Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Land Dispute Resolution: Village Deliberation and Consensus to Establish Public Order Yoga Gunawan; Bias Lintang Dialog; Diana Fitriana
UNIFIKASI : Jurnal Ilmu Hukum Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/unifikasi.v10i2.6200

Abstract

Land disputes are common in society, and the village head, as witnessed by the family, resolved the matter in congruent with the parties' will and good intention. Purpose to investigate the arrangement of land dispute resolution in Indonesia; and to investigate its application through consensus deliberation in villages to realize public order. Methodology an socio-legal approach, involving primary data gathered from the interview. Furthermore, the study was also conducted in Kuningan Regency. Findings in Indonesia, land disputes resolution have been completely regulated, ranging from laws to derivative regulations and is carried out through community discourse and consensus. However, deliberation method is more common than going to the court. The deliberations include bringing the parties together; if peace arrangements can be made, they will be made. It can, however, only function optimally if both sides (the family and the community) agree to deliberate. The method is thought to be more efficient in terms of time, cost, and mechanism.  Conclusion in the village, there are two procedures for resolving land conflicts through consensus deliberation: mediation and family negotiation. Recommendation at the village level, it is critical to provide a legal framework for deliberation so that the outcomes are more equitable and mutually beneficial to all parties
Peran BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) Dalam Menyelesaikan Perkara Sengketa Konsumen (Studi Di Kabupaten Kuningan) Fathanudien, Anthon; Dialog, Bias Lintang; Anugrah, Dikha
HUKMY : Jurnal Hukum Vol. 4 No. 1 (2024): HUKMY : Jurnal Hukum
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/hukmy.2024.v4i1.535-552

Abstract

The formation of BPSK was based on the tendency of people to be reluctant to go to court because the position of consumers was socially and financially unequal to business actors. The existence of BPSK is also expected to reduce the burden of cases in court. The first problem formulation is the role of BPSK in resolving consumer dispute cases and the second problem is the procedure and mechanism for resolving consumer disputes at BPSK. This research focuses on the Consumer Dispute Resolution Agency based in Kuningan Regency using a normative juridical type and approach. This research produces and concludes that the most important role of BPSK is handling consumer cases through mediation, conciliation and arbitration. The form of decision using the conciliation and mediation method is final and binding, without having to request a fiat of execution from the local District Court, while the form of decision adopted using the arbitration method must request a fiat of execution from the local District Court so that the arbitration award has executorial force.
Penyuluhan Hukum Tindak Pidana Narkotika di Desa Sindangagung Kecamatan Sindangagung Kabupaten Kuningan Hidayat, Sarip; Bachtiar, Beben Muhammad; Yuhandra, Erga; Rifa’i, Iman Jalaludin; Dialog, Bias Lintang; Adhyaksa, Gios; Anugrah, Dikha; Nurmayanti, Andini; Lestari, Dewi
IKHLAS: Jurnal Pengabdian Dosen dan Mahasiswa Vol. 3 No. 1 (2024): IKHLAS: Jurnal Pengabdian Dosen dan Mahasiswa
Publisher : Indra Institute Research & Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58707/ikhlas.v3i1.816

