Mulyadi M. Djer
Department Of Child Health, Medical School, University Of Indonesia/Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Increased Risk of Recurrent Acute Respiratory Infections in Children with Congenital Heart Disease: A Prospective Cohort Study Mulyadi Muhammad Djer; Emilda Osmardin; Badriul Hegar; Darmawan Budi Setyanto
The Indonesian Biomedical Journal Vol 12, No 4 (2020)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v12i4.1262

Abstract

BACKGROUND: There is a lack of local data about recurrent acute respiratory infections in children with congenital heart disease (CHD). This study aims to investigate the incidence and recurrence of acute respiratory infection (ARI) in left-to-right shunt CHD.METHODS: This prospective cohort study investigated children with left-to-right shunt CHD, aged three months to five years, at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital between September 2012 and April 2013. Age and sex-matched participants without CHD were recruited as reference. The occurrence of ARI was observed for six months. Acyanotic CHD patients from 2015 to 2019 were also evaluated to determine the proportion of ARI among this population.RESULTS: A total of 100 subjects were enrolled in the study, 50 in the CHD group and 50 in the non-CHD group, six of whom were later excluded. The monthly incidence of ARI in the CHD group ranged between 40-60% (p=0.027). Subjects with CHD had a cumulative increased risk of 10% for acquiring ARI (RR=1.1; 95% CI=1.02-1.2, p=0.027). The proportion of subjects with a high recurrence of ARI was also higher in the CHD compared to the non-CHD group (67% vs. 30 %, p<0.001). The mean frequency of and median duration of ARI episodes was also higher in CHD compared to the non-CHD group, 3 vs. 1.5 episodes (p<0.001), and 7 vs. 5 days, respectively.CONCLUSION: Children with CHD are at an increased risk of ARI, with more episodes and longer duration compared to children without CHD.KEYWORDS: non-cyanotic CHD, left-to-right shunt, acute respiratory infections
Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan Mulyadi M. Djer; Bambang Madiyono
Sari Pediatri Vol 2, No 3 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.889 KB) | DOI: 10.14238/sp2.3.2000.155-62

Abstract

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan jantung yang sudah didapat sejaklahir. Manifestasinya klinis bergantung dari berat ringan penyakit, mulai dari asimtomatissampai dengan adanya gejala gagal jantung pada neonatus. Dengan berkembangnyateknologi, terutama dengan ditemukannya ekokardiografi, banyak kelainan jantungbawaan asimtomatis yang dapat dideteksi. Tata laksana meliputi non-bedah dan bedah.Tata laksana non-bedah meliputi pengobatan medikamentosa dan kardiologi intervensi,sedangkan tata laksana bedah meliputi bedah paliatif dan operasi definitif. Tujuan tatalaksana medikamentosa dan bedah paliatif adalah untuk mengatasi gejala klinis akibatkomplikasi PJB sambil menunggu waktu yang tepat untuk dilakukan operasi definitif.Akhir-akhir ini telah dikembangkan kardiologi intervensi, suatu tindakan yang memberiharapan baru bagi pasien PJB tanpa operasi, namun saat ini biayanya masih cukuptinggi
Validasi Sistem Skoring Rondinelli untuk Mendeteksi Komplikasi Infeksi Berat pada Pasien Leukemia Limfoblastik Akut L1 dengan Demam Neutropenia Selama Kemoterapi Fase Induksi Renno Hidayat; Djajadiman Gatot; Mulyadi M Djer
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.325-31

