Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pembuatan Poster menggunakan Canva sebagai Media Promosi LPK Zahra Maryam, Maryam; Bagye, Wire
Mitra Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/mahajana.v4i2.2905

Abstract

LPK (Job Training Institute) Zahra Computer is a course institution located at Jln Ahmad Yani Gerung No 10, Gerung Utara, West Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. LPK Zahra faced problems in promotion related to the poster design which was not attractive and took a long time. Therefore, training was conducted using Canva as a solution to improve staff skills in promotional poster design. Methods of implementing the training include preparation, implementation, and evaluation. The results of the training show an increase in knowledge and skills in using Canva to create attractive designs. The evaluation was carried out through a questionnaire using the Google Forms, and the results showed the participant’s satisfaction with the training. In conclusion, this training succeeded in increasing the participants' knowledge and skills in making posters using Canva as a promotional medium. Suggestions for the future are continuous training to maximize the application of the knowledge that has been obtained.
PELATIHAN PEMBUATAN APLIKASI SMARTHOME BERBASIS ANDROID PADA SMKS PLUS NURUL HAKIM KEDIRI Wire Bagye; Laela Elsa Putri; Nora Ananda Putri; Melinda
Jurnal Pekayunan Vol. 1 No. 3 (2025): PEKAYUNAN Maret 2025
Publisher : LPPM STMIK Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36595/53vjgg39

Abstract

Pelatihan pembuatan aplikasi Smart Home berbasis Android di SMKS Plus Nurul Hakim Kediri bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan kepada siswa dalam mengembangkan aplikasi rumah pintar berbasis Internet of Things (IoT). Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi IoT yang semakin banyak diterapkan dalam sistem otomatisasi rumah. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk membekali peserta dengan pengetahuan tentang komponen perangkat Smart Home, pengenalan aplikasi MIT App Inventor, serta pelatihan pengembangan dan uji coba aplikasi Smart Home yang dapat digunakan untuk mengontrol perangkat elektronik secara nirkabel. Metode kegiatan dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu pengenalan komponen perangkat Smart Home, pengenalan MIT App Inventor, pelatihan pembuatan aplikasi, serta uji coba aplikasi Smart Home dengan perangkat IoT menggunakan modul ESP32. Pelatihan ini bersifat praktis dan aplikatif, di mana peserta diberikan kesempatan langsung untuk merancang dan menguji aplikasi peserta. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa peserta mampu memahami konsep dasar Smart Home dan mengembangkan aplikasi kontrol berbasis Android menggunakan MIT App Inventor. Selain itu, uji coba aplikasi yang dilakukan membuktikan bahwa sistem Smart Home yang dikembangkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengontrol perangkat rumah tangga berbasis IoT, meskipun terdapat beberapa kendala teknis yang berhasil diidentifikasi dan diperbaiki. pelatihan ini berhasil meningkatkan kompetensi peserta dalam pengembangan aplikasi berbasis IoT, serta memberikan pengalaman langsung dalam penerapan teknologi Smart Home. Dengan demikian, peserta diharapkan dapat mengembangkan keterampilan lebih lanjut dalam bidang IoT dan otomasi rumah.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK SADAR WISATA (POKDARWIS) BONJERUK PERMAI DESA BONJERUK Zaen, Mohammad Taufan Asri; Bagye, Wire; Purwata, Ichwan
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 11 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i11.3027

