Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN SEBAGAI PAKAN TERNAK DALAM UPAYA PENGUATAN EKONOMI DI MASA COVID PADA PETUGAS KEBERSIHAN DI LINGKUNGAN SMAN 4 KOTA BENGKULU definiati, neli; Malianti, Lezita; Nurhaita, Nurhaita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jpmbr.v4i2.1846

Abstract

Budidaya ikan lele termasuk salah satu jenis usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan karena Permintaan pasar yang tinggi, kondisi lingkungan yang mendukung serta memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap pakan lokal alternatif yang  banyak tersedia. Kelompok petugas kebersihan Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Kota Bengkulu ini mempunyai peluang yang cukup besar untuk terlibat dalam pemanfaatan limbah sayuran sebagai pakan ternak dalam upaya penguatan ekonomi di masa pandemic covid 19, beberapa diantara anggota kelompok pernah memiliki usaha sampingan beternak ikan lele namun harus gulung tikar dikarenakan harga pakan yang terus meningkat. Kegiatan PKM ini bertujuan mengatasi permasalahan ekonomi dan pengolahan limbah, memanfaatkan limbah sayuran pasar sebagai bahan pakan ternak lele yang murah dan ramah lingkungan merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan mitra. Dengan adanya kegiatan ini dapat mendorong Kelompok Petugas Kebersihan SMAN 4 Kota Bengkulu yang tangguh dan mandiri karena dalam usaha dilengkapi dengan teknologi pemanfaatan limbah sayuran, serta manajemen usaha yang baik. Bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan adalah pelatihan pembuatan pelet ikan lele berbahan limbah sayuran pasar; pelatihan penyusunan ransum ternak lele; pembuatan demplot dilokasi yang sudah disiapkan oleh kelompok, pelatihan manajemen kolam. Adapun indikator dari kegiatan ini adalah Terlaksananya kegiatan PKM secara lancar, diaplikasikannya teknologi pembuatan pellet ikan lele, teknologi penyusunan ransum ternak lele, banyaknya anggota yang mengikuti kegiatan, meningkatnya motivasi berwirausaha serta dihasilkanya pellet ikan lele yang memiliki kualitas nutrisi yang baik.Keyword : Limbah Sayuran Pasar, Pelet Ikan Lele
Efek Lama Penyimpanan pada Pakan Wafer Limbah Sayuran terhadap Produksi VFA Total dan NH3 Secara In-vitro Neli Definiati; Nurhaita Nurhaita; Wismalinda Rita; Sunaryadi Sunaryadi
Jurnal Peternakan Vol 19, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v19i1.13818

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap produksi VFA Total, pH dan NH3 pada pakan wafer limbah sayuran. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan A = Penyimpanan 0 hari, B = Penyimpanan 7 Hari, C = Penyimpanan 14 Hari, D = Penyimpanan 21 Hari. Parameter yang diamati adalah pH, NH3 dan VFA Total. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pH dan VFA Total berpengaruh sangat nyata, namun NH3  tidak berpengaruh nyata. Kesimpulan dari penelitian ini lama penyimpanan pakan wafer limbah sayuran berpengaruh terhadap pH cairan rumen dan VFA Total. Namun tidak berpengaruh pada NH3. Lama penyimpanan yang terbaik pada hari ke 14. Konsentrasi pH, VFA Total dan NH3 berada pada kondisi optimal untuk pertumbuhan aktivitas mikroba.Kata kunci : Lama penyimpanan, pH, NH3 dan VFA TotalEffect of Storage Duration on In-vitro Total VFA and NH3 Production of Vegetable Waste as Wafer Feed ABSTRACT. This study aims to determine the effect of storage duration on total VFA and NH3 production of vegetable waste as wafer feed. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications. Treatment A = duration-storage 0 days, B = duration-storage 7 Days, C = duration-storage 14 Days, D = duration-storage 21 Days. This study was observed pH, NH3, and a total of VFA. The data were analyzed by analysis of variance (ANOVA). From the results of the study, it is shown that there are significant differences in the pH of the rumen (P<0.05); the pH value of rumen fluid is still under normal circumstances (6,86-8,91). The duration of storage of the vegetable waste feed had a significant effect on total VFA (P<0.05). Total VFA production ranges from 91.65 – 115.15 mM, which is still the criteria for the optimum level of VFA production. However, in this study, the storage duration of vegetable waste wafer feed had no significant effect on NH3. The NH3 average value of the study was 8.46-9.90 mM, which is still in the optimum condition for microbial protein synthesis. The result implies 14 days of duration storage is the best treatment. The concentration of pH, Total VFA, and NH3 were at the optimal conditions for the growth of microbial activity.
PENDUGAAN DAYA PRODUKSI SUSU DAN BEBERAPA NILAI PARAMETER GENETIK PADA SAPI PERAH FRIES HOLLAND Neli Definiati; Sartini Sartini
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.632 KB) | DOI: 10.25077/jpi.11.1.1-6.2006

