Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KEBIASAAN KONSUMSI JUNK FOOD DAN LINGKAR PERUT MAHASISWA PRODI GIZI UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU Syuryadi, Novfitri; Nurlisa, Siti; Amanda, Cahya Hanita; Mendrofa, Eugenia Pricilla Maurine; Ernalia, Yanti
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.43635

Abstract

Junk food merupakan makanan yang tinggi kandungan gula, garam, dan lemak. Kebiasaan konsumsi junk food dapat meningkatkan berat badan dan lingkar perut. Lingkar perut dapat menjadi salah satu indikator kejadian obesitas sentral. Obesitas sentral dapat meningkatkan resiko berbagai penyakit sindrom metabolik, sehingga setiap orang perlu mengukur lingkar perutnya untuk mengindari resiko obesitas sentral. Lingkar perut normal pada laki-laki tidak lebih dari 90 cm dan pada perempuan tidak lebih dari 80 cm. Hal ini menunjukkan kondisi kesehatan dengan resiko yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara kebiasaan konsumsi junk food dengan lingkar perut. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa gizi UIN Suska Riau dengan metode sampling menggunakan purposive sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 57 sampel. Variabel independen pada penelitian ini adalah kebiasaan konsumsi junk food dan variabel dependen yaitu lingkar perut. Data konsumsi junk food dikumpulkan menggunakan kuesioner FFQ dan data lingkar perut dengan pengukuran antropometri menggunakan waist ruler. Data dianalisis menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir sebagian responden sering mengonsumsi junk food (42,11%) dan sebagian besar responden memiliki lingkar perut yang normal (68,42%). Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi junk food dengan lingkar perut mahasiswa Prodi Gizi UIN Suska Riau (p>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara kebiasaan konsumsi junk food dengan lingkar perut.
Hubungan Pengetahuan Mengenai Keamanan Makanan Jajanan dengan Praktik Dalam Memilih Makanan Jajanan yang Aman pada Siswa/I Sekolah Dasar di Pekanbaru Chandra, Fifia; Ernalia, Yanti; Risandi, Abrar; Maharani, Rahel Aura Fathia; Anggowo, Richard Wicaksana
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 2s (2025): Special Issue: The 3rd International Conference on Health Sciences 2024
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v14i2s.3945

Abstract

Hasil pengawasan makanan jajanan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan pada tahun 2016 yaitu dari 3.615 makanan jajanan di sekolah dasar di Indonesia terdapat 309 sampel yang mengandung boraks, 164 sampel yang mengandung rhodamin B, 221 sampel yang mengandung formalin, dan 29 sampel yang mengandung methanyl yellow. Pengetahuan mempengaruhi praktik siswa dalam memilih makanan jajanan yang aman. Pengetahuan tentang makanan jajanan merupakan kemampuan untuk memilih makanan jajanan yang bebas dari cemaran kimia, biologi, dan fisik, sehingga memunculkan praktik memilih makanan jajanan yang aman. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional. Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keamanan makanan jajanan dengan praktik memilih makanan jajanan yang aman pada anak Sekolah Dasar di Pekanbaru. Metodologi penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah desain cross sectional, dengan sampel yang dipilih menggunakan metode random sampling. Pengetahuan dan praktik diperoleh melalui kuesioner yang berisi pertanyaan tentang pengetahuan serta praktik siswa sekolah dasar mengenai keamanan makanan jajanan. Berdasarkan penelitian ini dari 240 subjek, sebanyak 63,3% responden berjenis kelamin perempuan, sebanyak 37,0% responden berusia 11 tahun, sebanyak 45,8% responden memiliki pengetahuan yang kurang dan 40,8% memiliki praktik memilih makanan jajanan yang tidak baik. Hasil analisis yang dilakukan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan praktik (nilai p = 0,000).
Pengaruh Kefir Susu Kambing Terfortifikasi Vitamin D3 terhadap Kadar hs-CRP Tikus Rattus Norvegicus DM Tipe 2: Studi Eksperimental: The Effect of Vitamin D3-Fortified Goat Milk Kefir on hs-CRP Levels of Type 2 Diabetic Rattus Norvegicus Rats: An Experimental Study Zulfa, Fairuz; Utomo, Astika Widy; Ardiaria, Martha; Syauqy, Ahmad; Purwanti, Rachma; Ernalia, Yanti; Masha, Tania; Maharani, Mutiara Irma; Faradina, Amelia; Panunggal, Binar
Amerta Nutrition Vol. 9 No. 4 (2025): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v9i4.2025.667-678

Abstract

Background: Insulin resistance and chronic hyperglycemia in diabetes are linked to the synthesis of the inflammatory biomarker hs-CRP. Goat milk kefir and vitamin D have anti-diabetic and anti-inflammatory properties. Objectives: Aimed to evaluate the impact of goat milk kefir fortified with vitamin D3 on hs-CRP levels of diabetic rats. Methods: Twenty-one male Rattus norvegicus rats were randomly divided into four groups for a 35-day study: Control (C), Diabetes Mellitus (DM), unfortified goat milk kefir treatment (P1), and vitamin D3-enriched goat milk kefir treatment (P2). Diabetes was induced via intraperitoneal injection of streptozotocin (STZ) at 65 mg/kg BW and nicotinamide (NA) at 230 mg/kg BW. Goat milk kefir was administered orally at 2 mL/200 g BW/day, with the fortified version containing 600 IU of vitamin D3 per 100 mL. Fasting blood glucose levels and serum hs-CRP were measured pre- and post-intervention using the GOD-PAP and ELISA methods, respectively. Data were analyzed using bivariate and multivariate methods in GraphPad Prism 8. Results: There was a statistically insignificant decrease in hs-CRP levels in the P2 group (p-value=0.21) and in the P1 group (p-value=0.63), suggesting limited impact on inflammation. However, there was a statistically significant drop in blood glucose levels in the P2 group (∆FBG -65.50±35.44 mg/dL, p-value=0.03) and in the P1 group (∆FBG -81.63±50.07 mg/dL, p-value=0.05). Conclusions: The reduction in hs-CRP levels indicates that vitamin D3-fortified kefir may help modulate low-grade inflammation and shows promise in managing diabetes. Future research should examine dose, duration, and sample size for better efficacy assessment.