Susi Fitri
Program Studi Magister Bimbingan Dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengembangan Program Bimbingan Dan Konseling Karir Sekolah Menengah Kejuruan Model Employability Skill Endah Susanti Pujiastuti; Susi Fitri; Dede Rahmat Hidayat
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 9 No 1 (2020): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.091.02

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan program bimbingan dan konseling karir SMK model Employability Skill. Penelitian ini didasari hasil analisis asesmen kebutuhan dan permasalahn karir melalui penyebaran angket Inventori Tugas Perkembangan (ITP) di SMKN 6 kota Bekasi. Hasil yang di dapat rata-rata aspek wawasan kesiapan karir siswa 5,89 simpangan baku 0,25 dan koofesien variensi 6,78% artinya, kebutuhan akan kondisi obyektif perkembangan karir siswa sangat diperlukan bagi siswa. selain aspek wawasan dan kesiapan karir siswa juga perlu di bekali dengan ketrampilan employability skillnya agar peserta didik yang telah meninggal bangku sekolah menengah kejuruan sudah siap untuk terjun di dunia industry. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) model Borg and Gall yang di batasi pada 7 langkah yaitu: (1) Tahap penelitian dan pengumpulan informasi, (2) Tahap perencanaan produk dan desain, (3) Tahap pengembangan produk awal, (4) Uji validasi ahli, (5) Revisi Produk, (6) Uji lapangan oleh pengguna , (7) Revisi produk akhir. Pengujian produk melibatkan ahli bimbingan dan konseling, serta guru bimbingan dan konseling sekolah menengah kejuruan di Kota Bekasi. Berdasarkan hasil pengujian, maka pengembangan program bimbingan dan konseling karir model employability skill dinyatakan layak untuk diimplementasikan pada siswa SMK. Penelitian ini juga membahas mengenai kelemahan program yang ditemukan setelah uji coba dilakukan sebagai rekomendasi penelitian selanjutnya.
Studi Kasus Kekerasan Emosional Pada Laki-Laki Muda Feminin (Feminine Youth Male) Suci Nuranie; Susi Fitri
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 9 No 1 (2020): INSIGHT: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.485 KB) | DOI: 10.21009/INSIGHT.091.08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami kekerasan emosional yang dialami oleh laki-laki feminin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam. Analisis data yang digunakan adalah Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Responden pada penelitian ini terdiri dari 3 laki-laki feminin dengan karakteristik berbeda, yaitu laki-laki feminin homoseksual, laki-laki feminin heteroseksual, dan transgender. Dari penelitian ini teridentifikasi 6 tema utama yang menunjukan bentuk kekerasan emosional yang diterima oleh ketiga responden, yaitu 1) Serangan verbal dengan sub-tema cemoohan dan labelling, 2) Hubungan sosial dengan sub-tema penolakan, dijauhi, dan provokasi orang lain, 3) Kefemininan responden dengan sub-tema kesadaran kefemininan, dituntut berperilaku maskulin, serangan fisik, dan ancaman, 4) Stigma dan diskriminasi dengan sub-tema diskriminasi, dianggap homoseksual, pembunuhan karakter, dan pelecehan seksual, 5) Kehidupan religius dengan sub-tema dianggap tidak sesuai ajaran agama dan coping, serta 6) Dampak dari perlakuan yang diterima dengan sub-tema sakit hati, kesepian, tidak percaya diri, rendah diri, menyalahkan diri, self-harm, keinginan bunuh diri, dan coping.
Peningkatan Literasi Kesehatan Mental Remaja Selama Pandemi COVID-19 Melalui Psikoedukasi Online eka wahyuni; Susi Fitri
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2022): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v4i3.1201

