Claim Missing Document
Check
Articles

Komposisi Echinodermata Di Rataan Litoral Terumbu Karang Pantai Krakal, Gunung Kidul,Yogyakarta Ken Suwartimah; Dwi Saniscara Wati; Hadi Endrawati; Retno Hartati
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.512 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15743

Abstract

Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam hal keanekaragaman fauna di daerah terumbu karang. Hal ini karena terumbu karang berperan sebagai tempat berlindung dan mencari makan bagi fauna Echinodermata. Salah satu penyebaran biota ini adalah di perairan rataan terumbu karang Pantai Selatan di Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui species dan kelimpahan Echinodermata di Pantai Krakal, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode transek kuadrat dengan ukuran 1m2. Hasil pengamatan ditemukan beberapa species dari 3 kelas dari filum Echinodermata, antara lain 3 species dari kelas Echinoidea, 3 species dari kelas Ophiuroidea, dan 1 species dari kelas Asteroidea. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan individu tertinggi penelitian adalah Ophiocoma scolopendrina (4.01 ind. /m2) dan terendah adalah Archaster typirus ( 1 ind. /m2). Echinodermata is a important ecosystem component in terms of the diversity of fauna in the coral reefs. This is because the coral reefs act as a refuge and feeding ground for the fauna of the Echinoderms. One of echinoderm habitat is reef flat waters of Krakal Beach, Gunung Kidul, Jogjakarta. The purpose of this research is identify and determine the abundance of Echinoderms. Purpossive sampling method was applied. The samples were taken using 1m2 transect squares. There were 3 classes of Echinodermata found, i.e. 3 species of Echinoidea, 3 species of Ophiuroidea, and 1 species of Asteroidea. The result showed that the highest was Ophiocoma scolopendrina (4,01 ind./m2 and the lowest was Archaster typirus (1 ind./m2)
Komposisi dan Kelimpahan Ichtyofauna di Perairan Morosari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak Hadi Endrawati; Irwani Irwani
Buletin Oseanografi Marina Vol 1, No 5 (2012): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.026 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v1i5.6914

Abstract

Keberadaan ichtyofauna terkait erat dengan fungsi ekologis wilayah Perairan Morosari, Kec. Sayung, Kab. Demak. Dampak dari rob / pasang tinggi (kenaikan muka air laut akibat pasang tinggi) adalah tergenangnya sebagian wilayah pertambakan menjadi perairan dangkal. Penelitian ini bertujuan tujuan melakukan inventarisasi berbagai jenis ikan serta kelimpahannya. Materi yang digunakan adalah ichtyofauna yang diambil di perairan pantai Perairan Morosari, Kec. Sayung, Kab. Demak. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel secara langsung pada enam stasiun, dari Maret sampai dengan Oktober 2011. Sampling dilakukan bulanan, dengan mengambil waktu pasang tertinggi. Sampling biota ichtyofauna dilakukan dengan menggunakan Trap Net (Bubu) dan Lift Net. Hasil penelitian mendapatkan 15 Famili dengan 19 species ichtyofauna. Kelimpahan Total ichtyofauna berkisar diantara 607 – 1221 ekor. Jenis – jenis dan kelimpahan ichtyofauna tersebut terkait dengan siklus hidup dan strategi untuk kelangsungan hidup.   Kata kunci : Ichtyofauna, Jenis, Kelimpahan, Demak
Struktur Komunitas Zooplankton Di Perairan Desa Mangunharjo Kecamatan Tugu Semarang Widya Paramudhita; Hadi Endrawati; Ria Azizah
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 2 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.312 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i2.20548

