Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Kesesuaian Wisata Di Pantai Slili, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta Linda Imroatun Nita; Antonius Budi Susanto; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.48057

Abstract

Pariwisata merupakan sektor yang memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan perekonomian pada suatu wilayah. Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikenal dengan banyaknya gugusan pantai. Pantai Slili merupakan salah satu pantai di Gunungkidul yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi wisata pantai. Pantai Slili memiliki garis pantai pendek dibandingkan dengan pantai yang lain. Pantai ini cocok untuk bermain pasir, karena memiliki pasir putih dan ombak pantai yang cukup kecil. Penelitian ini bertujuan dilakukan untuk mengkaji kesesuaian wisata pantai dan strategi pengembangan wisata di Pantai Slili, Gunungkidul, Yogyakarta. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan survei di lokasi penelitian. Hasil ini menunjukan bahwa pantai slili memiliki indeks kesesuaian wisata sebesar 83% pada stasiun 1 termasuk kategori sangat sesuai (S1), 79% pada stasiun 2 dan 73,8% pada stasiun 3 termasuk kategori sesuai (S2). Pengembangan daya tarik wisata kawasan Pantai Slili terbagi menjadi empat strategi pengembangan untuk pengelolaan kawasan ekowisata pantai yang sesuai dengan kekuatan, kelemahan, potensi dan ancaman yang dimiliki kawasan tersebut. Kesimpulan yang didapat menunjukan bahwa pantai slili memiliki potensi sebagai destinasi wisata pantai.
Pengaruh Jenis Substrat Terhadap Pertumbuhan Semaian Biji Lamun (Enhalus acoroides) Verena Chrismanola; Ita Riniatsih; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.42610

Abstract

: Degradasi padang lamun telah terjadi di seluruh perairan dunia. Degradasi padang lamun dipengaruhi oleh tekanan lingkungan seperti perubahan iklim, penyakit parasite, dan gangguan kegiatan pesisir. Kombinasi dari tekanan lingkungan tersebut perlu dicegah dengan upaya restorasi dan rehabilitasi kawasan padang lamun. Salah satu upaya kegiatan restorasi lamun dapat dilakukan dengan metode pembenihan. Penelitian terkait restorasi padang lamun dengan pembenihan baik di lapangan maupun skala laboratorium masih sedikit dilakukan. Penelitian penyemaian biji ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tiga jenis substrat berbeda (pasir halus, pasir pecahan karang, dan lumpur berpasir) terhadap pertumbuhan lamun jenis Enhalus acoroides dalam skala laboratorium. Faktor pembatas dalam pertumbuhan lamun meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, dan kandungan nutrien dalam substrat sebagai parameter pendukung dalam penelitan ini. Pengumpulan biji lamun dilakukan di Pantai Mrican, Karimunjawa pada bulan Mei 2023 dan proses penyemaian biji dilakukan di Laboratorium Basah, FPIK, Universitas Diponegoro hingga bulan Agustus 2023. Penempatan wadah tanam dengan perlakuan tiga jenis substrat diletakkan di tiga akuarium berbeda secara acak yang telah terdapat sistem sirkulasi. Pengukuran data panjang daun, lebar daun, jumlah daun, serta parameter kualitas perairan dilakukan setiap dua minggu selama 12 minggu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, jenis substrat lumpur berpasir memberikan pengaruh tertinggi dalam pertumbuhan semaian biji lamun. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis substrat berpengaruh terhadap pertumbuhan semaian biji lamun.  Seagrass bed degradation is a global concern, impacted by environmental stressors like climate change, parasitic diseases, and coastal disruptions. Preventing these pressures requires dedicated efforts to restore and rehabilitate seagrass areas. Seeding emerges as a potential restoration method, yet research on seagrass restoration through seeding remains limited in both field and laboratory contexts. Consequently, this study focused on seed sowing to assess the influence of three substrates (sand, coral rubble sand, and sandy mud) on the laboratory-scale growth of Enhalus acoroides seagrass. Key growth-limiting factors, including temperature, salinity, dissolved oxygen, pH, and nutrient content in the substrate as supporting parametersin this research. Seagrass seeds were collected at Mrican Beach, Karimunjawa, in May 2023, and the sowing process occurred at the Wet Laboratory, FPIK, Diponegoro University, until August 2023.The placement of planting containers with the treatment of three types of substrates was palced in three different aquariums randomly which had a circulation system. Data measurements of leaf length, leaf width, number of leaves, and water quality parameter were carried out every two weeks for 12 weeks. Based on the research that has been done, type of sandy mud substrate gave the highest effect on the growth of seagrass seedlings. This research can be concluded that different types of substrates affect the growth of seagrass seedlings.
Distribusi Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut terhadap Kelimpahan Ikan Cephalopholis argus dan Cephalopholis miniata Di Pulau Pieh, Sumatera Barat Rianda Fauzan; Widianingsih Widianingsih; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.43988