Abstract

Pengelola wisata pada desa bonjeruk terdiri dari Pengelola wisata tempat dan bangunan berejarah, Pengelola Wisata Kuliner, Pengelolan Wisata Alam, Pengelola Wisata Edukasi. Hasil observasi dan analisis menemukan bahwa jumlah pemasukkan pengelola wisata spot wisata sejarah dengan pemasukkan kurang dari satu juta Lima Ratus Ribu Rupiah (Rp.1.500.000,-) dalam satu tahun. Kondisi ini mengharuskan mengerjakan aktivitas ekonomi selain bidang pariwisata yang berdampak pada berkurangnya  jumlah pemandu wisata tempat dan sejarah. Kurangnya Pemandu lokal berdampak pada menurunnya kepuasan wisatawan asing.  Untuk meningkatkan pendapatan pengelola spot wisata Sejarah maka dilakukan pembentukan unit bisnis sablon digital. Unit bisnis sablon digital ini memiliki usaha pada produksi kaos dengan gambar bangunan, tempat dam benda bersejarah dan melayanani pemesanan sablon digital. Pelatihan Sablon Digital kepada 10 (sepuluh) Orang. Pelatihan ini mulai dari Teknik pengambilan gambar, pengolahan gambar, percetakan gambar ke kertas DTF, dan Proses pemindahan gambar DTF ke Kaos.  Pengetahuan pengelolaan bisnis diberikan dengan melakukan pelatihan Business Model Canvas   (BMC). Dilakukan pemasangan dan pelatihan perawatan Alat pemandu wisata otomatis. Alat pemandu wisata otomatis sejumlah 3 unit yang memanfaatkan teknologi sensor, Mikrokontroller serta energi terbarukan solar panel.  Hasil pengabdian ini berupa satu Unit bisnis sablon digital sebagai pemasukkan tambahkan pengelola spot wisata. Pemasukan dari bisnis ini yaitu 15% dari harga penjualan produk. Produk dijual secara langsung pada toko dan juga bekerjasama dengan spot wisata kuliner da edukasi sebagai lokasi penjualan. Alat pemandu wisata otomatis dapat menggantikan peran pemadu wisata pada lokasi tempat dan bangunan bersejarah sehingga meningkatkan kepuasan pengunjung wisata asing.  
Prototipe Alat Kirim Pesan Singkat Tindak Kejahatan sebagai Solusi Peningkatan Keamanan Berbasis Lokasi Wire Bagye; Maulana Ashari; Mohammad Taufan Asri Zaen
MATRIK : Jurnal Manajemen, Teknik Informatika dan Rekayasa Komputer Vol. 19 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/matrik.v19i1.491

Abstract

Very rarely the crime can be done early help or handled by the security forces while the perpetrators are still at the scene of the crime. The effort to get help from crime by reporting to the police requires a relatively long time, which is between 30 minutes to 2 hours. To reduce the number of criminal acts and early relief efforts, a tool to send short messages of crime was developed. Development of tools implements the Arduino Uno R3 microcontroller as the main component for program storage. Location coordinates are obtained from the Ubox 160n GPS module. Short messages containing biodata and location coordinates will be sent by the GSM SIM900L module. The destination number will receive a message that can be used to trace the location of the crime through Googlemaps. This tool equipped with a battery that can be recharged with a cell phone charger making this tool portable, practical and efficient. Using this Alat kirim pesan singkat tindak kejahahatan is very time efficient. The sending of a crime message is done in a very short time. By tapping the message directly the Googlemaps application opens and displays the location of the crime.
Evaluasi Penerimaan Aplikasi E-Puskesmas Menggunakan Model Technology Acceptance Model (TAM) yang Dimodifikasi Irawati, Apriana; Bagye, Wire; Saleh, Maemun
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 13 No 3: Juni 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/jtiik.2026133

