Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Efek Proteksi Kombinasi Minyak Wijen (Sesame Oil) dengan α-Tocopherol terhadap Steatosis melalui Penghambatan Stres Oksidatif pada Tikus Hiperkolesterolemia Nur Khoma Fatmawati; Mulyohadi Ali; Edi Widjajanto
The Journal of Experimental Life Science Vol. 2 No. 2 (2012)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1504.817 KB) | DOI: 10.21776/ub.jels.2012.002.02.01

Abstract

Minyak wijen (MW) yang banyak mengandung polyunsaturated fatty acid (PUFA) berfungsi menurunkan kadar lipid serum melalui induksi β oksidasi di mitokondria. Proses ini menghasilkan produk sampingan berupa radikal bebas. Vitamin E (α-tocopherol) diketahui menghambat aktifitas radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efek sinergisme MW dan α-tocopherol dalam menghambat steatosis yang diakibatkan keadaan hiperkolesterol. Hasil penelitian menunjukan bahwa diperoleh perbedaan bermakna (p<0,05) terutama dosis MW 1,2 ml pada semua parameter antara kelompok hiperkolesterol, MW dan MW+α-tocopherol. Kadar kolesterol kelompok hiperkolesterol (140,925±10,5) mg/dl; kelompok MW (93,845±4,37) mg/dl dan kelompok MW+α-tocopherol (92,90±8,5) mg/dl. Kadar trigliserida kelompok hiperkolesterol  (154,78±11,09) mg/dl; kelompok MW (184,64±3,87) mg/dl dan kelompok MW+α-tochopherol (66,89 ± 6,03) mg/dl. Pada kelompok MW kadar MDA (0,257±0,013) nmol/mg protein, kelompok hiperkolesterol (0,847±0,036) nmol/mg protein dan kelompok kombinasi MW dengan α-tocopherol (0,092±0,006) nmol/mg protein. Kadar SOD pada kelompok kombinasi MW dengan α-tocopherol (253,82±16,63) U/mg protein, kelompok MW (208,7±11,27) U/mg protein, kelompok hiperkolesterol (139,7±2,82) U/mg protein. Dari gambaran histologis steatosis lebih banyak didapatkan pada kelompok hiperkolesterol yang disertai dengan keradangan, sedangkan pada kelompok kombinasi minyak wijen dengan α-tochopherol memiliki gambaran histologis terendah mengalami steatosis. Kata kunci: hiperkolesterol, minyak wijen, steatosis
PEMBERDAYAAN PERAN UKP (UNIT KESEHATAN PONDOK) DALAM DETEKSI DINI GANGGUAN REFRAKSI SISWI PESANTREN AL-AZIZIAH SAMARINDA: Empowering the Role of UKP (Pondok Health Unit) in the Early Detection of Refractive Disorder in Al-Aziziah Samarinda Islamic Boarding School Fatmawati, Nur Khoma; Toruan, Vera Madonna Lumban; Aminyoto, Meiliati; Zubaidah, Mona; Nong Ulir, Budi Santoso; Ishaq, Berta Ramadhani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Medika Vol 3. No. 2, September 2023
Publisher : Universitas Muhamamdiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jpmmedika.v3i2.2026