Abstract

Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan literasi kesehatan mental remaja di kelurahan Rawamangun. Peningkatan literasi kesehatan mental sangat diperlukan terutama selama pandemi covid-19 dalam menghadapi ketidakpastiaan, kekhawatiran, isolasi dan kebosanan. Peningkatan literasi kesehatan mental bermanfaat untuk memberikan pengetahuan, keyakinan, keterampilan pertolongan pertama dan strategi mencari bantuan dan membantu diri sendiri. Metode pelaksanaan dilakukan dengan memberikan layanan psikoedukasi secara daring melalui grup whatsapp dengan media bantuan power point presentation dan video. Hasil yang dicapai dari layanan psikoedukasi ini adalah meningkatnya literasi kesehatan mental. Peningkatan literasi kesehatan mental dapat membuat remaja memiliki kesadaran tentang isu-isu kesehatan mental sehingga membantu diri dan orang di sekitarnya yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Akulturasi Stress Siswa Mutasi dari Sekolah di Luar Negeri Maulidha Sholehah; Susi Fitri; Lara Fridani
Indonesian Journal of Educational Counseling Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/001.202041.98

Abstract

ACCULTURATION OF MUTATIONAL STRESS STUDENTS FROM SCHOOLS OF FOREIGN COUNTRY. The aims of this study was to obtain the results of the research acculturation emphasizes student transfer from overseas schools in the international class XI program of Bosowa Al Azhar Cilegon, Banten High School. The researcher used two research methods namely qualitative method with indept interview, observation and using a questionnaire from the Acculturative Stress Scale for International Students (ASSIS) and open questions as data reinforcement, all students reported stress acculturation. Interestingly, however, responding to open questions asks students to consider themselves to increase pressure related to opposition, feelings of feelings, and academic problems. The question that was asked between interviews, observation, ASSIS and open questions discussed the questions of international class XI students at Bosowa Al Azhar Cilegon, Banten secondary school and drew attention when developing complementary planning for the purposes of the study. The results of this study are that this study is single data, both of these international class students, respectively, use Quartil in calculating the statistics. Quartil is the calculation of statistical data for research in which the data is single, not in groups. The whole correct answer for ASSIS 36-item is 180. Journal of ASY score results is 128 and MKB is 112. Accessible by ASY depends on high category and MKB depends on high category.
Analisis Kebutuhan Aplikasi Untuk Mengelola Stres Akademik Siswa Sekolah Menengah Atas Anaway Irianti Mansyur; Eka Wahyuni; Susi Fitri
Jurnal Sains Sosio Humaniora Vol. 6 No. 1 (2022): Volume 6, Nomor 1, Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jssh.v6i1.19482

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap kegiatan pembelajaran siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan untuk meminimalisir virus Covid-19, proses pembelajaran tatap muka menjadi berbasis online. Sehingga, salah satu cara untuk melakukan kegiatan pembelajaran berbasis online dengan e-learning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengelola stres akademik mereka selama pembelajaran berbasis online. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan survei dengan mengumpulkan data melalui penyebaran angket kepada 87 siswa SMA Perguruan Cikini Jakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 71.2% kondisi stres akademik siswa SMA Perguruan Cikini dikategorikan sedang. Selain itu, 17.4% siswa mengalami tingkat stres akademik yang tinggi. Selain itu, 66% siswa memiliki kecenderungan pada aspek mindfulness dengan kategori sedang. Sehingga, diperlukan langkah-langkah untuk mengelola stres akademik yaitu terapi mindfulness . Namun, 64.4% siswa menyatakan bahwa mereka tertarik untuk melalukan terapi mindfulness melalui aplikasi agar dapat mengelola stres akademik. Selain itu, mereka juga membutuhkan pengetahuan dan informasi terkait kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan lebih lanjut terkait pengelolaan stres akademik melalui terapi mindfulness berbasis aplikasi android.
Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok dengan Metode Permainan Terhadap Penerimaan Diri Siswa Muhammad Walimsyah Sitorus; Aip Badrujaman; Susi Fitri
ENLIGHTEN: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol 2 No 1 (2019): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/enlighten.v2i1.1215