Abstract

Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pieh, Sumatera Barat memiliki produktivitas primer yang tinggi dan menandakan kesuburan perairan. Salah satu indicator kesuburan perairan adalah kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut terhadap kelimpahan ikan Cephalopholis argus dan Cephalopholis miniata. Periode waktu yang digunakan adalah tahun 2019 – 2023. Data klorofil-a dan suhu permukaan laut diolah menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.8 dan hubungan antar variable dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa hubungan Cephalopholis miniata dengan suhu permukaan laut linier dengan nilai signifikansi < 0,05 yaitu 0,044. Akan tetapi hubungan antar variable lainnya tidak signifikan secara statistik karena memiliki nilai > 0,05. The Pieh Island Marine Conservation Area, West Sumatra has high primary productivity and indicates the fertility of the waters. One of  indicators of water fertility is the chlorophyll-a content and sea surface temperature. The aim of this research is to investigate the relationship between chlorophyll-a content and sea surface temperature on fish abundance Cephalopholis argus and Cephalopholis miniate. The time period used is 2019 – 2023. Chlorophyll-a and sea surface temperature data were processed using ArcGIS 10.8 software and the relationship between variables was analyzed using multiple linear regression analysis. The results show that the relationship Cephalopholis miniate with linear sea surface temperature with a significance value <0.05, namely 0.044. However, the relationship between other variables is not statistically significant because it has a value > 0.05.
Kerapatan Lamun di Perairan Pulau Panjang, Jepara Muhammad Muallifin Nor; Chrisna Adhi Suryono; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.35128

Abstract

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di perairan dangkal dengan pengaruh sinar matahari. Lamun memiliki ciri morfologi yaitu daun, batang dan akar. Lamun dapat tumbuh dengan membentuk padang lamun yang terdiri dari satu atau lebih jenis lamun. Lamun tumbuh di perairan dengan substrat pasir dan berlumpur. Lamun memiliki fungsi ekologi yang banyak diantaranya adalah sebagai produktivitas primer, sumber makanan, menstabilkan sedimen, tempat asuhan dan habitat biota – biota laut. Ekosistem lamun menjadi ekosistem penting sehinga sebarannya di perairan perlu untuk dikaji. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kerapatan lamun di Pulau Panjang, menggunakan metode line transek sehingga dapat diketahui komposisi lamun, dan kerapatan lamun. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa di Pulau Panjang telah ditemukan empat jenis lamun dengan komposisi lamun yang paling banyak dijumpai adalah Thalassia hemprichii dan paling jarang dijumpai adalah Enhallus acoroides. Kerapatan jenis lamun tertinggi berada di stasiun 2 yaitu 283 tegakan/m2.  Seagrass is a flowering plant that lives in shallow waters under the influence of sunlight. Seagrass has morphological characteristics, namely leaves, stems and roots,.Seagrass can grow by forming seagrass beds consisting of one or more types of seagrass. Seagrass grows in waters with sandy and muddy substrates. Seagrasses have many ecological functions, including primary productivity, food sources, stabilizing waters, nursery and habitat for marine biota. Seagrass ecosystems are important ecosystems so that their distribution in waters needs to be studied. This study was conducted to determine the density of seagrass in the Panjang Island, using the line transect method so that the composition, and density seagrass can be known. Based on the research, it is known that in Panjang Island, there were 4 species of seagrass have been found with the composition of the most common seagrass being Thalassia hemprichii and the least common being Enhallus acoroides. The highest density of seagrass species is at station 2, which is 283 ind/m2.
Analisis Kandungan Klorofil -a dan Kepadatan Diatom Thalassiosira sp. Dengan Penggunaan Konsentrasi Silikat yang Berbeda Syahrial Varrel Cannavaro; Hadi Endrawati; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35303

