p-Index From 2021 - 2026
8.177
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

praktika Studi Deskriptif Penerapan Pemuridan Di Komunitas Remaja Yogi Santoso; Kalis Stevanus; Fianus Tandiongan; Gidion Gidion
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 3 No. 2 (2022): November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v3i2.123

Abstract

Discipleship is very important in Christianity. Discipleship is a mandate of Christ which is parallel to the mandate of evangelism. Every believer needs to be discipled to be matured toward Christlikeness. The purpose of this study was to describe the level of discipleship implementation in the youth community of GBT Alfa Omega Semarang. To answer the research objectives, a literature approach was used to explain the theoretical study of discipleship and also used a descriptive quantitative method to find out the numerical effectiveness of the application of discipleship in the youth community. The research results obtained by 84% or interpreted in the very good category.
Peran Orangtua dalam Upaya Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Usia Dini Vivilia Vivone Vriska Macarau; Kalis Stevanus
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 3, No 2 (2022): Pendidikan Agama Kristen dan Kepemimpinan - Desember 2022
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v3i2.113

Abstract

Self-confidence is very influential on a person’s behavior. Not all children have high confidence. Even children at an early age can experience feelings of inferiority, lack of enthusiasm, and pessimism when faced with problems. Low self-esteem can usually appear in various negative emotions, such as discomfort, inability, fear of failure, and soon.  Trust is an urgent need for every individual, including in early childhood. This article aims to explain the importance of children's self-confidence and how parents try to increase children's self-confidence  early,  so that they do not judge themselves too low, instead have a positive attitude toward themselves and respect themselves and their abilities. This article uses a literature approach, with techniques of collecting data from relevant literature and analyzing them descriptively, logically, and systematically. This article emphasizes that the role of parents in increasing children's self-confidence from an early age is to love children with unconditional love; use good words to build; instill responsibility; provide opportunities for children to choose and make decisions; dare to say "no" to children; give sincere praise and avoid critical comments on the child's actions; not scolding children in public; motivate children to value themselves in a healthy way; do not impose the will on the child; and do not judge children based on outward things only.AbstrakRasa percaya diri sangat berpengaruh pada perilaku seseorang. Tidak semua anak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Bahkan anak-anak pada usia dini dapat mengalami perasaan rendah diri, kurang semangat, dan pesimis ketika menghadapi masalah. Harga diri yang rendah biasanya dapat muncul dalam berbagai emosi negatif, seperti ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketakutan akan kegagalan, dan sebagainya. Kepercayaan merupakan kebutuhan yang mendesak bagi setiap individu, termasuk pada anak usia dini. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pentingnya rasa percaya diri anak dan bagaimana orang tua berusaha meningkatkan rasa percaya diri anak sejak dini, agar mereka tidak menilai diri mereka terlalu rendah, melainkan memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, dan menghargai diri sendiri, serta kemampuannya. Artikel ini menggunakan pendekatan kepustakaan, dengan teknik pengumpulan data dari berbagai literatur dan menganalisisnya untuk menarik kesimpulan secara deskriptif, logis, dan sistematis. Artikel ini menegaskan bahwa peran orang tua dalam meningkatkan rasa percaya diri anak sejak dini adalah mencintai anak dengan cinta tanpa syarat; gunakan kata-kata yang baik untuk membangun; menanamkan tanggung jawab; memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih dan mengambil keputusan; berani mengatakan "tidak" kepada anak-anak; berikan pujian yang tulus dan hindari komentar kritis terhadap tindakan anak; tidak memarahi anak di depan umum; memotivasi anak-anak untuk menghargai diri mereka sendiri dengan cara yang sehat; jangan memaksakan kehendak pada anak; dan jangan menilai anak berdasarkan hal-hal lahiriah saja.
Pendidikan Karakter Kristen Melalui Pengutamaan Formasi Rohani Imanuel Herman Prawiromaruto; Kalis Stevanus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.926

Abstract

Abstract. The term spiritual formation has been widely used in many Christian contexts both within the family, school and church. This literature study will focus on explaining the concept of Christian character education based on spiritual formation. This article offers spiritual formation as a more relevant approach in building Christian character. Through this study, it was found that Christian character education can only be achieved through the application of spiritual formations both individually and in groups. Therefore, Christian educational institutions must emphasis on spiritual development efforts in character education. Spiritual formation will be able to transform the inner life so as to form a Christ-like character.Abstrak. Istilah formasi rohani telah banyak digunakan dalam banyak konteks Kristen baik dalam lingkup keluarga, sekolah maupun gereja. Tinjauan pustaka ini akan fokus pada penjelasan mengenai konsep pendidikan karakter Kristen yang berbasiskan atas formasi rohani. Artikel ini menawarkan formasi rohani sebagai pendekatan yang lebih relevan untuk membangun karakter Kristen. Melalui kajian ini diperoleh hasil bahwa pendidikan karakter Kristen hanya dapat dicapai melalui penerapan formasi rohani baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Kristen harus lebih menitikberatkan upaya-upaya pembinaan rohani dalam pendidikan karakter. Formasi rohani akan mampu mentransformasi kehidupan batiniah sehingga membentuk karakter seperti Kristus.
Kepemimpinan Kristen Transformasional: Interpretasi 2 Timotius 3:10 dan Signifikansinya bagi Pemimpin Kristen di Era Disrupsi Inge Gunawan; Kalis Stevanus; Yonatan Alex Arifianto
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.979