Abstract

Latar belakang. Anak dengan keganasan yang mendapatkan pengobatan kemoterapi sering mengalami episode demam neutropenia. Kondisi ini akan meningkatkan risiko infeksi yang berat akibat penurunan fungsi utama neutrofil sebagai pertahanan terhadap mikroorganisme asing. Rondinelli dkk telah mengusulkan suatu sistem skoring untuk memprediksikan terjadinya komplikasi infeksi berat pada pasien keganasan dengan demam neutropenia selama pemberian kemoterapi sehingga diperoleh tata laksana yang sesuai.Tujuan. Mengetahui apakah sistem skoring Rondinelli dapat membantu mendeteksi risiko terjadinya komplikasi infeksi berat dengan LLA-L1 yang mengalami demam neutropenia selama pemberian kemoterapi fase induksi.Metode. Penelitian uji diagnostik metode potong lintang retrospektif dengan membandingkan sistem skoring Rondinelli terhadap baku emas terjadinya komplikasi infeksi berat berupa kondisi septikemia disertai terdapatnya bakteremia pada kultur darah. Sampel diambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien LLA-L1 yang menjalani rawat inap di bangsal Departemen IKA FKUI/RSCM mulai bulan Januari 2010 hingga bulan Agustus 2012. Subyek penelitian adalah pasien anak berusia 0 hingga 18 tahun dengan Leukemia limfoblastik akut L1 (LLA-L1) yang mengalami episode demam neutropenia yang pertama kali selama pemberian kemoterapi fase induksi.Hasil. Penelitian dilakukan pada 30 subyek yang memenuhi kriteria inklusi. Insiden komplikasi infeksi berat saat episode demam neutropenia yang pertama kali pada pasien LLA-L1 selama pemberian kemoterapi fase induksi 30%. Sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, nilai duga negatif, rasio kemungkinan positif, dan rasio kemungkinan negatif skoring Rondinelli berturut-turut adalah 66,7%; 90,5%; 75%; 86,3%; 6,94; dan 0,36. Area di bawah kurva ROC pada penelitian ini 0,759.Kesimpulan. Sistem skoring Rondinelli merupakan instrumen yang cukup baik untuk mendeteksi komplikasi infeksi berat pada anak dengan LLA-L1 yang mengalami demam neutropenia selama pemberian kemoterapi fase induksi.
Faktor yang Berhubungan dengan Hiperglikemia dan Luarannya pada Anak Sakit Kritis Rosary Rosary; Imral Chair; Pustika Amalia; Agus Firmansyah; Irawan Mangunatmadja; Mulyadi M. Djer
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.32-8

Abstract

Latar belakang. Hiperglikemia pada sakit kritis berhubungan dengan luaran yang lebih buruk, seperti lama penggunaan ventilasi mekanik, dan obat vasoaktif lebih panjang, serta derajat disfungsi organ yang lebih berat.Tujuan. Mengetahui hubungan karakteristik subjek dengan hiperglikemia serta mengetahui perbedaan proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia antara kelompok subjek yang memakai ventilasi mekanik, mendapat obat vasoaktif, serta dengan disfungsi organ berat, dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak.Metode. Studi analitik potong lintang dilakukan pada anak sakit kritis di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan-18 tahun, dilakukan antara Maret-Juni 2011.Hasil. Didapatkan 87 subjek penelitian, 60 di antaranya laki-laki. Hiperglikemia ditemukan pada 25/87 (28,7%) subjek dengan median kadar glukosa darah 121 (37-443) mg/dL Hiperglikemia ditemukan lebih banyak pada laki-laki, usia >1-5 tahun, gizi kurang, dan pasca-bedah, tetapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna. Subjek yang menggunakan ventilasi mekanik dan vasoaktif memiliki proporsi lebih besar mengalami hiperglikemia dibandingkan dengan subjek yang tidak, tetapi perbedaan ini juga tidak bermakna. Enam dari 10 subjek yang memiliki skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD) tinggi mengalami hiperglikemia. Proporsi ini lebih besar dibandingkan subjek dengan skor PELOD rendah, yaitu 19/77 subjek (p=0,03).Kesimpulan. Proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia lebih besar pada anak dengan disfungsi organ berat daripada disfungsi organ ringan. Karakteristik subjek tidak berhubungan dengan hiperglikemia pada sakit kritis. Tidak terbukti adanya perbedaan proporsi subjek yang mengalami hiperglikemia pada anak sakit kritis yang menggunakan ventilasi mekanik dan obat vasoaktif dibandingkan dengan kelompok subjek yang tidak.
Perbandingan Luaran dan Biaya Penutupan Defek Septum Ventrikel Perimembran secara Transkateter dan Pembedahan Liku Satriani; Audrey Audrey; Piprim B Yanuarso; Mulyadi M Djer
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.9-16

