Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

ANALISIS PENCAPAIAN PEMBERIAN ASI PADA BAYI BALITA USIA 0 – 24 BULAN DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2014 Tupriliany Danefi, SST. M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 6 No. 1 (2015): Februari 2015
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v6i1.43

Abstract

Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin, yaitu sejak bayi. Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian ASI. Berdasarkan laporan desa Cikunir jumlah bayi periode bulan Desember 2013 sebanyak 125 bayi. Dari jumlah bayi di desa cikunir sebesar 58,4% yang diberi ASI Ekslusif dan desa Cikunir memempati urutan terbesar dimana bayi tidak diberikan ASI secara ekslusif. Dengan metode deskriptif dengan sampel berjumlah 81 orang dengan menggunakan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proportional random sampling. Data analisis dengan menggunakan analisa univariat. Hasil penelitian dari total populasi yang masih memberian ASI sebesar 92,59% sedangkan yang tidak memberikan ASI sebesar 7,41%. Pemberian ASI usia kurang dari 6 bulan yang masih memberiakan ASI sebesar 94,44% sedangkan yang tidak memberian ASI sebesar 5,88%.Umur sebelum tiga bulan ibu ibu yang memberikan ASI pada anaknya sebesar 66,67 %. Oleh karena itu diharapkan adanya penyuluhan mengenai pentingnya ASI bagi bayi sampai dengan usia 2 tahun bagi masyarakat umum sebaiknya dilakukan secara rutin agar masyarakat memahami pentingnya ASI
ANALISIS POTENSI BUDAYA LOKAL DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN IBU DAN ANAK DI WILAYAH KAMPUNG NAGA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2014 Dadan Yogaswara, S.KM,M.KM; Setiawan , SH,M.Kes; Tupriliany Danefi, SST. M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 7 No. 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v7i2.59

Abstract

Masalah kesehatan sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya di masyarakat dimana mereka berada. Tingginya kematian ibu dan anak erat hubungannya dengan masalah-masalah non medis, tetapi selama ini penanganannya lebih ditekankan kepada pelayanan kesehatan, padahal penyebab mendasarnya adalah kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, termasuk sosial budaya. Kepercayaan, pengetahuan dan budaya setempat seperti adanya kebiasaan-kebiasaan kurang mendukung terhadap perilaku sehat, berbagai pantangan jenis makanan dan kebiasaan lainnya berhubungan langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi kesehatan di lingkungan masyarakat tersebut. Perilaku-perilaku kesehatan di masyarakat baik yang menguntungkan atau merugikan kesehatan banyak sekali dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Faktor sosial budaya tersebut diduga menjadi penyebab mendasar rendahnya derajat kesehatan masyarakat termasuk termasuk faktor penyebab mendasar lainnya seperti pengetahuan angota keluarga, pendidikan anggota keluarga, kondisi sosial ekonomi. Faktor penyebab tidak langsung juga turut mempengaruhi diantaranya masalah gizi, gender, perlakuan keluarga terhadap kelompok risiko tinggi yaitu diantaranya ibu hamil, ibu bersalin, ibu melahirkan dan anak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana faktor sosial budaya setempat yang mempengaruhi terhadap status kesehatan masyarakatnya sekaligus bisa memberikan solusi dalam pengembangan pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan budaya setempat. Intervensi terhadap kondisi tersebut bisa dikembangkan dengan memanfaatkan berbagai potensi yang disesuaikan dengan sosial budaya tersebut. Desain penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif. Pilihan desain penelitian ini bisa mengungkap secara mendalam terhadap berbagai akar persoalan mendasar sehingga diketahui sejauhmana faktor sosial budaya mempengaruhi terhadap kesehatan masyarakat, karena persoalan keyakinan ataupun kepercayaan-kepercayaan yang sudah dan masih dianut secara turun-temurun seringkali banyak menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan yang mempengaruhi terhadap kesehata khususnya kesehatan ibu dan anak. Setelah diketahuinya segala faktor budaya yang menjadi penyebab mendasar terhadap munculnya permasalahan kesehatan diharapkan bisa menentukan intervensi yang lebih efektif, efisien dan tepat sasaran karena langsung menyelesaikan masalah pada akar masalahnya.
GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU NIFAS DALAM PERILAKU TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR DI RSU DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2015 Tupriliany Danefi, SST. M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 7 No. 1 (2016): Februari 2016
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v7i1.62

