Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Identifikasi Bahaya dan Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Industri Tahu APU Taufikah Mahmudah; Wartini Wartini; Nur Ani; Nine Elissa Maharani
KOLONI Vol. 5 No. 3 (2026): SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i3.1101

Abstract

This study was motivated by the high potential hazards and low implementation of risk control measures in small and medium-sized tofu industries, which frequently lead to occupational accidents. The purpose of this study was to identify hazards, assess risk levels, and determine appropriate risk control measures at the APU Tofu Factory MSME. This research employed a quantitative descriptive method with a case study approach. Data were collected through direct observation, interviews, and document reviews across nine stages of the tofu production process. Data analysis was conducted using the Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) method. Data validity was ensured through method triangulation. The results identified 53 potential hazards consisting of physical, ergonomic, mechanical, biological, and chemical hazards. Physical hazards were the most dominant type (52.8%), particularly slippery floors, heat exposure, and boiling steam exposure. Risk assessment showed that 36 risks (67.9%) were categorized as medium risk, 11 risks (20.8%) as high risk, and 6 risks (11.3%) as low risk. The dominant risks included slips and falls, musculoskeletal disorders, burns, and occupational heat stress. This study recommends risk control measures through engineering controls (drainage system repair), administrative controls (work rotation and occupational safety training), and the use of appropriate standard personal protective equipment (PPE). These findings are expected to serve as a basis for developing occupational safety and health systems in the tofu industry MSME sector.
Relationship between Exposure Contact History, Personal Hygiene, and Neighbor's Contact History with Leprosy Wulan Ramadhany; Dewi Puspito Sari; Nur Ani; Nine Elissa Maharani
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 4 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i4.1993

Abstract

Latar belakang: Kusta adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan berpotensi mengakibatkan kerusakan permanen pada bagian tubuh tertentu. Selama lima tahun terakhir (2020–2025), terjadi kecenderungan kasus secara fluktuatif dengan jumlah berturut-turut kejadian kusta 12,12, 21,18,22, dan 24 kasus di Sukoharjo, target nasional untuk pemberantasan kusta adalah kurang dari satu kasus per 10.000 orang . Penemuan Kasus Baru Kusta (NCDR/New Case Detection Rate ), persentase kasus baru di Kabupaten Sukoharjo sebesar 2,61 % pada tahun 2025. Penyebab kasus kusta di Kabupaten Sukoharjo  Penemuan kasus baru kusta diduga berasal dari riwayat kontak paparan, faktor personal hygeine, dan riwayat dengan kontak tetangga sebagai penyebab ditemukannya kasus kusta di Kabupaten Sukoharjo. Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan riwayat kontak paparan, personal hygiene, dan riwayat kontak dengan tetangga terhadap kusta di Kabupaten Sukoharjo. Metode penelitian: studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi kasus -kontrol. Penelitian dilakukan pada bulan Desember hingga Maret 2026 di beberapa lokasi di Kabupaten Sukoharjo , antara lain Bendosari, Bulu, Baki, Weru, Tawangsari , Sukoharjo, Polokarto , Nguter, Grogol, Gatak, dan Mojolaban. Sampel terdiri dari 24 responden kasus dan 24 responden kontrol . Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengambilan sampel dengan rasio 1: 1. Analasis data bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan hubungan kontak paparan (p-value 0.003, OR= 7.000), personal Hygiene (p-value 0.020 OR= 4.048), sedangkan yang tidak terdapat hubungan yaitu kontak tetangga (p-value 0.247 OR= 1.970). Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan skrining dari petugas kesehatan melalui kontak paparan dan edukasi kepada masyarakat tentang kusta dan cara pencegahannya.
The Relationship Between Work-Related Stress and the Performance of Emergency Department Nurses at Hospital X Anisa Nur Aini; Nur Ani; Wartini Wartini; Dewi Puspito Sari
Jurnal Kesehatan Vol 19, No 1 (2026): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v19i1.11042

