Claim Missing Document
Check
Articles

PENGETAHUAN MASYARAKAT MENGENAI MANFAAT TANAMAN MANGROVE SEBAGAI OBAT TRADISIONAL Susanti Susanti; Silvia Mona
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 1 No. 2 (2021): JULI : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v1i2.844

Abstract

Tumbuhan obat telah digunakan sebagai pengobatan preventif, kuratif, dan rehabilitatif sejak zaman kuno. Bahan aktif tumbuhan yang digunakan untuk mengobati penyakit memiliki nilai terapeutik. Tanaman mangrove merupakan salah satu tanaman yang sering di pergunakan untuk bahan obat tradisional. Indonesia merupakan negara yang berada di Asia yang memiliki hutan mangrove terbesar di dunia dan tersebar dari sabang hingga ke merauke. Luas hutan mangrove di Indonesia ± 42.550 km2 yang tersebar dalam 257 kota/kabupaten. Setidaknya terdapat 40 hingga 50 spesies mangrove di Indonesia yang merupakan spesies mangrove terbesar di dunia. Keberagaman jenis mangrove bervariasi dari pulau ke pulau di Indonesia, dan kebutuhan serta permintaan akan jamu semakin berkembang, begitu pula dengan kesadaran akan pentingnya bahan alami dan semboyan hidup di alam (back to nature). Desain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu desain deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan masyarakat pesisir tentang manfaat mangrove sebagai tanaman obat. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik Random Sampling. Hasil penelitian didaptkan mayoritas masyarakat mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 40 responden dengan persentase (67%) dimana masyarakat masih memanfaatkan mangrove hanya dari segi ecology.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU HAMIL DALAM PEMERIKSAAN KEHAMILAN Silvia Mona; Susanti Susanti
Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2021): Maret: Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.936 KB) | DOI: 10.55606/jrik.v1i1.999

Abstract

Kunjungan antenatal care ialah suatu kegiatan yang perlu dilakukan dimana tujuannya sebagai langkah pendeteksian secara dini terkait ada tidaknya komplikasi saat proses kehamilan. Kunjungan ini dapat dilaksanakan sebanyak 4 kali selama proses kehamilan, yang mana dilakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin guna menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini ialah guna mengetahui faktor apa saja yang memberikan pengaruh atas perilaku ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan kesehatannya. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini ialah deskriptif dimana dengan melakukan pendekatan cross sectional dimana dalam melakukan pengukuran variabel hanya dilakukan sekali saja pada suatu waktu. Dalam penelitian ini sebanyak 20 ibu hamil berperan menjadi sampel. Hasil penelitian didapatkan bahwasanya hal yang mempengaruhi perilaku ibu hamil dalam melakukan kesehatan ialah pengetahuan (p=0,001 < 0,005) dan dukungan suami (p=0,008 < 0,005).
Psychological Burden of High-Risk Labeling: A Phenomenological Study of Maternal Identity, Self-Efficacy, and Emotional Well-Being in Women with Complicated Pregnancies Susanti Susanti; Fardila Elba; Etty Sri Wahyuni; Novi Yulianti
Jurnal Ventilator Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Ventilator
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/ventilator.v3i4.2649

Abstract

The high-risk pregnancy label assigned by healthcare providers not only indicates a clinical condition but also triggers complex psychological burdens on pregnant women. The psychological impact of this labeling is often overlooked in midwifery care approaches that focus primarily on biomedical aspects. This study aimed to explore the lived experiences of women labeled with high-risk pregnancies, focusing on maternal identity, self-efficacy, and emotional well-being. Methods: Descriptive phenomenological qualitative research. Twelve participants were selected through purposive sampling from the high-risk obstetric outpatient clinic at RSUD Kepri, Batam. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed using Colaizzi's method. Results: Six major themes emerged from the analysis: (1) maternal identity disorientation, (2) erosion of self-efficacy, (3) multilayered emotional distress, (4) changing relational dynamics, (5) resilience and meaningful adaptation, and (6) therapeutic communication gaps. Participants described profound psychological struggles characterized by fear, guilt, uncertainty, social isolation, and disrupted perceptions of motherhood. Spiritual coping and family support emerged as important adaptive mechanisms, while inadequate therapeutic communication from healthcare professionals intensified emotional distress. Conclusion: High-risk labeling creates multidimensional psychological burdens that significantly affect the quality of life of pregnant women. An integrated care approach addressing both clinical and psychosocial aspects, along with enhanced therapeutic communication competencies among healthcare providers, is urgently needed.
Exploring Training Needs to Improve Tuberculosis Notification in the Private Healthcare Sector: A Qualitative Study Suryanti Chan; Hamzah Hamzah; Saiful Batubara; Susanti Susanti
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.2026363