Abstract

Berdasarkan data di atas, kejadian bendungan ASI di RS dr Soekardjo mengalami kenaikan kejadian masalah bendungan ASI, Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menurunkan angka kejadian masalah tersebut yang terutama dalam hal menyusui. Masalah menyusui bisa timbul sejak masa sebelum persalinan (antenatal) seperti puting susu datar, dan masa setelah persalinan seperti puting susu lecet, bendungan ASI, payudara bengkak, dll. Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, Bendungan ASI, ASI tidak keluar optimal, sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu dan bayi jarang menyusu. Tujuan penelitian adalah Diketahuinya gambaran Karakteristik Ibu Nifas Dalam Perilaku Teknik Menyusui yang Benar di RSU dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2015 Jenis penelitian termasuk penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Populasi dan Sampel adalah Seluruh ibu nifas di RSU dr Soekardjo Kota Tasikmalaya pada bulan Mei s.d Juli tahun 2015. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data yang digunakan adalah univariat Hasil penelitian adalah Gambaran karakteristik umur responden menunjukkan bahwa seluruh ibu menyusui memiliki perilaku menyusui yang baik pada kategori umur 20-35 tahun sebanyak 83,3%,sebagian besar responden berperilaku baik dalam praktik menyusui yang benar berada pada kategori pendidikan tamat SD sebanyak 41,7%, sebagian besar responden berperilaku menyusui baik pada kategori ibu yang tidak bekerja (IRT) yaitu sebanyak 95,8%, paritas primipara yaitu sebanyak 62,5%, perilaku menyusui sebagian besar masuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 62,5 %. Saran diharapkan petugas kesehatan lebih meningkatkan pengetahuan ibu dengan memberikan informasi melalui penyuluhan dan memberikan bimbingan tentang cara menyusui pada saat ibu menyusu.
GAMBARAN EFEKTIFITAS ASUHAN DALAM KUNJUNGAN MASA NIFAS DAN KETIDAKNYAMANAN FISIK DALAM MASA NIFAS DI DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2016 Tupriliany Danefi, SST. M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 7 No. 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v7i2.73

Abstract

Masa nifas merupakan masa kritis dalam kehidupan ibu dan bayi karena sekitar 60% kematian ibu terjadi segera setelah kelahiran dimana 50% dari kematian tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dan perawatan pada ibu serta penyuluhan kepada ibu dan keluarganya agar komplikasi nifas tidak terjadi dalam bentuk Kunjungan nifas. Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2012 adalah 85,16%, dan meningkat di tahun 2013 yaitu 86,64%, sedangkan cakupan persalinan meningkat dari tahun 2012 sebesar 88,64% ke tahun 2013 yaitu sebesar 90,88%. Hal ini menyimpulkan apabila tidak ada kesamaan antara cakupan persalinan dengan cakupan kunjungan nifas kemungkinan terjadi komplikasi persalinan dalam masa nifas atau masa nifas tidak terkontrol oleh petugas kesehatan.Tujuan Penelitian ini adalah untuk gambaran efektifitas asuhan dalam kunjungan masa nifas dan ketidaknyamanan fisik dalam masa nifas di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriprif. Populasi dalam penelitian adalah seluruh ibu nifas di bulan Mei sebanyak 11 ibu nifas. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat. Instrumen yang digunakan menggunakan kuesioner dan juga observasi secara langsung. Hasil penelitian didapatkan Diperoleh 54,54 % asuhan dalam kunjungan yang diberikan kurang efektif.Ibu nifas yang mengalami ketidaknyamanan dalam masa nifas sebanyak 5 orang (45,45%) dan yang tidak mengalami ketidaknyamanan sebanyak 6 orang (54,54%). Ketidaknyamanan yang terjadi adalah nyeri setelah melahirkan, pembesaran payudara dan keringat berlebih Berdasarkan hasil penelitian ini ini maka dapat disimpulkan bahwa ibu nifas masih kurang mendapatkan asuhan dalam kunjungan nifas yang mungkin bisa berdampak terjadinya ketidaknyamanan dalam masa nifas Disarankan pada ibu nifas melakukan kunjungan nifas minimal dilakukan sebanyak tiga kali untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalahmasalah yang terjadi.
GAMBARAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BAYI DENGAN RIWAYAT BBLR DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS PAGERAGEUNG KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Laras Sekarkinanti; Tupriliany Danefi, SST, M.Kes
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 9 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v9i1.83