Abstract

Latar belakang. Terapi baku emas dalam penutupan defek septum ventrikel (DSV) adalah pembedahan. Prosedur pembedahanmempunyai morbiditas yang terkait dengan torakotomi, pintasan jantung paru, komplikasi prosedur, jaringan parut bekas operasi, dantrauma psikologis. Oleh karena itu, timbul usaha pendekatan transkateter untuk menutup DSV yang bersifat relatif kurang invasif.Tujuan. Mengetahui perbandingan hasil penutupan DSV perimembran, komplikasi prosedur, lama rawat di rumah sakit, dan totalbiaya prosedur antara prosedur transkateter dengan prosedur pembedahan.Metode. Penelitian retrospektif analitik dengan data berupa rekam medis pasien anak dengan DSV perimembran yang datang kePelayanan Jantung Terpadu Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo dan dilakukan penutupan defek dengan salah satu prosedurdalam periode Januari 2010-Desember 2013.Hasil. Didapat 69 kasus anak dengan DSV perimembran, terdiri atas 39 kasus dengan prosedur pembedahan dan 30 kasus denganprosedur transkateter. Prosedur pembedahan dan prosedur transkateter mempunyai tingkat keberhasilan yang serupa (89,7% vs 96,7%,p=0,271). Prosedur pembedahan mempunyai komplikasi yang lebih banyak dibandingkan prosedur transkateter (46,7% vs 7,7%,p<0,001). Prosedur pembedahan juga mempunyai lama rawat di rumah sakit yang lebih panjang dibandingkan prosedur transkateter(8 hari vs 3 hari, p<0,0001), dan semua prosedur pembedahan membutuhkan perawatan di ruang rawat intensif. Tidak ada perbedaantotal biaya antara prosedur transkateter dengan prosedur pembedahan (Rp. 55.032.636 vs Rp. 58.593.320 p=0,923).Kesimpulan. Prosedur penutupan DSV perimembran secara transkateter mempunyai efektivitas dan biaya yang sama dengan prosedurpembedahan dan mempunyai komplikasi yang lebih sedikit serta lama rawat di rumah sakit yang lebih pendek.
Faktor Risiko yang Berperan pada Mortalitas Sepsis Desy Dewi Saraswati; Antonius H. Pudjiadi; Mulyadi M. Djer; Bambang Supriyatno; Damayanti R. Syarif; Nia Kurniati
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.655 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.281-8

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama kematian bayi dan anak. Status imun pejamu dan malnutrisi merupakan faktor penting yang menentukan luaran pada sepsis. Skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD) adalah sistem skoring disfungsi organ pada sakit kritis, untuk memprediksi mortalitas pasien sepsis.Tujuan. Mengetahui faktor risiko usia, status gizi, dan skor PELOD terhadap mortalitas sepsis.Metode. Retrospektif analitik berupa data rekam medis pasien berusia 1 bulan – 18 tahun di PICU RSCM bulan Apri1- Agustus 2011 dengan diagnosis sepsis menurut kriteria konsensus sepsis internasional.Hasil. Sembilanpuluh dua dari 209 pasien mengalami sepsis, 22 (23,9%) di antaranya meninggal. Median usia subjek 15 (rentang 2-192) bulan dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia 1 bulan – 1 tahun (62%). Sebagian besar subjek (57,61%) memiliki status gizi kurang. Fokus infeksi tersering adalah infeksi saraf pusat dan gastrointestinal, masing-masing 32 (34,77%) subjek. Gizi buruk (p<0,001; OR 26,88;IK95% 4,74-152,61) dan skor PELOD ≥20 (p<0,001; OR 78,8;IK95%14,23-436,36) merupakan faktor risiko yang secara independen berperan terhadap mortalitas sepsis pada anak.Kesimpulan. Gizi buruk dan skor PELOD ≥20 berperan terhadap mortalitas sepsis pada anak. Usia <5 tahun tidak terbukti sebagai faktor risiko mortalitas sepsis pada anak.
Karakteristik dan Kesintasan Penyakit Ginjal Kronik Stadium 3 dan 4 pada Anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Swanty Chunnaedy; Sudung O Pardede; Mulyadi M. Djer
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.933 KB) | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.71-8

