Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Unveiling cultural values and pedagogical insights through the terminologies of the Sasak Kepaten tradition Saadilah Husni; Mahsun Mahsun; Burhanudin Burhanudin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42529

Abstract

This study explores the ritual language system in the kepaten tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It aims to identify the linguistic forms, cultural meanings, and value systems embedded in death ritual expressions. Language in this context is viewed not merely as a communicative tool but as a symbolic mechanism that structures social, spiritual, and moral behavior. Employing a qualitative–descriptive method through observation, interviews, and documentation, the research collected ritual lexicons analyzed using HBB, HBS, and HBSP techniques to construct taxonomies and semantic domains across three main stages: nyiepan ‘pre-burial’, nguburan ‘burial’, and suwahan ‘post-burial’. The findings reveal that each linguistic form conveys not only lexical meaning but also a triadic value system connecting human–human, human–nature, and human–God relationships. These values form the foundation of what this study terms language as moral ecology—a linguistic system that regulates ethical conduct and sustains communal harmony. From a pedagogical standpoint, the kepaten lexicons provide culturally grounded learning materials that can nurture solidarity, spirituality, and ecological care in character education. Overall, the study enriches anthropological linguistics by positioning ritual discourse as both a moral–ecological practice and a model for heritage-based pedagogy rooted in Sasak cultural wisdom.   Penelitian ini mengkaji sistem bahasa ritual dalam tradisi kepaten masyarakat Sasak melalui perspektif linguistik antropologis. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk lingual, makna budaya, dan sistem nilai yang terkandung dalam tuturan ritual kematian. Bahasa dalam konteks ini tidak dipandang semata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai mekanisme simbolik yang menstrukturkan perilaku sosial, spiritual, dan moral masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menghimpun leksikon ritual yang dianalisis menggunakan teknik HBB, HBS, dan HBSP untuk membangun taksonomi dan domain semantik pada tiga tahap utama: nyiepan ‘pra-pemakaman’, nguburan ‘pemakaman’, dan suwahan ‘pasca-pemakaman’. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setiap bentuk lingual tidak hanya memuat makna leksikal, tetapi juga merepresentasikan sistem nilai triadik yang menghubungkan relasi manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai ini menjadi dasar dari konsep bahasa sebagai ekologi moral (language as moral ecology), yaitu sistem linguistik yang menata perilaku etis dan menjaga keharmonisan sosial. Dari sudut pandang pedagogis, leksikon kepaten dapat dijadikan sumber pembelajaran berbasis budaya yang menumbuhkan solidaritas, religiusitas, dan kepedulian ekologis dalam pendidikan karakter. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya kajian linguistik antropologis dengan menempatkan wacana ritual sebagai praktik moral-ekologis sekaligus model pedagogi berbasis kearifan lokal masyarakat Sasak.
Leksikon Etnomedisin dalam Pengobatan Tradisional Sasak: Kajian Antropolinguistik Pahrudin Arrozi; NFN Burhanuddin; NFN Saharudin
MABASAN Vol. 14 No. 1 (2020): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v14i1.308

Abstract

Penelitian ini bertempat di Desa Sengkerang dialek Meno-Mene, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan leksikon etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sasak. Pendekatan teoretis yang digunakan adalah pendekatan antropolinguistik. Sementara itu, pendekatan metodologis penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Untuk pengumpulan data menggunakan studi pustaka, observasi, wawancara dan metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan catat. Hasil penelitian ini pertama, leksikon etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sasak di Desa Sengkerang diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu kata dan frasa. Kedua, terdapat tiga pandangan budaya leksikon etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sasak, yaitu adanya keselarasan masyarakat Sasak di Desa Sengkerang dengan alam, adanya keselarasan nilai keagamaan, dan cerminan ekonomis; ketiga, masyarakat Sasak mewariskan pengetahuanya tentang pengobatan tradisional secara turun-temurun, baik dari mulut ke mulut maupun dalam bentuk tulisan.  
WUJUD BUDAYA SASAK DALAM NOVEL SANGGARGURI: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA Lalu Yusril Aman; Saharudin; Muh. Khairussibyan
MABASAN Vol. 16 No. 2 (2022): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v16i2.534

