Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KEGIATAN PENYULUHAN PADA REMAJA TENTANG PERSONAL HYGIENE DAN PUBERTAS DI KAMPUNG PAMEUNGPEUK DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA TASIKMALAYA TAHUN 2018 Hapi Apriasih; Tupriliany Danefi
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.149

Abstract

Seiring dengan  perkembangan zaman, masalah remaja makin bertambah di mana-mana khususnya di Indonesia.  Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masalah remaja di zaman ini bukanlah baru terjadi, tapi dari tahun sebelum-sebelumnya sudah sering terjadi, dimana masalah pada remaja yaitu pergaulan bebas,  tawuran, memakai narkoba, menonton film porno, meminum minuman alkohol, pesta pora dan masih banyak lagi masalah yang terjadi pada remaja.  Dan sekarang ini ada juga anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah seperti SD, maupun SMP dan SMA sudah ada yang merokok, pergaulan bebas, meminum alkohol, menonton film porno, dan bahkan ada yang sudah hamil di luar nikah. Ini semua terjadi karena kurang adanya pengawasan dari orangtua atau keluarga, guru, dan pemerintah.  Masalah remaja tentunya  tak jarang lagi mendengar atau menonton dan bahkan melihat yang terjadi disekitar kita. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan berbasis Sekolah di Indonesia tahun 2015 (GSHS) dapat terlihat gambaran faktor risiko kesehatan pada pelajar uisa 12-18 tahun secara nasional sebanyak 41,8 % laki-laki dan 4,1 % perempuan mengaku pernah merokok, 32,82 % doantara merokok pertama kali pada umur kurang dari 13 tahun. Gambaran faktor resiko kesehatan lainnya adalah perilaku seksual dimana didapatkan 8,26 % pelajara laki-laki dan 4,17 pelajara perempuan usia 12-18 tahun pernah melakukan hubungan seksual. Perilaku seks pranikah tentunya memberikan dampak yang luas pada remaja terutama berkaitan dengan penularan penyakit dan kehamilan yang tidak diinginkan serta aborsi. Kehamilan pada remaja tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi fisik, mental dan sosial remaja tetapi juga meningkatkan resiko kematian bayi dan balita, seperti yang ditunjukkan SDKI 2012 dimana kehamilan dan persalinan pada ibu dibawah umur 20 tahun memiliki kontribusi dalam tingginya Neonatal Mortality Rate (34/1000 KH), Postnatal Mortality Rate (16/1000 KH), Infant Mortality Rate (50/1000 KH) dan under -5 Mortality Rate (61/1000 KH). Laporan triwulan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) mulai 1987 sampai dengan Maret 2017 menunjukkan bahwa tingginya angka kejadian AIDS di kelompok usia 20-29 tahun mengindikasikan kelompok tersebut pertama kali terkena HIV pada usia remaja. Di Desa Cikunir merupakan desa di wilayah Puskesmas Singaparna yang terdiri dari 3 dusun yaitu Gunung Kawung, Pameungpeuk, dan Anggaraja. Melalui kegiatan praktik kerja nyata mahasiswa Program Studi Kebidanan STIKes Respati Tasikmalaya melalui focus grup discucion (FGD) diperoleh informasi dari 35 responden remaja sebagai berikut 48,7 % belum mengetahui kesehatan reproduksi khususnya terkait infeksi menular seksual, 45,71 % sudah mempunyai pcar, 51,43 % tidak mengetahui tentang HIV/AIDS, 22,86% tidak mengetahui dampai pernikahan dini, dan 11,43 % setuju dengan pernikahan dini. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja masih kurang dan akan berdampak pada permasalahan yang serius maka menjadi hal yang sangat penting untuk adanya upaya dalam hal peningkatan pengetahuan remaja , oleh karena diselenggarakan kegiatan penyuluhan tentang personal higyene dan masa pubertas pada remaja.
PROMOSI KESEHATAN DALAM PENINGKATAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA SINGASARI KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2020 Tupriliany Danefi
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i02.290

