Claim Missing Document
Check
Articles

Pendekatan Tema Ramah Lingkungan pada Rancangan Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup Nur Maghfirotun Nisa; Sri Nastiti Ekasiwi; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3064.042 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6752

Abstract

Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup (PPLH) merupakan tempat kegiatan untuk memperoleh pengetahuan tentang pemanfaatan sumber daya alam lingkungan sekitarnya. PPLH dirancang untuk mengembangkan kawasan Gresik ke depannya sebagai kawasan berwawasan lingkungan. Dengan pendekatan tema ekologi arsitektur, rancangan pusat pelatihan ini mampu menjadi sebuah tempat yang dapat memenuhi wawasan edukasi dan pengolahan sumber daya alam yang ramah lingkungan. Dari memahami potensi sumber daya alam dan permasalahannya, PPLH di rancang dengan memanfaatkan potensi lingkungan eksisting (jenis tanah, kontur lahan dan material). Sehingga Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup dapat mewadahi semua kegiatan pelatihan dan memberikan pengaruh positif di daerah Gresik dalam menciptakan daerah yang berwawasan lingkungan.
Transparansi Arsitektur dalam Proses Rancang Terminal Kampung Rambutan Dyastrid Rizca Rumayang; Sri Nastiti N. Ekasiwi; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.435 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v3i2.6818

Abstract

Terminal Kampung Rambutan sebagai salah satu terminal besar di Jakarta telah dikenal tidak ramah terhadap pengunjungnya, karena ketidakteraturan penataan sirkulasi, kepadatan pengunjung dan kesan kumuh yang ditimbulkan. Lokasi terminal berada berdekatan dengan dua jalur tol, menghubungkan antara ibukota dan kota di sekitarnya, sehingga terminal ini haruslah mempunyai fasilitas lengkap yang dapat membuat pengunjung merasa nyaman dan aman. Dari pokok utama permasalahan di Terminal Kampung Rambutan yaitu sirkulasi dan kepadatan pengunjung yang menimbulkan penghalang pandangan maka tema Transparan dibutuhkan sebagai pendekatan rancangan metafora teraga (tangible metaphor). Aplikasi tema transparan pada rancangan ini terlihat pada tampilan eksterior, interior, bahan material, bentuk geometri, dan ekspresi struktur ekspos yang digunakan.
Perancangan Kampung Vertikal Ngagel Baru: Reinterpretasi Pola Sirkulasi pada Kampung Ahmad Rizal Sholikhuddin; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.821 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25731

Abstract

Kesenjangan sosial adalah sebuah realita yang sering kita jumpai pada masyarakat di kota-kota besar yang disebabkan oleh perbedaan dalam kualitas hidup yang sangat kontras dan tidak jarang membuat masyarakat enggan berinteraksi. Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dengan indeks nilai gini rasio sebesar 0,42. Sehingga tergolong dengan tingkat ketimpangan yang harus dikendalikan. Menggunakan pendekatan vernakular kontemporer, perancangan kampung vertikal bertujuan untuk menciptakan wujud tampang yang dapat menjadi ruang transisi di antara bangunan high-rise dan perkampungan sekitar. Hasil rancangan merupakan konsep redevelopment perumahan yang mengacu kepada hunian vernakular khas Indonesia yaitu hunian di lingkungan kampung agar penghuni permukiman tidak harus berpindah dari tempat mereka berasal
Perancangan Perpustakaan Umum dengan Pendekatan Arsitektur Hybrid Armeinda Nur Aini; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.581 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26335

Abstract

Kota Surabaya telah ditetapkan sebagai Kota Literasi pada tahun 2014 diiringi dengan bertambahnya fasilitas taman bacaan dan beberapa perpustakaan untuk meningkatkan minat baca. Sebagai Kota Literasi seharusnya masyarakat umum berpartisipasi, namun karena kurangnya informasi, masyarakat belum sepenuhnya memanfaatkan dan menggunakan fasilitas-fasilitas literasi yang ada. Faktor lain yang mempengaruhi menurunnya jumlah pengunjung ke fasilitas literasi adalah kurangnya minat baca masyarakat dan bangunan yang ada kurang memiliki desain yang menarik dan fasilitas yang kurang memadai. Berdasarkan isu diatas, maka tujuan dari perancangan ini untuk menjawab bagaimana suatu desain arsitektur hadir sebagai pemicu kegiatan literasi yang lebih menarik dan mudah untuk diakses oleh masyarakat umum. Rancangan bangunan perpustakaan diajukan sebagai tempat kegiatan literasi, edukatif dan rekreatif. Perancangan ini menggunakan pendekatan dan metode perancangan arsitektur hybrid yang menggabungkan dua fungsi yaitu perpustakaan dan taman sehingga dapat memberikan persepsi yang berbeda. Hasil rancangan perpustakaan mefokuskan pada menyelesaikan tiga kriteria desain yaitu bangunan yang dapat meningkatkan minat baca, sebagai wadah kegiatan edukasi serta bangunan dapat menjadi identitas literasi pada daerah tersebut.
Perancangan Apartemen Produktif dengan Pendekatan Arsitektur Hibrid Nashihatul Barrit; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.36539

