Claim Missing Document
Check
Articles

ETNOZOOLOGI UNTUK RITUAL ADAT DAN MISTIS MASYARAKAT DAYAK MALI DI DESA ANGAN TEMBAWANG KECAMATAN JELIMPO KABUPATEN LANDAK M Dirhamsyah; Ahmad Yani; Yuliana Yuliana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53633

Abstract

Ethnozoology is a branch of ethnobiology, namely the relationship between humans and the use of animals in the surrounding environment and is a link between human culture and the animals in their environment. The Mali Dayak community in Angan Tembawang Village, Jelimpo District is one of the Dayak sub-tribes located in Landak Regency which has a characteristic that distinguishes it from other Dayak tribes, one of which is its language. The Malian Dayak people are also very closely related to nature, where their lives are very dependent on nature. The purpose of this study was to record the types of animals used for traditional and mystical rituals. This study uses a snowball sampling technique, which is a method for identifying, selecting and taking samples in a network or continuous chain of relationships. The number of people who became respondents as many as 10 people. The data presented in the form of qualitative descriptive. The results showed that there were 8 species from 8 families and 4 classes, namely mammals, aves, pisces and insects which were used for traditional and mystical rituals by the Mali Dayak community. The parts of animals that are used are flesh, blood, fur and the whole body. The parts that are used for mystical value are the voice and the whole body.Keywords: Dayak Mali, Ethnozoology, Traditional RitualsAbstrakEtnozoologi merupakan salah satu cabang ilmu etnobiologi, yaitu hubungan manusia dengan pemanfaatan satwa yang berada di lingkungan sekitarnya dan merupakan keterkaitan antara kebudayaan manusia dengan satwa-satwa di lingkungannya. Masyarakat Dayak Mali di Desa Angan Tembawang Kecamatan Jelimpo merupakan salah satu sub suku Dayak yang terletak di Kabupaten Landak yang memiliki ciri khas yang membedakan dengan suku Dayak lainnya salah satu bahasanya . Masyarakat Dayak Mali juga sangat erat hubungan nya dengan alam, dimana hidup mereka sangat tergantung pada alam. Tujuan penelitian ini mendata jenis-jenis satwa yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis. Penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling yaitu suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang terus menerus. Jumlah masyarakat yang dijadikan responden sebanyak 10 orang. Data yang disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif. Hasil penelitian terdapat 8 spesies dari 8 famili dan 4 kelas yaitu mamalia, aves, pisces dan insecta yang dimanfaatkan untuk ritual adat dan mistis oleh masyarakat Dayak Mali. Bagian satwa yang dimanfaatkan yaitu daging, darah, bulu dan seluruh badan. Bagian yang dimanfaatkan untuk nilai mistis adalah suara dan seluruh badan.Kata kunci: Dayak Mali, Etnozoologi, Ritual Adat
PENGETAHUAN MASYARAKAT DAYAK IBAN TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI PEWARNA ALAMI TENUN IKAT DI DUSUN KELAYAM DESA MANUA SADAP KABUPATEN KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Jeki Jeki; M Dirhamsyah; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53535