Abstract

Ratified Law No. 35 of 2009 concerning​ Narcotics in Indonesia, Law the expected capable cope problem Act Criminal narcotics and precursors narcotics from various aspect, so Can reduce reduction of illegal supply and demand for save Indonesian people from threat narcotics. Research methods used​ in counseling This that is stage hearing, implementation and evaluation report, results and discussion This that is effort prevention follow criminal narcotics must done in a way comprehensive, and must be remove that stigma circulation narcotics No a must problem done government just but This is a must problem solved by everyone so that it doesn't happen Act Criminal Narcotics, as base the law that is Constitution Number 35 of 2009 concerning narcotics.
Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Hukum terhadap Perundungan di Pondok Pesantren Al-Ma’mur Desa Cipondok Kadugede Kuningan: Kesadaran Hukum, Perundungan, Pondok Pesantren Rifa’i, Iman Jalaludin; Yuhandra, Erga; Hidayat, Sarip; Dialog, Bias Lintang; Adhyaksa, Gios
Inisiatif : Jurnal Dedikasi Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 1 (2024): Inisiatif : Jurnal Dedikasi Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/inisiatif.v3i1.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hukum terhadap tindakan perundungan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ma’mur, Desa Cipondok, Kadugede, Kuningan. Sosialisasi dilakukan sebagai upaya preventif untuk mengurangi dan mencegah kasus-kasus perundungan yang sering terjadi di lingkungan pendidikan, khususnya di pesantren. Metode yang digunakan dalam sosialisasi ini mencakup ceramah, diskusi kelompok, dan penyebaran materi edukatif yang berfokus pada dampak negatif perundungan dan pentingnya pengetahuan hukum terkait. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman dan kesadaran para santri mengenai hukum dan implikasi dari perundungan, serta adanya perubahan sikap yang lebih positif terhadap upaya pencegahan perundungan. Dengan demikian, diharapkan pesantren dapat menjadi lingkungan yang lebih aman dan kondusif bagi pembelajaran para santri.
Kewaspadaan Terhadap Kosmetik Palsu sebagai Bentuk Perlindungan Konsumen Dialog, Bias Lintang; Anugrah, Dikha; Fathanudien, Anthon
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 7 (2024): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Juli 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v3i7.1390

Abstract

Maraknya produk kosmetik yang beredar di pasaran tidak disertai dengan pemahaman menyeluruh, sehingga masih banyak masyarakat yang menjadi konsumen kosmetik ini yang belum memahami dan menggunakan produk yang terjamin keasliannya, melainkan hanya memilih berdasarkan harga murah atau rekomendasi tanpa memeriksa keaslian produk. Hal ini menimbulkan keresahan karena banyak pelaku usaha yang memalsukan produk kosmetik, baik dengan kandungan berbahaya maupun pelanggaran standar kesehatan. Kewaspadaan terhadap kosmetik palsu sering dianggap sulit, meskipun pengecekan keaslian produk dapat dilakukan dengan memeriksa nomor registrasi BPOM atau mengidentifikasi ciri-ciri produk palsu. Terbatasnya informasi dan akses untuk konsultasi membuat banyak masyarakat tidak mengetahui cara mengidentifikasi kosmetik palsu. Oleh karena itu, perlu diadakan sosialisasi dan penyuluhan mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap kosmetik palsu, serta simulasi cara mengidentifikasi kosmetik yang aman dan terdaftar. Manfaat kegiatan ini bagi masyarakat adalah meningkatnya wawasan mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap kosmetik palsu bagi kesehatan dan keselamatan mereka. Metode pendekatan yang dilakukan antara lain sosialisasi, diskusi, dan simulasi. Hasilnya adalah masyarakat kemudian dapat mengetahui bahan-bahan berbahaya yang terdapat dalam kosmetik palsu, cara mengidentifikasi dan melaporkan keberadaan kosmetik palsu.
Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Wanita Ditinjau dari Hukum Nasional dan Hukum Internasional Budiman, Haris; Dhenia Sukmadianti; Bias Lintang Dialog
Uniku Law Review Vol. 1 No. 1 (2023): UNIKU LAW REVIEW
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ulr.v1i1.6