Abstract

Thalassiosira sp. adalah diatom yang digunakan sebagai pakan alami bagi larva udang vanamei. Thalassiosira sp. mempunyai kandungan protein sekitar 44,5 %,karbohidrat 26,1% dan lemak 11,8% dari berat keringnya. Thalassiosira sp. adalah salah satu pakan alami yang baik karena mempunyai nilai nutrisi yang tinngi serta kandungan silika yang bagus untuk larva udang vanamei. Pertumbuhan diatom dibutuhkan media nutrisi dalam mendukung pertumbuhan plankton harus mengandung silika untuk mendukung pertumbuhan dan memperkuat cangkang sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi silikat yang tepat guna mengoptimalkan pertumbuhan kepadatan dan produksi pigmen klorofil pada Thalasiosira sp. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Mikroalga Thalassiosira sp di kultivasi dengan lima taraf perlakuan konsentrasi silikat yang berbeda yaitu 0 ppm, 12 ppm,15 ppm, 18 ppm dan 21 ppm dengan tiga ulangan. Pertumbuhan Thalasiosira sp. diamati selama 13 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi diekstraksi menggunakan pelarut aseton PA. Ekstrak aseton Thalassiosira sp. kemudian dianalisis kandungan pigmen klorofilnya dengan spektrofotometri. Hasil densitas tertinggi terdapat pada konsentrasi (15 ppm) Kandungan Klorofil Thalassiosira sp. tertinggi diproduksi pada konsentrasi (15 ppm) yaitu 184 µg/mL. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi silikat berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan klorofil Thalassiosira sp. Thalassiosira sp is a diatom that is used as natural food for vanamei shrimp larvae. Thalassiosira sp. It has a protein content of about 44.5%, carbohydrates 26.1% and fat 11.8% of its dry weight. Thalassiosira sp. is one of the good natural feeds because it has high nutritional value and good silica content for vanamei shrimp larvae. The growth of diatoms requires a nutrient medium to support the growth of plankton. It must contain silica to support growth and strengthen cell shells. This study aims to determine the appropriate concentration of silicate in order to optimize the growth of density and production of chlorophyll pigment in Thalasiosira sp. The method used is a laboratory experiment using a completely randomized design. The microalgae Thalasiosira sp was cultivated with five different levels of silicate concentration treatment, namely 0 ppm, 12 ppm, 15 ppm, 18 ppm and 21 ppm with three replications. Growth of Thalasiosira sp. observed for 13 x 24 hours and then harvested for biomass calculation. The wet biomass from the cultivation was extracted using acetone PA as a solvent. Thalasiosira sp. acetone extract. then analyzed the content of chlorophyll pigment by spectrophotometry. The highest density results were found at the concentration (15 ppm) of the Chlorophyll content of Thalassiosira sp. The highest was produced at a concentration (15 ppm) which was 184 g/mL. Based on the results of the study, it can be concluded that the salinity treatment had a significant effect on the chlorophyll content of Thalasiosira sp. 
Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Ekowisata Kawasan Mangrove Baros, Bantul, Yogyakarta Assifa Yusan Anandita; Sri Redjeki; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.40544