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan metode permainan terhadap penerimaan diri siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi ekperimen design nonequivalent control group design. Kelompok eksperimen menerima perlakukan berupa 11 sesi bimbingan kelompok yang diselenggarakan dua kali dalam sehari. Kelompok kontrol tidak menerima perlakuan. Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa/Siswi kelas X SMAN I Babelan tahun angkatan 2018. Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan bentuk purposive sampling. Siswa/Siswi yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 20 orang dengan skor penerimaan diri berada dalam kategori rendah. Instrumen yang digunakan dalam menentukan sampel penelitian ini adalah instrumen penerimaan diri dengan empat pilihan dalam model skala likert yang terdiri 36 butir valid dengan reliabilitas menggunakan cronbach’s alpha sebesar 0,735. Teknik analisis data statistik dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dengan menggunakan mean empiris untuk melihat rata-rata skor pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig sebesar 0.000, melalui hasil perhitungan maka diperoleh kesimpulan pada penerimaan diri siswa/siswi sig < 0.05, Artinya peningkatan penerimaan diri siswa/siswi kelas X SMAN I Babelan kelompok treatment lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Implikasi hasil penelitian adalah membantu meningkatkan penerimaan diri siswa/siswi kelas X SMAN I Babelan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan guru bimbingan dan konseling di sekolah untuk melakukan kegiatan layanan bimbingan kelompok dengan metode permainan terhadap penerimaan diri siswa.
Penggunaan Smartphone Bermasalah Pada Siswa SMA Serta Implikasinya Bagi Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Nira Prihatin Nufus; Susi Fitri; Murti Kusuma Wirasti
ENLIGHTEN: Jurnal Bimbingan Konseling Islam Vol 3 No 2 (2020): July-December
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/enlighten.v3i2.1941

Abstract

Excessive use of smartphones can lead to problematic smartphone use. Problematic smartphone use is a person's inability to regulate smartphone use, which results in many negative consequences in everyday life. This study aims to determine the problematic description of smartphone use in high school students in the Bogor area. This research uses a quantitative approach with descriptive methods. The sampling technique was using the purposive sampling technique. The research instrument used was the MPPUSA (Mobile Phone Problem Use Scale for Adolescent) adaptation instrument. Its aspects consist of tolerance, escape from problems, craving, withdrawal, negative consequences, and social motivation. The results of the instrument trial obtained a reliability coefficient of 0.877. The questionnaire was distributed online using the Google Forms application, with 188 respondents (45 male respondents and 143 female respondents). The scale used is the five-point Likert scale. The results showed that the category of problematic use was 8.50%, the users were at risk of 43.62%, habitual use was 40.96%, and occasional users were 6.91%. The highest percentage of problematic smartphone use aspects is the escape from problem aspect of 67.84% and the lowest is the withdrawal aspect of 43.09%. The implication of the results of this study can be used as a needs analysis in making guidance and counseling service programs in schools by guidance and counseling teachers.
PELATIHAN KETERAMPILAN SOSIAL DALAM MENGATASI KECEMASAN SOSIAL ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM BAGI PEMBINA LPKA KELAS II JAKARTA Susi Fitri; Eka Wahyuni
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.928 KB)