Abstract

Natural dyes are extracted from plants (such as leaves, flowers, and seeds), animals, and minerals. The purpose of this study was to explore the characteristics of the community of tie weavers by the Dayak Iban tribe in Kelayam, to collect data on plant species as natural dyes for Ikat weaving, to explore community knowledge in the process of natural dyes for ikat weaving. The research was conducted using the survey method with data collection techniques by observation and interviews. (observation) directly in the field. Weaving has a function as a means of introduction and kinship. The use of plants as natural dyes has long been carried out by the Dayak Iban people who live in Kelayam Hamlet. Most of the plants used are obtained from the forest where they live. There are seven types of plants used for the manufacture of natural dyes by the Dayak Iban tribe in the Kelayam Hamlet, such as Engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa lunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Keyword: Dayak Iban Trible, Natural Dye.AbstrakPewarna alami merupakan zat warna yang berasal dari ekstraksi tumbuhan (seperti bagian daun, bunga, biji), hewan dan mineral. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karekteristik masyarakat penenun ikat oleh suku Dayak Iban di Kelayam. mendata jenis tumbuhan sebagai pewarna alami Tenun Ikat, serta mengetahui pengetahuan masyarakat dalam proses pewarna alami untuk tenun ikat. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data secara observasi dan wawancara (pengamatan) langsung dilapangan. Tenun yang dihasilkan memiliki fungsi sebagai sarana memperkenalkan dan tali persaudaraan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami telah lama dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Iban berdomisisli di Dusun Kelayam. Sebagian besar tumbuhan yang dimanfaatkan diperoleh dari hutan disekitar tempat tinggal mereka.  Ada 7 jenis  tanaman yang digunakan untuk pembuatan pewarna alami oleh suku dayak iban di Dusun Kelayam seperti: engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa iunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Kata Kunci: Dayak Iban, Pewarna Alami
JENIS DAN MANFAAT TUMBUHAN OBAT DI KAWASAN HUTAN SEKUNDER DESA TUMBANG TITI KECAMATAN TUMBANG TITI KABUPATEN KETAPANG Yanti, Hikma; Arianto, Ferdi Dwi; Wardenaar, Evy; Dirhamsyah, M
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.58032

Abstract

The use of medicinal plants has been cultivated in Tumbang Titi Village, Tumbang Titi District, Ketapang Regency, as an alternative medicine. People practice alternative medicine by using several medicinal plants to treat various types of diseases. The aim of this research is to analyze the types of medicinal plants in the secondary forest area in Tumbang Titi Village and the benefits of medicinal plants for the Tumbang Titi community in treating diseases. This research was carried out using descriptive methods, namely survey techniques and interview techniques. Collecting data from informants is carried out using the snowball sampling technique. Based on the results of the research, it was found that 26 types of medicinal plants from 21 families were used by the people of Tumbang Titi Village, Tumbang Titi District, Ketapang Regency in carrying out treatment. The most widely used habitus are shrubs of 16 types. The most common way to consume this herb is by drinking (25 types). The part of the plant that is often used is the leaf (16 types). The type of herb that is often used is a single ingredient (16 types). The benefits of medicinal plants for the people of Tumbang Titi Village include treating various diseases, such as external and internal diseases. External diseases commonly treated include acne, ulcers, burns, and body odor. Internal diseases commonly treated include diarrhea, coughs, colds, fever, stomach pain, sore throat, uterine cancer, breast cancer, hypertension, vomiting blood, mouth ulcers, urinary problems, rheumatism, tonsillitis, stomach ache, vaginal discharge, diarrhea, nosebleeds, hemorrhoids, kidney disease, dysentery, tuberculosis, and constipation.Keywords: Ethnobotany, Medicinal Plants, Secondary Forest, Tumbang Titi VillageAbstrakPemanfaatan tumbuhan obat telah dibudidayakan di Desa Tumbang Titi Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang sebagai pengobatan alternatif. Masyarakat melakukan pengobatan alternatif dengan memanfaatkan beberapa tumbuhan obat untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis jenis tumbuhan obat yang ada di kawasan hutan sekunder di Desa Tumbang Titi serta manfaat tumbuhan obat bagi masyarakat Tumbang Titi dalam mengobati penyakit. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu teknik survei dan teknik wawancara. Pengumpulan data terhadap informan dilakukan dengan teknik snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 26 jenis tumbuhan obat dari 21 famili yang digunakan masyarakat Desa Tumbang Titi Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang dalam melakukan pengobatan. Habitus yang paling banyak digunakan yaitu perdu sebanyak 16 jenis. Cara penggunaan tertinggi yaitu dengan cara diminum (25 jenis). Bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan yaitu daun (16 jenis). Jenis ramuan yang sering digunakan yaitu ramuan tunggal (16 jenis).  Manfaat tumbuhan obat bagi masyarakat di Desa Tumbang Titi yaitu mengobati berbagai penyakit seperti penyakit luar dan penyakit dalam. Penyakit luar yang biasa diobati antara lain jerawat, bisul, luka bakar dan bau badan. Penyakit dalam yang biasa diobati antara lain diare, batuk, pilek, demam, nyeri lambung, sakit tenggorokan, kanker rahim, kanker payudara, hipertensi, muntah darah, sariawan, kencing tidak lancar, rematik, radang amandel, sakit perut, keputihan, mencret, mimisan, wasir, sakit ginjal, disentri, TBC, dan sembelit.Kata kunci: Desa Tumbang Titi, Etnobotani, Hutan Sekunder, Tumbuhan Obat
PEMANFAATAN PANDAN DURI DAN SENGGANG SEBAGAI BAHAN KERAJINAN ANYAMAN OLEH MASYARAKAT DESA LABIAN KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Dirhamsyah, M; Yani, Ahmad; Yanti, Hikma; Bija, Yosanti Ester
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72338