Abstract

Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya tahun 2016 mengalami peningkatan dari tahun 2015. Pada tahun 2015 kejadian BBLR sebanyak 30 bayi (4,12%), sedangkan tahun 2016 menjadi 32 bayi (4,18%). BBLR sering kali menyebabkan komplikasi. Komplikasi jangka panjang diantaranya gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pertumbuhan dan perkembangan bayi dengan riwayat BBLR di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2017. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu kebidanan khususnya tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 28 bayi yang memiliki riwayat BBLR dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar format DDST atau observasi dan kuesioner dan diolah dengan menggunakan analisisunivariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar bayi dengan riwayat BBLR mengalami pertumbuhan yang sesuai. Pada perkembangan bayi didapatkan hasil perkembangan tingkah laku sosial, bahasa dan motorik halus mengalami perkembangan yang sesuai tetapi pada perkembangan motorik kasar sebagian besar mengalami perkembangan yang tidak sesuai. Simpulan penelitian ini yaitu bayi dengan riwayat BBLR mempunyai resiko kecil untuk mendapatkan keterlambatan pertumbuhan namun mempunyai resiko lebih besar terjadinya keterlambatan perkembangan khususnya perkembangan motorik kasar. Saran kepada tenaga kesehatan serta orangtua untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi serta memberikan stimulasi secara optimal.
HUBUNGAN STATUS GIZI DAN POLA MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA DI SMAN 2 SINGAPARNA KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2018 Tupriliany Danefi; Fenty Agustini
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 10 No. 1 (2019): Februari 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v10i1.100

Abstract

Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri. Selain itu tingginya angka pernikahan dini/remaja (48%) menyumbangkan dampak yang tinggi terhadap kejadian anemia yang merupakan implikasi kehamilan dari remaja yang anemia yaitu sebanyak 48 per 1000 kehamilan. Menurut data hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi anemia di Indonesia yaitu 21,7%. Prevalensi anemia pada wanita di Indonesia sebesar 23,9 % dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun. Berdasarkan hasil penelitian di wilayah kerja Puskesmas Singaparna tahun 2014 didapatkan data bahwa dari 59 ibu hamil usia kurang dari 20 tahun sebanyak 18,6% mengalami anemia. Kejadian anemia pada ibu hamil sangat erat kaitannya dengan kejadian anemia pada masa remaja.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan hubungan status gizi dan pola menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja di SMAN 2 Singaparna Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya tahun 2018. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi di SMAN 2 Singaparna dengan tekhnik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 77 siswi.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan siswi yang mengalami anemia sebanyak 29,9% dan yang tidak anemia sebesar 70,1%. Hasil tabulasi silang mengenai status gizi dengan anemia didapatkan sebanyak 25,7% siswi dengan status gizi baik mengalami anemia, sedangkan sebanyak 71,4% siswi dengan status gizi kurang mengalami anemia dengan hasil uji statistik diperoleh p value 0,012 kurang dari alpha (0,05). Untuk pola menstruasi dengan kejadian anemia didapatkan sebanyak 28,6% siswi dengan pola menstruasi normal mengalami anemia , sedangkan sebanyak 37,5% siswi dengan pola menstruasi tidak normal mengalami anemia dengan hasil uji statistik diperoleh p value 0,597 lebih besar dari alpha (0,05).Simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri dan tidak ada hubungan antara pola menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Saran bagi sekolah Perlu adanya kerjasama dengan fasilitas kesehatan supaya bisa mengadakan penyuluhan tentang gizi remaja di sekolah dan makanan kaya zat besi sehingga remaja memiliki pengetahuan yang baik tentang gizi dan masalah anemia pada remaja putri.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTISIPASI AKSEPTOR KB AKTIF TERHADAP PENGGUNAAN KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI DESA CIGALONTANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIGALONTANG TAHUN 2018 Hapi Apriasih; Tupriliany Danefi
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 10 No. 1 (2019): Februari 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v10i1.101

