Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pertumbuhan Porang (Amorphophalus muelleri Blume) sebagai Tanaman Sela di Antara Pohon Karet Nurshanti, Dora Fatma; Lakitan, Benyamin; Ria, Rofiqoh Purnama; Muda, Strayker Ali; Fadhilah, Lya Nailatul; Diana, Susanti; Gustiar, Fitra
Jurnal Agrikultura Vol 36, No 3 (2025): Desember, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i3.57918

Abstract

Tantangan utama dalam budidaya porang adalah meningkatkan kemampuan adaptasi tanaman terhadap naungan, sehingga porang dapat tumbuh dengan baik di bawah kanopi pohon perkebunan. Percobaan ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan siklus hidup pertama tanaman porang yang berasal dari ukuran bulbil yang berbeda pada tanaman sela di antara pohon karet. Percobaan ini dilaksanakan di kebun karet rakyat yang telah berumur 20 tahun, pada bulan Agustus 2021 - Januari 2022, di Desa Lubuk Batang Kabupaten Ogan Komering Ulu Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Spilt-Split Plot dengan 3 faktor. Petak utama terdiri atas perlakuan naungan yaitu tanpa naungan (N0) dan ditanam di antara pohon karet (N1), dan anak petak  yang terdiri dari perlakuan berat bulbil yaitu bulbil  2 g - 3,9 g (B1), bulbil 4 g - 5,9 g (B2), dan bulbil 10 g -15,9 g (B3); anak-anak petak terdiri atas  morfologi bulbil yaitu tanpa turberkel (D0) dan tuberkel menonjol (D1). Hasil percobaan menunjukkan porang yang ditanam di antara tanaman karet lebih cepat muncul tunas dan mempercepat pecah selubung pertiole 33 HST dan 43,94 HST. Selain itu, tuberkel yang menonjol juga mempersingkat waktu kemunculan tunas selama 45,52 hari. Selanjutnya berat bulbil yang lebih tinggi yakni 10 g – 15,9 g  juga memengaruhi morfologi tanaman porang di antara panjang midrib 14,17 cm, lebar anak daun 5,61 cm,  serta luas daun 212,81 cm. Naungan menjaga kelembapan substrat namun sedikit memperlambat kemunculan tunas dan membuat tunas lebih pendek, namun memperpanjang tangkai daun, meningkatkan luas daun, serta mengurangi ketebalan daun. Selain itu, semakin besar bobot bulbil, semakin cepat pertumbuhan tunas dan tanaman porang. Kondisi bulbil dengan tuberkel menonjol mempercepat kemunculan tunas di atas permukaan tanah dibandingkan dengan bulbil yang masih dalam kondisi tanpa turberkel.
Identifikasi Beberapa Aksesi Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Melalui Analisis RAPD dan Morfologi Susanti Diana; Andi Wijaya; Benyamin Lakitan; Memen Surahman
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 37 No. 2 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.539 KB) | DOI: 10.24831/jai.v37i2.1410

Abstract

The objective of this research was to study and cluster of Jatropha germplasm belonging to University of Sriwijaya. This research was conducted from September 2007 until July 2008. The research used 14 accessions of Jatropha taken from some regions in Indonesia, namely: Komering, Palembang, Yogyakarta, Indralaya, ATP2, Pontianak, Lahat, Pagaralam, Curup, Lampung, Medan Aceh Besar, Pidi and Gorontalo. Accessions of Jatropha curcas L. were planted at Agro Techno Park (ATP) Bakung village, Indralaya Utara district Ogan Ilir, South Sumatera using Randomized Complete Block Design. RAPD analysis using 20 primers was done at RGCI (Research Group on Crop Improvement), Bogor Agricultural University. Dendrogram based on RAPD analysis produced five groups that were: the first group was Komering, Lahat, Pidi, Indralaya, Aceh Besar, Pontianak and Curup. The second group was Palembang and ATP2. The third group was Pagaralam, Gorontalo, and Medan. Lampung was included in to fourth group. The fifth group was Yogyakarta. Dendrogram from morphological marker had also five groups. First group was: Komering, Indralaya, Pontianak. Lahat, and Pagaralam. Second group was: Palembang, Lampung, Pidi, Medan, and ATP2. Third group was: Curup. Fourth group was: Yogyakarta and Gorontalo. Fifth group was: Aceh Besar. The difference of member from each groups between dendrogram using RAPD and morphological markers indicated that the bands resulted from RAPD did not have relation with characters observed. Key words: Jatropha curcas L, RAPD analysis, Morphologycal marker, cluster analysis