Claim Missing Document
Check
Articles

AMPLIFIKASI SEKUEN IS6110 DENGAN EKSTRAKSI DNA MENGGUNAKAN METODE PEMANASAN (RAPID BOILING) UNTUK IDENTIFIKASI Mycobacterium tuberculosis I Gede Raka Adhyatma; Agus Eka Darwinata; Made Agus Hendrayana; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i2.P16

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Indonesia merupakan salah satu negara denga insiden Tuberkulosis tertinggi didunia. Diagnosis yang cepat dan tepat dapat membantu penanganan dan menuntaskan tuberkulosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberhasilan dan waktu optimal metode pemanasan (rapid boiling) dalam mengekstraksi DNA untuk identifikasi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental diagnostik yang menggunakan isolat Mycobacterium tuberculosis H37Rv dan tiga isolat klinis. Sampel dibagi menjadi kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif hasil ekstraksi DNA menggunakan kit komersial dan kelompok perlakuan yaitu pemanasan sampel dengan suhu 100±1oC berdasarkan waktu: P1n(5 menit), P2n(10 menit), P3n(15 menit) dan P4 (30 menit). Hasil isolasi DNA kemudian diamplifikasi dengan PCR pada sekuen IS6110. Rerata intensitas pita DNA meningkat seiring waktu pemanasan yang meningkat. Pemanasan dengan waktu 5 menit, 10 menit, 15 menit dan 30 menit secara berurutan memiliki rerata intensitas pita DNA yaitu 12724,35±4559,64; 14448,17 ± 5743,03; 15398,90 ± 6355,67; dan 21199,02 ± 10385,21. Berdasarkan uji statistik tidakbditemukan perbedaan yang signifikan antara rerata intensitas pita DNA hasil ekstraksi menggunakan metode pemanasan dibandingkan dengan rerata intensitas pita DNA pada kontrol positif. Metode pemanasan (rapid boiling) dengan suhu 100oC dapat digunakan untuk mengekstraksi genom DNA Mycobacterium tuberculosis sebagai template PCR untuk amplifikasi sekuen IS6110. Waktu optimal pemanasan adalah 10-30 menit. Penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dapat menjadi pengembangan penelitian selanjutnya. Kata kunci: Amplifikasi Sekuen IS6110, Ekstraksi DNA, Metode Pemanasan, Identifikasi Mycobacterium tuberculosis.
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG CEMPAKA KUNING (MICHELIA CHAMPACA L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO I Gede Agus Darsana Palgunadi; Agus Eka Darwinata; Made Agus Hendrayana; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i11.P07

Abstract

Infeksi masih merupakan masalah kesehatan berbagai negara, terutama negara berkembang seperti Indonesia. Belakangan ini banyak dilakukan penelitian untuk mengembangkan obat baru sebagai alternatif pilihan antibiotika untuk mengatasi infeksi. Perkembangan penelitian mengarah pada pengembangan bahan alam. Kulit batang cempaka kuning(Michelia champaca L.) merupakan salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan. Penelitian ini adalah studi dengan desain true experimental post test only group design. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit batang cempaka dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75% terhadap pertumbuhan S. aureus ATCC 25923 dan E. coli ATCC 8739 dengan metodi difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol kulit cempaka kuning konsentrasi 25%, 50%, dan 75% memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan rerata diameter zona hambat masing-masing yaitu 17,4 mm, 18,3 mm, dan 20 mm. Uji komparabilitas menggunakan Dunn's multiple comparisons test. Hasil uji antara kelompok kontrol positif dengan kelompok konsentrasi 25% memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05). Hasil uji antara kelompok kontrol positif dengan kelompok konsentrasi 50% dan kelompok konsentrasi 75% menunjukan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p>0,05). Sedangkan pada bakteri E. coli, ekstrak etanol kulit cempaka kuning pada berbagai konsentrasi tidak menunjukan adanya aktivitas antibakteri. Kata kunci : Uji daya hambat; ekstrak kulit batang cempaka kuning; Staphylococcus aureus; Escherichia coli
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG CEMPAKA KUNING (MICHELIA CHAMPACA L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO I Gede Agus Darsana Palgunadi; Agus Eka Darwinata; Made Agus Hendrayana; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i1.P08