Abstract

Kawasan ekowisata menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan karena pemandangan alam dan suasananya. Mangrove Baros, Bantul, Yogyakarta menjadi salah satu kawasan ekowisata yang mulai dikembangkan tahun 2022 dan banyak dikunjungi hingga ratusan pengunjung setiap harinya. Kondisi hutan mangrove perlu diperhatikan dalam pelaksanaan ekowisata sehingga diperlukan perhitungan Indeks Kesesuaian Wisata serta Daya Dukung Kawasan untuk memberikan informasi terkait kondisi di kawasan ekowisata tersebut. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), menghitung Daya Dukung Kawasan (DDK) yang menampilkan jumlah wisatawan yang dapat ditampung pada kawasan ekowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu kualitatif deskriptif dengan melakukan peninjauan langsung ke kawasan mangrove. Penelitian dilakukan pada 5 stasiun dengan parameter yang diambil yaitu ketebalan mangrove, kerapatan mangrove, jenis mangrove, objek biota dan pasang surut serta data sekunder berupa wawancara dan kuisioner. Nilai IKW yang didapatkan dengan presentase tertinggi yaitu stasiun 5 sebesar 64,1% dan presentase terendah pada stasiun 4 sebesar 41% Stasiun 1, 2, 3 dan 4 masuk ke dalam kategori tidak sesuai dan hanya stasiun 5 yang masuk ke dalam kategori sesuai. Hasil perhitungan DDK didapatkan sebesar 282 orang/hari dengan melakukan kegiatan seperti wisata mangrove, memancing dan rekreasi. Rehabilitasi mangrove perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai IKW karena ketebalan mangrove dalam kategori kurang karena faktor utama yang setiap tahunnya mengancam kawasan mangrove yaitu banjir rob.Ecotourism area is one of the most visited tourist destinations by tourists because of its natural scenery and atmosphere. Baros Mangrove, Bantul, Yogyakarta is one of the ecotourism areas which will begin to be developed in 2022 and is visited by hundreds of visitors every day. The condition of mangrove forests needs to be considered in the implementation of ecotourism so that it is necessary to calculate the Tourism Suitability Index and Area Supporting Capacity to provide information regarding conditions in the ecotourism area. The research objective is to determine the value of the Tourism Suitability Index (TSI), calculate the Regional Support Capacity (CC) which displays the number of tourists that can be accommodated in ecotourism areas. The method used in this research is descriptive qualitative by observing the mangrove forest directly. The research was conducted at 5 stations with parameters taken, namely mangrove thickness, mangrove density, mangrove species, biota and tidal objects as well as secondary data in the form of interviews and questionnaires. The TSI value obtained with the highest percentage is station 5 of 64.1% and the lowest percentage is at station 4 of 41% Stations 1, 2, 3 and 4 categorized as an inappropriate category and only station 5 categorized as the appropriate category. The CC calculation results obtained were 282 people/day by carrying out activities such as mangrove tours, fishing and recreation. Mangrove rehabilitation needs to be done to increase the TSI value because the thickness of the mangroves is in the less category because the main factor that threatens the mangrove area every year is tidal flooding.
Kajian Kondisi Kesehatan Padang Lamun di Perairan Desa Wabula dan Desa Karya Jaya Kabupaten Buton Nis Aura Sadida Firil; Hadi Endrawati; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.42599

