Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Publik Sistem Demokrasi Indonesia dan Politik Dinasti di Yogyakarta Tabia Hanural; Fadmi Fahrani; Hamdan Ainur Riza Syakirin; Rafly Maulana Daulah; Amrizal Novianto; Aditya Yuda Pamungkas; Muhammad Ridha Iswardhana
Eastasouth Journal of Effective Community Services Vol 5 No 01 (2026): Eastasouth Journal of Effective Community Services (EJECS)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/ejecs.v5i01.674

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat literasi demokrasi masyarakat melalui edukasi publik mengenai pelaksanaan demokrasi dan politik dinasti di Indonesia. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026 di Kampus 1 Universitas Teknologi Yogyakarta dan Lapangan Denggung, Sleman, dengan melibatkan enam peserta, terdiri atas tiga mahasiswa dan tiga masyarakat umum. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif-partisipatif melalui penyusunan pertanyaan, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, serta refleksi hasil. Temuan menunjukkan bahwa mayoritas peserta memahami prinsip dasar demokrasi, terutama kebebasan berpendapat, partisipasi pemilu, penegakan hukum, dan transparansi pemerintahan. Peserta juga menyampaikan pandangan kritis terhadap politik dinasti karena berpotensi mempersempit kompetisi dan meningkatkan nepotisme, meskipun sebagian menilai hubungan keluarga tidak selalu bermasalah apabila kandidat memiliki kompetensi dan integritas. Kegiatan membuka ruang dialog politik yang aman, meningkatkan keterampilan komunikasi mahasiswa, dan menegaskan pentingnya pendidikan kewarganegaraan yang mendorong partisipasi kritis. Evaluasi merekomendasikan perluasan peserta, instrumen pre-post, dan forum dialog berkelanjutan.
Kampanye Publik Menghormati Tradisi dan Merawat Keberagaman di Kawasan Malioboro Rossy Cahya Putra Permana; Yesi Kristiani; Fadly Achmad Saputra; Daffa Subchan Setya Adjie; Muhammad Ridha Iswardhana
 Jurnal Abdi Masyarakat Multidisiplin Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus: JURNAL ABDI MASYARAKAT MULTIDISIPLIN
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jammu.v5i2.3083

Abstract

Ketegangan antara tradisi lokal dan perbedaan pandangan keagamaan dapat melemahkan dialog sosial serta mendorong intoleransi apabila disikapi melalui penolakan atau penilaian sepihak. Edukasi publik mengenai penghormatan terhadap budaya dan keberagaman diperlukan, tetapi kampanye komunitas berdurasi singkat sering kali belum menyajikan bukti yang jelas mengenai keterlibatan peserta dan kendala pelaksanaannya. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan, keterlibatan awal audiens, dan kendala kampanye publik mengenai penghormatan terhadap tradisi lokal, keberagaman, toleransi budaya dan agama, serta nilai Pancasila di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Metode: Kegiatan menggunakan pendekatan pengabdian kepada masyarakat berbasis kampanye edukatif dan service learning yang dilaksanakan pada 17 Mei 2026. Pendekatan sukarela berbasis kemudahan melibatkan 30 peserta langsung, yaitu 16 peserta MTs Negeri 2 Temanggung dan 14 peserta Pondok Pesantren Yadu’ulya Al-Fata Lampung. Intervensi dilakukan melalui dua poster edukatif, penjelasan singkat, dialog langsung, dokumentasi, dan refleksi tim. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, catatan lapangan, tanggapan peserta, foto, dan video, kemudian dianalisis secara deskriptif. Temuan: Kampanye terlaksana sesuai rencana dan mendokumentasikan keterlibatan 30 peserta. Audiens memperhatikan poster, mendengarkan penjelasan, memberikan tanggapan, serta mengikuti dialog singkat mengenai toleransi, tradisi lokal, dan keberagaman. Media visual mendukung penyampaian pesan di tengah kondisi ruang publik yang ramai dan bising, tetapi mobilitas pengunjung, kebisingan, cuaca panas, dan keterbatasan waktu membatasi kedalaman dialog. Bukti yang diperoleh menunjukkan capaian proses dan penerimaan awal pesan, bukan perubahan sikap jangka panjang yang terukur. Implikasi: Kampanye publik dapat menjadi pintu masuk pendidikan kewargaan dan promosi toleransi bagi sekolah, komunitas budaya, tokoh agama, serta pengelola ruang publik melalui evaluasi tindak lanjut yang lebih terstruktur. Orisinalitas: Kegiatan ini mengontekstualisasikan pendidikan toleransi berbasis Pancasila melalui isu Sedekah Laut dan menyampaikannya melalui kampanye visual-dialogis di ruang publik Malioboro yang heterogen.
Geopolitical scenarios of Moldova-Romania integration: Between reunification, Europeanization, and strategic convergence Muhammad Ridha Iswardhana
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 8 (2026): August 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i8.2201

Abstract

This research assesses the potential for deeper integration between the Republic of Moldova and Romania by distinguishing political reunification from the wider processes of functional integration, Europeanization, and geopolitical realignment. It employs a qualitative explanatory case study and document analysis of academic literature, policy documents, institutional records, and the evidence assembled in the original research paper. The analysis uses three geopolitical lenses: classical-material geopolitics, critical geopolitics, and geoeconomics. The findings show that historical, linguistic, citizenship, social, infrastructural, and economic linkages create substantial integration capacity, yet these linkages do not automatically generate a democratic mandate for state unification. Moldova's EU accession process provides the most institutionally credible pathway for convergence because it reduces regulatory, economic, and administrative distance without requiring immediate territorial absorption. At the same time, Transnistria, Gagauzia, Russian influence, Moldova's constitutional neutrality, differences in political identity, and the fiscal costs of institutional convergence remain major constraints. Romania's position inside the EU and NATO strengthens its role as Moldova's principal Western gateway, especially in energy security, infrastructure, and policy transfer. The research concludes that gradual functional and EU-mediated integration is more feasible than rapid legal reunification, while formal union remains contingent on democratic consent, territorial settlement, minority guarantees, security stabilization, and sustained institutional convergence.
The Development of Indonesia's Fintech and Comparation with India in Terms of Complex Interdependence Theory and Digital Economy Muhammad Ridha Iswardhana
Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : SAINTIS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ejeset.v5i1.332

Abstract

Economic issues has become one of the world's major problems, along with the economic crisis and distrust of banks. Not only in developed countries, but also in various developing countries of the world, such as Indonesia and India. Both countries are equally as developing countries with high numbers of people and informal workers, that have great opportunities in the digital economy. The research found that although India is the tech hub of Asia, while Indonesia can combine technology with the local economy through fintech programs. The existence of Fintech Indonesia is as much about increasing the use of technology as it is about bridging the challenges of the micro-economy. Reflected both in the Indonesian and Indian economies that seek not only to rely on commodities and natural resources but tried to move on to technology and the digital-based economy. At the same time also appears Fintech phenomenon is growing rapidly. The author will use qualitative descriptive methodology and the concept of digital economy also the complex interdependence theory. This research has aims to answer about opportunities and development of fintech in Indonesia compared to India. This study was chosen because of the need for the digital economy and the bigger hope of Fintech in the Indonesian economy, referring that happening in India.