Abstract

Infeksi masih merupakan masalah kesehatan berbagai negara, terutama negara berkembang seperti Indonesia. Belakangan ini banyak dilakukan penelitian untuk mengembangkan obat baru sebagai alternatif pilihan antibiotika untuk mengatasi infeksi. Perkembangan penelitian mengarah pada pengembangan bahan alam. Kulit batang cempaka kuning(Michelia champaca L.) merupakan salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan. Penelitian ini adalah studi dengan desain true experimental post test only group design. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit batang cempaka dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75% terhadap pertumbuhan S. aureus ATCC 25923 dan E. coli ATCC 8739 dengan metodi difusi cakram. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol kulit cempaka kuning konsentrasi 25%, 50%, dan 75% memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan rerata diameter zona hambat masing-masing yaitu 17,4 mm, 18,3 mm, dan 20 mm. Uji komparabilitas menggunakan Dunn's multiple comparisons test. Hasil uji antara kelompok kontrol positif dengan kelompok konsentrasi 25% memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05). Hasil uji antara kelompok kontrol positif dengan kelompok konsentrasi 50% dan kelompok konsentrasi 75% menunjukan tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p>0,05). Sedangkan pada bakteri E. coli, ekstrak etanol kulit cempaka kuning pada berbagai konsentrasi tidak menunjukan adanya aktivitas antibakteri. Kata kunci : Uji daya hambat; ekstrak kulit batang cempaka kuning; Staphylococcus aureus; Escherichia coli
EFEK AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Klebsiella pneumoniae ATCC 13883 DAN Staphylococcus aureus ATCC 25923 I Dewa Agung Gede Meisha Dhanam; Ni Nengah Dwi Fatmawati; Ni Nyoman Sri Budayanti
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i2.P18

Abstract

ABSTRAK Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan berbagai negara terutama negara berkembang seperti Indonesia. Infeksi yang diakibatkan karena lingkungan rumah sakit disebut infeksi nosokomial. Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae termasuk bakteri yang paling umum menyebabkan infeksi nosokomial. Salah satu bahan yang diduga berpengaruh terhadap pertumbuhan Klebsiella pneumoniae dan Staphylococcus aureus adalah daun pepaya (Carica papaya L.). Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan metode true experimental post test only group design. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol 96% daun pepaya dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% terhadap pertumbuhan bakteri Klebsiella pneumoniae ATCC 13883 dan bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923. Metode yang digunakan adalah metode difusi cakram dengan mengukur diameter zona hambat disekitar cakram. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 96% daun pepaya dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% memiliki aktivitas antibakteri pada bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan rata-rata diameter zona hambat masing-masing yaitu 6,5 mm pada konsentrasi ekstrak 20%, 9,25 mm untuk pada konsentasi ekstrak 40%, 12,25 mm pada konsentrasi ekstrak 60% serta 14,0 mm pada konsentasi ekstrak 80%. Kontrol positif ciprofloksasin memiliki rerata zona hambat sekitar 31,25 mm dan kontrol negatif adalah 0 mm. Uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar setiap konsentrasi (p<0,05). Ekstrak etanol 96% daun pepaya dengan berbagai konsentrasi tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri pada bakteri Klebsiella pneumoniae ATCC 13883. Kata kunci: Daun Pepaya (Carica papaya L.), ekstrak etanol 96%, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae.
POLA KEPEKAAN Methicillin-Resistant Staphylococcus aureusTERHADAP ANTIBIOTIKA DI RSUP SANGLAH PADA AGUSTUS 2013 - OKTOBER 2013 I Kadek Jaya Santika; Komang Januartha Putra Pinatih; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.022 KB)