Abstract

The people of Labian Village, Batang Lupar District, Kapuas Hulu Regency still carry out the use of plants as materials for woven crafts. This research aims to describe the use of pandan thorns and senggang as woven craft materials and the craft products produced by the people of Labian Village, Batang Lupar District. This research uses a survey method with data collection techniques using Snowball sampling. Data was obtained through observation and interviews with 16 respondents. The research results show that two types of plants are often used as woven material, namely, Pandan thorn (Pandanus tectorius) and Senggang (Hornstedtia reticulate). There are seven types of woven crafts produced from the Pandan duri plant, such as ale', kambu, iyut, alung-alung, singkara nest, kambu bara, and tolop bakam, while from the Senggang plant, six types of woven craft products are produced, namely baskets, lids, capan, mat, uyuyuk, and temuagan. The parts of the Pandan thorn and Senggang plants used as woven craft materials are the leaves and bark, and the processing is still in the traditional form.Keywords: Labian Village Community, Pandan Duri and Senggang, UtilizationAbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan anyaman masih dilakukan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pemanfaatan pandan duri dan senggang sebagai bahan kerajinan anyaman dan mendiskripsikan produk kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Labian Kecamatan Batang Lupar. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data menggunakan Snowball sampling.   Data diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan jumlah responden sebanyak 16 orang. Berdasarkan hasil penelitian tumbuhan yang   dimanfaatkan sebagai bahan anyaman adalah Pandan duri (Pandanus tectorius), dan    Senggang (Hornstedtia reticulate). Kerajinan anyaman yang dihasilkan dari tumbuhan Pandan duri sebanyak 7 jenis produk seperti  ale"™, kambu, iyut, alung- alung, sarang singkara, kambu bara, dan tolop bakam, sedangkan dari tumbuhan Senggang menghasilkan kerajinan anyaman sebanyak 6 jenis produk yaitu bakul, tutup benda, capan, tikar, uyuyuk, dan temuagan. Bagian tumbuhan Pandan duri dan Senggang yang digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman adalah daun dan kulit batang serta pengolahannya masih dalam bentuk tradisional. Kata kunci: Masyarakat Desa Labian, Pandan Duri dan Senggang, Pemanfaatan
STRATEGI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA MANGROVE DI KAWASAN HUTAN MANGROVE SURYA PERDANA MANDIRI KELURAHAN SETAPUK BESAR (The strategy for developing mangrove tourism objects in the Surya Perdana Mandiri mangrove forest area, Setapuk Besat village ) Rifanjani, Slamet; Siagian, Irma Dessy; Dirhamsyah, M
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.71380

