Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Keanekaragaman Atrhropoda Nokturnal di Jalan Urip Sumoharjo Way Halim Bandar Lampung Menggunakan Light Trap Azhima, Ridha; Defy, Agitha Safrilia; Nurhayu, Winati; Darmawan, Andy
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v1i1.1186

Abstract

Arthropoda merupakan filum terbesar dari animal kingdom dengan salah satu kelas arthropoda yang sering ditemui adalah serangga (insekta) yang dibagi menjadi 2 yaitu diurnal dan nokturnal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghitung keanekaragaman arthropoda nokturnal di daerah perkotaan. Penelitian ini menggunakan alat berupa light trap sederhana dan bahan yang digunakan yaitu air. Metode yang digunakan yaitu metode survey deskriptif dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap arthropoda nokturnal yang terperangkap. Jenis- jenis arthropoda nokturnal yang terperangkap diantaranya yaitu dari famili Culicidae, famili Rhinotermitidae, famili Zygoptera, famili Pholcidae, dan famili Noctuidae dengan nilai Keanekaragaman Shannon yang didapat yaitu H' = 1,339. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa keanekaragaman pada lokasi pengamatan tergolong ke dalam kategori sedang yaitu 1,339.
Arthropod Species Diversity in the Arboretum of Institut Teknologi Sumatera hutauruk, David; Malewa, Sindy; Marhaeni, Agustina; Dabukke, Ruth; Nurhayu, Winati; Darmawan, Andy
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v1i1.1265

Abstract

Arthropoda termasuk salah satu filum hewan dengan anggota paling banyak di antara filum hewan lainnya. Arthropoda mempunyai fungsi ekologi sebagai detritivor, dekomposer, herbivor, dan predator yang berguna untuk penyeimbang ekosistem serta dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) Arthropoda yang terdapat di arboretum Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Metode penelitian ini dilakukan dengan pengambilan sampel secara road sampling dengan menggunakan alat sweep net pada pagi dan sore hari selama empat hari dalam empat minggu. Sampel Arthropoda yang tertangkap diawetkan dalam alkohol 70% lalu diidentifikasi di Laboratorium Zoologi ITERA. Pada hasil penelitian diperoleh indeks keanekaragaman Shannon Arthropoda keseluruhan dengan nilai H’ = 3,619. Indeks ini termasuk tinggi karena sudah lebih dari tiga. Untuk di pagi hari, nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan di sore hari (H’ = 3,226 dan H’ = 3,000). Spesies Arthropoda yang paling dominan adalah Acrididae sp. Dengan nilai indeks dominansi 13,26%. Arthropoda yang paling dominan saat pagi hari adalah Conocephalus (10,53%) dan sore hari adalah Acrididae sp. (16,42%). Berdasarkan hasil penelitian, keanekaragaman jenis Arthropoda di Arboretum ITERA tergolong tinggi sehingga menandakan daya dukung di lingkungan arboretum ITERA masih cukup baik.
Variasi Kualitas Tidur dan Kreativitas pada Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera Nurhayu, Winati; Tumangger, Juliana Esteria; Maretta, Gres; Darmawan, Andy
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v2i1.1662

Abstract

Tidur adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang termasuk dalam kebutuhan fisiologis. Kualitas tidur merujuk pada kondisi yang dialami seseorang untuk mencapai kesegaran dan kebugaran setelah bangun tidur. Terdapat dua fase dalam tidur, yaitu fase Rapid Eye Movement (REM) dan fase Non Rapid Eye Movement (Non REM). Pada fase tidur Non REM, terjadi penurunan norepinefrin yang diduga berperan dalam meningkatkan kreativitas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi variasi kualitas tidur dan kreativitas pada mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Penelitian dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang meliputi pendataan demografi, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menentukan kualitas tidur, dan Adjective Check List (ACL) untuk menentukan sifat kreativitas responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur mayoritas mahasiswa ITERA cenderung buruk. Selain itu, juga terdapat temuan bahwa mahasiswa ITERA umumnya memiliki sifat yang mengarah tidak kreatif. Namun, menariknya, ditemukan bahwa mahasiswa ITERA dengan kualitas tidur yang buruk justru lebih banyak memiliki sifat kreatif.
Hubungan Kecerdasan Fluida dengan Kontrol Diri pada Mahasiswa Institut Teknologi Sumatera Darmawan, Andy; Wulandari, Putri; Nurhayu, Winati
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 11 No. 2 (2023): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v11i2.8430