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat menyebabkan beragam penyakit mulai dari yang ringan seperti infeksi kulit hingga penyakit yang dapat membahayakan nyawa seperti pneumonia, meningitis dan toxic shock syndrome. Kemampuan adaptasi S.aureus terhadap antibiotika menimbulkan peningkatan resistensi antibiotika oleh S. aureus. Pada masa kini, prevalensi Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) cenderung meningkat tidak hanya di lingkungan rumah sakit, yang disebut hospital-associatedMRSA (HA-MRSA),tetapi juga di komunitas, yang disebut dengan community-acquired MRSA (CA-MRSA).Uji kepekaan isolat MRSA terhadap antibiotikadibutuhkan untuk menyediakan suatu pola kepekaan yang dapat digunakan sebagai referensidalampemilihan antibiotika yang lebih rasional.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dimana sampel penelitian adalah isolat MRSAyang diidentifikasi dengan Vitek 2 (Biomérieux) di Laboratorium Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah. Dari 41 isolatS. aureusyang terisolasi pada periode Agustus hingga Oktober 2013, terdapat 6 sampel (14,6%) yang merupakan MRSA. MRSA terisolasilebih sensitifterhadap antibiotika quinupristin/dalfopristin, linezolide, vancomycin, tigecycline dan nitrofurantoin, namun resisten terhadap antibiotika penicillin, cephalosporin dan carbapenems. Penelitian seperti ini penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan di masa yang akan datang dengan sampel dan metode identifikasi MRSA yang lebih baik seperti latex agglutination test atau dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).  
Multidrug-Resistant Pseudomonas aeruginosa Pada Intensive Care Unit Di Asia Tenggara: A Systematic Review Ida Ayu Andhira Dewi Suarisavitra; Ni Nyoman Sri Budayanti; , Ni Nengah Dwi Fatmawati; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i11.P08

Abstract

The incidence of Multidrug-resistant Pseudomonas aeruginosa is increasing in various countries requires further attention to find out the right choice of antibiotics. This review will discuss more about Pseudomonas aeruginosa resistance at the Intensive Care Unit (ICU) in Southeast Asia. The research was carried out on the PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases identifying journals published from 2015 to 2020 that focus on MDRPA at the ICU in Southeast Asia. In order to obtain a relevant study, the keywords used were accompanied by eleven Southeast Asian countries. There are 7 studies that are relevant in this study. From the study, there were 5 countries that had complete data for further analysis, namely Vietnam, Indonesia, Malaysia, Philippines, and Thailand. The prevalence of VAP is 64,7%, CAUTI 20,9%, and BSI 3,8%. Antimicrobial resistance was commonly found in sulfamethoxazole-trimethoprim (95%), linezolid (73,7%), ticarcillin-clavulanate (67,8%), amoxicillin-clavulanic acid (66,7%), and ceftriaxone (52,9%). Colistin and polymyxin B have a low resitsance rate compared to other antibiotics. It is hoped that more researchers will be researching about MDRPA in Southeast Asia in the future and increase the sample size.
POLA BAKTERI PADA PASIEN KAKI DIABETIK DAN RESISTENSINYA TERHADAP ANTIBIOTIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE 1 JANUARI 2017 – 28 FEBRUARI 2018 Sonia Elvira Salim; I Dewa Made Sukrama; Ni Nengah Dwi Fatmawati; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i10.P17

Abstract

Diabetes adalah salah satu penyakit kronis di dunia. Diabetes sendiri jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi, kaki diabetik merupakan salah satu komplikasinya. Dimana pada umumnya kaki diabetik ini disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Adanya ketidaktepatan pemberian antibiotik pada pasien kaki diabetik menyebabkan terjadinya resistensi antibiotic pada beberapa bakteri. Oleh karena itu pola bakteri dan resistensinya terhadap antibiotik pada pasien kaki diabetik perlu diketahui. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola bakteri pada pasien kaki diabetik dan resistensinya terhadap antibiotik di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah pada periode 1 Januari 2017 – 28 Februari 2018. Potong lintang deskriptif digunakan pada penelitian ini. Pengumpulan data menggunakan teknik total sampling, dimana semua data uji kultur pasien kaki diabetik yang ada pada buku Registrasi Pemeriksaan Pasien Laboratorium Klinik Mikrobiologi RSUP Sanglah pada periode 1 Januari 2017 - 28 Februari 2018 digunakan pada penelitian ini. Sebanyak 118 data hasil kultur bakteri pada pasien kaki diabetik ditemukan pada buku Registrasi Pemeriksaan Pasien Laboratorium Klinik Mikrobiologi RSUP Sanglah periode 1 Januari 2017 - 28 Februari 2018, dengan 84 isolat bakteri yang berhasil tumbuh. Bakteri klebsiella pneumoniae ssp pneumonia, proteus mirabilis, acinetobacter baumannii merupakan tiga bakteri yang mendominasi. Bakteri-bakteri yang ditemukan juga resisten terhadap beberapa antibiotik. Kata kunci: Kaki Diabetik, Antibiotik, Pola Bakteri, Pola Resistensi
DETEKSI GEN CbpG PADA ISOLAT KLINIS Streptococcus pneumoniae DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR DARI JANUARI 2012 – MARET 2017 DENGAN MENGGUNAKAN POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Ni Kadek Seri Mahayanti; Ni Nyoman Sri Budayanti; Ni Nengah Dwi Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.103 KB)