Abstract

AbstractMangrove ecotourism is one of the tourist destinations that many people are interested in. The Setapuk mangrove tourist attraction is one of the tourist attractions in Setapuk Besar village. This research aims to determine strategic issues in the Setapuk mangrove tourist attraction and determine strategies for developing the Setapuk mangrove tourist attraction in Setapuk Besar village. The data collection method in this research uses survey and interview methods, so that the data produced will be analysed using SWOT analysis which consists of two factors, namely internal factors (IFAS) and external factors (EFAS). The respondents used in this research were 13 respondents, the data produced consisted of data on natural resources, human resources, and socio-cultural and economic conditions of the community. Based on the research results it shows that the strategy for developing the Setapuk mangrove tourist attraction is in quadrant I (Aggressive Strategy), which means this strategy uses strength to take advantage of existing opportunities. The strategic policy recommends carrying out promotions through social media and print media about the beauty of the Setapuk mangrove tourist attraction. Conduct training for local human resources. Adding mangrove ecotourism facilities and managing the potential of natural tourist attractions in terms of the diversity of flora and fauna by utilizing collaboration with the Singkawang city government.Keywords: ecotourism, mangrove, IFAS, EFASAbstrakEkowisata mangrove merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak di minati masyarakat. Objek wisata mangrove Setapuk merupakan salah satu objek wisata yang berada di Kelurahan Setapuk Besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui isu-isu strategis pada objek wisata mangrove Setapuk dan menentukan strategi pengembangan objek wisata mangrove Setapuk di Kelurahan Setapuk Besar. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode survei dan wawancara sehingga data yang dihasilkan akan di analisis menggunakan analisis SWOT yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor internal (IFAS) dan faktor eksternal (EFAS). Responden yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 13 responden, data yang dihasilkan berupa data sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan objek wisata mangrove Setapuk berada pada kuadran I (Strategi Agresif) yang artinya strategi ini menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi kebijakan tersebut merekomendasikan untuk melakukan promosi melalui sosial media maupun media cetak tentang keindahan objek wisata mangrove Setapuk. Mengadakan pelatihan terhadap sumber daya manusia setempat. Menambah sarana ekowisata mangrove dan mengelola potensi objek wisata alam baik dari keberagaman flora dan faunanya dengan memanfaatkan kerja sama dengan pemerintah kota Singkawang.Kata kunci: ekowisata, mangrove, IFAS, EFAS 
PEMANFAATAN ROTAN SEBAGAI KERAJINAN ANYAMAN DI DESA LABIAN KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Yani, Ahmad; Dirhamsyah, M; Ferico, Febrianus
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.72483

Abstract

The use of rattan plants in each region is different both in terms of species and uses, as well as the form of craft products produced with various motifs and designs. This research aims to describe the various forms of woven crafts found in Labian Village, Batang Lupar District, Kapuas Hulu Regency. The data and information collection method is by interviews and observation, while determining respondents is by Purposive Sampling Technique. The results of the study found that there are 6 species of rattan utilized by the community in Labian Village as woven crafts, namely: Entibab rattan (Calamus blumei  Becc), Tunggal rattan (Calamus rugosus Becc), Tapah rattan (Calamus axillaris Becc), Danan rattan (Korthalsia rigida Blumei), Kelik rattan (Daemonorops oligophylla Becc), and Lambang rattan (Plectocomiopsis wrayi Becc). The woven craft products produced were 12 product, namely Pemansai,  Chair,  Table, Floor Mat, Rack, pat the mattress, fruit basket, vegetable basket, movable food cover, Basket, tissue box, and bracelet.Keywords: Rattan Utilization, Woven Crafts, Labian Village.AbstrakPemanfaatan tumbuhan rotan bagi setiap daerah memiliki perbedaan baik dilihat dari segi spesies maupun kegunaannya, serta bentuk produk kerajianan yang dihasilkan dengan berbagai macam motif dan disaennya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan macam bentuk kerajinan anyaman yang terdapat di Desa Labian  Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Metode pengumpulan data dan informasi dengan wawancara dan observasi, sedangkan penentuan responden dengan Teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian di dapatkan  6 jenis rotan yang dimanfaatkan masyarakat Desa Labian sebagai kerajinan anyaman  yaitu: Entibab rattan (Calamus blumei  Becc), Tunggal rattan (Calamus rugosus Becc), Tapah rattan (Calamus axillaris Becc), Danan rattan (Korthalsia rigida Blumei), Kelik rattan (Daemonorops oligophylla Becc), and Lambang rattan (Plectocomiopsis wrayi Becc. Produk kerajinan anyaman yang dihasilkan sebanyak 12 produk yaitu Pemansa,  Kursi,  Meja, Tikar, Rak, Tepuk Kasur, Keranjang Buah, Keranjang Sayur, Tudung Saji, Bakul, Kotak Tissu, dan Gelang Tangan.Kata kunci: Pemanfaatan Rotan, Kerajinan Anyaman, Desa Labian.
ETNOZOOLOGI PEMANFAATAN SATWA OLEH MASYARAKAT MELAYU DI DESA GALING KECAMATAN GALING KABUPATEN SAMBAS Huda, Nurul; Anwari, M Sofwan; Dirhamsyah, M
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.49448