Abstract

Fluid intelligence is the ability to think quickl and flexibly in solving new problems without relying on past experiences. Meanwhile, self-control is the ability to carry out necessary tasks and resist unwanted and unnecessary temptations. Students, as individuals transitioning into adulthood, may have unique self-control and fluid intelligence due to ongoing brain development. This study aims to analyze the relationship between fluid intelligence and self-control among students at Sumatra Institute of Technology. The research method used in this study involved interviews using the Baddeley Reasoning Test and self-control Scale with 161 respondents, consisting of 73 males and 88 females. The results of the study indicate that there was no significant relationship between fluid intelligence and self-control. One factor that may explain higher fluid intelligence in males is that they are often required to make decisions. Additionally, higher self-control in females may be attributed to societal expectations of more normative behavior for women.
Variasi Ukuran Payudara sebagai Daya Tarik Fisik Perempuan di Masyarakat Lampung Nurhayu, Winati; Luxiana, Eri; Darmawan, Andy; Mulyana, Jeane Siswitasari; Maretta, Gres
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 11 No. 2 (2023): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v11i2.8955

Abstract

Sexual selection occurs when living organisms, including humans, exhibit specific preferences for morphological traits related to health and fertility when choosing a mate. Various physical characteristics such as body size and shape, leg length, skin color, hair length and color, facial features, and breast size contribute to the physical attractiveness of females in mate selection. Breasts can serve as a particular attraction for males, as they are believed to be associated with health and fertility for reproductive purposes. Sexual selection leads to a range of breast sizes, from small to large, within a population. The aim of this research is to investigate the variation in breast size preferences among females in the Indonesian society, specifically in Lampung. The study was conducted by distributing both online and offline questionnaires randomly with breast size stimuli in the form of images. Descriptive data analysis was employed to examine the variation in breast size preferences. Very large breast sizes were considered healthy and feminine by respondents, while medium sizes were deemed attractive. Married male respondents preferred larger breast sizes on average compared to unmarried respondents. Higher-income respondents tended to select larger breast sizes. Respondents with lower educational backgrounds tended to prefer smaller breast sizes. Respondents residing in rural areas preferred larger breast sizes compared to those living in urban areas. In conclusion, sexual selection applied among the population of Lampung in the context of breast size preferences.
Pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) sebagai Substrat Alternatif dalam Transplantasi Karang Acropora di Pulau Pahawang Novriadi, Novriadi; Darmawan, Andy; Martinus, Simon; Syawaldi, Muhammad Kevin
MAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences Vol. 3 No. 2 (2025): October 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Sumatera, Lampung Selatan, Lampung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/maximus.v3i2.2164

Abstract

Degradasi terumbu karang akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia memicu perlunya upaya rehabilitasi. Saat ini upaya rehabilitasi yang umum dilakukan adalah transplantasi karang dengan substrat buatan. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) sebagai substrat alternatif dibandingkan beton konvensional dalam transplantasi karang Acropora di Pulau Pahawang. Substrat dibuat dengan rasio beton:FABA (80:20) dan diuji terhadap parameter pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup fragmen karang selama enam bulan. Hasil menunjukkan bahwa substrat berbasis FABA mendukung pertumbuhan karang lebih baik dibandingkan substrat beton, dengan nilai Geometry Mean Dimension (GMD) yang lebih tinggi secara signifikan (p < 0.0001). Selain itu, tingkat kelangsungan hidup karang pada substrat FABA mencapai 100%, lebih tinggi dibandingkan beton (85%). Keunggulan substrat FABA diduga berasal dari kandungan kalsium dan silika yang mendukung pembentukan kerangka kapur karang, serta keberadaan biofilm yang berperan dalam stabilisasi ekosistem mikro. Temuan ini menunjukkan bahwa FABA dapat menjadi alternatif yang lebih efisien dan ekonomis untuk substrat transplantasi karang, sekaligus menawarkan solusi pemanfaatan limbah industri secara berkelanjutan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji dampak jangka panjang FABA terhadap ekosistem laut. Kata kunci: Kontak Horison, Kalsifikasi, Substrat Buatan, Biofilm.
Comparative Study on Phytoplankton Community in Two Newly Dug Ponds in Institut Teknologi Sumatera Wijayanti, Hendry; Darmawan, Andy
Jurnal Biodjati Vol 5 No 1 (2020): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v5i1.7996