Abstract

The increasing number of migrant workers from year to year to work abroad is an indicator of globalization or international integrity. Sending Indonesian workers to other countries, has not been accompanied by a strong and comprehensive placement and protection system that can answer the problems of prospective Indonesian workers abroad. Both during pre-placement, placement, and after placement. The weak system of protecting Indonesian workers abroad, the large amount of violence that occurs against migrant workers, especially violence that occurs against female migrant workers. The legal protection given to migrant workers according to international law is contained in the International on the Protection of Human Rights of All Migrant Workers And Members of Their Family. This convention contains a series of standards to deal with the treatment of the welfare and rights of all migrant workers and members of their families, as well as contains obligations and responsibilities of countries regarding countries of origin, transit and places of work that benefit from international labor migration. In this case the state has a very important role to uphold the protection of migrant workers, especially women migrant workers. The method used in this study is a normative juridical approach using primary data and secondary data as data collection tools. The conclusion of this writing is that even though Indonesia already has regulations at the national and international levels, violence that occurs against migrant workers, especially women, still occurs a lot. Suggestions for the government are to make laws and regulations at the regional level and open up more employment opportunities, especially for women.   Meningkatnya jumlah pekerja migran dari tahun ke tahun, untuk bekerja di luar negeri merupakan salah satu indikator dari globalisasi atau integritas internasional. Pengiriman pekerja Indonesia ke negara lain, belum disertai dengan adanya sistem penempatan dan perlindungan yang kuat dan menyeluruh, yang dapat menjawab persoalan calon pekerja Indonesia di luar negeri. Baik selama pra penempatan, penempatan, dan purna penempatan. Lemah nya sistem perlindungan pekerja Indonesia di luar negeri, banyak nya kekerasan yang terjadi kepada pekerja migran, khususnya kekerasan yang terjadi pada pekerja migran wanita. Perlindungan hukum yang diberikan terhadap buruh migran menurut Hukum Internasional tertuang dalam International on The Protection of Human Rights of All Migran Workers And Member of Their Family. Konvensi ini berisi serangkaian standar untuk menangani perlakuan terhadap kesejahteraan dan hak-hak seluruh pekerja migran dan anggota keluarganya, serta berisi kewajiban dan tanggungjawab negara terkait negara asal, transit dan tempat mereka bekerja yang memperoleh keuntungan dari adanya migrasi pekerja Internasional. Dalam hal ini negara sangat berperan penting untuk menegakkan perlindungan terhadap pekerja migran, khususnya pekerja migran perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan yuridis normatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder sebagai alat pengumpul data. Simpulan dari penulisan ini meskipun indonesia sudah memiliki peraturan di tingkat Nasional maupun Internasional tetapi, kekerasan yang terjadi kepada pekerja migran khusus nya wanita masih banyak terjadi. Saran untuk pemerintah yaitu dengan membuav peraturan perundang undangan ditingkat daerah dan lebih banyak membuka lapangan pekerjaan khususnya untuk wanita.  
Perlindungan Hak Konsumen Atas Peredaran Kosmetik Palsu Anugrah, Dikha; Dialog, Bias Lintang; Fathanudien, Anthon
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 10 (2024): SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Oktober 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v3i10.1523

Abstract

Banyaknya produk kosmetik yang beredar di pasaran tidak diimbangi dengan pemahaman yang menyeluruh, sehingga masih banyak individu dalam masyarakat yang menjadi konsumen kosmetik ini belum sepenuhnya memahami dan menggunakan produk yang terjamin keasliannya. Mereka cenderung memilih produk hanya berdasarkan harga yang murah atau rekomendasi, tanpa memeriksa keaslian dari produk tersebut. Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, mengingat banyak pelaku usaha yang memalsukan produk kosmetik, baik yang mengandung bahan berbahaya maupun yang melanggar standar kesehatan yang ditetapkan. Masyarakat sering kali merasa kewalahan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap kosmetik palsu, meskipun pengecekan keaslian produk dapat dilakukan dengan memeriksa nomor registrasi dari BPOM atau dengan mengidentifikasi ciri-ciri yang ada pada produk palsu. Terbatasnya informasi serta akses untuk melakukan konsultasi menyebabkan banyak orang tidak mengetahui cara untuk mengidentifikasi kosmetik palsu. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengadakan sosialisasi dan penyuluhan mengenai arti penting kewaspadaan terhadap kosmetik palsu, serta menyelenggarakan simulasi mengenai cara mengidentifikasi kosmetik yang aman dan terdaftar. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh wawasan yang lebih baik mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap kosmetik palsu demi kesehatan dan keselamatan mereka. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini meliputi sosialisasi, diskusi, dan simulasi. Hasil yang diharapkan adalah masyarakat dapat memahami bahan-bahan berbahaya yang mungkin terdapat dalam kosmetik palsu, serta cara untuk mengidentifikasi dan melaporkan keberadaan produk kosmetik palsu tersebut.
Perlindungan Hukum Bagi Nasabah dalam Perjanjian Kredit Bank terkait Risiko yang Timbul Akibat Pandemi Covid-19 Budiman, Haris; Akhmaddhian, Suwari; Dialog, Bias Lintang; Anugrah, Dikha; Fernanda, Adam Banyu
Jurnal Bedah Hukum Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Bedah Hukum
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36596/jbh.v8i1.1328