Abstract

Streptococcus pneumoniae adalah bakteri kokus gram positif fakultative anaerob penyebab utama kesakitan dan kematian diseluruh dunia. Bakteri ini dapat menyebabkan Invasive Pneumococcal Disease (IPD) seperti bakterial pneumonia, meningitis dan bakterimia serta penyakit non-IPD seperti otitis media dan sinusitis. S. pneumoniae memiliki beberapa faktor virulensi yang berperan dalam menimbulkan penyakit, salah satunya adalah CbpG. CbpG adalah protein permukaan yang berperan dalam proteolitik dan perlekatan sehingga menimbulkan sepsis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keberadaan gen CbpG pada isolat klinis S. pneumoniae yang terisolasi di Instalasi Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah Denpasar dengan menggunakan tekhnik PCR. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan menggunakan 21 sampel yang diambil dari sputum (42,9%), luka (23,8%), dan darah (33,3%). Sebanyak 3 (14,3%) dari 21 isolat klinis S. pneumoniae membawa gen CbpG, menunjukan bahwa CbpG merupakan salah satu faktor virulensi yang dimilliki isolat klinis S. pneumoniae. Kata kunci: Streptococcus pneumoniae, CbpG, Proteolitik, Perlekatan, PCR
DETEKSI GEN fimH PADA ISOLAT KLINIS Klebsiella pneumoniae DI RSUP SANGLAH DENPASAR NMRP Dewi; NMA Tarini; NND Fatmawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.501 KB)

Abstract

Klebsiella pneumoniae merupakan salah satu bakteri gram negatif oportunistik penyebab Healthcare Associated Infection (HAIs) seperti infeksi saluran kemih, pneumonia dan sepsis. Kemampuan bakteri ini dalam proses adesi pada permukaan hospes merupakan langkah esensial dalam perkembangan infeksi K. pneumoniae. Salah satu faktor virulensi yang berperan penting dalam proses tersebut adalah gen fimH. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi K. pneumoniae yang memiliki gen fimH di RSUP Sanglah Denpasar yang dideteksi dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan 53 sampel yang diambil dari spesimen urin (30,19%), darah (54,72%), dan sputum (15%). Sebanyak 51 (96, 23%) dari 53 isolat klinis K. pneumoniae membawa gen fimH. Penelitian ini menunjukkan bahwa gen fimH merupakan salah satu faktor virulensi mayor pada infeksi K. pneumoniae. Kata kunci: Klebsiella pneumoniae, adhesin, fimH, PCR
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) SEBAGAI ANTI BAKTERI Streptococcus pyogenes ATCC 19615 Prisillia Brigitta; Ni Nengah Dwi Fatmawati; Ni Nyoman Sri Budayanti
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i3.P15