Abstract

Malay people who live in groups have been known to utilize various types of biodiversity for their daily needs. Along with the development of the era accompanied by the entry of technology and also the entry of foreign cultures that make changes in people's lifestyles and mindsets, resulting in the waning of the original culture of the Galing Village Community. This study aims to obtain data on animal species and examine the use of animals used by the Malay Community in Galing Village, Sambas Regency. The method in this study is a survey method with interviews. The technique of determining respondents is done by using snowball sampling, namely by determining key respondents and then determining other respondents based on information from previous respondents, and so on. The number of respondents in this study were 10 people. The data generated is in the form of data on animal species, methods of obtaining animals, processing methods, parts used, and methods for using animals and then analyzed descriptively. Based on interviews, 49 species of animals from 41 families were used by the Malay community of Galing Village. Based on the class level, 9 classes of animals were used, namely Mammals, Aves, Reptiles, Pisces, Crustaceans, Insecta and Annelida.Keywords: Animal Utilization, Etnozoology, Malay Tribe.AbstrakMasyarakat Melayu yang hidup berkelompok selama ini dikenal memanfaatkan berbagai jenis keanekaragaman hayati untuk kebutuhan sehari-hari. Seiring dengan perkembangan zaman yang disertai dengan masuknya teknologi dan juga masuknya budaya asing yang membuat perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat, sehingga mengakibatkan memudarnya budaya asli masyarakat Desa Galing. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang jenis hewan dan mengkaji pemanfaatan hewan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Melayu di Desa Galing Kabupaten Sambas. Metode dalam penelitian ini adalah metode survei dengan wawancara. Teknik penentuan responden dilakukan dengan menggunakan snowball sampling yaitu dengan menentukan responden kunci kemudian menentukan responden lainnya berdasarkan informasi dari responden sebelumnya, begitu seterusnya. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Data yang dihasilkan berupa data tentang jenis hewan, cara perolehan hewan, cara pengolahan, bagian yang digunakan, dan cara pemanfaatan hewan kemudian dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan wawancara diperoleh 49 jenis hewan dari 41 famili yang dimanfaatkan oleh masyarakat Melayu Desa Galing. Berdasarkan tingkat kelasnya digunakan 9 kelas hewan yaitu Mamalia, Aves, Reptilia, Pisces, Crustacea, Insecta dan Annelida.Kata kunci: Pemanfaatan satwa,  Etnozoologi,  Suku Melayu
ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PRODUK STIK DUPA MENGGUNAKAN STATISTICAL QUALITY CONTROL (SQC) DI PT XY KABUPATEN MEMPAWAH: Analysis of Product Quality Control of Incense Sticks Using Statistical Quality Control (SQC) at PT XY Mempawah Regency Kusuma, Ahmad Ary; Yanti, Hikma; Mariani, Yeni; Dirhamsyah, M; Yusro, Fathul
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 41 No. 3 (2023): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jphh.2023.2521