Abstract

Perairan Desa Mangunharjo merupakan perairan yang mengalami perubahan kondisi lingkungan akibat abrasi yang berdampak pada kerusakan ekosistem mangrove dan tambak. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap keberadaan biota perairan salah satunya adalah zooplankton. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur komunitas zooplankton di perairan Desa Mangunharjo. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Maret–April 2017 di perairan Desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif. Analisis data yang digunakan untuk mendeskripsikan komunitas zooplankton meliputi: kompisisi dan kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan secara keseluruhan sebanyak 23 genera yang terbagi atas 5 fila. Kelimpahan tertinggi sebesar 126.76 ind/L dan terendah 28.17 ind/L. Arthropoda merupakan filum yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini. Indeks keanekaragaman yang diperoleh berkisar antara 0.72 – 2.49 dan dikatagorikan keanekargaman rendah dan sedang. Untuk indeks keseragaman yang diperoleh berkisar antara 0.44 – 0.98 dan dikatagorikan keseragaman sedang dan tinggi. Dan untuk indeks dominansi diperoleh nilai berkisar antar 0.02 – 0.98 dan dikatagorikan tidak ada dominasi. Mangunharjo Village waters have changed environmental conditions due to abrasion that damage the mangrove ecosystems and ponds. These conditions affect the presence one of aquatic biota which is zooplankton. Therefore this research is done to know the structure of zooplankton community in Mangunharjo Village waters. Sampling was conducted in March-April 2017 in the waters of Mangunharjo Village, Tugu Sub-district, Semarang. The method used is descriptive explorative method. The data analysis used to describe the zooplankton community includes: composition and abundance, diversity index, uniformity index and dominance index. The results showed that zooplankton found as a whole 23 genera of 5 fila. The highest abundance was 126.76 Ind/L and the lowest was 28.17 Ind/L. Arthropods are the most common phyla in this study. The index of diversity obtained ranges from 0.72 to 2.49 and categorized at low and medium diversity. As for the uniformity index obtained ranged from 0.44 to 0.98 and categorized at medium and high uniformity. And for the dominance index obtained values ranged between 0.02 - 0.98 and categorized at non dominance.
Analisis Kelimpahan Mikroalga Epifit Pada Lamun Enhalus acoroides Di Perairan Pulau Karimunjawa, Jepara Cantik Sitta Devayani; Retno Hartati; Nur Taufiq-Spj; Hadi Endrawati; Suryono Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.447 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23739

Abstract

Padang lamun berfungsi sebagai daerah asuhan, pemijahan, tempat mencari makan dan habitat bagi biota laut, diantaranya: ikan, meiofauna, maupun mikroalga epifit. Mikroalga epifit dapat digunakan sebagai salah satu unsur indikator dalam ekosistem perairan terkait dengan kesuburan dan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan mikroalga epifit pada daun lamun Enhalus acoroides yang  dilakukan pada Oktober 2018 dengan metode diskriptif. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive random sampling dengan tiga stasiun yaitu di perairan Pantai Nyamplungan (Stasiun 1), Pantai Bobi (Stasiun 2) dan Pelabuhan Syahbandar (Stasiun 3). Sampel daun lamun E. acoroides dipotong menjadi tiga bagian, yaitu ujung (UA dan UB), tengah (TA dan TB) dan pangkal (PA dan PB) daun. Untuk mendapatkan sampel mikroalga epifit dilakukan dengan metode pengerikan. Hasil penelitian  di semua  stasiun ditemukan tiga kelas yakni Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax dan Prorocentrum. Kelimpahan total mikroalga epifit tertinggi terdapat pada Stasiun 3 (11.234 sel/cm2) dan terendah pada Stasiun 2 (6.717 sel/cm2). Kelimpahan mikroalga epifit pada ujung daun bagian permukaan atas (UA) menghasilkan jumlah tertinggi yakni 5.682 sel/cm² dan bagian yang terendah terdapat pada posisi tengah daun bagian permukaan bawah (TB) sebanyak 3.292 sel/cm². Posisi menempel pada bagian lamun berpengaruh terhadap kelimpahan mikro alga epifit. Seagrass bed has a function as  nursery, spawning, and feeding ground, as well as a habitat for marine biota such as fish, meiofauna, and epiphytic microalgae. Epiphytic microalgae can be used as one of the indicators in aquatic ecosystems related to productivity and pollution. The aims of this study were to know the composition and abundance of epiphytic microalgae on Enhalus acoroides leaves. This research was done on October 2018 by using descriptive method. The sample was taken from three stations, ie.  Nyamplungan (Station 1), Bobi Beach (Station 2) and Syahbandar Port (Station 3). The seagrass samples of  Enhalus acoroides leaves were cut into three parts i.e. tip (UA & UB), middle (TA & TB)  and base (PA & PB) part of the leaves to obtain the samples of epiphytic microalgae by using scratching method. The results of the study found three classes, i.e.  Bacillariophyceae, Dinophyceae and Cyanophyceae. The genus most commonly found were Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax and Prorocentrum. The highest total abundance of epiphytic microalgae was at Station 3 (11.234 sel/cm2) and the lowest at Station 2 (6.717 sel/cm2). The abundance of  epiphytic microalgae based on different part of seagrass leaves showed that the upper surface of the leaf tip (UA) has highest abundance (5.682 cell/cm²) and the bottom surface of the middle leaf (TB) has the lowest abundance (3.292 cell/cm²). The posisiton of attachment affect on the abundance of epiphyte microalgae.
Struktur Komunitas Zooplankton di Perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur, Kabupaten Jepara Rodhiyah Patmawati; Hadi Endrawati; Adi Santoso
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.054 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19041

