Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Review Artikel : Tinjauan Pengujian dan Peningkatan Stabilitas Sediaan Nanoemulsi dari Berbagai Bahan Alam Ibrahim, Raihan; Fahri Fahlufi, Chikal; Ambar Cahyana, Haikal; Sabran Buana, , Bayu; Muizzul Aziz, Aris; Saputro, M. Ramadhan; Pratama, Reza
Majalah Farmasetika Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i1.67962

Abstract

Uji stabilitas merupakan tahapan penting dalam pengembangan sediaan farmasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan efektivitas produk selama masa simpan. Nanoemulsi menjadi salah satu bentuk sediaan cair yang banyak dikembangkan karena mampu meningkatkan kelarutan, bioavailabilitas, serta kestabilan zat aktif yang bersifat lipofilik. Kajian ini bertujuan untuk meninjau berbagai penelitian terkait pengujian dan peningkatan stabilitas sediaan nanoemulsi berbasis bahan alam dengan menyoroti pengaruh bahan aktif, jenis surfaktan dan kosurfaktan, serta kondisi penyimpanan terhadap kestabilan sistem. Metode yang digunakan adalah telaah pustaka dari berbagai penelitian terbitan sepuluh tahun terakhir yang membahas formulasi dan uji stabilitas nanoemulsi bahan alam. Data yang dianalisis mencakup parameter fisik seperti ukuran droplet, indeks polidispersitas, viskositas, pH, dan kejernihan, serta metode pengujian stabilitas seperti freeze thaw, centrifugation, dan heating cooling test. menunjukkan bahwa kombinasi surfaktan nonionik Tween 80 dengan kosurfaktan PEG 400 atau gliserin merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan kestabilan fisik dan kimia nanoemulsi berbasis bahan alam. Sistem nanoemulsi yang dibuat menggunakan metode berenergi tinggi, khususnya ultrasonikasi, menghasilkan ukuran droplet dengan indeks polidispersitas rendah kurang dari 0,5, sehingga mampu menekan terjadinya koalesensi dan flokulasi selama penyimpanan. Selain itu, penyimpanan pada suhu ruang dan penggunaan bahan aktif yang mengandung senyawa antioksidan tinggi terbukti memperlambat oksidasi lipid dan mempertahankan kestabilan nanoemulsi dalam jangka panjang.
Edukasi Penyakit Disminore, DAGUSIBU, dan Pelatihan Pembuatan Produk Minuman untuk Penanganan Disminore Saputro, M. Ramadhan; Pratama, Reza; Selifiana, Nita; Fajarwati, Kania; Nurfazri, Aulia; Andriansyah, Ivan
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v7i1.1162

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMK Bhakti Kencana Cileunyi, Kabupaten Bandung, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai edukasi penyakit dismenore dan pengelolaan obat melalui program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang obat dengan benar). Selain itu, kegiatan ini juga memberikan pelatihan pembuatan minuman herbal berbahan jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) dan kayu manis (Cinnamomum burmannii) sebagai alternatif penanganan nyeri haid secara alami. Metode kegiatan dilakukan dalam dua tahap, yaitu penyuluhan interaktif menggunakan media presentasi dan diskusi kelompok, serta pelatihan praktik pembuatan produk minuman herbal yang meliputi proses pembuatan simplisia, penimbangan, pengemasan, dan penyeduhan. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 86 menjadi 99,67, menandakan bahwa kegiatan edukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta. Peserta juga mampu mempraktikkan pembuatan produk secara lebih efektif, efisien, dan berkualitas. Kegiatan ini berkontribusi terhadap peningkatan literasi kesehatan masyarakat serta pemanfaatan tanaman herbal sebagai solusi alami yang aman dan mudah diterapkan.
Formulasi dan Evaluasi Sediaan Gel Dari Fermentasi Kombucha Dan Sari Buah Nanas (Ananas Comosus L.) M. Ramadhan Saputro; Soni Muhsinin; Muhamad Reza Pahlevi; Rika Sri Mustopa
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1014