Abstract

ABSTRAK Pola pembelajaran di Pesantren yang sangat padat dan menyebabkan banyaknya aktifitas baca dekat mempunyai pengaruh pada kejadian gangguan refraksi. Gangguan refraksi ini sebagian besar tidak disadari oleh siswa dan keluhan baru muncul bila gangguan refraksi ini sudah sangat mengganggu proses belajar, sehingga deteksi dini adanya gangguan refraksi sangat diperlukan. Unit Kesehatan Pondok (UKP) yang telah ada di pesantren saat ini belum berfungsi maksimal untuk mendeteksi gejala gangguan refraksi pada siswa. Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan peran Unit Kesehatn Pondok dalam deteksi dini gejala gangguan refraksi pada siswa pesantren Al-Aziziah Samarinda. Metode yang digunakan adalah dengan edukasi tentang gejala gangguan refraksi, skrining kasus gangguan refraksi, memberikan rujukan ke puskesmas atau pemberian kaca mata dan pembentukan tim deteksi dini gangguan refraksi yang terintegrasi. Dari hasil kegiatan skrining didapati beberapa orang santri putri yang mengalami gangguan refraksi. Pemberian kaca mata gratis diberikan umtuk santri yang membutuhkan. Terdapat 15 orang tim UKP yang nantinya akan terus melakukan skrining gangguan refraksi pada siswi santri secara berkala. Dari hasil pretest yang dilakukan di awal kegiatan dan posttest di akhir kegiatan dapat terlihat adanya peningkatan tingkat pengetahuan para santri mengenai gangguan refraksi.    ABSTRACT The learning pattern in Islamic boarding schools which is very dense and causes a lot of close reading activities has an influence on the incidence of refractive disorders. This refractive disorder is mostly not realized by students and new complaints arise when this refractive error has greatly disrupted the learning process, so early detection of refractive errors is very necessary. The Pondok Health Unit (UKP) that already exists in Islamic boarding schools is currently not functioning optimally to detect symptoms of refractive errors in students. The purpose of community service is to increase the role of the Pondok Health Unit in early detection of refractive error symptoms in Al-Aziziah Samarinda Islamic boarding school students. The method used is by educating about the symptoms of refractive disorders, screening of cases of refractive errors, providing referrals to health centers or providing glasses and forming an integrated team for early detection of refractive errors. From the results of the screening activities, it was found that several female students had refractive errors. Giving free glasses is given to students who need it. There are 15 UKP teams who will continue to screen refractive disorders in female students on a regular basis. From the results of the pretest which was carried out at the beginning of the activity and the posttest at the end of the activity, it can be seen that there was an increase in the level of knowledge of the students regarding refractive disorders.
SANTI (SANITASI TINJA DENGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA REPEATED PROCESSING SEPTICTANK) DALAM MENANGGULANGI STUNTING DI KELURAHAN SARIJAYA, KECAMATAN SANGA-SANGA, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Fatmawati, Nur Khoma; Permana, Danang Biyan; Sahly, RA Camelia; Sari, Dinda Faratika; Nur Annisa, Rizqa Rahma; Bohari, Zalfa Aqilah; Anggraeni, Jenni; Sari, Iko Nilam; Herlisa, Defita; Alnoprasatya, Farezha; Irawan, Ferdi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Medika Vol 4. No. 1, Maret 2024
Publisher : Universitas Muhamamdiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jpmmedika.v4i1.3278

Abstract

ABSTRAK Stunting adalah keadaan gagal tumbuh pada anak balita (anak di bawah usia lima tahun). Stunting disebabkan oleh masalah pemberian makanan yang kurang baik selama masa kehamilan dan masa balita, kurangnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan nutrisi, serta terbatasnya akses terhadap makanan bergizi, sanitasi yang buruk, dan air minum yang tidak bersih. Data Profil Kesehatan Puskesmas Sanga-Sanga 2023 ditemukan 50 rumah di pinggiran sungai di Kelurahan Sarijaya belum memiliki jamban sehingga dapat menyebabkan pencemaran sungai. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berupaya menerapkan teknologi tepat guna untuk menanggulangi masalah tersebut berupa pembuatan Reapeated Processing Septictank. Tujuan jangka panjang kegiatan adalah untuk mengurangi pencemaran sungai untuk mengurangi kejadian infeksi pada anak sehingga dapat mengurangi angka stunting. Metode yang digunakan adalah pembuatan Repeated Processing Septictank sebagai jamban gantung pada rumah panggung dipinggiran sungai menjadi pengganti jamban. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah berkurangnya angka stunting di Kelurahan Sarijaya serta mengurangi pencemaran sungai.   ABSTRACT Stunting is a state of growth failure in children under five years of age. Stunting is caused by poor feeding during pregnancy and toddlerhood, lack of maternal knowledge about health and nutrition, and limited access to nutritious food, poor sanitation, and unclean drinking water. Data from the Community Health Center in Sanga-Sanga on 2023 found that 50 houses on the banks of the river in Sarijaya Village do not have latrines, which can cause river pollution. This community service activity seeks to apply appropriate technology to overcome this problem in the form of making a Reapeated Processing Septictank. The long-term goal of the activity is to reduce river pollution to reduce the incidence of infection in children so as to reduce stunting rates. The method used is the manufacture of Repeated Processing Septictank as a hanging toilet in a house on stilts on the edge of the river to replace the common toilet. The results achieved from this activity are reduced stunting rates in Sarijaya Village and reduced river pollution.
The Relationship between Diabetes Mellitus with Senile Cataracts Shaifullah, Muhammad; Fatmawati, Nur Khoma; Ismail, Sjarif
Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan Vol 6, No 2 (2023): JKPBK Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.kes.pasmi.kal.v6i2.7787