Abstract

Perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur merupakan lokasi wisata dan dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber mata pencaharian. Zooplankton berperan sebagai konsumen tingkat satu yang menghubungkan fitoplankton dengan organisme tingkat tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mengetahui komposisi, kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi zooplankton di perairan Pulau Panjang dan teluk Awur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dan penentuan lokasi menggunakan metode purposif sampling. Penelitian ini terbagi atas 5 stasiun dengan 3 sub-stasiun di setiap stasiun. Pengambilan sampel zooplankton dengan cara aktif dengan menarik planktonet secara horizontal. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Januari 2017. Hasil penelitian diperoleh 31 genera zooplankton dari 8 fila di perairan Pulau Panjang dan 20 genera zooplankton dari 3 fila di perairan Teluk Awur. Kelimpahan rata-rata zooplankton berkisar antara 378 Ind/L – 892 Ind/L di perairan Pulau Panjang dan 341 Ind/L – 446 Ind/L di perairan Teluk Awur. Indeks Keanekaragaman zooplankton menunjukkan nilai  2,36 – 2,68 di perairan Pulau Panjang dan 2,29 – 2,62 di perairan Teluk Awur yang termasuk dalam kategori sedang. Indeks keseragaman zooplankton menunjukkan nilai 0,75 – 0,88 di perairan Pulau Panjang dan 0,89 – 0,94 di perairan Teluk Awur yang termasuk dalam kategori Tinggi. Indeks dominansi di kedua lokasi menunjukkan tidak ada genus tertentu yang mendominasi dengan nilai 0,12 – 0,25 di perairan Pulau panjang dan 0,07 – 0,11 di perairan Teluk Awur.  Panjang Island and Teluk Awur waters are a marine tourism places and both the waters are also utilized as a source of community livelihood. Zooplankton role is as the first-level consumer that connects phytoplankton with the high-level organisms. The purpose of this research was to know the compotition, abundance, diversity index, evennes index and dominance index of zooplankton in the waters of Panjang Island and Teluk Awur of Jepara Regency. This research used deskriptive eksplorative method and determination location used purposive sampling method. This study was divided into 5 stations and with 3 sub-stations at each station. Zooplankton sampling was horizontally active by pulling the plankton-net. Sampling was done in january 2017. The results found 31 zooplankton genera of 8 phyla in Panjang Island waters and 20 zooplankton genera of 3 phyla in Teluk Awur waters. The average abundance ranged from 378-892 ind/L in Panjang Island waters and 341-446 ind/L in Teluk Awur waters. The zooplankton Diversity Index indicated the values of 2.36 - 2.68 in Panjang Island waters and 2.29-2.62 in Teluk Awur waters  which were in the medium category. The zooplankton evenness index indicated a value of 0.75-0.88 in Panjang Island waters and 0.89-0.94 in Teluk Awur waters belonging to the High category. The dominance index at both sites indicated that no particular genus dominating with the values of 0.12 - 0.25 in Panjang Island waters and 0.07-0.11 in Teluk Awur waters.
Keterkaitan antara Kelimpahan Zooplankton dan Parameter Lingkungan di Perairan Pantai Morosari, Kabupaten Demak Titik Mariyati; Hadi Endrawati; Endang Supriyantini
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 2 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v9i2.27136