Abstract

Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat jumlahnya sehingga menempatkannya di urutan keempat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar didunia. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan bahwa pemakaian kontrasepsi di antara wanita berstatus kawin di Indonesia meningkat dari 60% pada tahun 2002-2003 menjadi 63,3 %. Peningkatan terbanyak terjadi pada pemakaian metode kontrasepsi suntik. Pemakaian IUD menurun selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Dalam RPJMN 2015 – 2019 tertulis bahwa program pemerintah untuk lima tahun kedepan salah satunya adalah Peningkatan pelayanan KB dengan menggunakan MKJP. Dalam Notoatmodjo (2005) rendahnya jumlah Pengguna Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor predisposing yaitu faktor pengetahuan, nilai atau kepercayaan dan sikap, serta faktor pemungkin yaitu fasilitas, biaya, jarak dan ketersediaan trasnfortasi sedangkan faktor penguat yaitu dari dukungan suami dan keluargaTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi akseptor KB aktif terhadap penggunaan kontrasepsi jangka panjang di Desa Cigalontang Wilayah Kerja PKM Cigalontang tahun 2018. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross sectional. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB aktif dengan tekhnik pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 448 akseptor KB aktif.Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa 85% responden menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan 15% responden tidak menggunakan MKJP. Hasil tabulasi silang didapatkan faktor yang berhubungan dengan partisipasi akseptor KB aktif terhadap penggunaan MKJP adalah paritas (p value 0,000), pekerjaan (p value 0,000), status sosio ekonomi (p value 0,000), dan dukungan suami (p value 0,000) dengan kuranf dari alpha (0,05), sedangkan variabel pengetahuan (p value 0,164), dan sikap (p value 0,071) tidak berhubungan dengan penggunaan kontrasepsi jangka panjang dengan lebih dari alpha (0,05).Simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara paritas, pekerjaan, status sosio ekonomi, dukungan suami dengan penggunaan kontrasepsi MKJP dan tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan penggunaan kontrasepsi MKJP. Saran meningkatkan konseling KB pada calon akseptor KB oleh tenaga kesehatan sehingga dapat meningkatkan pemahaman tentang metode MKJP dengan menggunakan media yang efektif serta meningkatkan keterlibatan suami dalam ber KB.
GAMBARAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU YANG MEMILIKI BAYI BALITA STUNTING DI DESA CIKUNIR TASIKMALAYA TAHUN 2019 Tupriliany Danefi; astri Novia Nurfalah
JURNAL KESEHATAN BIDKEMAS RESPATI Vol. 10 No. 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v10i2.334

Abstract

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting disebabkan oleh dua faktor yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung yaitu ASI Eksklusif, penyakit infeksi, asupan makan, dan berat badan lahir. Dan yang merupakan faktor secara tidak langsung pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan status ekonomi keluarga. Desa Cikunir merupakan desa tertinggi ke 2 kejadian sebanyak 139 kasus stunting dan Desa Cikunir merupakan desa binaan dari STIKes Respati. (Laporan Hasil BPB Puskesmas Singaparna, 2018). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambara pemberian ASI eksklusif pada ibu yang memiliki bayi balita stunting di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Tahun 2019. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi balita yang stunting di desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya pada bulan April 2019 sebanyak 32 orang dengan tekhnik pengambilan sampel menggunakan total sampling Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar Pada bayi balita Stunting Desa Cikunir Kecamatan Singaparna mendapatkan ASI Eksklusif sebanyak 21 orang (65,63%), sebagian besar Kejadian Stunting pada Pada bayi balita Stunting di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya ada pada kategori Stunted (pendek) yaitu sebanyak 24 orang (75%), dan hasil tabulasi silang didapatkan sebesar 19,05% bayi balita dengan Stunted (pendek) yang pemberian ASI nya secara ekslusif, sedangkan sebanyak 54,54 % bayi balita dengan Stunted (pendek) yang pemberian ASI nya secara ekslusif. Simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat Sebagian besar bayi balita stunting di Desa Cikunir ada pada kategori Stunted (pendek). Sebagian besar bayi balita stunting di Desa Cikunir mendapat ASI secara Ekslusif. Saran bagi Bagi tenaga kesehatan untuk lebih dapat mendukung dan memotivasi dengan melakukan pendampingan kepada ibu dan keluarga sejak hamil agar ibu memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan
PROGRAM LANSIA WILAYAH PUSKESMAS SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017 Santi Susanti; Hariyani Sulistyoningsih; Fenty Agustini; Tupriliany Danefi; wuri Ratna Hidayani
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.135