Abstract

Transformasi digital dalam layanan kesehatan publik membutuhkan evaluasi sistematis terhadap faktor-faktor yang memengaruhi technology acceptance oleh tenaga kesehatan. studi sebelumnya masih terbatas dalam mengkaji penerimaan aplikasi e‑Puskesmas dengan pendekatan teoritis yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan dan behavioral intention dalam penggunaan aplikasi e‑Puskesmas oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Lombok Tengah. Model penelitian ini mengadaptasi Technology Acceptance Model (TAM) yang dimodifikasi dengan menambahkan empat variable eksternal yaitu Information Quality, System Quality, Service Quality , dan Computer Self-Efficacy serta satu variabel moderasi yaitu Digital Literacy. Metode yang digunakan adalah quantitative explanatory research dengan pengumpulan data dari 505 responden melalui teknik simple random sampling. Data dianalisis menggunakan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Hasil menunjukkan bahwa information quality, system quality, service quality, dan computer self-efficacy berpengaruh signifikan terhadap perceived ease of use dan perceived usefulness, yang kemudian berdampak pada user satisfaction, attitude toward using, dan behavioral intention. Digital literacy terbukti memoderasi hubungan antara persepsi terhadap kemudahan dan kegunaan dengan kepuasan serta sikap pengguna. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan model adopsi teknologi di bidang kesehatan digital, serta kontribusi praktis dalam merancang kebijakan peningkatan kualitas sistem, layanan, dan keterampilan digital tenaga kesehatan untuk mendukung adopsi aplikasi e‑Puskesmas secara lebih luas.   Abstract The digital transformation of Indonesia’s healthcare system demands rigorous evaluation of technology acceptance among healthcare professionals, particularly in the use of e-health applications such as e-Puskesmas. Despite increasing adoption, few studies have comprehensively assessed the acceptance of e-Puskesmas using an extended theoretical framework. This study aims to investigate the factors influencing the acceptance and behavioral intention to use the e-Puskesmas application among healthcare workers in Central Lombok. To address this gap, the research employs a modified Technology Acceptance Model (TAM) by integrating four external variables Information Quality, System Quality, Service Quality , and Computer Self-Efficacy as well as Digital Literacy as a moderating variable. A quantitative explanatory approach was used, involving 505 respondents selected through simple random sampling. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with the SmartPLS software. The findings reveal that information quality, system quality, service quality, and computer self-efficacy significantly affect both perceived ease of use and perceived usefulness. These, in turn, influence user satisfaction, attitude toward using, and behavioral intention to use the system. Furthermore, digital literacy significantly moderates the relationship between perceived usefulness and ease of use with satisfaction and attitude. This research contributes theoretically by extending the TAM framework in the e-health domain and provides practical insights for policymakers to enhance system quality, service delivery, and digital skills training for healthcare workers to improve digital health adoption at the regional level.
Modeling Generative AI Adoption in Higher Education: The Role of Interface Quality, Algorithmic Transparency, and Trust in Human-AI Interaction Baiq Yulia Fitriyani; Khairul Imtihan; Amrullah; Maulana Ashari; Wire Bagye
Journal of Information System and Informatics Vol 8 No 3 (2026): June
Publisher : Asosiasi Doktor Sistem Informasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63158/journalisi.v8i3.1598

Abstract

This study examines generative artificial intelligence (AI) adoption in higher education by integrating interface quality, algorithmic transparency, and trust within a Human-AI Interaction framework. The study addresses limitations of traditional technology acceptance models, which often overlook psychological and relational factors in AI-enabled environments. Data were collected through a cross-sectional survey of 195 respondents, including students, lecturers, and administrative staff from higher education institutions in West Nusa Tenggara, Indonesia, within a cross-sectional regional sample, and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results show that Trust in AI is the strongest predictor of Behavioral Intention (β = 0.623, p < 0.001), followed by Perceived Usefulness (β = 0.270, p < 0.05). Interface Quality significantly affects Perceived Ease of Use (β = 0.803), while Algorithmic Transparency strongly influences Perceived Control (β = 0.824) and Perceived Usefulness (β = 0.562). AI Anxiety was not found to have a significant direct or moderating effect. The model demonstrates substantial explanatory power (R² = 0.710) and strong predictive relevance. This study proposes an integrated dual-path model combining cognitive and affective mechanisms to explain generative AI adoption in higher education. The findings emphasize that AI systems should be designed not only for functionality, but also for trust, transparency, and user confidence.
MANAJEMEN RISIKO KEAMANAN ASET TEKNOLOGI INFORMASI MENGGUNAKAN ISO 31000:2018 PADA KANTOR LURAH PRAPEN Yudi Trisnadi; Mohammad Taufan Asri Zaen; Wire Bagye
Jurnal Informatika Teknologi dan Sains (Jinteks) Vol 7 No 4 (2025): EDISI 26
Publisher : Program Studi Informatika Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51401/jinteks.v7i4.6007