Abstract

Tuberculosis (TB) under-notification remains a challenge in pluralistic healthcare systems, where cases managed in private healthcare settings may not be captured in national surveillance systems. This study explored the training needs of physicians working in private healthcare settings to improve TB notification practices. A qualitative exploratory study was conducted among 10 physicians working in private clinics and independent practices in Batam, Indonesia. Participants were purposively selected based on experience managing TB cases. Semi-structured interviews were conducted between May and July 2026, audio-recorded, transcribed verbatim, and analyzed using thematic analysis. TB notification practices were shaped by interactions between provider competence, clinical workflow constraints, and the reporting environment. Although participants were aware of notification requirements, competing clinical responsibilities, limited workflow integration, and perceived reporting-system complexity constrained routine notification. Participants identified needs for practical competencies, including step-by-step guidance and hands-on practice, together with flexible educational delivery and continued implementation support. They also emphasized that system- and organizational-level barriers could not be addressed through training alone. Improving TB notification may therefore require practical, context-sensitive training integrated with ongoing support and enabling workflow and reporting conditions. Abstrak: Tuberkulosis (TB) yang tidak dilaporkan masih menjadi tantangan dalam sistem pelayanan kesehatan pluralistik, di mana kasus yang ditangani di fasilitas kesehatan swasta mungkin tidak tercatat dalam sistem surveilans nasional. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi kebutuhan pelatihan dokter di fasilitas kesehatan swasta untuk meningkatkan praktik notifikasi TB. Penelitian kualitatif eksploratif dilakukan terhadap 10 dokter yang bekerja di klinik swasta dan praktik mandiri di Batam, Indonesia. Peserta dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman menangani kasus TB. Wawancara semi-terstruktur dilakukan antara Mei dan Juli 2026, direkam, ditranskripsikan secara verbatim, dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Praktik notifikasi TB dipengaruhi oleh interaksi antara kompetensi penyedia layanan, kendala alur kerja klinis, dan lingkungan pelaporan. Meskipun peserta memahami persyaratan notifikasi, tanggung jawab klinis, keterbatasan integrasi notifikasi dalam alur kerja, dan kompleksitas sistem pelaporan yang dirasakan menjadi hambatan dalam pelaksanaan notifikasi rutin. Peserta mengidentifikasi kebutuhan akan kompetensi praktis, termasuk panduan langkah demi langkah dan praktik langsung, serta metode pelatihan fleksibel dan dukungan implementasi berkelanjutan. Peserta juga menekankan bahwa hambatan sistem dan organisasi tidak dapat diatasi melalui pelatihan saja. Peningkatan notifikasi TB memerlukan pelatihan praktis dan sesuai konteks yang terintegrasi dengan dukungan berkelanjutan serta kondisi alur kerja dan sistem pelaporan yang mendukung.
THE EFFECT OF RED GUAVA FRUIT ON HEMOGLOBIN (HB) LEVELS OF ADOLESCENT FEMALES IN THE WORK AREA OF TANJUNG BALAI PUBLIC HEALTH CENTER Herbina Br Sembiring; Susanti
Zona Kebidanan: Program Studi Kebidanan Universitas Batam Vol 16 No 3 (2026): AGUSTUS
Publisher : Universitas Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37776/zkeb.v16i3.2348

Abstract

Anemia among adolescent girls remains a health issue that impacts growth, academic concentration, and future reproductive health. One non-pharmacological approach to increasing hemoglobin (Hb) levels is the consumption of red guava; rich in vitamin C, it enhances iron absorption. This study aims to determine the effect of red guava consumption on the hemoglobin levels of adolescent girls within the working area of ​​the Tanjung Balai Community Health Center. This study employed a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The sample consisted of 20 adolescent girls selected using purposive sampling. The intervention involved the administration of 250 ml of red guava juice daily for 10 days. Hemoglobin levels were measured before and after the intervention using a Quick Check Digital device and subsequently analyzed using a paired t-test at a 95% significance level. The study results indicate that the mean hemoglobin level was 9.9 g/dL prior to the intervention, whereas it increased to 10.2 g/dL following the intervention. Statistical analysis demonstrates that the consumption of red guava has a significant effect on increasing hemoglobin levels among adolescent girls (p < 0.05). It can be concluded that consuming red guava is effective in raising hemoglobin levels, making it a viable non-pharmacological intervention for the prevention and management of anemia in adolescent girls.