Abstract

PT XY Kabupaten Mempawah merupakan industri pengolahan hasil hutan kayu yang bergerak pada bidang industri penggergajian (sawmill) yang produk lanjutannya dimanfaatkan sebagai produk moulding berupa stik dupa. Permasalahan yang sering terjadi pada proses produksi stik dupa yaitu masih sering ditemukan produk stik dupa yang mengalami kecacatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pengendalian kualitas produk serta penyebab kecacatan pada proses produksi stik dupa. Pada penelitian ini metode analisis yang digunakan yaitu Statistical Quality Control (SQC) berupa check sheet, diagram pareto, diagram kendali, diagram alir, dan fishbone chart. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas produk stik dupa masih belum terkendali. Ditemukan 4 jenis cacat produk yang sering terjadi seperti cacat bengkok, cacat bentuk tidak sesuai, cacat berlubang dan cacat patah. Cacat yang paling dominan terjadi yaitu cacat bengkok yang berjumlah 37.919 batang dengan presentase 58,19% dari total produk cacat yang diproduksi di bulan Mei 2023. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara serta analisis fishbone chart menunjukkan bahwa unsur-unsur penyebab terjadinya produk stik dupa cacat yaitu bahan baku, mesin, manusia, lingkungan kerja, dan cara kerja.
Analisis Manajemen Risiko Logistik pada Perusahaan Third Party Logistic (3pl) dengan Metode Risk Breakdown Structure dan Failure Mode And Effect Analysis (Fmea) (Studi Kasus : Drop Point J&T Express Lambaro Kafe dan Syiah Kuala) Azizah, Nadiatul; Dirhamsyah, M.; Husni, Husni; Away, Yuwaldi; Hasanuddin, Iskandar
Jurnal Teknik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Teknik Indonesia
Publisher : Publica Scientific Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58860/jti.v4i2.624

Abstract

Setiap aktivitas perusahaan, khususnya dalam logistik, pasti mengandung risiko yang dapat memengaruhi kelancaran operasional. Penelitian ini mengkaji manajemen risiko dalam kegiatan pengiriman barang di Drop Point J&T Express Lambaro Kafe dan Syiah Kuala, dua lokasi perusahaan Third Party Logistics (3PL) yang menghadapi berbagai tantangan operasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi risiko menggunakan metode Risk Breakdown Structure (RBS) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Penelitian ini mengidentifikasi 25 risiko di Lambaro Kafe dan 27 risiko di Syiah Kuala, yang dikelompokkan ke dalam lima kategori risiko. Berdasarkan perhitungan Risk Priority Number (RPN), ditemukan risiko prioritas tertinggi di masing-masing lokasi. Di Lambaro Kafe, risiko utama meliputi kehilangan barang, pengembalian bermasalah, dan kerusakan peralatan. Sedangkan di Syiah Kuala, risiko prioritas adalah kerusakan barang, kesalahan alamat, dan kerusakan kendaraan. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya pengelolaan risiko yang lebih efektif dan penerapan tindakan penanganan yang lebih sistematis untuk meningkatkan operasional dan kepuasan pelanggan di kedua lokasi. Rekomendasi tindakan meliputi perbaikan manajemen inventaris, pelatihan pekerja, dan peningkatan teknologi informasi untuk meminimalisir dampak risiko yang teridentifikasi.
Implementation of total quality management and importance-performance analysis for technical service optimization in a maintenance workshop : a case study of PT XYZ Khadafi, M; Away, Yuwaldi; Dirhamsyah, M
Jurnal Polimesin Vol 23, No 3 (2025): June
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v23i3.6860

Abstract

Customer satisfaction is a key factor of success in service-based industries and is equally important in technical service environments such as PT XYZ’s mechanical repair workshop, which provides civil works, welding, machinery, and valve maintenance services. This study aims to assess service quality and identify the primary factors influencing customer satisfaction, with the objective of formulating strategic improvements tailored to the workshop setting. A quantitative research approach was adopted, incorporating the SERVQUAL dimensions and the Total Quality Management (TQM) framework, while customer loyalty was measured using the Net Promoter Score (NPS). The study involved 93 internal respondents from various organizational units, with work experience ranging from less than five years to more than twenty years. Results indicate a high level of satisfaction, with a Net Promoter Score of 57.29% and an Internal Customer Satisfaction (ICS) Index of 86.9%. Multiple linear regression analysis showed that service quality and Total Quality Management collectively explained 84.3% of the variance in customer satisfaction. Importance and Performance Analysis (IPA) identified education and training, customer focus, and reliability as the top strategic improvement priorities. From an operational perspective, the most frequently requested services included pump shaft fabrication (item code 63-GA-6004, 30 hours), shaft sleeve fabrication (63-GA-6004, 16 hours), and shaft sleeve fabrication (56-GA-4002, initially 36 hours). Following the implementation of these improvements, the workshop achieved a 20 percent reduction in average processing time and completed 182 service activities within two months, significantly enhancing operational efficiency and customer satisfaction.