Abstract

Phytoplankton community plays an important ecological role in the aquatic ecosystems as the primary producers and forms the fundament of the aquatic food chain for supporting the water community. Thus, the phytoplankton community structure is a good indicator of water quality due to its sensitiveness to environmental stresses. Two newly dug ponds in Institut Teknologi Sumatera may give an opportunity to study the early colonizing stages of various freshwater communities including phytoplankton. The study attempted to determine the composition and abundance of phytoplankton. Samples were collected from two ponds (A and C) in the reservoir water of Institut Teknologi Sumatera. The content of Phosphorus (P), Nitrogen (N), and Chlorophyll-a (algae biomass) were determined. Phytoplankton had higher diversity in Pond C than Pond A in the study period, in which a total of seven taxa were found, namely Bacillariophycea, Cyanophyceae, Chlorophyceae, Conjugatophyceae, Dinophyceae, Euglenophyceae, Gymnodiniaceae. The most species abundance of both ponds was Peridinium sp. and Trachelomonas sp. The Pond C had the highest mean value of the Shannon-Wiener diversity index. The Linear mixed-effect model showed that low turbidity will result in high phytoplankton diversity. The finding of this study suggests that higher phytoplankton diversity would achieve a natural carrying capacity, and thus would serves as an indicator of ecosystem health.
Daily Behavior of Long-Tailed Macaques (Macaca fascicularis) In the Elephant Training Center Area Taman Nasional Way Kambas Maretta, Gres; Alayda Anggraini, Putri; Darmawan, Andy; Nurhayu, Winati; Handoko, Mahfud; Siswitasari Mulyana, Jeane
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 16 No 2 (2025): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v16i2.29178

Abstract

Macaca fascicularis is a diurnal primate that lives in social groups. In Taman Nasional Way Kambas, particularly in the Elephant Training Center area, long-tailed macaques are frequently observed interacting with tourists, and such interactions through ecotourism activities are suspected to influence their natural behavior. Therefore, research on their daily behavioral patterns is essential as part of conservation efforts. Observations were conducted using the scan sampling method over a 30-day period during morning (06:00–10:00 WIB) and afternoon (16:00–18:00 WIB) hours at 5-minute intervals. The results indicate that feeding was the predominant daily behavior (42%), whereas mating was the least frequently observed (2%). Overall, Macaca fascicularis in the Elephant Training Center area of Taman Nasional Way Kambas still maintain their natural behaviors but have begun to show adaptations to human presence that may potentially alter their long-term activity patterns. Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Di Kawasan Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas ABSTRAK: Macaca fascicularis merupakan primata diurnal yang hidup dalam kelompok sosial. Di Taman Nasional Way Kambas, khususnya di kawasan Elephant Training Center, monyet ekor panjang sering diamati berinteraksi dengan wisatawan, dan interaksi tersebut melalui aktivitas ekowisata diduga dapat memengaruhi perilaku alaminya. Oleh karena itu, penelitian mengenai pola perilaku harian monyet ekor panjang menjadi penting sebagai bagian dari upaya konservasi. Pengamatan dilakukan menggunakan metode scan sampling selama 30 hari pada waktu pagi (06.00–10.00 WIB) dan sore hari (16.00–18.00 WIB) dengan interval pengamatan setiap 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan merupakan aktivitas harian yang paling dominan (42%), sedangkan perilaku kawin merupakan yang paling jarang diamati (2%). Secara keseluruhan, Macaca fascicularis di kawasan Elephant Training Center Taman Nasional Way Kambas masih mempertahankan perilaku alaminya, namun mulai menunjukkan adaptasi terhadap keberadaan manusia yang berpotensi memengaruhi pola aktivitas jangka panjangnya.