Abstract

Latar belakang. Penyakit ginjal kronik merupakan terminologi baru untuk pasien yang mengalami kerusakan ginjal paling sedikit selama tiga bulan dengan atau tanpa penurunan LFG. Terminologi ini belum banyak digunakan di Indonesia sehingga karakteristik dan kesintasan PGK stadium 3 dan 4 pada anak belum banyak diteliti.Tujuan. Mendapatkan karakteristik dan kesintasan PGK stadium 3 dan 4 pada anak yang berobat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCMMetode. Penelitian kohort prospektif historikal ini diambil dari rekam medis pasien dengan PGK stadium 3 dan 4 menurut kiriteria NKF KDOQI di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM sejak Januari 2004 hingga 30 November 2012. Kesintasan dianalisis dengan menggunakan Kaplan Meier dengan event yang dinilai adalah PGK stadium 5 atau kematian.Hasil. Terdapat 50 rekam medis yang masuk dalam analisis, terdiri atas 36 subjek PGK stadium 3 dan 14 subjek PGK stadium 4. Median usia adalah 7,9 (2-15) tahun dengan jenis kelamin perempuan (58%) sedikit lebih banyak dari pada laki-laki (42%). Etiologi terbanyak adalah glomerulonefritis (56%) dengan sindrom nefrotik memiliki proporsi terbesar. Gambaran klinis yang ditemukan adalah hipertensi (42%), gizi kurang (40%), anemia (70%), gangguan elektrolit (78%), asidosis (34%), proteinuria (72%), perawakan pendek (56%), osteodistrofi renal (2%), dan kardiomiopati dilatasi (14 %). Median kesintasan keseluruhan adalah 57,13 bulan (IK 95% 11,18 sampai 103,09).Kesimpulan. Penyakit ginjal kronik stadium 3 dan 4 sedikit lebih banyak terjadi pada perempuan dengan etiologi terbanyak adalah glomerulonefritis. Komplikasi yang paling sering adalah gangguan elektrolit, anemia, perawakan pendek, gizi kurang, dan hipertensi. Median kesintasan keseluruhan adalah 57,13 bulan (IK 95 % 11,18 sampai 103,09).
Profil Klinis dan Keluaran Penyakit Jantung Reumatik pada Anak yang Menjalani Bedah Katup Rahmat B Kuswiyanto; Sukman T Putra; Najib Advani; Mulyadi M Djer; Rubiana Sukardi; Jusuf Rachmat
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.112 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.200-6

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung reumatik merupakan kelainan jantung didapat penyebab kesakitan dankematian terbanyak pada anak di Indonesia. Bedah katup pada anak dengan penyakit jantung reumatikjarang dilakukan.Tujuan. Untuk mengetahui profil klinis dan keluaran bedah katup pada anak dengan penyakit jantungreumatik.Metode. Penelitian secara retrospektif dilakukan pada 28 anak dengan penyakit jantung reumatikyang menjalani bedah katup di RSUPN Cipto Mangunkusumo selama tahun 2003 sampai 2009. Datadikumpulkan dan dicatat berdasarkan catatan medis berupa profil klinis sebelum operasi, umur saatoperasi, jenis kelamin, status klinis, dan jenis operasi, serta data ekokardiografi berupa kelainan katup danfungsi ventrikel. Sedangkan keluaran berupa komplikasi pascaoperasi, lesi residual dan fraksi ejeksi, fraksipemendekan serta dimensi akhir diastolik ventrikel kiri seminggu pascaoperasi.Hasil. Umur rerata saat operasi 13,9 (SD 2,7) tahun; anak laki-laki dan perempuan sama banyak. Status klinispraoperatif fungsional kelas III dan kelas IV masing-masing terjadi pada 13 dan 9 anak. Regurgitasi mitral beratdidapatkan pada 75% anak. Perbaikan katup mitral dilakukan pada 16, penggantian katup mitral pada 8, danpenggunaan katup ganda pada 4 anak. Tiga anak mengalami komplikasi berupa perdarahan, efusi pleura, dan sepsis,sedangkan satu orang meninggal. Lesi residual pascaoperasi didapatkan pada 11 anak, berupa regurgitasi dan stenosismitral ringan, dan satu anak dengan paravalvular leak. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dalam fraksiejeksi, fraksi pemendekan dan dimensi akhir diastolik ventrikel kiri sebelum dan seminggu sesudah operasi.Kesimpulan. Bedah katup pada anak dengan penyakit jantung reumatik mempunyai keluaran yang baik,dengan angka kematian dan komplikasi yang rendah. Pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk menilaikeluaran jangka panjang.
Valvuloplasti Balon Transkateter Perkutan pada Neonatus dengan Stenosis Pulmonal Kritis Herlina Dimiati; Mulyadi M. Djer; Maswin Masyhur
Sari Pediatri Vol 9, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.4.2007.246-51