Abstract

A cataract is any condition of cloudiness of the eye lens (lens opacity) caused by denaturation of lens proteins, lens hydration, or both. Senile cataract refers to cataracts suffered by patients aged > 50 years. Cataract is a multifactorial disease. About 90% of cataract incidence is related to age. Other factors such as radiation exposure, trauma, medicine, or the presence of systemic disorders are also involved in diabetes melitus. The study’s goal was to analyze the relationship between diabetes mellitus and the incidence of senile cataract. The research was carried out using an analytical observational method and utilized a case-control study approach with individual matching. The data was taken from the medical record installation at the Eye Clinic of SMEC Samarinda with a purposive sampling method. The sample in this study included patients with eye disorders or diseases.The patients with a cataract diagnosis were involved as the case group, while non-cataract patients as the control group. All patients were received treatment at the SMEC Samarinda Eye Clinic in the period January to December 2021 and already met the research sample criteria. The data then tested using the Chi-Square test with a significance value of p <0.05, which was considered significant. A total of 334 samples were obtained, consisting of 167 case samples and 167 control samples. The results indicated that there was a relationship between diabetes mellitus and senile cataract (p = 0.000) with an odds ratio (OR) value of 3.150. It can be concluded that diabetes mellitus had a relationship with the incidence of senile cataract, since patients with diabetes mellitus were 3.150 times more at risk of suffering senile cataracts than non-diabetics patients.
KOLOBOMA IRIS DAN KORIORETINA UNILATERAL: A RARE CASE Ulir, Budi Santoso Nong; Hafifah, Fadillah Hana; Fatmawati, Nur Khoma
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Oftalmologi
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ojkmi.v5i1.48

Abstract

Pendahuluan: Koloboma iris dan korioretina adalah penyakit kongenital yang ditandai dengan adanya defek pada struktur mata. Koloboma iris dan korioretina merupakan penyakit genetik dominan autosom, yang tidak bergantung pada jenis kelamin. Penyakit ini terjadi akibat kegagalan dari penutupan fisura koroidea selama perkembangan janin. Laporan Kasus: Pasien wanita 12 tahun, suku Jawa, datang ke Klinik Spesialis Mata SMEC Samarinda pada tanggal 8 Februari 2023 dengan keluhan penglihatan mata kanan terasa silau saat berada diluar ruangan. Pasien memiliki riwayat lahir normal. Pada pemeriksaan oftamologi didapatkan tajam penglihatan mata kanan 20/200 dan mata kiri 20/30. Tekanan intraokular pasien normal, palpebra, kornea, bilik mata depan, dan lensa pada kedua mata normal. Hasil pemeriksaan funduskopi pada 8 Februari 2023 didapatkan gambaran koloboma korioretina pada mata kanan. Diskusi: Pasien diberikan terapi dengan pemberian lensa mata kanan silindris -2,50 menjadi 20/40 dan mata  kiri spheris – 0,50 menjadi 20/20 dan Laser Barrage dilakukan sebagai prosedur profilaksis untuk pencegahan lepasnya retina sehat di luar coloboma. Tujuan prosedur ini adalah untuk memperkuat kontak antara retina dan lapisan pigmen retina sehingga ablasi retina dapat dicegah. Kesimpulan: Pada pasien tidak ditemukan penyakit dan anomali penyerta.
Hubungan Durasi Terdiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 dan Kejadian Hipertensi dengan Terjadinya Makula Edema pada Retinopati Diabetik: Relationship of Diagnosis Duration of Type 2 Diabetes Mellitus and Hypertension Incidence with Occurrence of Macular Edema in Diabetic Retinopathy Grace Pisca Tandiarrang; Nur Khoma Fatmawati; Danial Danial
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i3.223

Abstract

Diabetes Melitus merupakan penyakit tidak menular yang saat ini merupakan ancaman kesehatan global karena insiden diabetes melitus yang terus meningkat. Insiden diabetes melitus yang terus meningkat akan diikuti oleh meningkatnya komplikasi dari diabetes melitus. Makula edema merupakan komplikasi dari retinopati diabetik yang menjadi penyebab utama terjadinya kebutaan pada penderita diabetes. Faktor-faktor yang menjadi penyebab makula edema yaitu lama menderita diabetes, hipertensi, peningkatan HbA1c dan hiperlipidemia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara durasi terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 dan kejadian hipertensi dengan terjadinya makula edema pada retinopati diabetik. Desain dalam penelitian ini menggunakan studi potong lintang dengan metode analitik observasional. Penelitian dilakukan di Sumatera Eye Centre (SMEC) Samarinda pada bulan Januari hingga Februari 2010 dan menggunakan metode total sampling. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil analisis diperoleh adanya hubungan antara durasi terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 ( p = 0,001) dan kejadian hipertensi ( p= 0,000) dengan terjadinya makula edema pada retinopati diabetik.
Hubungan Lama Penggunaan Amlodipine dengan Derajat Keluhan Mata Kering pada Pasien Hipertensi: Relationship of duration of use of Amlodipine with Severity of Dry Eye Symptoms in Hypertensive Patients Fadillah Hana Hafifah; Nur Khoma Fatmawati; Fransiska Anggreni Sihotang; Siti Khotimah
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 3 No. 4 (2021): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v3i4.435