Abstract

ABSTRAK Infeksi ialah masalah kesehatan global dan penyebab utama kematian, terutama di Indonesia. Salah satu penyebab infeksi yang sering ditemukan di Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya adalah Streptococcus pyogenes. Untuk mengatasi penyakit infeksi dan menghindari resistensi obat-obatan kimiawi, dapat dilakukan dengan cara mengembangkan antibiotik baru dari sumber alam terutama tanaman. Daun sambiloto sering dijumpai di Indonesia dan dipakai oleh masyarakat sebagai tanaman obat untuk mengobati infeksi saluran kemih, pelega tenggorokan, dan lainnya. Pada daun sambiloto terdapat kandungan antibakteri seperti andrographolide, tanin, flavonoid, alkaloid, steroid, saponin, fenol, terpenoid, dan glikosida. Metode ekstraksi yang digunakan pada daun sambiloto adalah maserasi dengan pelarut etanol 96%, kemudian diencerkan dengan pelarut etanol 96% menjadi konsentrasi 20%, 60% dan 80%, kemudian uji aktivitas antibakteri menggunakan metode cakram difusi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara signifikan ekstrak etanol daun sambiloto dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus pyogenes ATCC 19615 (p=0.000). Hasil uji daya hambat berupa rerata diameter zona hambat yaitu 7 mm pada konsentrasi 20%, 8.8 mm pada konsentrasi 60%, dan 9.2 mm pada konsentrasi 80%. Dapat disimpulkan bahwa pada keseluruhan konsentrasi yang diujikan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus pyogenes ATCC 19615 dengan diameter zona hambat paling besar pada ekstrak daun sambiloto konsentrasi 80%. Kata kunci: Daun Sambiloto (Andrographis peniculata Nees), antibakteri, Streptococcus pyogenes
Co-Authors Adhy Candra, I Kadek Bayu Agus Eka Darwinata Andi Yasmon Anggita Ratri Pusporini Aviana, Felicia Bagus Ngurah Putu Arhana Bryan Setiawan Budiman Bela Cynthia Dewi Sinardja Dave Gerald Oenarta Dea Antariksa Dharmika, Ida Ayu Gde Wahyudevi Dhyana Ratmaja, I Gusti Agung Ngurah Dwijastuti, Ni Made Sri F. S. Wignall Fera Ibrahim Gema Zakharian GNR Suwardana I Dewa Agung Gede Meisha Dhanam I Dewa Ayu Made Dian Lestari I Dewa Made Sukrama I G. A. Ngurah Aswin Panji Sanjaya I G. R. M. TEMAJA I Gede Agus Darsana Palgunadi I Gede Gita Sastrawan I Gede Pradnya Wisnu Murthi I Gede Raka Adhyatma I Gede Sathya Agastya I Gede Wikania Wira Wiguna I Gusti Agung Dyah Ambarawati I Gusti Agung Istri Gladys Elsyaningrat I Gusti Ayu Agung Praharsini I Gusti Ayu Janadewi I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Ngurah Krishna Priyaka I Kadek Jaya Santika I Made Sathya Vijayananda I Made Sutha Saskara I Nengah Sujaya I Putu Bayu Mayura I Putu Bayu Mayura I Wayan Agus Gede Manik Saputra I Wayan Aryabiantara, I Wayan I Wayan Gustawan I Wayan Muda Suta Arta I Wayan Suranadi I. B. P. Dwija I.D.P.K. Pratiwi Ichlazul Ma’ruf Ida Ayu Andhira Dewi Suarisavitra Ida Bagus Gede Adiguna Wibawa Ida Sri Iswari Indramawan Setyojatmiko K. Subrata K. Wirasandhi Kadek Anggie Wigundwipayana Kadek Tresna Yuwana Ketut Tuti Parwati Komang Aditya Arya Prayoga KOMANG AYU NOCIANITRI Komang Januartha Putra Pinatih Luh Gede Melia Puspita Sari Made Agus Hendrayana Made Gede Dwi Lingga Utama Made Widianantara Marvin Giantoro N. K. Susilarini N.W.A. Utami Ni Kadek Seri Mahayanti Ni Luh Made Rasmawati Ni Made Adi Tarini Ni Made Mertaniasih Ni Made Susilawathi Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Wirantari Ni Wayan Eka Putri Gayatri Kastawa NMRP Dewi Prisela Zharaswati Prisillia Brigitta Putu Agung Satvika Pradnyadevi Putu Ayu Utami Prajawaty Putu Yoska Arya Harindana Rachmy Hamdiyati Raka-Sudewi A. A. Reny Rosalina Rian Ka Praja Saputra, Darmawan Jaya Saputra, I Wayan Agus Gede Manik Saraswati, I Gusti Ayu Agung Putri Indria Sonia Elvira Salim Surya Putra, I Gusti Agung Utama Wahyu Hidayati Wahyu Hidayati Wahyu Hidayati Yan Ramona