Abstract

Zooplankton berperan sebagai konsumen tingkat pertama, yaitu memindahkan energi dari produsen ke konsumen tingkat dua. Zooplankton dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk mengetahui kualitas dan kesuburan suatu perairan yang sangat diperlukan untuk mendukung pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. Perairan Morosari mengalami degradasi akibat rob dan berkurangnya tanaman mangrove Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan parameter kualitas air dengan kelimpahan zooplankton di Perairan Pantai Morosari, Demak. Penelitian menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, analisis data meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, keseragaman, dominasi dan analisis hubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai korelasi parameter kualitas air yaitu 0,799 (DO), 0,928 (suhu), 0,758 (salinitas), -0,019 (pH), -0,318 (arus). Berdasarkan hasil pengamatan parameter kualitas air terutama DO, suhu, dan salinitas mempunyai kaitan yang erat terhadap kelimpahan zooplankton di perairan Pantai Morosari. Zooplankton acts as the first level consumer, i.e. transferring energy from producers to second level consumers, zooplankton can be used as study material to find out the quality and fertility of water that is needed to support the use of coastal and marine resources. This study aims to determine the abundance of zooplankton, the types of zooplankton and the relation of water quality parameters with the abundance of zooplankton in Morosari Coastal Water, Demak. Research using methods of surveying and determining the location was chosen using the purposive sampling method, data analysis includes abundance, diversity index, uniformity, dominance, and relationship analysis. The results showed that correlation value between water parameters and abundance of zooplankton is 0,799 (DO), 0,928 (temperature), 0,758 (salinity), -0,019 (pH), -0,138 (current). Based on the results of the water quality parameters, especially DO, temperature, and salinity have a close relationship to the abundance of zooplankton in the waters of Morosari Beach.
REKAYASA TEKNOLOGI TRANSPLANTASI LAMUN (Enhalus acoroides)DI KAWASAN PADANG LAMUN PERAIRAN PRAWEAN BANDENGAN JEPARA Febriyantoro Febriyantoro; Ita Riniatsih; Hadi Endrawati
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 1 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.291 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i1.6922