Abstract

Tujuan tulisan ini adalah mendeskripsikan wujud budaya Sasak yang terdapat dalam novel Sanggarguri dan menjelaskan fungsi wujud budaya Sasak tersebut bagi masyarakat setempat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca dan teknik catat, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan tahapan: reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Penelitian ini menemukan tiga wujud budaya Sasak dalam novel Sanggarguri, yaitu (1) wujud gagasan berupa sêsênggak, awik-awik atau hukum adat, dan sênggeger; (2) wujud aktivitas (tingkah laku) yang berupa bêsêlam, ziarah makam, sembeq, pêrêbaq jangkih, bêtabêq dan mênyilaq, mulut adat (maulid Nabi Muhammad secara adat), sêntulak, dan roah; dan (3) wujud artefak (karya/material) berupa tabaq, rantok, tas gêgandek, kêmaliq, bêrugaq (sêkênêm), batu têtandan, tetunjang, opak ambon, ancak, takêpan, sedah lanjaran, pakaian adat Sasak (dodot, sapuq, kemben, cipoq, bêbêt dan bêngkung), tambok dan cêraken, minyak jêlêng, seni musik (gêndang bêleq, rebana barungan (burdah), dan tawaq-tawaq), dan seni tari (rudat). Fungsi dari tiga jenis wujud budaya dalam novel Sanggarguri adalah (1) wujud gagasan berfungsi menggambarkan syariat adat sebagai kritikan terhadap masyarakat Sasak yang sering meninggalkan tradisi dan ritual-ritual adat, menciptakan kedamaian antara manusia dengan alam, dan sebagai sarana berdoa kepada Tuhan; (2) wujud aktivitas (tingkah laku) berfungsi untuk memperkenalkan tentang budaya Sasak, menggambarkan identitas masyarakat Sasak, dan melestarikan budaya Sasak yang sudah mulai hilang; dan (3) wujud artefak berfungsi untuk memperkenalkan budaya material masyarakat Sasak, sebagai perangkat atau perlengkapan dalam acara dan ritual-ritual adat, sebagai roh pada acara adat, sebagai tempat berlangsungnya acara adat atau ritual adat, sebagai pakaian khusus dalam acara adat, sebagai obat, dan sebagai pengisi dalam acara bêgawe ‘pesta’.
IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR: KAJIAN STILISTIKA FEMINIS SARA MILLS Nur Atimah; Saharudin; Muh. Khairussibyan
Jurnal PENEROKA Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30739/peneroka.v6i1.4479

Abstract

This study aims to uncover forms of gender subordination ideology and female stereotypes through a Feminist Stylistics analysis in the novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP) by Dahlan. Patriarchal social constructions are often reflected in everyday life and prevalent in society; in literary works, this can be explored through the language used to represent women. The focus of this study is on how language represents women throughout the novel's text, as well as the positive or negative values that emerge from it. The research employs a qualitative descriptive method with Sara Mills' Feminist Stylistics approach, through data collection techniques involving library research, reading, and note-taking. The data analyzed consist of words, phrases/sentences, and discourses found in the novel's text. The research findings at the word level include gender ideology categories of Naming and Androcentrism, and the Female Experience category: Euphemism and Taboo. Next, at the phrase/sentence level, gender ideology categories of Presupposition and Inference, and Metaphor and Simile were found. Finally, at the discourse level, forms of gender ideology in the categories of Character and Role, and Fragmentation were identified.The study also uncovers the intriguing finding that language participates in perpetuating stereotypes that harm women.
Sorong Serah Aji Krame in the Novel Merpati Kembar di Lombok by Nuriadi Lisa Rosalia; Nuriadi; Aswandikari; Saharudin; Ahmad Sirulhaq
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 13 No. 1 (2026): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/interactionjournal.v13i1.4543

Abstract

This study aims to analyze how the Sorong Serah Aji Krame tradition is represented in Nuriadi’s novel Merpati Kembar di Lombok and compare it with its actual implementation in South Montong Baan Village. The research findings indicate that in the MKL novel, the author narrates the Sorong Serah Aji Krame ceremony using the term "serah doe/ngadep," without providing detailed explanation of its procession. However, in several sections, such as the preparation of the pembayun and the depiction of the pembayun chanting process, brief descriptions are offered. Conversely, in actual practice in South Montong Baan Village, the ceremony exhibits genuine complexity comprising the delegation of pisolo (emissary), religious greetings, customary greetings, the main ceremony, the pronouncement of aji krame (dowry), the handover of aji krame, the cutting of the Jinnah rope, and the closing ceremony. Meanwhile, several cultural symbolic meanings are embedded within the tradition, encompassing values of politeness, spirituality, honesty, and transparency.
AKOMODASI BAHASA MASYARAKAT KECAMATAN ALAS SUKU SAMAWA-SASAK-BAJO DALAM RANAH PERDAGANGAN Raudhatil Maulani Lani; Burhanuddin; Mahsun; Saharudin; Ahmad Sirulhaq
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.414

Abstract

Akomodasi bahasa pertama kali dikembangkan oleh Howard Giles yang berfokus pada penyesuaian tingkatan percakapan, aksen, dan jeda dalam berbicara. Kemudian dikembangkan menjadi teori komunikasi antar budaya. Akomodasi Bahasa merupakan kemampuan untuk menyesuaikan, memoodifikasi, atau mengatur prilaku seseorang dalam merespon orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud pilihan bahasa, mendeskripsikan pola akomodasi bahasa, dan penyimpulan hasil analisis data. Data dikumpulkan dengan metode simak dan teknik sadap sebagai teknik dasarnya, kemudian diteruskan dengan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik rekam. Wujud pilihan bahasa yang digunakan meliputi tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode. Pola akomodasi bahasa yang dilakukan suku Samawa melakukan divergensi sebab berperan sebagai mayoritas dan suku asli tersebut. Suku Sasak dan suku Bajo melakukan konvergensi sebab berperan sebagai minoritas dan suku pendatang.