Abstract

Ekosistem lamun memiliki kontribusi dalam produktivitas perairan bagi keberlanjutan ekosistem perairan laut dangkal dan kelangsungan hidup biota laut di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan ekosistem lamun yang terdapat di perairan Desa Wabula dan Desa Karya Jaya, Kabupaten Buton. Metode penelitian yang digunakan adalah metode line transect pada kedua lokasi dengan masing-masing terdapat dua stasiun pengambilan data. Hasil penelitian ditemukan total 5 jenis lamun yang terdapat pada kedua lokasi penelitian, yaitu; Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, dan Syringodium isoetifolium. Persentase rata-rata penutupan lamun di Desa Wabula adalah 56,11% dan di Desa Karya Jaya adalah 27,77%. Komposisi jenis lamun tertinggi pada kedua lokasi penelitian adalah spesies Cymodocea rotundata dengan rata-rata kerapatan 616,4 ind/m2 di Desa Wabula dan 446,4 ind/m2 di desa Karya Jaya. Status kesehatan ekosistem padang lamun yang terdapat di perairan Desa Wabula memiliki kategori baik dengan nilai indeks kesehatan ekosistem lamun sebesar 0,78 dan perairan Desa Karya Jaya memiliki kategori sedang dengan nilai indeks kesehatan ekosistem lamun sebesar 0,68. Parameter hidro-oseanografi di kedua lokasi penelitian dapat mendukung pertumbuhan ekosistem lamun karena sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 perihal baku mutu perairan laut untuk ekosistem lamun.  Seagrass ecosystems contribute to aquatic productivity for the sustainability of shallow marine ecosystems and the survival of marine biota within them. This research aims to determine the health condition of the seagrass ecosystem in the waters of Wabula Village and Karya Jaya Village, Buton Regency. The research method used is the line transect method at both locations with two data collection stations each. The research results found a total of 5 types of seagrasses found in both research locations, namely, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, and Syringodium isoetifolium. The average percentage of seagrass cover in Wabula Village is 56.11% and in Karya Jaya Village it is 27.77%. The highest composition of seagrass species at both research locations was the Cymodocea rotundata species with an average density of 616.4 ind/m2 in Wabula Village and 446.4 ind/m2 in Karya Jaya village. The health status of the seagrass ecosystem in the waters of Wabula Village is in the good category with a seagrass ecosystem health index value of 0.78 and the waters of Karya Jaya Village are in the medium category with a seagrass ecosystem health index value of 0.68. Hydro-oceanographic parameters at both research locations can support the growth of seagrass ecosystems because they are in accordance with Government Regulation Number 22 of 2021 concerning marine water quality standards for seagrass ecosystems.
Persepsi Masyarakat Lokal Terhadap Pemanfaatan Lamun Untuk Ekowisata di Perairan Pantai Pancuran, Taman Nasional Karimunjawa Zhulian Hikmah Hasibuan; Valmay Savira; Hadi Endrawati; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.27683

Abstract

Lamun merupakan salah satu ekosistem yang berperan penting dalam kehidupan di laut. Salah satu pemanfaatan kawasan pesisir ekosistem lamun adalah untuk kegiatan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biofisik ekosistem lamun sebagai penunjang kegiatan ekowisata dan mengetahui arahan strategi pengembangan ekowisata bahari di Pantai Pancuran Kepulauan Karimunjawa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2022 di Pantai Pancuran Kepulauan Karimunjawa, Jepara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi, yaitu pengambilan data dilapangan dan studi literatur. Pengamatan lamun dilapangan meliputi identifikasi jenis-jenis lamun, kerapatan lamun, presentase tutupan lamun, indeks ekologi dan pola sebaran lamun. Metode pengambilan data menggunakan metode seagrass watch dengan transek 50 x 50 cm. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh jenis lamun yang ditemukan yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, dan Syringodium isoetifolium, Kerapatan lamun paling tinggi adalah jenis Thalassia hemprichii pada stasiun 3 dan yang paling rendah adalah jenis Syringodium isoetifolium pada stasiun 3. Selain itu Pantai Pancuran juga memiliki potensi ikan karang dan biota laut yang beranekaragam sehingga dapat meningkatkan daya tarik ekowisata lamun yang didukung dengan hasil presepsi masyarakat yang menyetujui serta berpartisipasi dalam kegiatan ekowisata pada ekowisata lamun.  Seagrass is one of the ecosystems that play an important role in marine life. One of the uses of the seagrass coastal area is for ecotourism activities. This study aims to determine the biophysical potential of seagrass ecosystems as support for ecotourism activities and to determine the direction of marine ecotourism development strategies in the Pancuran Coast of Karimunjawa Islands. The study was conducted in October 2019 at Pancuran Beach, Karimunjawa Islands, Jepara. The method used in this research is the observation method, which is data collection in the field and literature study. Observation of seagrass in the field includes identification of seagrass species, seagrass density, percentage of seagrass cover, ecological index, and seagrass distribution patterns. The data collection method uses the seagrass watch method with a transect of 50 x 50 cm. The results showed that there were seven species of seagrass found, namely Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, and Syringodium isoetifolium, the highest density of seagrass is Thalassia hemprichii at station 3 and the lowest was type 3 and the lowest was Syringodium isoetifolium at station 3. Besides, Pancuran Beach also has diverse reef fish and marine biota potential to increase the attractiveness of seagrass ecotourism which is supported by the results of community perception that approves and participates in ecotourism activities in seagrass ecotourism.
Kondisi Ekosistem Lamun Di Pantai Blebak, Ujung Piring, dan Semat, Kabupaten Jepara Sabna Suryaningtias; Ita Riniatsih; Hadi Endrawati
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.42799