Abstract

Abstract. This article is intended to study transformational leadership in the praxis of Christian leadership. Paul’s leadership is one example of transformative Christian leadership. The results of the interpretation of 2 Timothy 3:10 showed that the pattern of transformational leadership presented by Paul includes two aspects, namely teaching and way of life. Paul lives what he teaches so that his leadership transforms the lives of his followers and becomes a role model for his followers. Thus, transformational Christian leadership is a leadership where a leader is willing to learn continually, broaden thoughts and world views, and then live it in the praxis of daily life.Abstrak. Artikel ini akan mengkaji kepemimpinan transformasional dalam praksis kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan Paulus merupakan salah satu contoh kepemimpinan Kristen yang transformatif. Hasil interpretasi terhadap teks 2 Timotius 3:10 ditemukan bahwa pola kepemimpinan transformasional yang dipresentasikan Paulus mencakup dua aspek yaitu pengajaran dan cara hidup. Paulus menghidupi apa yang diajarkannya sehingga kepemimpinannya mentransformasi kehidupan pengikutnya dan menjadi panutan pengikutnya. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen transformasional adalah kepemimpinan di mana seorang pemimpin mau untuk terus belajar, memperluas pikiran dan pandangan, dan kemudian menghidupinya dalam praksis hidup sehari-hari.
Manajemen Dalam Pengambilan Keputusan Di Gereja Clara Raflesiane Misahapsari; Kalis Stevanus
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.216

Abstract

The organization is a forum for each institution and in certain fields to be able to create and implement every activity program. In the process of forming and implementing an activity, of course the organization uses management to organize and manage everything that is done through the existing organization. One of them is an organization in the church. The church uses management to manage and organize every activity it creates. Management carried out in the church is applied in various fields according to the needs of the church through a program created. One of them is management in the decisions made in the church. This management helps the pastor and the board or board that is there to be able to determine the best decision. In addition, through management in making decisions, the pastor and the existing board or council can resolve conflicts. However, until now there are still many churches that do not apply management in making decisions in various activities and fields in the church, so that many churches when they are still experiencing various conflicts without any good decisions. Therefore, the purpose of this article is to know the things that must be done in the application of management in decision making in the church. The method used in this writing is a qualitative descriptive method. From the writing of this article, the results obtained are that the pastor and church administrators or councilors can apply management in decision-making in the church to deal with existing conflicts and through a meeting.
Misi Gereja Dalam Realitas Sosial Indonesia Masa Kini Kalis Stevanus; Yunianto Yunianto
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 6, No 1 (2021): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2021
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.321 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v6i1.61

Abstract

In general, the problem of mission today is related to a one-sided emphasis on one side. One emphasizes and maintains the context of the humanitarian field with all its problems and challenges so that it tends to ignore the text. While others are fixated on the text and ignore the context. It is undeniable that the mission paradigm will influence and determine its missionary practice. This paper is intended to contribute theoretically about the importance of reconstructing the Church's mission paradigm that is relevant to the context of today's Indonesia, and practically the churches in Indonesia can implement an applicable form of mission by taking part in alleviating the concrete problems faced. by the community according to the capabilities of the church members. By using a qualitative approach, namely a literature study, the author will describe descriptively about the foundation of Christian mission and the urgency of conducting a review or updating of the understanding and practice of its mission in the current concrete situation. It was concluded that the mission of the church must still be carried out but in its implementation it must pay attention to the social situation in the community. Because the mission of the church without paying attention to the context of its recipients will find difficulties and even failures in carrying out God's will as the light and salt of the world. This means that the strategy or technique of the church's mission must be implemented according to the current context in which the church is present.
Pentingnya Peran Media Sosial dalam Pelaksanaan Misi di Masa Pandemi Covid-19 Yonatan Alex Arifianto; Sari Saptorini; Kalis Stevanus
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 5, No 2 (2020): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2020
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.689 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v5i2.39