Abstract

Mata kering merupakan penyakit pada permukaan mata yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Beberapa penelitian melaporkan hubungan penggunaan amlodipine dengan kejadian mata kering. Namun, penelitian mengenai faktor lama penggunaan amlodipine dengan derajat keluhan mata kering masih kurang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan lama penggunaan amlodipine dengan derajat keluhan mata kering pada pasien hipertensi. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Desember 2020. Data diperoleh dari 30 pasien berusia antara 41-65 tahun yang diambil dengan teknik purposive sampling di Klinik Mitra Keluarga Samarinda. Penelitian ini menggunakan lembar rekam medik dan kuesioner Ocular Surface Disease Index. Hasil penelitian ini didapatkan lama penggunaan amlodipine dan derajat keluhan mata kering memiliki hubungan yang bermakna (p = 0,005) dengan kekuatan korelasi sedang (r = 0,496) dengan uji Spearman. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ada hubungan antara lama penggunaan amlodipine dengan derajat keluhan mata kering, yaitu semakin lama menggunakan obat amlodipine maka derajat keluhan mata kering semakin berat.
Gambaran Pasien Papil Atropi Di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2015-2020: Overview of Optic Atrophy Patients at Abdul Wahab Sjahranie Hospital, Samarinda in 2015-2020 Budi Santoso Nong Ulir; Nur Khoma Fatmawati; Nataniel Tandirogang
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2023): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v5i1.1742

Abstract

Optic atrophy is the end process of a disease that causes degeneration of axons along the pathway to the lateral retinogeniculate bodies. Previous studies regarding the optic atrophy have had different results. This study was conducted to determine the description of optic atrophy patients at Abdul Wahab Sjahranie Hospital Samarinda in 2015-2020. This retrospective descriptive study was conducted in February 2021. Data were obtained from 64 patients who were taken by purposive sampling technique at Abdul Wahab Sjahranie Hospital, Samarinda. This study used a medical record sheet as a research source. This study found that the most common types of optic atrophy were secondary optic atrophy with 20 patients (83,3%). The highest age group of patients with optic atrophy was the 45-55 years group with 17 patients (26.6%). The most prevalent gender was male as many as 37 patients (57.8%). Eyes affected by optic atrophy were bilateral or both eyes with 34 patients (53,1%). Most of the patients with optic atrophy had visual acuity below 3/60 or experienced blindness with 44 eyes (67.7%). Eye disease was the most comorbid group with a total of 26 patients (35,1%). The most comorbidities were retrobulbar neuritis with 11 patients (14,9%). Keywords: optic atrophy, description, age, eyes Abstrak Papil atropi adalah proses akhir dari suatu penyakit yang menyebabkan degenerasi akson pada sepanjang jalur menuju badan retinogenikulatum lateralis. Penelitian sebelumnya mengenai gambaran papil atropi memiliki hasil yang berbeda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran pasien papil atropi di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda tahun 2015-2020. Penelitian ini bersifat desktiptif retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2021. Data diperoleh dari 64 pasien yang diambil dengan teknik purposive sampling di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini menggunakan lembar rekam medik sebagai sumber penelitian. Penelitian ini mendapatkan jenis papil atropi terbanyak adalah jenis papil atropi sekunder sebanyak 20 pasien (83,3%). Kelompok usia pasien papil atropi tertinggi adalah kelompok usia kelompok 45-55 tahun sebanyak 17 pasien (26,6%). Jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebanyak 37 pasien (57,8%). Mata yang terkena papil atropi terbanyak adalah bilateral atau kedua mata sebanyak 34 pasien (53,1%). Tajam penglihatan pasien papil atropi terbanyak adalah tajam penglihatan dibawah 3/60 atau mengalami kebutaan sebanyak 44 mata (67,7%). Penyakit mata adalah kelompok penyakit penyerta terbanyak dengan jumlah sebanyak 26 pasien (35,1%). Penyakit penyerta terbanyak adalah neuritis retrobulbar sebanyak 11 pasien (14,9%). Kata Kunci: papil atropi, gambaran, usia, mata
Profil Penderita Ablasio Retina Eksudatif di Klinik Mata SMEC Tahun 2019-2022 Hazami, Lathifah Nur Islami B.; Fatmawati, Nur Khoma; Sawitri, Endang
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v12i3.2255

