Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Determinants of Maternal and Child Health Handbook Utilization in Surabaya, Indonesia Irwanto, Irwanto; Ikhtiar, Ilham; Lutfiya, Indah; Purnomo, Windhu
Folia Medica Indonesiana Vol. 55, No. 3
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mothers and child health (MCH) are one of the main issues in family medicine. Related to this practice, Indonesian government issued mother and child health (MCH) handbook for monitoring child development due to various child developmental problems in Indonesia. However, there are reports of improper MCH handbook utilization. This study aimed to analyze factors related to the utilization of MCH handbook by mothers in Indonesia. Cross sectional observational study was conducted from March to May 2018. This study involved mothers with children aged 3 to 72 months old in Surabaya, East Java, Indonesia. Specific population of mothers who had children attending Early Childhood Education and Development (ECED) and Integrated Health Post (IHP) (Indonesia: Pos Pelayanan Terpadu-Posyandu) were included as inclusion criteria. Maternal characteristics, child health status, employment status, and utilization of MCH handbook were recorded through questionnaire. Association between variables then analyzed statistically using Spearman correlation test. As many as 288 participants were enrolled in this study. We found that mothers' participation of Posyandu was positively correlated with MCH handbook utilization (p<0.05). Meanwhile, mother's occupation (p>0.05), mothers' education (p>0.05), and maternal age (p>0.05) were found to be unrelated to the utilization of MCH handbook. Mothers' age, education, and employment were found to be uncorrelated with utilization of MCH handbook. Whereas, mothers' participation in Posyandu was a determinant factor correlated with utilization of MCH handbook.
EVALUATION OF INDEPENDENT FAMILY INDEX IN IBANGGA USING CONFIRMATORY FACTOR ANALYSIS: KENJERAN SUBDISTRICS, SURABAYA CASE STUDY Ibad, Mursyidul; Firdausi, Haning; Lutfiya, Indah
Jurnal Biometrika dan Kependudukan Vol. 14 No. 2 (2025): JURNAL BIOMETRIKA DAN KEPENDUDUKAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jbk.v14i2.2025.233-243

Abstract

The family is the smallest unit in society and plays an important role in shaping the quality of human resources. Family quality is measured through the Family Development Index (IBangga), which consists of the dimensions of harmony, independence, and happiness. Among these, the independence dimension has the lowest achievement. This study aims to analyze the influence of independence indicators on the independent family index in Kenjeran District, Surabaya City, considering that the independence dimension in this area remains relatively low. This research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. The sample included 108 families with couples of reproductive age, selected using stratified random sampling. Data collection was carried out using a questionnaire based on IBangga indicators, while data analysis utilized Confirmatory Factor Analysis (CFA) within the Structural Equation Modeling (SEM) framework using the AMOS application. The findings revealed that all indicators of family independence were statistically significant with a p-value of <0.001. Indicators with stronger influence included financial security, access to information, and family health, each showing factor loading values of ≥0.5. Conversely, indicators with relatively lower influence, but still contributing, were the fulfillment of basic needs and continuity of education, with factor loading values <0.3. Conclusion, efforts to strengthen family independence should focus on high-leverage indicators such as financial security, access to information, and family health. Nevertheless, indicators with lower leverage, including basic needs fulfillment and educational continuity, must not be overlooked, as they remain essential in supporting overall family independence.
Faktor-faktor yang Berkontribusi pada Status Hidrasi Pekerja Sektor Manufaktur di Surabaya Provinsi Jawa Timur Damayanti, Ratih; Lutfiya, Indah; Noviarmi, Fadilatus Sukma Ika; Alayyanur, Putri Ayuni; Zolkefley, Mohd Khairul Izamil; Rahmawati, Nur Anisah; Afina, Yoriza Mirsa
Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM) Vol.8 No.1 (2026) : Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM)
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkmm.v8i1.26251

