Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Membongkar Resistensi Digital: Analisis Gerakan #KaburAjaDulu Sebagai Kritik Pada Platform X Irwanto; Tommi Parnando; Laurensia Retno Hariatiningsih
Jurnal Public Relations (J-PR) Vol. 6 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jpr.v6i2.9568

Abstract

Gerakan #KaburAjaDulu di media sosial, khususnya platform X, telah menjadi fenomena yang mencerminkan ketidakpuasan warganet Indonesia terhadap kinerja dan kebijakan pemerintah pada awal 2025, terutama di era kepemimpinan Prabowo Subianto. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk resistensi warganet terhadap pemerintah melalui gerakan tersebut, dengan fokus pada dinamika komunikasi politik digital. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan analisis tematik. Data dikumpulkan melalui observasi dan telaah terhadap konten yang menggunakan tagar #KaburAjaDulu, dokumen terkait serta studi Pustaka. Dengan analisis tematik terungkap bahwa  resistensi warganet terhadap pemerintah memiliki beragam bentuk, yaitu resisten-solutif, resisten-satir, resisten-frontal namun negosiatif. Resistensi solutif terlihat pada cuitan Anies Baswedan yang mengajak diaspora berkontribusi sambil tetap mencintai Indonesia, sementara resistensi satir muncul melalui unggahan @ARSIPAJA  yang menyindir Prabowo sebagai “#KaburAjaDulu batch pertama.” Resistensi frontal dan negosiatif ditemukan pada cuitan @wagimandeep212  yang menantang pernyataan Bahlil Lahadalia tentang nasionalisme pekerja migran dengan menyandingkan narasi tandingan. Penelitian ini mengungkap bahwa media sosial menjadi ruang penting untuk ekspresi resistensi, sekaligus memperkuat wacana kritis terhadap kebijakan pemerintah, meskipun berisiko memicu polarisasi di kalangan audiens digital.
Women’s Fashion Simulacra A Compulsive Narrative in Syahrini’s Shopee Advertisement Irwanto, Irwanto; Hariatiningsih, Laurensia Retno; Soraya, Iin; El Hidayah, Nur Iman; Ningtyas, Dito Anjasmoro
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 15, No 2 (2022): (Accredited Sinta 2)
Publisher : Unisba Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v15i2.9675

Abstract

Advertising is essential in persuading, strengthening, and reminding the product of the public. Advertising is a representation of a product. From the modern communication perspective, advertising is used to make up the product's image. Recently, advertisements have appeared not only in conventional media but also in new media. Advertising works are becoming more varied and creative considering that new media are relatively uptight regulation than conventional media. This creates a hyper-reality that goes beyond the function of the ad itself. This study seeks to reveal Syahrini's Shopee marketplace advertisement on Youtube. The advertisement's content is examined critically and analyzed using Pierce's triangle of meaning: object, interpretant, and representamen. The research found that hyper-reality simulacra were created as a compulsive shopping narrative. This occurs due to unpleasant events or negative feelings caused by addiction, depression, and boredom. However, the public does not know this.
Amplifikasi Budaya Pop Bonge-Jeje Melalui Media Sosial TikTok Irwanto; Laurensia Retno Hariatiningsih
Jurnal Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jkom.v14i1.11858

Abstract

Bonge-Jeje dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian publik melalui budaya pop yang mereka sebarkan. Pada awalnya penampilan mereka dikenal melalui media sosial TikTok. Keunikan dari pakaian yang mereka kenakan pada awal kemunculannya di TikTok adalah pakaian yang tidak bermerek, tidak mahal dan cenderung tidak lazimnya seperti pakaian pada umumnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena budaya pop ala Eka Satria Saputra alias Bonge dan Jeje dikomunikasikan dan dikenal serta diterima masyarakat melalui media sosial TikTok. Disini juga akan diuraikan faktor-faktor yang dapat membuat masyarakat menerima budaya pop mereka. Untuk mengetahui elemen-elemen tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Ditemukan bahwa Bonge-Jeje dan rekan-rekannya melakukan konstruksi terhadap konten budaya pop yang mereka sebarkan. Konstruksi tersebut dimulai dari pemilihan TikTok sebagai media sosial yang digunakan, elemen visual, elemen audio dan gimmick
Satir Resistensi Kebijakan Covid 19 di Twitter Irwanto; Laurensia Retno Hariatiningsih; Dito Anjasmoro Ningtyas
Jurnal Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jkom.v14i2.12016

Abstract

Tulisan ini bermotivasi mengungkap pesan satir warganet pada media sosial Twitter mengenai resistensinya terhadap kebijakan dan aturan Covid 19. Deskriptif kualitatif digunakan sebagai metode untuk menjawab persoalan utama dalam pada penelitian ini. Subjek penelitian ditetapkan melalui teknik purposif pada cuitan satir warganet mengenai kebijakan dan aturan Covid 19. Analisa data dilakukan dengan semiotika sosial sosial MAK Halliday serta hasil elaborasi dengan teori yang digunakan. Melalui cara ini peneliti dapat mengetahui, memahami serta mendeskripsikan dengan komprehensif pesan satir tentang kebijakan dan aturan Covid 19 yang dikonstruksi oleh warganet. Pada konteks ini pesan satir yang dikonstruksi pada cuitan warganet  merupakan bagian dari kreatifitas dalam pengemasan pesan. Lambang komunikasi yang digunakan beragam. Motif komunikasi yang berupa kritikan atau saran, gagasan serta opini warganet bisa dikemas dalam bentuk satir. Dibutuhkan nalar serta pengetahuan yang cukup untuk bisa mencerna makna satir secara utuh. Mengonstruksi pesan dengan satir menjadi alternatif pilihan agar pesan bisa efektif, diterima dengan nyaman dan terhindar dari sanksi hukum
Membangun Atensi Pada Media Sosial (Studi Netnografi Remaja Pengguna Instagram) Laurensia Retno Hariatiningsih; Irwanto
Jurnal Komunikasi Vol. 15 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jkom.v15i2.12055