Abstract

Kantor Lurah Prapen merupakan salah satu instansi pemerintah dalam penyelenggaraan administrasi dan pelayanan masyarakat. Dimana, Kantor Lurah Prapen menghadapi keterbatasan dalam sumber daya TI dan pengelolaan risiko yang belum optimal, terdapat potensi kebocoran data akibat kurangnya sistem keamanan yang memadai, rendahnya kesadaran pegawai terhadap ancaman keamanan TI seperti malware atau phishing, serta belum adanya kebijakan keamanan TI yang terstruktur. Framework ISO 31000 dapat membantu organisasi dalam mengidentifikasi, menganalisis, serta memberikan rekomendasi pengelolaan terhadap risiko sehingga lebih efektif. Berdasarkan hasil identifikasi risiko ditemukan 30 risiko yang mungkin dapat terjadi. Analisa dan evaluasi tingkat risiko di bagi menjadi 3 level yaitu High, Medium dan Low. Berdasarkan hasil evaluasi deiketahui 3 risiko berada pada level High yang berarti risiko membutuhkan penangnan secepat mungkin, 18 risiko pada level medium yang berarti risiko membutuhkan penanganan dan 9 risiko level Low dimana risiko dapat dihindari atau diatasi oleh kantor Kelurahan Prapen. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kantor lurah prapen dapat menangani risiko yang memiliki level High dengan cepat dimana risiko tersebut dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar dan dapat menghambat proses bisnis kantor lurah Prapen. Adapun risiko yang berada pada level Medium dapat dilakukan penanganan serta mitigasi, sehingga dapat mengurangi tingkat kerugian dan dampak dari risiko tersebut.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MENYUSUN JUDUL PENELITIAN BERKUALITAS MELALUI WORKSHOP STRUKTUR ARTIKEL ILMIAH BERBASIS PRAKTIK Baiq Yulia Fitriyani; Amrullah; Muhamad Rodi; Mardi; Khairul Imtihan; Wire Bagye
Jurnal Pekayunan Vol. 2 No. 1 (2026): PEKAYUNAN Maret - Juli 2026
Publisher : LPPM STMIK Lombok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36595/30nm9p87

Abstract

Kemampuan menyusun judul penelitian yang berkualitas merupakan keterampilan awal yang penting dalam penulisan artikel ilmiah mahasiswa. Namun, banyak mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam merumuskan judul yang fokus, relevan, dan sesuai dengan struktur artikel ilmiah, terutama dalam mengaitkan topik penelitian dengan masalah, objek kajian, metode, research gap, dan novelty. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami struktur artikel ilmiah dan menyusun judul penelitian berkualitas melalui workshop berbasis praktik. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Riset STMIK Lombok dengan melibatkan 23 mahasiswa dari Program Studi Sistem Informasi dan Teknik Informatika yang terdiri dari semester 2, 4, dan 6. Metode kegiatan menggunakan pendekatan workshop berbasis praktik melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perancangan materi, pelaksanaan pretest, penyampaian materi, praktik penyusunan judul, posttest, serta evaluasi luaran kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta, yang ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata nilai pretest dari 7,3 menjadi 8,9 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 1,6 poin atau 21,92%. Selain itu, peserta menunjukkan keterlibatan aktif dalam diskusi dan mulai mampu menyusun draft judul penelitian yang lebih spesifik dan terarah. Dengan demikian, workshop struktur artikel ilmiah berbasis praktik efektif dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa menyusun judul penelitian berkualitas dan dapat menjadi model pembinaan akademik dalam mendukung budaya menulis ilmiah di perguruan tinggi.
Sistem Pendukung Keputusan Prioritas Distribusi Reseller dan Outlet Ice Cream Halocoko Menggunakan Metode AHP-WASPAS Bq. Ajeng Liesna Putri Dende Kirana; Wire Bagye; Muhamad Rodi
Jurnal Transformatika Vol. 24 No. 1 (2026): July 2026
Publisher : Jurusan Teknologi Informasi Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/transformatika.v24i1.14402