Abstract

The aims of the present research were to calculate some genetically parameters for estimation of milk production potency of dairy cattle based on the recorded data for 10 years of production. Parameter calculated included: heredity, repeatability and production capacity. The data was collected from PT. Taurus Dairy Farm Sukabumi during the period of 1990-2000. Heredity and repeatability values were determined by variance and covariance analysis based on paternal half in completely randomized design. Calculation of milk production capacity was based on most probable producing ability (MPPA) formula. Results showed that the highest milk production of about 3.565.71  670.021 kg/y was obtained during the first lactation period and followed by the fourth lactation period of 3.331,80  806,35 kg/y. The highest heredity value of 0,36  0,35 was obtained at first lactation, followed by third lactation of 0,25  0,31, fourth lactation 0,22  0,30. The repeatability value of milk production was found 0, 33.
Pengaruh Lama Penyimpanan Wafer Pakan Sampah Sayuran Terhadap Kandungan Fraksi Serat (Hemiselulosa, Selulosa dan Lignin) Neli Definiati; R Zurina; D Aprianto
Jurnal Peternakan Sriwijaya Vol 8, No 2 (2019): JURNAL PETERNAKAN SRIWIJAYA
Publisher : Department of Animal Sciences, Faculty of Agriculture, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.394 KB) | DOI: 10.36706/JPS.8.2.2019.10186

Abstract

Kendala dalam pemanfaatan limbah sayuran  secara langsung yaitu sifatnya yang mudah busuk, bersifat voluminous (bulky)/amba, ketersediannya berfluktuasi. Untuk mengatasi kendala diatas diperlukan teknologi pengolahan pakan hijauan salah satunya adalah pembuatan wafer agar bahan pakan bisa bertahan lama. Teknologi pakan hijauan wafer ini dapat  mengoptimalkan pemanfaatan limbah sayuran. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni 2019 di Laboratorium Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan dilakukan analisis fraksi serat (Van Soest) di Laboratorium Institute Pertanian Bogor (IPB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan terhadap komposisi fraksi serat (hemiselulosa, Sellulosa dan lignin).  Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap  (RAL)  4 x 4, dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Wafer limbah sayur dibuat dengan formulasi 60% limbah sayuran, 25% dedak, 10% molases dan 5% tapioka.  Perlakuan yang diuji adalah lama penyimpanan: A = Tanpa Penyimpanan B = Penyimpanan 1 Minggui, C = Penyimpanan 2 minggu dan D = Penyimpanan 3 minggu.  Para meter yang diamati Kandungan Selulosa, hemi sellulosa dan Kandungan Lignin.  Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lama penyimanan wafer pakan selama 3 minggu tidak berpengaruh pada peurunnan kandungan selulosa namun dapat menurunkan kandungan hemiselulosa dan lignin wafer pakan.
Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik Limbah Sayuran Dengan Teknologi Pengolahan (Wafer, Pellet dan Fermentasi) Secara In- Vitro Indah Dwi Rahma; Neli Definiati
Jurnal Inspirasi Peternakan Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Inspirasi Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jinak.v1i1.1425

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik limbah sayuran dengan teknologi pengolahan (Wafer, Pellet dan Fermentasi) secara in-vitro. Penelitian ini telah dilaksanakan pada 16 Juni sampai 18 Agustus, pembuatan pakan limbah sayuran dengan teknologi pengolahan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan Analisis Kecernaan Bahan Kering (KCBK) dan Kecernaan Bahan Organik (KCBO) secara In- Vitro dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah Institut Pertanian Bogor (IPB). Penelitian ini menggunakan Analisis Uji T dengan 4 perlakuan. Perlakuan A = yaitu limbah sayuran yang dilayukan (kontrol), B = limbah sayuran dalam bentuk wafer, C = limbah sayuran dalam bentuk pellet dan D = limbah sayuran menjadi pakan fermentasi. Parameter yang diamati yaitu Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi wafer, pellet dan fermentasi limbah sayuran berpengaruh nyata terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik. Pada teknologi wafer, pellet dan fermentasi memberikan nilai kecernaan bahan kering berkisar 77,18%- 81,43% dan Kecernaan Bahan Organic sebesar 74,79%- 83,25%.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa teknologi wafer, pellet dan fermentasi berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organic dan pengolahan terbaik ada pada fermentasi yang memberikan nilai kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organic yang tinggi. Kata kunci: Limbah Sayuran, Teknologi Pengolahan Pakan, Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik.
Pengaruh penggunaan asap cair (liquid smoke) tempurung kelapa terhadap kadar air, kadar protein dan kadar lemak daging itik talang benih Budi Julianto; Suliasih Suliasih; Neli Definiati; Lezita Malianti
Jurnal Inspirasi Peternakan Vol. 1 No. 3 (2021): Jurnal Inspirasi Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jinak.v1i3.2054