Abstract

Latar belakang: Status hidrasi yang buruk dipengaruhi oleh beban tambahan yang ada di lingkungan kerja yaitu iklim kerja panas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status hidrasi pada pekerja sektor manufaktur di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 257 pekerja dari total 504 pekerja manufaktur. Variabel independen meliputi unit kerja, umur, jenis kelamin, status gizi, suhu lingkungan kerja, konsumsi air, dan konsumsi minuman berkafein. Variabel dependen adalah status hidrasi yang diukur menggunakan berat jenis urin (urine specific gravity/USG). Pengukuran suhu lingkungan kerja dilakukan menggunakan Quest Temp Heat Stress Monitor Model 32. Status hidrasi diukur menggunakan sampel urine pagi bagian tengah (midstream urine) yang dianalisis menggunakan refraktometer. Data dianalisis secara deskripttif dan statistic. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,3% pekerja memiliki status hidrasi normal, sedangkan 16% mengalami dehidrasi minimal, 14,8% dehidrasi signifikan, dan 16,2% dehidrasi berat. Konsumsi air dan kebiasaan mengonsumsi minuman berkafein berhubungan signifikan dengan status hidrasi pekerja (p < 0,05). Sementara itu, unit kerja, umur, jenis kelamin, status gizi, dan suhu lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan status hidrasi pekerja (p > 0,05). Kesimpulan: Pihak manajemen disarankan untuk mengoptimalkan pemanfaatan drinking station, scheduled hydration breaks secara berkala serta menyediakan alat pantau hidrasi visual berupa poster skema warna urin (Urine Color Chart) dan memberikan edukasi kepada pekerja terkait konsumsi cairan dan pembatasan konsumsi kafein.
Program APAR (Awareness, Preparedness, Action, Response) sebagai Upaya Penguatan Keselamatan, Kesehatan dan Kesiapsiagaan Santri terhadap Bahaya Kebakaran di Pondok Pesantren Jabal Noer, Sidoarjo Lutfiya, Indah; Damayanti, Ratih; Tyas, Anestasia Pangestu Mei; Ibad, Mursyidul; Dwicahyo, Herman Bagus; Rohmah, Shofiyatur
Jurnal Pengabdian Olahraga Masyarakat (JPOM) Vol 6, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jpom.v6i3.25039

Abstract

Kebakaran merupakan ancaman serius di lingkungan pondok pesantren akibat padatnya hunian santri dan keterbatasan fasilitas keselamatan. Pondok Pesantren Jabal Noer di Sidoarjo, Jawa Timur, pernah mengalami kebakaran pada tahun 2019 akibat korsleting listrik, yang menunjukkan tingginya kerentanan terhadap bahaya tersebut. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan menilai efektivitas intervensi terstruktur dengan pendekatan APAR (Awareness, Preparedness, Action, Response) dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran. Kegiatan dilaksanakan pada Juli–Agustus 2025 dengan melibatkan 27 peserta, sebagian besar santri (96,3%), berusia di atas 15 tahun (51,8%), dan mayoritas perempuan (63%). Intervensi meliputi koordinasi dan asesmen kebutuhan, pembentukan tim tanggap darurat kebakaran, penyediaan fasilitas keselamatan (alat pemadam api ringan, detektor asap, jalur evakuasi, dan alarm), serta pelatihan manajemen kebakaran, penggunaan APAR, dan simulasi evakuasi. Nilai rata-rata pre-test sebesar 62,22 ± 32,26 meningkat signifikan menjadi 90,37 ± 14,00 pada post-test (p = 0,003). Sebanyak 26 santri dan 1 petugas keamanan dilatih serta ditetapkan sebagai tim tanggap darurat kebakaran. Peningkatan ini sejalan dengan teori perubahan perilaku yang menekankan persepsi risiko dan efikasi diri. Program ini terbukti efektif meningkatkan kesiapsiagaan bencana dan direkomendasikan sebagai model replikasi bagi pesantren lain untuk memperkuat budaya keselamatan dan ketangguhan menghadapi kebakaran