Claim Missing Document
Check
Articles

EXPLORING HUSBAND-WIFE INTERACTIONS AND CULTURE OF FISHING FAMILIES IN WEST JAVA COASTAL AREAS: Eksplorasi Interaksi Suami-Istri dan Budaya Keluarga pada Keluarga Nelayan di Wilayah Pesisir Jawa Barat Rizkillah, Risda; Defina, Defina; Hastuti, Dwi; Muflikhati, Istiqlaliyah
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 17 No. 3 (2024): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 17.3
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2024.17.3.208

Abstract

Coastal areas are areas with high extreme poverty with low family interaction. This research explores husband-wife interactions and cultural roles in fishing families in the northern and southern coastal areas. This research used an exploratory study following a mixed methods research approach (concurrent embedded). Husband and wife interactions were measured using a modification of the Chuang instrument. Respondents of survey method consisted of 456 fishermen's wives in West Java, in-depth interviews consisted of 18 husbands and 18 wives, and Focus Group Discussion (FGD) 1 and 2 consisted of 120 people. The research results show that there are no couples in the high category for total husband-wife interaction. The majority of husband-wife interactions in this study were in the low category. Wives in the north region express affection and make decisions for their husbands more often than wives in the south region. On the other hand, wives in the south region are more often angry and annoyed with their husbands than wives in the north region. However, wives in the south region also more often feel safe when their husbands must make essential decisions than wives in the north region. This research implies that the findings can be input for stakeholders to improve the quality of family interactions based on the north and south coastal areas.
Model Penelitian dan Pengembangan Materi Ajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) Defina Defina
Indonesian Language Education and Literature Vol. 4 No. 1 (2018)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v4i1.3012

Abstract

The objectives of this research are (1) to analyze the development model of Indonesian language teaching materials for foreign speakers and (2) combine the existing models. The analysis of this theory based on the results of research and development has been undertaken by BIPA IPB. The research had been conducted from August 2015 to Februrai 2017. Eight models were the research objects to analyze, namely a) ADDIE models, b) Dick, Carey, and Carey models, c) Borg and Gall models, d) ASSURE models, Kemp models, f) Tomlinson models, g) Brown models, and h) Jolly and Bolitho models.The research result shows models that have been modified in three main parts, namely 1) preparation, 2) planning, and 3) development-evaluation. These three parts can be broken down into 17 sections, such as 1) curriculum, 2) needs analysis, 3) syllabus, 4) text collection, 5) text selection, 6) material creation, 7) draft I, 8) preparation of test questions, 9) one to one test, 10) revision I , 11) draft II, 12) small group trial, 13) revision II, 14) draft III, 15) effectiveness test, 16) revision III, and 17) final product. The conclusion is that each model has its advantages and disadvantages. The development of Indonesian language teaching material models for foreign speakers can be undertaken by combining development research models that have been formulated by experts.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis model pengembangan materi ajar bahasa Indonesia bagi penutur asing dan mengombinasikan model-model yang ada. Analisis teori ini berdasarkan hasil  penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan di BIPA IPB. Penelitian dilakukan sejak Agustus 2015--Februari 2017.  Objek yang dianalisis ada delapan model: a)  model ADDIE, b) model Dick, Carey, dan Carey, c) model Borg dan Gall, d) model ASSURE, e) model Kemp, f) Tomlinson, g) Brown, dan h) Jolly dan Bolitho. Hasilnya, dari delapan model yang dianalisis, dapat dirumuskan model yang telah dimodifikasi. Ada tiga bagian utamanya, yaitu 1) persiapan, 2) perencanaan, dan 3) pengembangan-evaluasi. Dari 3 bagian itu dapat diuraikan menjadi 17 bagian: 1) kurikulum, 2) analisis kebutuhan, 3) silabus, 4) pengumpulan teks, 5) pemilahan teks, 6) pengkreasian materi, 7) draf I, 8) penyusunan soal tes, 9) uji one to one, 10) revisi I, 11) draf II, 12) uji coba kelompok kecil, 13) revisi II, 14) draf III, 15) uji efektivitas, 16) revisi III, dan 17) produk final. Simpulannya adalah setiap model itu memiliki kelebih dan kekurangan. Pengembangan model materi ajar bahasa Indonesia bagi penutur asing dapat dilakukan dengan mengombinasikan model-model penelitian pengembangan yang sudah dirumuskan para pakar.
Tindak Tutur Ekspresif pada Aanak-anak Saat Bermain Bola di Lapangan NFN defina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 7, No 1 (2018): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v7i1.469