Abstract

Abstract This community service aims to develop the abilities of the coaches at LPKA in helping students overcome their social anxiety by training students' social skills using a previously developed guidebook. The second objective is to test the validity of the content of the guide for trainers at LPKA class II Jakarta. Children in LPKA are in a condition of getting stigma and negative views from the community, causing anxiety due to the stigma experienced, especially inmates before being released. In addition, the violence that may arise in life in LPKA also causes anxiety in students. The social anxiety experienced by children includes the fear of fellow foster children when they just enter, as well as the shame of meeting again with the surrounding community when they leave. Children think society is bad because they talk bad things about themselves so children want to live in a new place so they no longer interact with neighbors when they go out. Another anxiety that is felt is when you meet again with the victim or the victim's family. The child is worried that there will be reprisals from the victim's family. Children have doubts about whether society will accept them back. Every day, children have difficulty sleeping and are easily agitated. Children tend to keep their aggressive behavior from appearing and maintain their attitude. Children worry about being the talk of friends, neighbors, or relatives. This community service activity method is in the form of social skills training and trials of training guidelines that have been developed previously. The participants of this activity are the II Jakarta LPKA coaches. The results of the assessment of the guide were a score of 82% based on the content feasibility aspect, a score of 81.2% for the linguistic aspect, and 81% on the presentation aspect, 83.9% on the graphic aspect. Overall, the trainers find this handbook for trainers worthy of use. While the process assessment in P2M activities, the trainer assessed that the instructor was able to answer participants' questions, mastered the material and was able to involve participants. Meanwhile, for this activity, participants consider this activity to be in accordance with their needs, useful and the implementation of the activity is considered to have achieved the training objectives. Abstrak Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengembangkan kemampuan para pembina di LPKA dalam membantu anak didik mengatasi kecemasan sosial mereka dengan melatih keterampilan sosial anak didik dengan menggunakan buku panduanyang telah dikembangkan sebelumnya. Tujuan kedua melakukan Uji validitas isi panduan pada pembina di LPKA kelas II Jakarta. Anak di LPKA berada dalam kondisi mendapatkan stigma dan pandangan negatif dari masyarakat sehingga menimbulkan rasa cemas sebagai dampak dari stigma yang dialami terutama narapidana menjelang bebas. Selain itu kekerasan yang mungkin muncul dalam kehidupan di LPKA juga menimbulkan kecemasan pada anak didik. Kecemasan sosial yang dialami anak di antaranya ketakutan pada sesama anak binaan ketika baru masuk, juga merasa malu bertemu kembali dengan masyarakat sekitar ketika mereka keluar. Anak menganggap masyarakat jahat sebab membicarakan hal yang buruk tentang dirinya sehingga anak ingin tinggal di tempat yang baru agar tidak lagi berinteraksi dengan tetangga sekitar ketika mereka keluar. Kecemasan lain yang dirasakan adalah ketika bertemu kembali dengan korban atau keluarga korban. Anak khawatir jika ada pembalasan dari keluarga korban. Anak merasa ragu apakah masyarakat menerima mereka kembali. Secara keseharian, anak mengalami sulit tidur dan mudah resah. Anak cenderung menjaga agar perilaku agresifnya tidak muncul dan lebih menjaga sikap. Anak khawatir menjadi bahan pembicaraan teman, tetangga, atau saudara. Metode kegiatan pengabdian masyarakat ini berbentuk pelatihan mengenai keterampilan sosial dan uji coba panduan pelatihan yang telah dikembangkan sebelumnya. Peserta dalam kegiatan ini adalah para pembina LPKA kelas II DKI Jakarta. Hasil dari penilaian terhadap panduan adalah nilai 82% berdasarkan aspek-aspek kelayakan isi, nilai 81,2% untuk aspek kebahasaan, dan 81% dalam aspek penyajian, 83,9% dalam aspek grafik. Secara keseluruhan para pembina menilai buku panduan bagi pembina ini layak digunakan. Sedangkan penilaian proses dalam kegiatan P2M para pembina menilai bahwa para instruktur mampu menanggapi pertanyaan peserta, menguasa materi dan mampu melibatkan peserta. Sedangkan terhadap kegiatan ini para peserta menilai kegiatna ini sesuai dengan kebutuhan mereka, berguna dan penyelenggaraan kegiatn dianggap telah mencapai tujuan pelatihan.
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN GURU DALAM PENELITIAN EMOSI DI LINGKUNGAN PEMBELAJARAN Yuli Rahmawati; Susi Fitri; Aodah Diamah; Anna Rahmadianty; Pramita Cucu Mawarni; Ilmi Zakiah Amalia
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 (2021): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.948 KB)