Abstract

In the era of modern economic life, banking institutions in Indonesia have a very crucial role in the national financial system. Services provided by the bank to the public are money transfer services, collection services, savings and loan services and others. The condition of the banking world in Indonesia has undergone many changes from time to time. This study aims to find out how to regulate legal protection for bank customers and how to form legal protection for customers in credit agreements related to risks arising from the covid-19 pandemic. This study uses a juridical-normative research method. The results of the study show that the regulation of legal protection for customers during the Covid-19 disaster is the Civil Code, Bank Indonesia Regulations, Consumer Protection Laws and Financial Services Authority Regulations. The implementation of legal protection for customers against the COVID-19 pandemic is quite good. This is indicated by the Bank's compliance with all forms of regulations made by regulators including the government. The conclusion from this research is that the policy and implementation of law enforcement in legal protection for customers in a state of the Covid-19 pandemic disaster is carried out quite well by the Bank. The suggestion from the author is that there should be more detailed regulations regarding customers when experiencing a disaster or pandemic and it is hoped that banking institutions carry out the mandate of the Financial Services Authority Regulation.
Regulation of Physical Data on Land Destroyed by Natural Disasters Anugrah, Dikha; Dialog, Bias Lintang; Akhmaddhian, Suwari; Gustianitami, Azmy Sabila
Unifikasi : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 10 No. 02 (2023)
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/unifikasi.v10i02.753

Abstract

Natural disaster has a multifaceted impact on the environment, the land, for instance. The demolition of land boundaries and the loss of legal footing ownership are intricate problems surrounding reconstruction. Not to mention the massive losses suffered by citizens as a result of natural disasters that exacerbate the situation. The study employed a socio-legal method, referring to library sources such as books, journals, statutory regulations, and literature reviews. According to the findings, tangible data on destroyed land caused by natural disaster is fairly organised. Furthermore, the legal position of land rights affected by an earthquake is not removed; nonetheless, the abrasion-caused is discarded. Accordingly, the government, notably the National Land Agency, should create regulations that control and streamline the procedure for victims who have lost their civil rights, land boundaries, or disasters that have been lost or cannot be recognised.
Land Dispute Resolution: Village Deliberation and Consensus to Establish Public Order Gunawan, Yoga; Dialog, Bias Lintang; Fitriana, Diana
Unifikasi : Jurnal Ilmu Hukum Vol. 10 No. 02 (2023)
Publisher : Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/unifikasi.v10i02.754

Abstract

Land disputes are common in society, and the village head, as witnessed by the family, resolved the matter in congruence with the parties' will and good intention. Purpose: to investigate the arrangement of land dispute resolution in Indonesia and to investigate its application through consensus deliberation in villages to realise public order. Methodology: a socio-legal approach involving primary data gathered from the interview. Furthermore, the study was also conducted in Kuningan Regency. Findings in Indonesia, land dispute resolution has been completely regulated, ranging from laws to derivative regulations, and is carried out through community discourse and consensus. However, the deliberation method is more common than going to court. The deliberations include bringing the parties together; if peace arrangements can be made, they will be made. It can, however, only function optimally if both sides (the family and the community) agree to deliberate. The method is thought to be more efficient in terms of time, cost, and mechanism.  Conclusion: In the village, there are two procedures for resolving land conflicts through consensus deliberation: mediation and family negotiation. Recommendation at the village level, it is critical to provide a legal framework for deliberation so that the outcomes are more equitable and mutually beneficial to all parties.