Abstract

Persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya mencakup persoalan kesehatan reproduksi perempuan secara sempit dengan mengaitkannya pada masalah seputar perempuan usia subur, kehamilan dan persalinan. Secara lebih spesifik, berbagai masalah dalam kesehatan reproduksi mulai dari perawatan kehamilan, pertolongan pada persalinan, infertilitas, penggunaan kontrasepsi, kehamilan tidak diinginkan dan aborsi, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, pelecehan dan kekerasan pada perempuan, perkosaan, layanan dan informasi pada remaja, serta menopause pada perempuan dewasa, merupakan bagian dari upaya memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran kesehatan reproduksi bagi individu, khususnya bagi perempuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seluruh tingkatan hidup perempuan merupakan fokus persoalan kesehatan reproduksi itu sendiri. Menurut Manuaba sampai akhir abad 21, diperkirakan antara 8%- 10% penduduk Indonesia adalah lansia dan lansia perempuan akan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa ledakan menopause pada tahun-tahun mendatang sulit sekali dibendung dan diperkirakan di tahun 2030 nanti ada sekitar 1,2 miliar perempuan yang berusia diatas 50 tahun. Sebagian besar dari mereka (sekitar 80%) tinggal di negara berkembang dan setiap tahunnya populasi perempuan menopause meningkat sekitar tiga persen. 3 Artinya kesehatan perempuan khususnya patut mendapatkan perhatian, sehingga akan meningkatkan angka harapan hidup dan tercapainya kebahagiaan serta kesejahteraan secara psikologis. Dalam rangkaian disnatalis STIKes Respati Tasikmalaya ke-15 dilaksanakan program pengabdian masyarakat pemeriksaan status kesehatan lanjut usia di wilayah kerja puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya tahun 2017.
PROGRAM IBU HAMIL SEHAT KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYATAHUN 2017 Tupriliany Danefi; Lilis Lisnawati
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.136

Abstract

Kesehatan ibu hamil adalah salah satu aspek yang penting untuk diperhatikan dalam siklus kehidupan seorang perempuan karena sepanjang masa kehamilannya dapat terjadi komplikasi yang tidak diharapkan. Setiap ibu hamil akan menghadapi risiko yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap ibu hamil memerlukan asuhan selama masa kehamilannya (Salmah, 2006). Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan suatu negara. Jumlah kematian ibu di negara berkembang tergolong tinggi seperti yang terjadi di Afrika Sub Sahara dan Asia Selatan (WHO, 2013). Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas, yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC). Tujuan dari ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat (Depkes RI, 2014). Menurut Manuaba 2010 tujuan dilakukan pemeriksaan kehamilan adalah untuk memantau kemajuan kehamilan, memastikan kehamilan ibu dan tumbuh kembang janin, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu, mengenali secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama masa kehamilan termasuk riwayat penyakit secara umum dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang normal, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal dan menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal. STIKes Respati sebagai satu satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dengan kegiatan pengabdian masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Program Ibu Hamil Sehat” sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan dengan kegiatan itu sebagai deteksi dini komplikasi pada ibu hamil.