Abstract

Indonesia beriklim tropis dengan paparan sinar ultraviolet (UV) tinggi yang dapat memicu pembentukan radikal bebas dan menyebabkan kerusakan kulit serta penuaan dini. Oleh karena itu, diperlukan antioksidan untuk menetralisir efek tersebut. Kombucha sebagai hasil fermentasi teh mengandung polifenol dan probiotik yang berpotensi sebagai antioksidan, sedangkan sari buah nanas kaya akan vitamin C dan enzim bromelin yang juga berperan sebagai antioksidan serta pelembap kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan kombinasi fermentasi kombucha dan sari nanas serta memformulasikannya dalam bentuk gel pelembap. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan evaluasi sifat fisik gel meliputi pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi 15% kombucha dan 75% sari nanas memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 39,374 µg/mL. Formula gel terbaik diperoleh pada basis F1 dengan pH 5,32, viskositas 4356 cPs, daya sebar 6,36 cm, daya lekat 5,63 detik, serta nilai IC50 60,120 µg/mL. Kesimpulannya, gel pelembap berbahan alami ini efektif sebagai antioksidan dan berpotensi melindungi kulit dari kerusakan.
Review Artikel: Perkembangan Evaluasi Stabilitas Sediaan Sirup Berbagai Formula Dengan Bahan Aktif Yang Berbeda Rieztya Aliza; Intan Meilani; Vina Amaliasari; Sarah Agnia; Dhine Naurya Ainni; M.Ramadhan Saputro; Reza Pratama
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1899

Abstract

Stabilitas sediaan sirup adalah faktor penentu mutu karena mempengaruhi keamanan, efektivitas, dan penerimaan pasien. Sirup merupakan larutan oral bergula yang mengandung zat aktif, pelarut, pemanis, penstabil, pengawet, dan pengental, sehingga rentan mengalami perubahan fisikokimia selama penyimpanan. Untuk menjaganya, berbagai pendekatan formulasi dan metode evaluasi terus dikembangkan. Pendekatan berbasis Quality by Design kian diadopsi karena mampu memetakan Critical Quality Attributes, memperluas parameter uji, dan menstandarkan kondisi pengujian agar hasil dapat dibandingkan lintas studi. Kajian ini disusun menggunakan metode narrative review dengan analisis deskriptif terhadap literatur yang relevan. Artikel ilmiah periode 2014–2024 dikumpulkan dari jurnal nasional terakreditasi dan platform seperti Connected Papers, Elsevier, PubMed, serta Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam penelusuran literatur meliputi: “stabilitas sediaan sirup”, “stabilitas fisik sirup”, “pengaruh pH terhadap stabilitas sirup”, “formulasi sirup parasetamol”, “sirup dengan bahan aktif alami”, dan “evaluasi mutu sediaan sirup”. Hasil menunjukkan pergeseran dari uji dasar seperti organoleptik, pH, dan homogenitas menuju panel yang lebih spesifik, yaitu viskositas, bobot jenis, kejernihan, waktu tuang, volume yang terpindahkan, serta uji hedonik untuk menangkap penerimaan pengguna. Panel ini membuat pemantauan produk lebih rinci, konsisten, dan relevan dengan praktik industri. Pengembangan terbaru menonjolkan penggunaan kosolven non sukrosa seperti sorbitol, propilen glikol, dan gliserol; sejumlah studi juga mengintegrasikan uji aktivitas biologis pada sirup herbal dan menyesuaikan kondisi penyimpanan uji agar lebih representatif. Kesimpulannya, uji stabilitas sirup terus berevolusi dan kian spesifik, sehingga evaluasi kini lebih menyeluruh untuk menjamin mutu, keamanan, dan kenyamanan penggunaan.
Tinjauan Literatur: Peran Penyalutan Dalam Meningkatkan Stabilitas Dan Kualitas Obat Pada Sediaan Tablet Fathurahman Ari Senjaya; Novela Janah Nurfitri; Ferdyan Surya Amir; Siti Nuraini; Santika Purnamasari; M. Ramadhan Saputro; Reza Pratama
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1900

