual berfungsi sebagai sistem yang mempertahankan dan menegosiasikan makna budaya lintas generasi. Secara pedagogis, temuan penelitian ini menyoroti potensi integrasi leksikon ritual lokal ke dalam pendidikan berbasis warisan budaya, literasi budaya, dan program penceritaan digital untuk meningkatkan kesadaran linguistik dan keberlanjutan budaya.