Abstract

Lamun adalah sumber makanan bagi beberapa jenis herbivora seperti penyu, dugong dan beberapa jenis invertebrata. Fungsi lamun tidak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia.Lamun berkurang secara cepat di berbagai belahan dunia akibat dari kegiatan manusia seperti kerusakan secara mekanis (pengerukan dan jangkar), eutrofikasi, budidaya perikanan, pengendapan, pengaruh pembangunan konstruksi pesisir, dan perubahan jaring makanan.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat keberhasilan transplantasi lamun berdasar laju pertumbuhan dan tingkat keberlangsungan hidup (SR) dengan dengan penerapan metode Frame tabung bambu, Plugs, Fastening waring di perairan Prawean Bandengan Jepara agar lamun dapat dikembangkan dengan teknologi ramah lingkungan yaitu menggunakan bambu dan keberadaanya masih tetap lestariPenelitian dilakukan dengan observasi lapangan selama 6 Minggu pada tanggal 17 September – 1 November 2012 . Metode yang digunakan untuk analisis  adalah metode eksperimental yang dilakukan di lapangan. Berdasarkan hasil One-way ANOVA, diketahui bahwa laju pertumbuhan transplantasi lamun dari ketiga metode tersebut tidak berbeda nyata. Tingkat keberhasilan unit transplantasi lamun untuk metode Frame Tabung Bambu sebesar 95%, metode Plugs sebesar 100%dan metode Fastening Waring sebesar 100%. Laju pertumbuhan unit transplantasi lamun di Perairan Prawean Bandengan Jepara dengan metode Frame Tabung Bambu memliki rata-rata sebesar (0,70 cm/hari ± 0.06), sedangkan untuk metode Plugs sebesar (0,78 cm/hari ± 0.09) dan metode Fastening Waring sebesar (0,71 cm/hari ± 0.05). Kata Kunci : Perairan Prawean Bandengan Jepara, Transplantasi lamun, metode Frame Tabung Bambu, metode Plugs, metode Fastening Waring.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Dan Kromium (Cr) Pada Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Morosari, Sayung, Kabupaten Demak Fadhel Muhammad Juharna; Ita Widowati; Hadi Endrawati
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 2 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i2.41617

Abstract

Logam berat merupakan kelompok unsur logam yang memiliki berat jenis ≥ 5gr/cm3. Sifatnya yang mudah mengendap dan mudah tertransportasikan menyebabkan biota termasuk kerang mudah mengakumulasi logam berat. Kerang hijau (P. viridis) merupakan salah satu biota laut bernilai ekonomis dan banyak dikonsumsi masyarakat. Pencemaran logam berat dalam kerang hijau ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb) dan kromium (Cr) pada air, sedimen, dan P. viridis serta  mengetahui batas maksimum konsumsi mingguan oleh manusia dalam mengkonsumsi kerang hijau. Penelitian dilakukan bulan Juli-September 2020. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Sampel diambil dari Perairan Morosari Demak dengan metode purposive random sampling. Kemudian, kandungan logam berat sampel dianalisisi menggunakan instrumen AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer), dilanjutkan dengan analisa keamanan konsumsi menggunakan rumus MTI (Maximum Tolerable Intake). Hasil menunjukkan bahwa kandungan logam Pb lebih tinggi dibanding logam Cr dalam P. viridis dengan konsentrasi berturut-turut (3,876-4,117) mg/kg untuk logam Pb dan (0,179-0,283) mg/kg untuk logam Cr. Batas maksimal konsumsi kerang hijau yang aman dikonsumsi perminggu dari Perairan Morosari untuk individu dengan berat badan 60 kg yaitu 0,364 kg/minggu untuk logam Pb dan 4,94 kg/minggu untuk logam Cr. Sedangkan konsumsi maksimal untuk individu berat badan 45 kg yaitu 0,273 kg/minggu untuk logam Pb dan 3,705 kg/minggu untuk logam Cr.    Heavy metals are a group of metal elements that have a specific gravity of 5gr/cm3. Its nature which is easy to settle and easy to transport causes biota, including bivalvia, to easily accumulate heavy metals. Green mussel (P. viridis) is one of the marine species that has economic value and is widely consumed by the community. Heavy metal contamination in shellfish can harm human health. This study aims to determine the heavy metal content of lead (Pb) and chromium (Cr) in water, sediment, and P. viridis and to determine the maximum weekly consumption of P. viridis. The research was conducted in July-September 2020. The research method used a descriptive method. Samples were taken from Morosari Demak waters with the purposive random samping method. Then, content of heavy metals anylyzed by AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) instrument, followed by an analysis of consumption safety using the MTI (Maximum Tolerable Intake) formula. The results showed that the heavy metal content of Pb was more than that of Cr. The heavy metals in P. viridis for Pb ranged from (3.876-4.117) mg.kg-1 while the Cr metal had a range (0.179-0.283) mg.kg-1. The limit safe consumption of green mussels per week from Morosari Waters for individuals weighing 60 kg is 0.364 kg/week for Pb metal and 4.94 kg/week for Cr metal. While the maximum consumption for individuals weighing 45 kg is 0.273 kg/week for Pb metal and 3.705 kg/week for Cr metal.
Effect of Silver Nano Particle Microalgae Chlorella pyrenoidosa and Dunaliella salina on Growth and Survival of Penaeus monodon Larvae Hermin Pancasakti Kusumaningrum; Muhammad Zainuri; Indras Marhaendrajaya; Agus Subagio; Widianingsih Widianingsih; Hadi Endrawati; Annisa Fadillah; Muhammad Iskandar Zulkarnain; Yuvita Muliastuti; Imam Misbach
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.35483