Abstract

Abstract This study aims to develop teachers' skills in conducting research on the learning environment as a reflection to create a positive classroom emotional climate. The teacher conducts research to analyze students' perceptions of emotions in the learning environment. This research is based on community service activities for teachers related to emotions in the learning environment. The activity involved 48 teachers, of which 14 teachers carried out survey research involving 1049 students from the junior and senior high school levels. The research conducted by the teacher used a survey with the Classroom Emotional Climate (CEC) instrument consisting of nine dimensions, namely Care, Control, Clarity, Challenge, Motivation, Consolidation, Collaboration, Attitude, and Behavior. Almost all dimensions get positive student responses with high (3.41-4.20) and very high (4.21-5.00) classifications. Teachers who are involved in conducting research, have implemented good emotional management. The results of reflection on student perceptions have helped teachers to carry out learning and manage interactions to create positive learning. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan guru dalam melakukan penelitian lingkungan pembelajaran sebagai refleksi untuk menciptakan iklim emosional kelas yang positif. Guru melakukan penelitian untuk menganalisis persepsi siswa terkait emosi dalam lingkungan pembelajaran. Penelitian ini berdasarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat kepada guru-guru terkait emosi dalam lingkungan pembelajaran. Kegiatan pengabdian melibatkan 48 guru, yang selanjutnya sebanyak 14 guru melaksanakan penelitian survey yang melibatkan 1049 siswa dari level SMP dan SMA. Penelitian yang dilakukan guru menggunakan survet dengan instrumen Classroom Emotional Climate (CEC) yang terdiri dari sembilan dimensi yaitu Care, Control, Clarity, Challenge, Motivation, Consolidation, Collaboration, Attitude, dan Behaviour. Hampir seluruh dimensi mendapatkan respon siswa yang positif dengan klasifikasi tinggi (3.41-4.20) dan sangat tinggi (4.21-5.00). Guru yang terlibat dalam melaksanakan penelitian, telah melaksanakan pengelolaan emosi kelas yang baik. Hasil refleksi terhadap persepsi siswa telah membantu guru untuk melaksanakan pembelajaran dan mengelola interaksi untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif.
Gambaran tingkat mikroagresi pada siswa penghayat kepercayaan Nurfauzy Abdillah; Susi Fitri; Eka Wahyuni
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol 10, No 2 (2022): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/177100

Abstract

Mikroagresi merupakan penghinaan verbal atau perilaku singkat dan umum sehari-hari, baik disengaja atau tidak disengaja, dengan mengkomunikasikan penghinaan dan penghinaan ras yang negatif, penghinaan yang berpotensi memiliki dampak psikologis yang berbahaya atau tidak menyenangkan pada orang atau kelompok sasaran.  Mikroagresi terjadi di berbagai kelompok budaya dan dapat bervariasi berdasarkan penanda identitas interseksional seperti jenis kelamin, kelahiran, ras, agama, dan orientasi seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat mikroagresi pada siswa penghayat kepercayaan di SMA/SMK se-Jabodetabek. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif.  Subyek penelitian adalah siswa penghayat kepercayaan di SMA/SMK se-jabodetabek dengan teknik non-probability sampling dengan bentuk purposive sampling. Sehingga sampel yang diambil sebanyak 22 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument Microaggressions Against Religious Individuals Scale (MARIS) yang diadaptasi dari Zhen Hadassah Cheng. Skala yang digunakan pada penelitian ini ialah skalalikert dengan pilihan jawaban dari tidak pernah sampai lebih dari 10 kali. Analisa data hasil penelitian menggunakan teknik deskriptif persentase.  Berdasarkan analisa data, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 19 orang atau 86.4% dalam kategori rendah, 2 orang atau 9.1% dalam kategori sedang dan 1 orang atau 4.5% dalam kategori cenderung tinggi.Dampak dari mikroagresi  yang  terjadi terus-menerus dapat menciptakan efek psikologis  yang  negatif.