Abstract

Seiring dengan berkembangnya teknologi, teknologi pengawetan makanan berupa pengasapan pun ikut berkembang, yaitu dengan menggunakan asap cair. Perkembangan pengasapan menuju asap cair ini karena adanya kekhawatiran akan zat–zat kimia yang berbahaya dalam proses pengasapan yang ikut bereaksi dalam proses tersebut, sehingga dapat menyebabkan bahaya yang tidak disadari oleh para konsumen. Pengawetan menggunakan asap cair tempurung kelapa ini bertujuan untuk mengetahui  kandungan  Kadar  Air,  Kadar Protein,  dan  Kadar  Lemak  daging  Itik Talang Benih. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2021 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Bengkulu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 faktor dan 3 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perendaman daging itik talang benih dengan kosentrasi yaitu A0 : 0%, A1 : 4%,  A2 : 8%,  A3 : 12% dan waktu perendaman yaitu W1 : 30 Menit dan W2 : 60 Menit. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 24 sampel daging itik talang benih. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara kosentrasi asap cair dengan waktu perendaman terhadap Kadar Air, Kadar protein dan   Kadar   Lemak. Kosentrasi asap cair faktor (A) berpengaruh nyata terhadap Kadar Air, Kadar protein dan Kadar Lemak tetapi Waktu Perendaman faktor (W) tidak berpengaruh nyata terhadap Kadar Air, Kadar protein dan  Kadar Lemak. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunakan asap cair pada konsentrasi 12 % dapat menjaga kadar air, mempertahankan kadar protein, dan menurunkan kadar lemak daging itik talang benih  Kata kunci    :      Asap cair, Kadar Air, Protein, Lemak, Daging Itik.
PENGARUH FERMENTASI AMPAS KELAPA(Cocos nucifera L ) DENGAN NEUROSPORA SITOPHILA TERHADAP KANDUNGAN FRAKSI SERAT Asmara Dewi; Edwar Suharnas; Rita Zurina; Nurhaita Nurhaita; Neli Definiati
Jurnal Inspirasi Peternakan Vol. 2 No. 1 (2022): Jurnal Inspirasi Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jinak.v2i1.3355

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh fermentasi ampas kelapa ( Cocos Nucifera L ) dengan Neurospora sitophila terhadap kandungan fraksi serat. Penelitain ini telah dilaksanakan dari bulan Juli – September 2021 di Laboratorium Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan analisa Van Soest telah dilakukan di Laboratorium Ternak Perah Peternakan Institut Pertanian Bogor ( IPB ).Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Fermentasi Ampas Kelapa dibuat dengan formulasi 1,5 kg ampas kelapa dan 10% molases. dengan perlakuan dosis Neurospora sitophila P1 = ( 2% ), P2 = ( 4%), P3= ( 6%), P4 = (8%).Parameter yang diamati adalah Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF), Hemiselulosa, Selulosa, Lignin.Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dosisNeurospora sitophilaberpengaruh nyata terhadap Kandungan NDF dan Hemiselulosa, Tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan ADF, Selulosa dan Lignin Ampas kelapa fermentasi, Kandungan fraksi serat ampas kelapa fermentasi dalam penelitian ini adalah NDF = ( 61,05 % - 70,89% ), Hemiselulosa = (21.68 % - 30,05 %), ADF = ( 37,57 % – 40,84 % ), Selulosa = ( 30,87 % - 33,78 %)dan lignin = ( 5,14 % - 5,33% ). Kesimpulan penelitian ini adalah Fermentasi Ampas Kelapadengan beberapa level Neurospora sitophila berpengaruh terhadap Kandungan Neutral Detergen Fiber (NDF) dan Kandungan Hemiselulosa tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan Acid Detergent Fiber (ADF), selulos, Lignin, Level Neurospora sitophila yang terbaik adalah P3 (6 % ).
Fermentasi Limbah Sayur Dengan Menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) Serta Pengaruh Terhadap Kandungan Selulosa Dan Lignin: Fermentasi Limbah Sayur Dengan Menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) Serta Pengaruh Terhadap Kandungan Selulosa Dan Lignin Anjas Okta Priono Anjas Okta Priono; Neli Definianti; Wismalinda Rita; Edwar Suharnas; Lezita Malianti
Jurnal Inspirasi Peternakan Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Inspirasi Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jinak.v2i2.3576