Abstract

Penaeus monodon is one of the most important farmed crustaceans. Its also known as Asia Tiger Shrimp because its carapace and abdomen are transversely banded with red and white. The use of synthetic antibiotic in aquaculture had caused problems related to health and environmental safety. Chlorella pyrenoidosa and Dunaliella salina are photosynthetic microalgae. Silver nano particle in microalgae C. pyrenoidosa and D. salina had synthesized and showed their growth stability. They offer a potency to be exploited to supported growth and survival of shrimp larvae. The objective of the study was the application of silver nano particle in microalgae C. pyrenoidosa and D. salina on P. monodon larvae. The research methodology was carried out by making microalgae C. pyrenoidosa and D. salina containing silver nano particle and used as feed of shrimp larvae. Observations were made on the growth and survival of shrimp larvae compared to both microalgae and common feed. The results showed that the P. monodon larvae  have the higher growth and survival rate with microalgae C. pyrenoidosa at the beginning of their growth compared to D. salina. However, microalgae without nanosilver and common feed showed a better result for growth and activity of shrimp larvae.
AIR-SEA FLUX OF CO2 IN THE WATERS OF KARIMUNJAWA ISLAND, INDONESIA Nurul Latifah; Sigit Febrianto; Anindya Wirasatriya; Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Suryanti Suryanti; Andreas Nur Hidayat
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 16, No 3 (2020): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.16.3.171-178