Abstract

Di Indonesia, wilayah peri-urban menjadi salah satu wilayah dengan konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian tertinggi. Fenomena ini terjadi karena tingginya pertumbuhan penduduk dan peningkatan pembangunan fasilitas sarana dan prasarana di wilayah tersebut. Sektor perumahan menjadi salah satu sektor terbesar yang menjadi penyebab adanya konversi lahan. Kondisi ini menyebabkan kurangnya lahan hijau yang produktif, namun tidak bisa dipungkiri kebutuhan akan hunian semakin meningkat. Dari uraian permasalahan tersebut, bangunan arsitektur diharapkan dapat mengakomodasi tingginya kebutuhan akan hunian di wilayah peri-urban, namun tidak melupakan produktivitas suatu lahan. Untuk itu, perancangan arsitektur ini bertujuan merancang sebuah apartemen yang mengakomodasi antara aktivitas berhuni dan aktivitas yang mempertahankan produktivitas lahan. Pendekatan perancangan yang digunakan adalah pendekatan Arsitektur Hibrid. Hibridisasi diterapkan pada penggabungan antara dua aktivitas yaitu berhuni dan aktivitas yang mendukung produktifitas lahan (berkebun). Kedua hibridisasi menjadi konsep utama untuk membuat bangunan multifungsi dalam satu kesatuan bangunan. Metode hibrid yang digunakan dalam perancangan ini adalah Thematic Program dan Fabric Form. Dalam proses awal perancangan, bangunan apartemen produktif ini terbentuk berdasarkan pelaku dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan di dalam bangunan. Kemudian beberapa aktivitas yang terkait membentuk sebuah ruang-ruang hibrid yang dapat mengakomodasi berbagai macam aktivitas dalam waktu bersamaan. Penggabungan program secara Thematic memberikan kesan bagi pengguna bangunan akan kedekatannya dengan alam dan tumbuhan. Sehingga selain mengakomodasi kebutuhan akan hunian, apartemen produktif ini dapat menarik ketertarikan bagi penghuni untuk melakukan aktivitas berkebun secara mandiri dan bangunan dapat mempertahankan produktivitas sebuah lahan.
Museum Seni dan Musik Interaktif Berbasis Perilaku Belajar Rahmi Hadiyanti; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.807 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.36538

Abstract

Perancangan museum seni dan musik interaktif berbasis perilaku belajar, dilatarbelakangi dengan merespon sebuah fenomena untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap museum. Museum sebagai salah satu fasilitas yang menyediakan informasi untuk mendukung budaya belajar masyarakat. Sebuah museum interaktif dapat menjadi tempat menarik bagi semua kalangan masyarakat, khususnya anak-anak dan usia produktif. Namun, saat ini museum dengan konsep interaktif masih sedikit di Indonesia, terutama Surabaya. Perancangan museum seni dan musik interaktif ini bertujuan mewadahi minat masyarakat yang mencari informasi dan pengetahuan di sekitar mereka. Pendekatan perancangan yang digunakan adalah arsitektur perilaku, melalui hubungan persepsi, aksi, dan reaksi seseorang dalam ruang arsitektur; didukung pendekatan romantika dan penerapan tematik. Hasil rancangan museum seni dan musik interaktif, dieksplorasi berdasarkan aspek formal (site plan, program ruang dan sirkulasi, suasana, dan bentuk bangunan), dan secara teknis (struktur dan pencahayaan ruang).
Konsep Katalis Waktu Dalam Perancangan Museum Kota Bogor Lalu Fatih Azzam; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v8i2.48649

Abstract

Arsitektur sebagai katalis waktu merupakan konsep dimana persepsi waktu sebuah aktivitas dipercepat tanpa merubah bagaimana aktivitas yang dikatalisasi dijalankan. Perancangan ini mencoba melihat sisi lain dari bagaimana memahami keterkaitan antara waktu dan perilaku manusia serta interpretasinya dalam arsitektur. Ketika seseorang menjalani sebuah aktivitas tertentu dengan persepsi waktu yang lambat, arsitektur dapat diperankan sebagai sebuah katalisator untuk membentuk persepsi waktu yang baru  dengan memanipulasi ruang dimana aktivitas tersebut diadakan. Perancangan ini menggunakan metode narasi  untuk menarik abstraksi pengalaman ruang. Abstraksi ini yang kemudian dieksplorasi untuk menciptakan elemen arsitektur dengan menghadirkan pengalaman ruang baru dengan cara brainstorming dan SWOT Analysis. Untuk dapat menciptakan ruang katalis tersebut, pengalaman ruang aktivitas dengan persepsi waktu cepat ditanamkan ke dalam aktivitas dengan persepsi waktu lambat. Dengan melakukan pemograman ulang ruang aktivitas menggunakan  elemen baru, maka akan terbentuk pula persepsi yang baru dari pengguna ruang.
Konsep Desain Aktif pada Rancangan Coworking Space Khodijah Mustofa; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v8i2.49095