Abstract

Motif Komunikasi dalam Penelitian ini mengungkap penggunaan lambang komunikasi oleh remaja dalam membangun atensi atau mencari perhatian warganet pada Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lambang komunikasi pada instagram. Metode yang digunakan dalam menganalisa percakapan dan interaksi pada penelitian ini adalah netnografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengguna Instagram melakukan konstruksi pesan bisa melalui tulisan, foto bahkan tayangan yang berbentuk visual dan audio. Lambang komunikasi tersebut disampaikan dengan mengoptimalkan fitur visual dan audio yang terdapat pada media sosial tersebut. Konstruksi bertujuan untuk memperoleh perhatian yang bisa berwujud dari jumlah penonton atau view dan jumlah likes atau suka
Representasi Kekerasan Dalam Film Rumah Untuk Alie: Analisis Semiotika Barthes Julian Mega Berliana; Intan Leliana; Laurensia Retno Hariatiningsih
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4101

Abstract

This research aims to analyze the representation of violence in the film Home for Alie using Roland Barthes' semiotic theory. The method used is a qualitative approach with semiotic analysis which focuses on three levels of meaning, namely denotation, connotation and myth. The research results show that the film represents various forms of violence, both physical, verbal and psychological, through visual and verbal signs. Violence is not only presented as a visible event, but also contains ideological meaning that reflects power relations, patriarchal structures and social construction within the family. These findings confirm that film as mass media has an important role in shaping public perceptions, reproducing cultural values, and increasing critical awareness of the issue of domestic violence. Thus, Rumah untuk Alie not only functions as entertainment, but also as a reflective and educational medium in voicing social issues
Representasi Pesan Moral dalam Film Bila Esok Ibu Tiada Iva Nurtiana Rahayu; Intan Leliana; Laurensia Retno Hariatiningsih
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4736

Abstract

Film merupakan media komunikasi massa yang kuat dan mampu merepresentasikan nilai serta pesan moral kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi pesan moral seorang ibu ditampilkan dalam film drama keluarga "Bila Esok Ibu Tiada" (2024). Studi ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes melalui pendekatan penelitian kualitatif. Data-data penelitian ini bersumber dari data primer berupa observasi dan data sekunder berupa dokumentasi, Analisis difokuskan pada tiga tingkatan makna—denotasi, konotasi, dan mitos—yang diterapkan pada adegan-adegan yang menampilkan tokoh utama, Rahmi, untuk membedah tanda-tanda visual dan dialog yang ada.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, film secara harfiah menggambarkan potret seorang ibu bernama Rahmi yang menghadapi kesepian dan kondisi kesehatan yang menurun di tengah kesibukan anak-anaknya. Pada tingkat konotasi, adegan-adegan tersebut menyiratkan makna yang lebih dalam tentang kasih sayang ibu yang tulus tanpa batas, ketegaran, keikhlasan dalam menghadapi takdir, serta penyesalan anak-anak yang menyadari nilai kehadiran seorang ibu setelah kehilangannya. Pada tingkat mitos, film ini memperkuat dan melanggengkan gagasan budaya dominan mengenai sosok ibu, terutama mitos "Ibu sebagai sosok yang rela berkorban tanpa pamrih dan menyembunyikan penderitaannya demi kebahagiaan anak-anaknya.
Digital Resistance to Social Media Taxation: A Semiotic Analysis of Protest Discourse on Platform X Irwanto, Irwanto; Hariatiningsih, Laurensia Retno; Yunita, Ria; Irhamdhika, Gema; Bender, George Wilhelm
Communication Vol 17, No 1 (2026): Communication
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/Comm

Abstract

This study examines netizen resistance to Indonesia's proposed 2026 social media tax policy. It employs a qualitative analysis of interactions on Platform X. This research employs van Leeuwen's (2015) social semiotics and W. Lance Bennett and Alexandra Segerberg's (2015) connective action theory, in analyzing how users construct collective resistance narratives. These narratives emerge through multimodal signs and personalized participation. Data from influential accounts, including @kompascom, @detikcom, and individual netizens, reveal three key resistance patterns. First, users construct injustice narratives using words like "targeting" and surveillance icons. Second, digital interactions connect personal frames to collective action through sarcasm and metaphors. Third, multimodal compositions such as infographics, binary signs, and temporal strategies enhance narrative coherence. The findings indicate that netizens frame the tax policy as both an economic burden and a mechanism of social control, articulating fear of privacy violations and systemic injustice. The integration of semiotic analysis with connective action theory reveals how platform affordances facilitate resistance without a hierarchical organization. This transformation positions X as a digital public sphere for political contestation. This research contributes to the understanding of contemporary digital resistance in Global South contexts. It highlights how algorithmic amplification and multimodal communication shape the perceptions of policy legitimacy in Indonesia's evolving digital democracy. The study also underscores the need for more transparent policy communication. Finally, it provides a theoretical framework for analyzing digital protest in post-authoritarian societies. Keywords: Digital Resistance, Social Media Tax Policy, Connective Action, Social Semiotics, Platform