Abstract

The Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) outbreak, or better known as the Corona virus, is spreading rapidly, bringing changes in socializing and communicating in the community. Government regulations require all citizens to participate in breaking the chain of transmission of the virus. This of course also has an impact on the concept and implementation of the mission that has been carried out, namely face to face. As one way the church must continue to take its role in witnessing or preaching the gospel of Jesus Christ to non-believers using social media as the right choice in carrying out missions during the Covid-19 pandemic. This article will describe the understanding of the Church or believers as recipients of God's mission mandate, and the use of social media as a means of carrying out missions during the Covid-19 pandemic, and how the effectiveness and constraints of carrying out missions through social media. The results of the research can be said that the mission can still be carried out in all conditions in the midst of society even though without having to meet face to face with the way the church empowers its people to actively use social media as a means of preaching the gospel.AbstrakWabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) atau lebih dikenal dengan nama virus Corona yang menyebar dengan cepat membawa perubahan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi di masyarakat. Aturan pemerintah mengharuskan semua warga berpartisipasi dalam memutus rantai penularan virus tersebut. Hal itu tentu juga berdampak pada konsep dan pelaksanaan misi yang selama ini dilakukan, yakni dengan tatap muka secara langsung. Sebagai salah satu caranya gereja harus tetap mengambil perannya untuk bersaksi atau memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang belum percaya menggunakan media sosial sebagai pilihan yang tepat di dalamnya pelaksanaan misi di masa pandemi Covid-19.  Artikel ini akan memaparkan pemahaman tentang Gereja atau orang percaya sebagai penerima mandat misi Allah, dan  pemanfaatan media sosial sebagai salah satu sarana pelaksanaan misi di masa pandemi Covid-19, dan bagaimana efektivitas serta kendala pelaksanaan misi melalui media sosial. Hasil penelitian dapat dikatakan bahwa misi dapat tetap dilakukan dalam segala kondisi di tengah-tengah masyarakat meskipun tanpa harus tatap muka secara langsung dengan cara gereja memberdayakan umatnya untuk secara aktif menggunakan media sosial sebagai sarana pemberitaan Injil.
Kinerja Pendidik Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran David Priyo Susilo; Kalis Stevanus; Tantri Yulia
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.398

Abstract

Proses pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik perlu diciptakan. Pembahasan ini bertujuan untuk mendeskripsikan kinerja pendidikan dalam upaya peningkatkan mutu pembelajaran. Untuk menjawab tujuan tersebut, penulis memilih metode kuatif deskriptif dengan memanfaatkan kepustakaan yang relevan dengan pembahasan. Hasil analisis kajian pustakan didapati bahwa kinerja pendidik sangat dominan menentukan kualitas pembelajaran, dan memengaruhi hasil belajar peserta didik. Upaya peningkatan mutu pembelajaran dapat dicapai melalui tahap pertama adalah merencanakan pembelajaran; kedua adalah pengembangan strategi pembelajaran; ketiga adalah pengembangan media pembelajaran, dan keempat adalah pengembangan metode pembelajaran Melalui tahapan tersebut diharapkan dapat menciptakan atmosfir pembelajaran yang bermakna dan berkualitas demi menjaga mutu pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik bukan saja menikmati proses pembelajaran yang berkualitas, tetapi peserta didik dapat melakukan aktualisasi diri dalam pembelajaran. 
Transformasi Pendidikan Futuristik Melalui Konstruksi Masyarakat Pancasila sebagai Implementasi Pendidikan Multikultural: Sebuah Perspektif Kristiani Swandriyani Hudianto; Kalis Stevanus; Carolina Etnasari Anjaya
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.375

Abstract

Kepesatan teknologi informasi saat ini membuka peluang selebar-lebarnya bagi pengadopsian nilai-nilai, pengajaran, dan ideologi yang tidak sesuai dengan kultur bangsa. Dampak sangat kuat terjadi pada kaum muda sebagai generasi yang sangat terbuka terhadap hal-hal baru. Mengatasi hal ini peran dunia pendidikan sangat dibutuhkan agar dapat mengantisipasi dan mengembalikan nilai-nilai yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Riset ini disusun dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Tujuan dari riset ini adalah memberikan deskripsi dan analisa tentang transformasi pendidikan yang futuristik melalui pembangunan masyarakat Pancasila. Hasil riset menunjukkan bahwa transformasi pendidikan futuristik dalam perspektif kristiani perlu mengedepankan pengembangan soft skills. Internalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dapat dikontekstualisasikan dalam konteks pendidikan Kristen. Aktualisasi pembangunan masyarakat Pancasila dapat dilakukan dengan metode pembelajaran role play, berbasis proyek dan riset serta pembentukan kelompok atau komunitas sosial lintas agama, suku, budaya, status sosial dan generasi.
Kinerja Pendidik Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran David Priyo Susilo; Kalis Stevanus; Tantri Yulia
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i2.398

Abstract

Proses pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik perlu diciptakan. Pembahasan ini bertujuan untuk mendeskripsikan kinerja pendidikan dalam upaya peningkatkan mutu pembelajaran. Untuk menjawab tujuan tersebut, penulis memilih metode kuatif deskriptif dengan memanfaatkan kepustakaan yang relevan dengan pembahasan. Hasil analisis kajian pustakan didapati bahwa kinerja pendidik sangat dominan menentukan kualitas pembelajaran, dan memengaruhi hasil belajar peserta didik. Upaya peningkatan mutu pembelajaran dapat dicapai melalui tahap pertama adalah merencanakan pembelajaran; kedua adalah pengembangan strategi pembelajaran; ketiga adalah pengembangan media pembelajaran, dan keempat adalah pengembangan metode pembelajaran Melalui tahapan tersebut diharapkan dapat menciptakan atmosfir pembelajaran yang bermakna dan berkualitas demi menjaga mutu pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik bukan saja menikmati proses pembelajaran yang berkualitas, tetapi peserta didik dapat melakukan aktualisasi diri dalam pembelajaran.