Abstract

Proses penyalutan tablet merupakan tahap penting dalam pengembangan sediaan padat karena berperan langsung terhadap stabilitas, mutu fisik, dan efektivitas obat. Penyalutan tidak hanya berfungsi sebagai pelindung zat aktif dari pengaruh lingkungan seperti kelembaban, panas, dan cahaya, tetapi juga berperan dalam pengendalian pelepasan obat dan peningkatan kenyamanan penggunaan. Artikel ini merupakan tinjauan sistematis terhadap 17 publikasi ilmiah periode 2015-2025 yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan Sci-Hub. Kata kunci pencarian meliputi “tablet salut film”, “stabilitas fisik tablet”, “penyalutan enterik”, “film coating optimization”, dan “Quality by Design tablet coating”. Hasil telah menunjukkan bahwa parameter utama penilaian mutu tablet meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, dan profil disolusi. Secara umum, penyalutan terbukti meningkatkan kekerasan tablet, menurunkan kerapuhan, menjaga keseragaman ukuran dan bobot, serta mempertahankan stabilitas kimia zat aktif. Polimer pelapis seperti OPADRY, Kollicoat, Eudragit, dan HPMCP terbukti efektif dalam meningkatkan ketahanan terhadap kondisi asam dan memperpanjang masa simpan obat. Pendekatan berbasis Quality by Design juga semakin diadopsi untuk memetakan atribut mutu kritis dan parameter proses penting guna menghasilkan sediaan yang konsisten dan terstandar. Kesimpulannya, penyalutan tablet merupakan strategi formulasi yang krusial untuk menjamin stabilitas, keamanan, dan performa terapeutik obat melalui peningkatan kualitas fisik dan pengendalian pelepasan zat aktif.
REVIEW ARTIKEL: PERBANDINGAN JENIS PEMANIS DALAM FORMULASI SIRUP HERBAL TERHADAP STABILITAS FISIK DAN RASA Aditya Wardana; Brina Amelrizki; Nabilla Ismi Nur Affifah; Afifah Dibba Maulani; Angely Patricia Sanda; M. Ramadhan Saputro; Reza Pratama
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 26 No 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v26i1.1903

Abstract

Formulasi sirup herbal memerlukan pemanis yang tepat untuk menjaga stabilitas fisik dan mutu organoleptik, tetapi ringkasan komparatif lintas-pemanis masih terbatas; studi ini merangkum pengaruh jenis dan kombinasi pemanis terhadap stabilitas serta penerimaan konsumen melalui sintesis naratif terarah atas penelitian formulasi sirup herbal dengan parameter pH, viskositas, bobot jenis, kejernihan, homogenitas, dan penilaian sensorik. Hasil menunjukkan sukrosa menjaga pH relatif stabil sekaligus meningkatkan viskositas dan penerimaan panelis; madu menambah kekentalan dan menurunkan pH (lebih asam) seraya menutup rasa getir; sorbitol menjaga kejernihan dan menekan kristalisasi; stevia mempertahankan pH dan viskositas rendah namun pada sistem ber-antosianin warna lebih sensitif terhadap keasaman; sukralosa cenderung netral terhadap pH dan viskositas pada suhu ruang; fruktosa memberi manis ringan dengan sebagian laporan menunjukkan penurunan stabilitas warna pada penyimpanan lebih lama. Kombinasi sukrosa–sorbitol mengurangi kristalisasi serta meningkatkan kejernihan dan homogenitas (stabil ≥4 minggu), sedangkan madu–sorbitol menjaga viskositas dengan kejernihan lebih baik dibanding madu tunggal. Temuan ini menegaskan adanya trade-off: pemanis “berbody” (sukrosa, madu) menguatkan tekstur dan palatabilitas, sementara pemanis alternatif (sorbitol, stevia, sukralosa) unggul dalam kejernihan dan kestabilan warna. Kesimpulannya, pemilihan pemanis sebaiknya disesuaikan dengan target mutu: sukrosa/madu untuk body dan penerimaan, sorbitol untuk kejernihan dan pencegahan kristalisasi, serta stevia/sukralosa untuk formulasi rendah kalori/viskositas; kombinasi sukrosa–sorbitol atau madu–sorbitol tampak paling menjanjikan untuk kestabilan fisik dan sensorik.
Formulasi dan evaluasi sediaan gel dari ekstrak daun Seledri (Apium graveolens L) dengan variasi konsentrasi Na-CMC M. Ramadhan Saputro; Rahmat Santoso; Susi Cahyani
Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan) Vol. 10 No. 1 (2026): Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehatan)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51873/jhhs.v10i1.411