Abstract

Hubungan antara lamun dengan lingkungannya yang menggambarkan karakteristik biodiversitas lamun, vegetasi asosiasi, dan kondisi ekosistemnya disebut sebagai bioekologi lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem lamun di Pantai Blebak, Ujung Piring, dan Semat, Kabupaten Jepara. Pengamatan dilakukan di 3 stasiun berbeda menggunakan metode line transect yang mengacu pada buku Panduan Monitoring Padang Lamun dari LIPI. Hasil penelitian ditemukan lamun sebanyak 5 jenis, yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Oceana serrulata, dan Halodule uninervis. Persentase penutupan lamun berkisar antara 16,62 – 32,91% dengan persentase tertinggi di Pantai Semat kategori penutupan sedang dan terendah di Pantai Blebak kategori penutupan jarang. Kerapatan lamun berkisar antara 48,12 – 116,48 ind/m2. Thalassia hemprichii memiliki kerapatan jenis lamun tertinggi dan kerapatan jenis terendah Oceana serrulata. Substrat di ketiga stasiun didominasi oleh pasir. Berdasarkan perhitungan nilai indeks ekologi lamun, Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman tinggi, dan tidak mendominasi, sedangkan Pantai Semat memiliki keanekaragaman sedang, keseragaman sedang, dan mendominasi. Perhitungan Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (IKEL) yang meliputi variabel jumlah jenis lamun, persentase penutupan lamun, persentase penutupan makroalga, persentase penutupan epifit, dan kecerahan air menunjukkan bahwa di Pantai Blebak dan Pantai Ujung Piring berstatus buruk, sedangkan Pantai Semat berstatus sangat buruk. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Air Laut untuk ekosistem lamun, secara keseluruhan nilai parameter perairan pada ekosistem lamun di ketiga stasiun penelitian masih tergolong baik bagi keberlangsungan ekosistem lamun. The relationship between the seagrass and its environment that describes the characteristics of the seagrass’s biodiversity, the vegetation associated, and the conditions of the ecosystem is called the bioecology of seagrass. This research aims to find out the condition of the seagrass ecosystem in Blebak, Ujung Piring, and Semat Beach, Jepara Regency. The observation consists of 3 stations using the line transect method referring to the book Seagrass Monitoring Guide from LIPI. The results found 5 species of seagrass, that is Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Oceana serrulata, and Halodule uninervis. The percentage of seagrass cover ranges between 16,62 – 32,91% with the highest in the Semat Beach of the medium category and the lowest in Blebak Beach of rare category. The density ranges from 48,12 – 116,48 ind/m2. Thalassia hemprichii has the highest species density and the lowest Oceana serrulata. The substrate in the 3 stations is dominated by the sand. The ecological index of Blebak Beach and Ujung Piring Beach has moderate diversity, high uniformity, and non-dominant, Semat Beach has moderate diversity, moderate uniformity, and dominant. According to Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 on quality standar of sea water for seagrass ecosystems, the overall value of the parameters of the water condition in seagrass ecosystem still belong to the ecological condition. 
Tingkat Herbivori Daun Mangrove Di Desa Bedono, Sayung, Demak, Jawa Tengah Rahma Nimas Healthy Jayanti; Hadi Endrawati; Nur Taufiq-SPJ
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.38645