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of adding moles to fermented vegetable waste on the cellulose and lignin content by proximate analysis. This research was carried out from August to completion, the manufacture of MOL of vegetable waste was carried out at the Laboratory of the Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, University of Muhammadiyah Bengkulu and Proximate Analysis of Cellulose and Lignin Content was carried out at the Laboratory of Dairy Animal Nutrition, Bogor Agricultural University (IPB). This study used a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. Treatment A = vegetable waste is fermented with the addition of 3% MOL, B = vegetable waste is fermented with the addition of 6% MOL, C = vegetable waste is fermented with the addition of 9% MOL and D = vegetable waste is fermented with the addition of 12% MOL. The parameters observed were the fiber content of vegetable waste including cellulose and lignin. The results showed that different mole doses had a significant effect on the cellulose and lignin content. With the addition of different MOL doses in the vegetable waste feed, the cellulose content decreased by 20.4 – 17.99 and the lignin content by 6.81 – 3.52. From this research, it can be concluded that giving different doses of MOL to fermented vegetable waste feed can simplify the bonding of cellulose and lignin so that the content of fermented feed in vegetable waste can be utilized. Keywords: Vegetable Waste, MOL dose, Cellulose and Lignin content
EFEK FERMENTASI LIMBAH SAYUR DENGAN DOSIS MOL YANG BERBEDA TERHADAP KANDUNGAN (NDF,ADF,HEMISELULOSA): EFEK FERMENTASI LIMBAH SAYUR DENGAN DOSIS MOL YANG BERBEDA TERHADAP KANDUNGAN (NDF,ADF,HEMISELULOSA) Nonni Anggriani; Neli Definiati; Edwar Suharnas; Wismalinda Rita; Lezita Malianti
Jurnal Inspirasi Peternakan Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Inspirasi Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jinak.v2i2.3590

Abstract

  NONNI ANGGRIANI, EFFECTS OF VEGETABLE WASTE FERMENTATION WITH DIFFERENT DOSAGE OF MOLE ON CONTENT (NDF,ADF,HEMISLULOSE) Under the guidance of I. Neli Definiati SP, MP., Supervisor II. Ir. Edward Suharnas MP. Animal Husbandry Study Program, Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, University of Muhammadiyah Bengkulu 2022. The purpose of this study was to determine the effect of adding moles to fermented vegetable waste on the cellulose and lignin content by proximate analysis. This research was carried out in August until completion, the manufacture of MOL of vegetable waste was carried out at the Laboratory of the Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, University of Muhammadiyah Bengkulu and Proximate Analysis of Neutral Content of Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF) and Hemicellulose was carried out at the Dairy Animal Nutrition Laboratory of the Institute Bogor Agriculture (IPB). This study used a completely randomized design with 4 treatments and 4 replications. Treatment A was fermented vegetable waste with the addition of 3% MOL, B vegetable waste was fermented with the addition of 6% MOL, C vegetable waste was fermented with the addition of 9% MOL and D vegetable waste was fermented with the addition of 12% MOL. The parameters observed were the fiber content of vegetable waste including Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF) and Hemicellulose. The results showed that giving different mole doses significantly affected the content of Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF) and Hemicellulose. With the addition of different doses of MOL in vegetable waste feed, it has the effect of decreasing the content of Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF) and Hemicellulose. From this study it can be concluded that giving different doses of MOL to fermented vegetable waste feed can simplify the fiber fraction bond in Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF) and Hemicellulose so that the content of fermented feed in vegetable waste can be utilized. Keywords: Vegetable Waste, MOL dose, Neutral Detergent Fiber (NDF), Acid Detergent Fiber (ADF) and Hemicellulose  
Pengaruh Penambahan Tepung Daun Pepaya (Carica papaya L.) Pada Ransum Terhadap Produksi Dan Income Over Feed Cost (IOFC) Ayam Kampung Super. M.Yu Rahmat Dona; Sunaryadi; Neli Definiati
Jurnal Inspirasi Peternakan Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Inspirasi Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jinak.v2i2.3638

Abstract

Kebutuhan protein hewani di Indonesia terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pendapatan serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani dalam memenuhi kebutuhan gizi. Pakan memiliki kontribusi 70% dari biaya produksi dalam usaha peternakan. Pakan alternatif yang dapat digunakan diantaranya pemanfaatan daun papaya yang dibuat menjadi tepung dalam ransum ayam kampung super. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan . Tepung daun pepaya dibuat dengan penambahan A = 0%, B = 3%, C = 6% dan D =9%. Parameter yang diamati adalah berat akhir, Berat karkas dan income over feed cost. Hasil penelitian memperlihatkan tepung daun pepaya berpengaruh nyata (p<0.05) terhadap berat akhir, berat karkas dan income over feed cost. Hal ini menunjukan bahwa tepung daun pepaya sangat berpengaruh terhadap ayam kampung super. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi penggunaan tepung daun pepaya yang digunakan semakin menurun berat akhir, persentase karkas dan meningkatkan income over feed cost ayam kampung super. Kata kunci : Ayam kampung super, daun pepaya, berat akhir, dan Income over feed cost