Abstract

Latar Belakang: Sediaan gel merupakan sediaan yang tidak berminyak, mudah menyerap, dan memberikan kenyamanan dalam penggunaan. Daun seledri (Apium graveolens L.) berpotensi dikembangkan dalam sediaan gel karena memiliki flavonoid dan fenolik yang berkhasiat sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri, sehingga. Tujuan: Memformulasikan dan mengevaluasi sediaan gel ekstrak daun seledri pada konsentrasi Na-CMC yang berbeda. Metode: Metode eksperimen dilakukan dengan memformulasikan gel dalam tiga variasi konsentrasi Na-CMC, yaitu 4% (F1), 5% (F2), dan 6% (F3). Evaluasi sediaan yang dilakukan meliputi uji organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Hasil: Seluruh formula memiliki bentuk kental, warna hijau muda, dan bau khas daun seledri. Nilai pH berada pada rentang 4,76–4,83. Perbedaan yang ditunjukan dari ketiga formula adalah viskositas, daya sebar, dan dan daya lekat. Semakin besar konsentrasi, viskositas sediaan meningkat, daya sebar sediaan menurun dan daya lekat sediaan meningkat. Simpulan: Berdasarkan hasil evaluasi, ketiga formula memenuhi persyaratan sediaan gel topikal. Namun demikian, formula 2 dengan konsentrasi Na-CMC 5% menunjukkan karakteristik viskositas, daya sebar, dan daya lekat yang paling optimal dari formula lainnya.
Formulasi Sediaan Deodoran Semprot dan Uji Aktivitas Antimikroba Dari Fermentasi Kombucha Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium Walp.) Rahma Ziska; M Ramadhan Saputro; Khilal Farza
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 13 No 2 (2026): August 2026
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v13i2.460

Abstract

Antimicrobial deodorants offer a viable solution for managing body odor. The red shoot plant (Syzygium myrtifolium Walp.) contains bioactive compounds with promising antimicrobial properties, providing a natural alternative that circumvents the long-term health risks associated with synthetic agents. Furthermore, kombucha fermentation can break down these complex phytochemicals into simpler molecules while triggering the synthesis of novel organic acids, thereby enhancing both the bioactivity and dermal penetration of the plant's active constituents. This study aimed to develop a spray deodorant formulation utilizing red shoot extracts fermented with a kombucha culture for 12 days. The antimicrobial efficacy of the formulation was evaluated against Escherichia coli, Staphylococcus aureus, and Candida albicans via UV-Vis spectrophotometry at 600 nm for bacteria and 580 nm for fungi. The results indicated that the fermented extract exhibited moderate inhibitory activity, yielding inhibition rates of 42.36% against E. coli, 38.51% against S. aureus, and 35.66% against C. albicans. The spray deodorants were formulated with varying concentrations of propylene glycol (5, 10, and 15%) as an excipient. Physical and safety evaluations encompassed organoleptic properties, pH, viscosity, skin irritation, drying time, and spray patterns. Among the preparations, Formula 3 (F3) demonstrated the most optimal antimicrobial performance, maintained favorable physical stability, and induced no skin irritation. Consequently, this formulation holds significant potential for further development, specifically by optimizing the active ingredient concentration to maximize its antimicrobial efficacy.
Desain, Formulasi dan Karakterisasi Tablet Kristal Multikomponen Sertralin sebagai Antidepresan Muhamad Reza Pahlevi; M. Ramadhan Saputro; Zahra Maharani Fatoni; Agus Sulaeman
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 18 No 2 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v18i2.912

Abstract

Sertraline (BCS class II) has low solubility and dissolution rate. Modifying sertraline through multicomponent crystal formation is a strategy to enhance its physicochemical properties, particularly solubility and dissolution. This study aimed to design, formulate, and characterize sertraline tablets based on multicomponent crystals using L-tryptophan (S–L), saccharin (S–S), and nicotinic acid (S–N) as coformers. The crystals were synthesized by solvent evaporation and characterized using FTIR, DSC, PXRD, SEM, and solubility and dissolution studies, followed by evaluation of tablet properties using direct compression. The multicomponent crystals exhibited FTIR band shifts or broadening of –OH/–NH and C=O groups and new PXRD peaks, indicating the formation of multicomponent crystals. DSC showed distinct thermal transitions: S–L at 258 °C, S–S at 280.8 °C, and S–N at 242 °C. The highest solubility enhancement was observed for S–N (44.29 mg/10 mL, followed by S–L (15.44 mg/10 mL). In 0.1 N HCl medium, 60-minute dissolution reached >88% for S–N, 73% for S–L, 53% for S–S, and 52% for pure sertraline. The best tablet formulation (F6) demonstrated good flow and compressibility (compressibility index 23.55%, angle of repose 28.85°, flow rate 6.53 g/s) and met pharmacopeial criteria: uniform dimensions (8 mm diameter, 5.23 mm thickness), weight (284.22 mg), (friability (0.37%), hardness (6.66 kg/cm2), disintegration (5.47 seconds), and dissolution at pH 4.5 ≥85% in 30 minutes. Multicomponent crystals of sertraline-nicotinic acid are able to increase solubility up to 8.8 fold and can be produced by direct compression method and produce good evaluation of tablet preparations (uniformity of weight, friability, hardness, disintegration time test, and dissolution test) in immediate release tablet formulation.