Abstract

When playing, children will communicate to one another. They use language when communicating with their interlocutors. In this sense, this study was aimed at analyzing types of expressive illocutionary speech acts produced by children to communicate when playing. Ethnographic communication method was employed in this research done at Klender National Residence, East Jakarta. The data collecting technique was observation aimed to take down notes the children’s speech acts when playing football, in particular. The obtained data were then analyzed by using matching method. Meanwhile, this research employed Schiffrin’s speech acts theory. The findings revealed that in the distribution of the use of expressive speech acts in the children’s dialogues when playing football were identified six pairs of speech. From the six pairs, only two types of expressive speech acts were identified, while the other three were none. The produced expressive speech acts are 1) blaming expression in five pairs (83,3%) and 2) pardoning expression in one pairs (16,7%). On the other hand, the unidentified types of expressive speech acts are 1) thanking, 2) congratulating, 3) praising and 4) condoling, 5) welcoming, 6) criticising,  7) complaining,  dan 8)  flattering. In conclusion, the children used expressive illocutionary speech acts more with blaming expression than those with pardoning, thanking, congratulating, praising and  condoling. So, their communicative language tends to involve blaming expressions. AbstrakSaat bermain, anak-anak akan berkomunikasi sesamanya. Mereka menggunakan bahasa saat berkomunikasi dengan mitra tutur.  Sehubungan dengan hal itu, tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis jenis tindak tutur illokusioner ekspresif yang dihasilkan anak-anak untuk berkomunikasi saat bermain. Metode penelitian ini adalah metode etnografi komunikasi. Penelitian dilaksanakan di Perumnas Klender, Jakarta Timur. Teknik pengumpulan data melalui observasi. Observasi bertujuan mencatat tuturan-tuturan anak-anak saat bermain bola. Teknik analisi data,data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode padan. Teori yang digunakan adalah teori tindak tutur yang dikemukan Schiffrin. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa distribusi penggunaan tindak tutur ekspresif  dalam dialog anak-anak saat bermain bola, dapat diidentifikasi 6 pasang ujaran.  Dari enam pasang ujaran, hanya ada dua jenis ujaran ekspresif, sedangkan tiga jenis ujaran ekspresif lainnya tidak ada.Tindak tutur yang dihasilkan itu adalah 1) tindak tutur ekspresif menyalahkan berjumlah 5 pasangan ujaran  (83,3 %) dan 2) tindak tutur ekspresif  meminta maaf 1 pasangan ujaran (16,7 %).  Sebaliknya, tindak tutur ekspresif yang tidak dipergunakan 1) berterima kasih, 2) memberi selamat, 3) memuji, 4) belangsung kawa, 5) menyambut, 6) mengkritik, 7)  mengeluh,  dan 8) menyanjung. Kesimpulannya adalah dalam bermain, anak-anak lebih banyak menggunakan tindak tutur ilokusi ekspresif  menyalahkan jika dibadingkan dengan tindak tutur  meminta maaf, berterima kasih, memberi selamat, memuji, belangsung kawa, menyambut, mengkritik, mengeluh, dan menyanjung. Jadi, bahasa mereka dalam berkomunikasi cenderung menyalahkan.
Bahasa Informal dalam WhatsApp Grup sebagai Sarana Pemerolehan Bahasa Bagi Pemelajar BIPA di Indonesia Defina Defina
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.3614