Abstract

Pendahuluan: Profesi keperawatan merupakan salah satu profesi dengan tingkatan stres yang secara nilai tinggi, terutama pada perawat yang melaksanakan kerja di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Keseringan menghadapi kondisi kritis membutuhkan respon cepat serta ketelitian dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan survei pendahuluan diketahui pekerja perawat mengalami stress tinggi (20%) dan stress sedang (60%) yang mengindikasikan adanya kejadian stres pada pekerja perawat IGD di RS X. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara stres kerja terhadap kinerja perawat yang adanya di IGD Rumah Sakit X. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Variabel berkategori independen adalah stres kerja serta variabel berkategori dependen yakni kinerja.  Populasi seluruh perawat IGD sejumlah 31 orang. Teknik pengambilan sampling mempergunakan total sampling, sehingga responden sama dengan jumlah populasi yakni sejumlah 31 responden. Teknik Pengumpulan atau penghimpunan data dilakukan mempergunakan kuesioner. Instrumen yang dipergunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk melakukan pengukuran tingkat stres kerja serta Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) untuk mengukur kinerja perawat. Analisis data dilaksanakan dengan cara univariat serta bivariat mempergunakan  uji Spearman's rank. Hasil: Distribusi frekuensi dari veriabel stress kerja menunjukkan stres berat 20 orang (64,5%) dan kinerja kerja rendah 18 orang (58,1%). Simpulan: memberi petunjuk adanya hubungan yang signifikan antara stres kerja dan kinerja perawat dengan nilai p = 0,017         (p ≤ 0,05) yang mana semakin tinggi tingkat stres kerja yang dialami oleh perawat, maka kinerja mereka cenderung menurun.   Introduction: The nursing profession is one of the professions with high levels of stress, especially among nurses working in the Emergency Room (ER). Frequently facing critical situations requires a quick response and accurate decision-making. Based on a preliminary survey, it is known that nurses experience high stress (20%) and moderate stress (60%), indicating the prevalence of stress among ER nurses at Hospital X. This study aimed to determine the relationship between job stress and nurse performance in the Emergency Room of Hospital X. Method: This is a quantitative study using a cross-sectional approach. The independent variable is job stress, and the dependent variable is performance. The population of all emergency room nurses was 31 individuals. Total sampling was used, resulting in 31 respondents. Data collection was conducted using a questionnaire. The Perceived Stress Scale (PSS) questionnaire was used to measure job stress levels, and the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) was used to measure nurse performance. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods, specifically the Spearman’s rank test. Results: The frequency distribution of the job stress variable showed severe stress (total score above 26) in 20 individuals (64.5%) and low work performance (total score below 6.53) in 18 individuals (58.1%). Results of the bivariate analysis showed a p-value of 0.017 (p ≤ 0.05) and a correlation coefficient of -0.424. Conclusion: There is a significant relationship between work stress and nurse performance, such that the higher the level of work stress experienced by nurses, the more their performance tends to decline.
Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Burnout Pada Perawat Dan Bidan Di Puskesmas Baki Kabupaten Sukoharjo Berliana Dewi Angraeni; Bibit Irawan; Nur Ani; Prita Devy Igiany
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1083

Abstract

Perawat dan bidan sebagai tenaga kesehatan garda terdepan di Puskesmasrentan mengalami stres kerja yang apabila tidak dikelola dengan baik dapatberkembang menjadi burnout. World Health Organization (WHO) melalui InternationalClassification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11) mengakui burnout sebagai fenomena yangberkaitan dengan pekerjaan akibat stres kronis di tempat kerja yang tidakberhasil dikelola. Berdasarkan studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 5dari 51 tenaga kesehatan (9,8%) di Puskesmas Baki Kabupaten Sukoharjo yangterdiri atas 3 perawat dan 2 bidan, seluruh responden menyampaikan keluhanmengenai banyaknya pasien dan tingginya tuntutan pekerjaan yang berpotensimenimbulkan stres kerja dan burnout. Penelitian ini bertujuan menganalisishubungan stres kerja dengan kejadian burnout pada perawat dan bidan diPuskesmas Baki Kabupaten Sukoharjo. Penelitian menggunakan desainkuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 51 respondenmelalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan Health and SafetyExecutive Work-Related Stress Scale (HSE-WRSS) dan Maslach Burnout Inventory (MBI),kemudian dianalisis menggunakan uji Rank Spearman dengan α = 0,05. Hasilmenunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres kerja kategorisedang (80,4%) dan burnout kategori tinggi (43,1%). Uji Rank Spearman menunjukkanhubungan positif dan signifikan antara stres kerja dengan burnout (r = 0,454; p =0,001) dengan kekuatan hubungan sedang. Keterbatasan penelitian adalah hanyadilakukan pada satu Puskesmas dengan jumlah responden terbatas danmenggunakan desain cross-sectional. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkanfasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lainyang berkaitan dengan burnout.