Abstract

Distribusi produk ice cream membutuhkan proses pengambilan keputusan yang cepat dan tepat karena produk bersifat mudah mencair serta memiliki keterbatasan waktu pengiriman. Halocoko memiliki sekitar 2.500 reseller dan outlet di Pulau Lombok, sehingga penentuan prioritas distribusi tidak dapat hanya mengandalkan intuisi atau pengalaman pihak distributor. Pada penelitian ini dilakukan untuk mengimplementasikan kombinasi metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Weighted Aggregated Sum Product Assessment (WASPAS) dalam proses penentuan prioritas distribusi reseller dan outlet Halocoko agar pengambilan keputusan dapat dilakukan secara lebih objektif, sistematis, dan terukur.. Kebaruan penelitian terletak pada penerapan kombinasi metode AHP dan WASPAS pada konteks distribusi reseller produk ice cream yang masih jarang dibahas pada penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 50 reseller sebagai sampel alternatif. Kriteria penelitian meliputi frekuensi pengambilan, ketepatan pembayaran, jumlah pembelian, jarak, dan loyalitas reseller. Metode AHP diterapkan untuk memperoleh bobot prioritas pada setiap kriteria, sementara metode WASPAS digunakan dalam proses perhitungan nilai preferensi serta penentuan ranking alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi pengambilan menjadi kriteria paling dominan dengan bobot 0.53 dan nilai Consistency Ratio sebesar 0.0676 yang menunjukkan pembobotan kriteria konsisten. Hasil perangkingan WASPAS menempatkan Toko Hikara sebagai reseller prioritas tertinggi dengan nilai 0.8659. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi AHP-WASPAS mampu membantu distributor menentukan prioritas distribusi reseller secara lebih objektif, efisien, dan mendukung optimalisasi proses distribusi produk ice cream.  
Pendukung Keputusan Pemilihan Aplikasi Multimedia Terbaik Menggunakan Metode AHP dan WASPAS Jupri; Wire Bagye; Maulana Ashari
Jurnal Transformatika Vol. 24 No. 1 (2026): July 2026
Publisher : Jurusan Teknologi Informasi Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/transformatika.v24i1.14417

Abstract

Pemilihan aplikasi multimedia yang tepat menjadi hal penting dalam mendukung efektivitas pekerjaan desain grafis dan pengolahan visual digital. Adobe Photoshop, CorelDraw, dan Lightroom merupakan aplikasi multimedia yang memiliki karakteristik dan keunggulan berbeda sehingga diperlukan proses pemilihan yang objektif berdasarkan beberapa kriteria penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aplikasi multimedia terbaik menggunakan pendekatan pembobotan prioritas kriteria berdasarkan tingkat kepentingannya menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process), sedangkan perangkingan alternatif aplikasi multimedia menggunakan metode WASPAS (Weighted Aggregated Sum Product Assessment). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner daring menggunakan Google Form terhadap 24 responden yang memiliki pengalaman menggunakan aplikasi multimedia. Kriteria yang digunakan meliputi kualitas hasil, fitur, performa, kemudahan penggunaan, dan kecepatan proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria kualitas hasil memiliki bobot prioritas tertinggi sebesar 0,48532. Berdasarkan hasil perhitungan metode WASPAS, Lightroom memperoleh nilai preferensi tertinggi sebesar 0,9956 sehingga direkomendasikan sebagai aplikasi multimedia terbaik, diikuti Adobe Photoshop sebesar 0,9878 dan CorelDraw sebesar 0,9636. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi metode AHP dan WASPAS mampu menghasilkan proses pengambilan keputusan yang lebih objektif, sistematis, dan terukur dalam pemilihan aplikasi multimedia.