Abstract

Valvuloplasti balon transkateter perkutan/percutaneous transcatheter balloon valvuloplasty (PTBV) padastenosis pulmonal adalah tindakan non bedah untuk mengatasi obstruksi jalan keluar dan mengurangibeban sistolik ventrikel kanan akibat stenosis katup pulmonal dengan menggunakan balon. Metode inimerupakan kardiologi intervensi yang telah berkembang pesat menggantikan peran bedah dalam penangananpenyakit jantung bawaan dengan menawarkan beberapa keuntungan, antara lain: berkurangnya waktuperawatan dan biaya perawatan, alasan kosmetik (tidak menimbulkan jaringan parut di dada) serta kuranginvasif. Dilaporkan seorang bayi laki-laki berumur 2 hari, dirawat di Pelayanan Jantung Terpadu RumahSakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan stenosis pulmonal kritis (SPK), defek septum atrium(DSA) sekundum sedang dengan pirau kanan ke kiri dan duktus arteriosus persisten (DAP) sedang yangpanjang. Tindakan percutaneus transcatheter balloon valvuloplasty (PTBV) harus dilakukan secepatnyauntuk menyelamatkan jiwa pasien
Ventricular function and high-sensitivity cardiac troponin T in preterm infants with neonatal sepsis Nusarintowati Ramadhina; Rubiana Sukardi; Najib Advani; Rinawati Rohsiswatmo; Sukman T. Putra; Mulyadi M. Djer
Paediatrica Indonesiana Vol 55 No 4 (2015): July 2015
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.089 KB) | DOI: 10.14238/pi55.4.2015.203-8