Abstract

Generasi Z memiliki kecenderungan sifat tenggelam dalam dunia maya dan individualis, sehingga diperlukan tempat kerja yang dapat mendorong mereka lebih aktif bergerak serta bersosialisasi. Hal ini berpengaruh pada bagaimana merancang bangunan arsitektural yang dapat mewadahi gabungan aktivitas fisik dalam kegiatan sehari-hari di dalam maupun dari luar bangunan. Makalah ini memaparkan proses merancang coworking space dengan merespon sifat kerja Generasi Z. Proses rancang menggunakan Design Active sebagai konsep utama serta metode context analysis dalam kerangka berpikir force-based. Rancangan bangunan berfokus pada penyediaan ruang kerja bersama yang dapat memperbaiki perilaku pengguna untuk hidup lebih sehat selama bekerja. Makalah ini juga menjelaskan implementasi Desain Aktif dan green building dalam rancangan coworking space dengan menguraikan parameter serta kriteria rancangan berbasis force-based framework.
Pilihan Warna, Bentuk, dan Pengaruh Skala Antropometri pada Perancangan Taman Kanak-Kanak Aisyah Arimurti Afandi; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.56555

Abstract

Prasarana pendukung aktivitas kegiatan belajar anak usia dini yang kurang layak merupakan salah satu permasalahan yang berkaitan dengan aspek teknis edukatif pada fasilitas pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku yang mempelajari karakteristik, baik secara fisik maupun psikologis, sebagai dasar perancangan, diusulkan sebuah wadah arsitektural berupa Taman Kanak-Kanak sebagai wadah aktivitas yang mampu beradaptasi dan membantu mengoptimalkan proses perkembangan anak usia dini. Proses perancangan menerapkan force based framework yang menempatkan pengguna dan aktivitas sebagai force utama untuk menjadi dasar penentuan konsep arsitektural dalam proses perancangan Taman Kanak-Kanak. Proses perancangan sangat erat kaitannya dengan skala, bentuk, dan pemilhan warna yang dirancang sesuai dengan sudut pandang dan kebutuhan anak usia dini. Dalam penerapannya ke dalam desain, untuk menentukan skala ruang didasarkan pada proporsi fisik anak-anak, penentuan bentuk bangunan yang didasarkan pada konteks, dan teori warna digunakan menjadi acuan dalam pemilihan warna pada elemen pembentuk ruang agar sesuai dengan fungsi masing-masing ruang.
Perancangan Integrasi Pasar dan Interchange Sebagai Kontrol Kawasan Manggarai Adam Bimoaji Ega Rahadianto; Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v9i2.56558

Abstract

Manggarai merupakan sebuah kawasan vital di daerah Jakarta Selatan yang penuh dengan aktivitas. Di lain sisi, kawasan ini tetap diselimuti dengan kompleksitas permasalahan yang terjadi di dalamnya. Disintegrasi struktur urban pada sarana tranportasi mengakibatkan kawasan ini tidak maksimal dalam menggerakkan aktivitas kota. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya kekacauan dan ketidakteraturan pada wilayah tersebut. Terdapat friksi sosial yang terjadi antar masyarakat Manggarai dengan adanya fenomena tawuran yang bisa terjadi kapan saja. Hal ini menimbulkan keresahan dan juga kerugian bagi masyarakat yang terdampak. Manggarai juga kini kehilangan sebuah wadah berkumpul bagi warganya, yaitu Pasaraya yang sekarang seakan “mati”. Permasalahan tersebut masih terasa di Manggarai hingga saat ini. Permasalahan di atas direspon dengan mengajukan sebuah rancangan arsitektural dengan Concept Based Framework untuk langsung menentukan solusi dan fungsi dalam rancangan. Untuk mengontrol kondisi yang ada, pendekatan behavior setting diimplentasikan dalam rancangan. Metode transprogramming dan superimpose digunakan untuk menyusun program dalam elemen rancang. Serta, kontekstualisme menjadi metode untuk mengeluarkan ekspresi elemen kawasan Manggarai ke dalam rancangan. Dengan harapan berfungsi sebagai katalis, perancangan difokuskan untuk meningkatkan integrasi, konektivitas, dan permeabilitas kawasan Manggarai yang akan menciptakan vitalisasi kawasan itu sendiri. Pengintegrasian dari berbagai sisi, baik secara sosial, ruang, dan konteks urban dalam penciptaan wadah komunal, akan berperan dalam menciptakan interaksi antar elemen dan juga kontrol pada kawasan Manggarai. Yang pada akhirnya, akan tercipta kondisi yang teratur diantara ketidakteraturan Manggarai.