Abstract

Retinal detachment is a critical ocular condition arising from separating two retina layers, leading to an abrupt decline in visual acuity. Exudative retinal detachment occurs due to fluid accumulation from the inflammatory reaction. Objective: To ascertain the demographic characteristics of individuals diagnosed with retinal detachment at SMEC Eye Clinic in Samarinda from 2019 to 2022. Methods: This study was a cross-sectional descriptive study that utilized data from the available population. The sample comprises seven medical records of patients with exudative retinal detachment at SMEC Eye Clinic in Samarinda between 2019 and 2022. Results: The age range observed was six patients (85.7%) between the ages of 15-65 years and one patient (14.3%) > 65. The mean age of patients was 39,4 years. Among the patients, 6 (85.7%) female and 1 (14.3%) male. Unilateral eye involvement was observed in 6 patients (85.7%), while bilateral involvement was observed in 1 (14.3%). The most commonly observed accompanying eye disease was choroidal disorder. In contrast, the most commonly observed non-eye comorbidity was diabetes mellitus. Conclusion: Most exudative retinal detachment cases observed at SMEC Eye Clinic between 2019 and 2022 were concentrated within the age bracket of 15 to 65 years, with a higher proportion of female patients. The condition was predominantly unilateral, and the presence of comorbidities such as choroidal disorder and diabetes mellitus was also noted.Keywords:  affected eye side, comorbidities, exudative retinal detachment, risk factors
Hubungan Hipertensi dan Obesitas dengan Hipertensi Okular: Relationship between Hypertension and Obesity with Ocular Hypertension Chair, Naila Permata; Fatmawati, Nur Khoma; Rachmi, Eva
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 7 No. 4 (2025): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v7i4.2438

Abstract

Intraocular pressure is the pressure inside the eye, which normally ranges from 10-21 mmHg, with an average of 16 ± 25 mmHg. Maintaining intraocular pressure within the normal range is crucial because elevated intraocular pressure (ocular hypertension) can lead to decreased perfusion in the eye which eventually increasing the risk of primary open-angle glaucoma (POAG) and retinal vein occlusion. High blood pressure and a high Body Mass Index (BMI) can influence an increase in intraocular pressure by disrupting the aqueous humor outflow mechanisms. The purpose of this study is to analyze the correlation between hypertension and obesity in ocular hypertension. The study employed an analytical observational design using a cross-sectional approach. Sample selection was performed using the purposive sampling method and involved 48 patients who met the study criteria. Researched data was obtained from both secondary and primary data through examination of blood pressure, body weight, height, and intraocular pressure. Bivariate data analysis was conducted using the Chi-Square test and Fisher's exact test. The results showed that the majority of the hypertensive patient group has normal intraocular pressure (41.6%), and the majority of obese patients also have normal intraocular pressure (43.7%). Based on bivariate analysis showed the correlation between hypertension and ocular hypertension yielded p-value = 0.458 and the correlation between obesity and ocular hypertension yielded p-value = 0.330. The analysis suggests that hypertension and obesity does not have a significant correlation with ocular hypertension. Keywords:          Ocular Hypertension, Hypertension, Obesity, Intraocular Pressure   Abstrak Tekanan intraokular merupakan tekanan di dalam bota mata, yang normalnya berkisar dari 10 – 21 mmHg, dengan rata-rata 16 ± 2,5 mmHg. Tekanan intraokular perlu dipertahankan dalam kisaran normal karena tekanan intraokular yang tinggi (hipertensi okular) memicu penurunan perfusi pada mata sehingga meningkatkan risiko terjadinya glaukoma sudut terbuka dan oklusi vena retina. Hipertensi dan indeks massa tubuh (IMT) tinggi dapat memengaruhi peningkatan tekanan intraokular melalui terganggunya mekanisme aliran humor aquos. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara hipertensi dan obesitas dengan hipertensi okular. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan melibatkan 48 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Data penelitian diperoleh dari data sekunder dan data primer melalui pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, dan tekanan intraokular. Uji bivariat data dianalisis dengan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas kelompok pasien hipertensi lebih banyak memiliki tekanan intraokular normal (41,6%) dan mayoritas pasien obesitas memiliki tekanan intraokular normal (43,7%). Berdasarkan analisis bivariat antara hubungan hipertensi dan hipertensi okular didapatkan p value = 0,616 dan hubungan obesitas dengan hipertensi okular didapatkan p value = 0,330. Dapat disimpulkan bahwa hipertensi dan obesitas tidak memiliki hubungan dengan hipertensi okular. Kata Kunci:         Hipertensi Okular, Hipertensi, Obesitas, Tekanan Intraokular