Abstract

Background Hemodynamic instability in sepsis, especially in the neonatal population, is one of the leading causes of death in hospitalized infants. The major contribution for heart dysfunction in neonatal sepsis is the myocardial dysfunction that leads to decreasing of ventricular function. The combination of echocardiography and laboratory findings help us to understand the ventricular condition in preterm infants with sepsis.Objective To assess for a correlation between ventricular function and serum high-sensitivity cardiac troponin T (hs-cTnT) level in preterm infants with neonatal sepsis.Methods We prospectively studied 30 preterm infants with neonatal sepsis who were admitted to the neonatal intensive care unit (NICU) of Cipto Mangunkusumo Hospital from June 1 – August 31, 2013. The ventricular functions were measured using 2-dimensional echocardiography. The parameters of right ventricular (RV) function assessment were tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) and RV myocardial performance index (MPI). For left ventricular (LV) performance, we assessed ejection fraction (EF), fractional shortening (FS), and LV-MPI. Serum hs-cTnT was measured and considered to be a marker of myocardial injury.Results Subjects had a mean gestational age of 31.5 (SD 2.18) weeks and mean birth weight of 1,525 (SD 437.5) g. The mean LV function measured by MPI was 0.281 (SD 0.075); mean EF was 72.5 (SD 5.09)%; and mean FS was 38.3 (SD 4.29)%. The RV function measured by TAPSE was mean 6.85 (SD 0.94) and that measured by MPI was median 0.255 (range 0.17-0.59). Serum hs-cTnT level was significantly higher in non-survivors than in survivors [282.08 (SD 77.81) pg/mL vs. 97.75 (24.2-142.2) pg/mL, respectively P =0.023]. There were moderate correlations between LV-MPI and hs-cTnT concentration (r=0.577; P=0.001), as well as between RV-MPI and hs-cTnT concentration (r=0.502; P=0.005). The positive correlation between LV and RV-MPI in neonatal sepsis was strong (r=0.77; P <0.001).Conclusion Left and right ventricular MPI show positive correlations with hs-cTnT levels. Serum hs-cTnT is significantly higher in non survivors. As such, this marker may have prognostic value for neonatal sepsis patients.
Co-Authors Adhi Teguh Perma Iskandar Agus Firmansyah Amin Subandrio Angelina Angelina Anis Karuniawati Antonius H. Pudjiadi Aria Kekalih Arwin A. P. Akib Aryono Hendarto Asri C. Adisasmita Audrey Audrey Badriul Hegar Bambang Madiyono Bambang Madiyono Bambang Madiyono Bambang Mardiyono Bambang Supriyatno Burhanuddin Iskandar Chozie, Novie A. Damayanti R. Sjarif Damayanti R. Syarif Darmawan B. Setyanto Desy Dewi Saraswati Dilawar, Ismail Djajadiman Gatot Emilda Osmardin Erni Erfan, Erni Fajar Subroto Heri Wibowo Herlina Dimiati Heru Samudro Hikari A. Sjakti Idrus Alwi Ika P Wijaya, Ika P Imral Chair Irawan Mangunatmadja Iskandar, Adhi Teguh Perma Ismet N Oesman Joedo Prihartono Johanes Edy Siswanto, Johanes Edy Jusuf Rachmat Jusuf Rachmat Kautsar, Ahmad Laila, Dewi S. Liku Satriani Lily Rundjan Lisnawati Rachmadi Mardjanis Said Maswin Masyhur Mazdar Helmy Mazeni Alwi Melva Louisa Mila Maidarti Mochammading Mochammading Mochammading Mochammading Murni, Indah K. Muzal Kadim Nafrialdi Nafrialdi Najib Advan Najib Advani Najib Advani Najib Advani Najib Advani Nia Kurniati Nikmah S Idris, Nikmah S Nikmah S. Idris Nikmah Salamia Idris NP Veny Kartika Yantie Nurhakiki, Syifa Nusarintowati Ramadhina Perdana, Andri Permatasari, Ruth K. Piprim B Yanuarso Piprim B. Yanuarso, Piprim B. Piprim Basarah Yanuarso Pribadi Wiranda Busro Pustika Amalia Putri, Dyanti Prima Rahmadhany, Anisa Rahmat B Kuswiyanto Rahmat B. Kuswiyanto Renno Hidayat Rinawati Rohsiswatmo Risma Kerina Kaban Risma Kerina Kaban Risma Kerina Kaban, Risma Kerina Rizky Adriansyah Rosary Rosary Rubiana Sukardi Rubiana Sukardi Rubiana Sukardi, Rubiana Safanta, Nurzalia Sake Juli Martina Santoso, Dewi Irawati Soeria Setyanto, Darmawan Budi Shirley L. Anggriawan Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudigdo Sastroasmoro Sudung O Pardede, Sudung O Sudung O. Pardede Suhendro Sukman T Putra Sukman T Putra Sukman T. Putra Sukman T. Putra Sukman T. Putra Sukman Tulus Putra Sukman Tulus Putra, Sukman Tulus Supriatna, Novianti Susanti, Dhama S. Sutjipto, Fiolita Indranita Swanty Chunnaedy Syarif Rohimi Talib, Suprohaita Rusdi Taufiqurahman, Khobir Abdul Karim Tetty Yuniati Wardoyo, Suprayitno