Abstract

Bentuk aktivitas herbivori merupakan kegiatan memakan daun mangrove oleh fauna (herbivor) yang berada di dahan pohon secara langsung. Mengetahui aktivitas herbivori pada daun mangrove sangatlah penting karena merupakan indikator kesehatan dan kualitas pada ekosistem mangrove. Pemangsaan yang dilakukan oleh herbivor akan mempengaruhi perubahan keseimbangan karbohidrat yang dihasilkan dan melemahnya struktur fisik pada tumbuhan. Oleh karena itu, penting diketahui tingkat herbivori pada tumbuhan mangrove untuk melihat tingkat kesehatan ekosistem mangrove. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis tingkat herbivori daun mangrove Avicennia marina dan Rhizophora mucronata pada ekosistem mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Metode penentuan lokasi ini dilakukan berdasarkan pertimbangan kondisi mangrove yang ada di lapangan yaitu pada lokasi yang banyak terdapat kerusakan dan letaknya lebih mudah dijangkau. Sampel daun spesies Avicennia marina dan Rhizophora mucronata diambil berdasakan tiga kategori ketinggian berbeda, yaitu <1 m, 1-2 m, dan >2m, masing-masing sebanyak 10 pohon sebagai ulangan. Daun dipisahkan berdasarkan umur daun (muda dan tua) dan kondisi daun (rusak dan utuh). Total daun yang diambil sebanyak 10% dari setiap pohon. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata tingkat herbivori pada setiap kategori spesies, umur daun dan tinggi pohon yaitu pada spesies Avicennia marina 6.739% kisaran (0.038-46.202) hingga 32.180% kisaran (14.821-59.066) sedangkan pada spesies Rhizophora mucranata sebesar 5.40% kisaran (0,19-21.57) hingga 10,87% kisaran (0,53 - 43,46). Tingkat herbivori Avicennia marina lebih tinggi daripada Rhizophora mucronata. Rendahnya persentase tingkat herbivori mengidentifikasikan bahwa ekosistem mangrove di Bedono masih tergolong sehat. The form of herbivory activity is the activity of eating mangrove leaves by fauna (herbivores) that are directly on the tree branches. Knowing herbivorous activity in mangrove leaves is very important because it is an indicator of the health and quality of mangrove ecosystems. Predation by herbivores will affect changes in the balance of carbohydrates produced and the weakening of the physical structure of plants. Therefore, it is important to know the level of herbivory in mangrove plants to see the level of health of the mangrove ecosystem. The purpose of this study was to analyze the herbivory level of Avicennia marina and Rhizophora mucronata mangrove leaves in the mangrove ecosystem in Bedono Village, Sayung District, Demak Regency. The research was conducted in January 2023. The method used in this study was a purposive sampling method. This method of determining the location was based on consideration of the condition of the mangroves in the field, namely at locations where there was a lot of damage and where it was easier to reach. Leaf samples of Avicennia marina and Rhizophora mucronata species were taken based on three different height categories, namely <1 m, 1-2 m, and >2 m, with 10 trees each as replicates. Leaves are separated based on leaf age (young and old) and leaf condition (damaged and intact). The total leaves taken were 10% from each tree. The results showed that the average value of herbivory in each species category, leaf age and tree height was for Avicennia marina species 6.739% range (0.038-46.202) to 32.180% range (14.821-59.066) while for Rhizophora mucranata species it was 5.40% range (0.19-21.57) to 10.87% range (0.53 - 43.46). Avicennia marina herbivory level is higher than Rhizophora mucronata. The low percentage of herbivory indicates that the mangrove ecosystem in Bedono is still relatively healthy.