Abstract

The purpose of this study was to determine the distribution of CO2 flux in Karimunjawa in the east monsoon.  The variables in this study were temperature; pH; salinity; DO; CO2 atm was measured using a CO2 meter; chlorophyll-a, phosphate, silicate were measured spectrophotometric method. Total Alkalinity / TA was measured using the titration method with the principle of changing pH; DIC (Dissolved Inorganic Carbon) was measured using CO2sys software. The partial pressure of seawater carbon dioxide calculated using formula: pCO2sea = 6.31T2 + 61,9 Chla2 – 365.85T – 94.41 Chl-a +5715.94, the partial pressure of atmospheric carbon dioxide calculated using formula: pCO2atm = xCO2atm (pb - pH2O).  The calculation of the estimated CO2 flux using the formula: Flux CO2 = Kh x kwa x (∆pCO2)  , if the CO2 flux has a positive value water acts as a CO2 source, and if it is negative, the waters act as a CO2 sink..  CO2 flux in Karimunjawa waters during east monsoon (represented by August 2018) showed that in Karimunjawa waters with normal pH 7.2-7.4 were dominated by bicarbonate ion HCO3-with an average value of  DIC 1847.24 µmol/kg dan TA 1912.51 µmol/kg.  The partial pressure of seawater CO2 is higher than the partial pressure of atmospheric CO2  this indicates that the role of Karimunjawa waters as a source of CO2 where there is release of carbon dioxide into the atmosphere with CO2 flux values ranging from 8.549 – 13.272 mmol m-2 day-1.  The variables that affect the flux of CO2 were the pCO2sea and ΔpCO2 with a very strong and positive correlation. These two variables were influenced by sea water temperature, salinity, chlorophyll-a, phosphate and silicate.
Co-Authors AB Susanto Abdino Putra Utama Adi Santoso Agus Indarjo Agus Sabdono Agus Subagio Aini, Firly Nur Altysia Putriany Ambariyanto Ambariyanto Anandita, Assifa Yusan Anantya Setya Perdana Andreas Nur Hidayat Anindya Wirasatriya Annisa Fadillah Antik Erlina Antonius Budi Susanto Ardita Elok Mahendra Putri Ardyatma, Via Jeanieta Berliana Argina Dewi S Aris Ismanto Arrosyd, Muhammad Azam Azhari Nourma Dewi Azis Rifai Azizi, Muhammad Faris Baidhowie, Lutfil Hakim Baskoro Rochaddi Bifa Aulia Manuhuwa Budhy Wiyarsih Cannavaro, Syahrial Varrel Cantik Sitta Devayani Cantika Elistyowati Andanar Chandra Nicolas Sihaloho Chrismanola, Verena Chrisna Adhi Suryono Christian Jimmy Christin Manulang Cristiana Manullang Cristiana Manullang Delianis Pringgenies Desy Lasri Ana Dewi Nugrayani Dinda Monita Dwi Saniscara Wati Dyahruri Sanjayasari Dzakwan, Ardhatama Zafron Endang Kusdiyantini Endang Supriyantini Evi Lutfiyani Fadhel Muhammad Juharna Fauzan, Rianda Febrianto, Sigit Febriyantoro Febriyantoro Firil, Nis Aura Sadida Frijona Fabiola Lokollo Gentur Handoyo Gunawan Widi Santosa Handhikka Daffa Wira Pradhana Hermin P Kusumaningrum Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heryoso Setiyono Hilal M Hilyati Fajrina Ibnu Pratikto Ida Noventalia Ida Noventalia Imam Misbach Indras Marhaendrajaya Ira Kolaya, Ira Irwani Irwani Irwanto, Eko Ita Riniatsih Ita Widowati Ivan Riza Maulana Jihadi, Muhammad Shulhan Julia Fransiska Ken Suwartimah Kiki Pebli Ningrum Kirana, Nadia Astrid Lilik Maslukah Lutfil Hakim Baidhowie M. Amanun Tharieq Maharani, Galung Dhiva Manuhuwa, Bifa Aulia Maulana Cahya Widhiatmoko Monita, Dinda Muhamad Ravian Wiraputra Muhammad Iskandar Zulkarnain Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Mumtaz, Fathiyah Ningrum, Kiki Pebli Nirwani Soenardjo Nor, Muhammad Muallifin Nugrayani, Dewi Nugroho Agus D Nur Taufiq Nur Taufiq Nur Taufiq SPJ Nur Taufiq-Spj Nurul Latifah Octo Zainul Ahmad Perdana, Anantya Setya Pradhana, Handhikka Daffa Wira Primaswatantri Permata Putri Sakinah Mayani, Putri Sakinah Putri, Ardita Elok Mahendra Raden Ario Raka Pramulo Sophianto Rana Hadi Shafani Ranny Ramadhani Yuneni Retno Hartati Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Rodhiyah Patmawati Rose Dewi Rose Dewi Rose Dewi Rudhi Pribadi Sihaloho, Chandra Nicolas Sophianto, Raka Pramulo Sri Amini Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Sedjati Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryani, Oda Gracia Ariela Suryanti - Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Sutrisno Anggoro Taufiq-Spj, Nur Theresia Claudia Lasmarito Tiara Finishia, Tiara Titik Mariyati Tjahjo Winanto Tony Hadibarata, Tony Utama, Abdino Putra Valentina R Iriani Via Jeanieta Berliana Ardyatma W.L. Saputra Widhiatmoko, Maulana Cahya Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widya Paramudhita Wilis Ari Setyati Wiraputra, Muhamad Ravian Yopie Anggara Putra, Yopie Anggara Yuniar Andri Sulistiyanto Yuniar Andri Sulistiyanto Yuvita Muliastuti