Abstract

One of the current means of communication that students widely use is WhatsApp (WA), and in communicating, they often use non-standard language. This paper identifies 1) non-standard words, affixes, phrases, and rephrases with their abbreviations, 2) slang vocabulary and its abbreviations, and 3) regional and foreign vocabularies often obtained by BIPA students in WA and their abbreviations. This analytical descriptive research method analyzes slang, foreign, regional, and abbreviations obtained through WA. The informants are KNB students from the 2018/2019 class, totaling six people. The data collection technique was that they sent conversations in WA groups for two days, 18-19 June 2019, and wrote down the words they had just obtained. As a result, 1) standard-non-standard root words, affixes, and abbreviated phrases are in 7 forms, while repeated words are in two forms; 2) the slang vocabulary obtained is in the form of phonemes, abbreviations, and acronyms; 3) foreign, regional, and mixed vocabulary obtained in 5 forms and there are original forms. In conclusion, the language obtained by BIPA students is not only found in slang but also in regional and foreign expressions. The research implication is that the WA group can be a means of acquiring a non-formal variety of Indonesian for international students. AbstrakSalah satu sarana berkomunikasi saat ini yang banyak digunakan oleh mahasiswa adalah WhatsApp (WA) dan dalam berkomunikasi mereka sering menggunakan bahasa tidak baku. Tulisan ini mengidentifikasi 1) kata-kata baku-nonbaku, kata berimbuhan, frasa, dan kata ulang dengan penyingkatannya; 2) kosakata gaul dan penyingkatannya, dan 3) kosakata daerah serta asing yang sering diperoleh pemelajar BIPA dalam ber-WA serta penyingkatannya. Metode penelitian ini deskriptif analitis dengan menganalisis kata gaul, asing, daerah, dan singkatan yang diperolehnya melalui WA. Informan adalah mahasiswa KNB angkatan 2018/2019 yang berjumlah 6 orang. Teknik pengumpulan data adalah mereka mengirimkan percakapan dalam grup WA selama dua hari, 18-19 Juni 2019 serta menuliskan kata-kata yang baru mereka peroleh. Hasilnya, 1) kata dasar baku-nonbaku, kata berimbuhan, dan frasa yang disingkat ada dalam 7 bentuk, sedangkan kata ulang dalam dua bentuk; 2) kosakata gaul yang diperoleh ada berupa fonem-fonetik, singkatan, akronim; 3) kosakata asing, daerah, dan campuran yang diperoleh ada dalam 5 bentuk dan ada bentuk aslinya. Simpulan, bahasa yang diperoleh pemelajar BIPA tidak hanya ditemukan bahasa gaul, tetapi juga ungkapan daerah dan asing. Implikasi penelitian adalah grup WA dapat menjadi sarana pemerolehan bahasa Indonesia ragam nonformal bagi mahasiswa asing. 
PEMBELAJARAN DWIBAHASA DI SEKOLAH DASAR: PELAKSANAAN, KENDALA, DAN HARAPAN Defina Defina; Krishandini Krishandini; Laksmi Arianti; Henny Krishnawati; Hesti Sulistyowati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i1.20

Abstract

Sekolah dasar (SD) di Indonesia, khususnya di Bogor, Jawa Barat, diberikan mata pelajaran pendidikan dua bahasa: Indonesia dan bahasa ibu atau daerah (bahasa Sunda). Akan tetapi, dari pengamatan sementara pengajaran dwibahasa menimbulkan berbagai kendala. Sehubungan dengan hal itu, tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan proses pembelajaran dwibahasa tersebut di sekolah dasar, 2) mendeskripsikan kendala yang dialami guru dalam proses pembelajaran, dan 3) mendeskripsikan harapan para guru mengenai kegiatan pembelajaran dwibahasa tersebut. Populasi penelitian ini adalah guru SD di Bogor. Sampel penelitian 47 guru kelas di enam SD di Bogor. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian adalah 1) untuk proses pengajaran: a) bahasa Indonesia dan bahasa Sunda di SD diajarkan oleh guru kelas, b) bahasa pengantar dalam pembelajaran bahasa Sunda tidak menggunakan bahasa tersebut, tetapi menggunakan bahasa Indonesia, c) sarana pembelajaran bahasa di SD kurang memadai dan hanya memiliki buku panduan, dan d) siswa lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran kedua bahasa itu; 2) kendala yang dihadapi guru adalah a) mereka tidak mendapatkan perhatian yang serius dari sekolah dan pemerintah, dalam upaya peningkatan kemampuan, b) guru yang mengajarkan bahasa Sunda masih kurang keterampilan berbahasa Sunda, dan c) keterampilan berbahasa Sunda guru yang mengajarkan bahasa Sunda masih kurang, khususnya guru yang tidak berbahasa ibu bahasa Sunda, 3) harapan mereka adanya perhatian serius dari pemerintah terhadap pembelajaran bahasa Sunda dan mata pelajaran ini tidak dihapus.