Co-Authors AB Susanto Abdino Putra Utama Adi Santoso Agus Indarjo Agus Sabdono Agus Subagio Aini, Firly Nur Altysia Putriany Ambariyanto Ambariyanto Anandita, Assifa Yusan Anantya Setya Perdana Andreas Nur Hidayat Anindya Wirasatriya Annisa Fadillah Antik Erlina Antonius Budi Susanto Ardita Elok Mahendra Putri Ardyatma, Via Jeanieta Berliana Argina Dewi S Aris Ismanto Arrosyd, Muhammad Azam Assifa Yusan Anandita Azhari Nourma Dewi Azis Rifai Azizi, Muhammad Faris Baidhowie, Lutfil Hakim Baskoro Rochaddi Bifa Aulia Manuhuwa Budhy Wiyarsih Cannavaro, Syahrial Varrel Cantik Sitta Devayani Cantika Elistyowati Andanar Chandra Nicolas Sihaloho Chrismanola, Verena Chrisna Adhi Suryono Christian Jimmy Christin Manulang Cristiana Manullang Cristiana Manullang Delianis Pringgenies Desy Lasri Ana Dewi Nugrayani Dinda Monita Dwi Saniscara Wati Dyahruri Sanjayasari Dzakwan, Ardhatama Zafron Endang Kusdiyantini Endang Supriyantini Evi Lutfiyani Fadhel Muhammad Juharna Fauzan, Rianda Febrianto, Sigit Febriyantoro Febriyantoro Firil, Nis Aura Sadida Frijona Fabiola Lokollo Gentur Handoyo Gunawan Widi Santosa Handhikka Daffa Wira Pradhana Hermin P Kusumaningrum Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heryoso Setiyono Hilal M Hilyati Fajrina Ibnu Pratikto Ida Noventalia Ida Noventalia Imam Misbach Indras Marhaendrajaya Ira Kolaya, Ira Irwani Irwani Irwanto, Eko Ita Riniatsih Ita Widowati Ivan Riza Maulana Jihadi, Muhammad Shulhan Julia Fransiska Ken Suwartimah Kiki Pebli Ningrum Kirana, Nadia Astrid Lilik Maslukah Linda Imroatun Nita Lutfil Hakim Baidhowie M. Amanun Tharieq Maharani, Galung Dhiva Manuhuwa, Bifa Aulia Maulana Cahya Widhiatmoko Monita, Dinda Muhamad Ravian Wiraputra Muhammad Iskandar Zulkarnain Muhammad Muallifin Nor Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Mumtaz, Fathiyah Ningrum, Kiki Pebli Nirwani Soenardjo Nis Aura Sadida Firil Nor, Muhammad Muallifin Nugrayani, Dewi Nugroho Agus D Nur Taufiq Nur Taufiq Nur Taufiq SPJ Nur Taufiq-Spj Nurul Latifah Octo Zainul Ahmad Perdana, Anantya Setya Pradhana, Handhikka Daffa Wira Primaswatantri Permata Putri Sakinah Mayani, Putri Sakinah Putri, Ardita Elok Mahendra Raden Ario Rahma Nimas Healthy Jayanti Raka Pramulo Sophianto Rana Hadi Shafani Ranny Ramadhani Yuneni Retno Hartati Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rianda Fauzan Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Rodhiyah Patmawati Rose Dewi Rose Dewi Rose Dewi Rudhi Pribadi Sabna Suryaningtias Sihaloho, Chandra Nicolas Sophianto, Raka Pramulo Sri Amini Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Sedjati Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryani, Oda Gracia Ariela Suryanti - Suryono Suryono Susilo Dwi Cahyanti, Susilo Dwi Sutrisno Anggoro Syahrial Varrel Cannavaro Taufiq-Spj, Nur Theresia Claudia Lasmarito Tiara Finishia, Tiara Titik Mariyati Tjahjo Winanto Tony Hadibarata, Tony Utama, Abdino Putra Valentina R Iriani Valmay Savira Verena Chrismanola Via Jeanieta Berliana Ardyatma W.L. Saputra Widhiatmoko, Maulana Cahya Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widya Paramudhita Wilis Ari Setyati Wiraputra, Muhamad Ravian Yopie Anggara Putra, Yopie Anggara Yuniar Andri Sulistiyanto Yuniar Andri Sulistiyanto Yuvita Muliastuti Zhulian Hikmah Hasibuan