Abstract

Tujuan dari pembangunan kesehatan salah satunya adalah menurunkan angka kematian bayi. Angka Kematian Bayi menurut Sustainanble Depelovment Goals (SDGs) tahun 2015 berjumlah 40 per 1000 kelahiran hidup dan masih menempati peringkat ke-4 tertinggi kematian bayi se-ASEAN. Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam usia 28 hari pertama kehidupan per 1.000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia adalah kematian neonatal dan dua pertiga dari kematian neonatal adalah pada satu minggu pertama dimana daya imun bayi masih sangat rendah. Angka kematian bayi yang cukup tinggi dapat dihindari dengan pemberian air susu ibu (ASI).Air susu ibu (ASI) adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat. ASI Eksklusif adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa terjadwal dan tidak diberi makanan lain walaupun air putih sampai bayi berumur 6 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan bayi diperkenalkan dengan makanan tambahan yang lain. Karena pada saat berumur 6 bulan sistem pencernaanya mulai matur (Hubertin, 2004).Pemberian ASI Ekslusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru (Wahyuni, 2012). Bayi dengan ASI Ekslusif akan memiliki daya32tahan tubuh yang lebih kuat dibandingkan dengan bayi yang diberikan susu formula (Maryunani, 2012). Menyusui secara eksklusif selain meningkatkan kesehatan dan kepandaian secara optimal, ASI juga membuat anak potensial memiliki emosional yang stabil dan spiritual yang matang, serta memiliki perkembangan sosial yang baik. Bayi yang mendapat ASI Eksklusif 6 bulan frekuensi terkena diare sangat kecil. Berbeda dengan kelompok bayi yang diberi susu formula lebih sering mengalami diare. Dengan demikian kesehatan bayi yang mendapat ASI akan lebih baik bila dibanding dengan kelompok bayi yang diberi susu sapi. Keuntungan ini tidak hanya diperoleh bayi tetapi juga dirasakan oleh ibu, keluarga dan negara (Utami, 2004). Menurtu Roesli, 2000, Bayi yang mendapatkan ASI memiliki kesehatan dan kepandaian lebih optimal, selain itu ASI juga membuat potensial emosi yang stabil dan memiliki perkembangan sosial yang baik.Dampak bagi bayi bila tidak diberi ASI eksklusif adalah bayi akan mengalami aspirasi sehingga bayi akan gampang tersedak, bayi akan rawan terhadap penyakit, karena bayi tidak mendapat kekebalan alami dari ASI eksklusif. Bayi yang tidak diberi ASI kecerdasan otaknya tidak begitu hebat dari pada yang diberi ASI eksklusif, bayi yang tidak diberi ASI eksklusif juga akan mengalami konstipasi serta resiko terkena infeksi saluran pencernaan. Selain itu, pada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif dapat menyebabkan terkana diare, alergi, serta bakteri patogen yang mengakibatkan berbagai penyakit yang masuk ke tubuh (Sunar, 2009 : 35).Pencapaian ASI Eksklusif di Indonesia belum mencapai 80%. Berdasarkan laporan SDKI tahun 2013 pencapaian ASI eksklusif adalah 42%. Sedangkan, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Provinsi tahun 2014, cakupan pemberian ASI 0-6 bulan hanyalah 54,3%, (Pusdatin, 2015). Persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif untuk umur bayi dibawah 6 bulan sebesar 41%, ASI eksklusif pada bayi umur 4-5 bulan sebesar 27%, dan melanjutkan menyusui sampai anak umur 2 tahun sebesar 55% (Kementerian Kesehatan RI, 2015) Cakupan ASI Ekslusif di jawa barat baru mencarpai 53%. (Profil Kesehatan Jawa Barat Tahun 2017) Sedangkan Untuk Kabupaten Tasikmalaya Data Cakupan ASI Ekslusif Sebesar 88,55%.33Data cakupan ASI ekslusif di Puskesmas Singaparna sebesar 91,03%, sedangkan Desa Singasari untuk capaian ASI ekslusif tahun sebesar 92,66%. (Dashboard Indikator Keluarga Sehat Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018). Sedangkan berdasarkan survey pada tahun 2020 pada bulan januari cakupan ASI ekslusif sebesar 59% dari 66 ibu yang mempunyai bayi balita usia 7 -23 bulan.Dapat dikatakan cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia belum mencapai target yang diharapkan. Sebenarnya banyak faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI kepada bayi terutama ASI eksklusif, salah satu bentuk dukungan dari tenaga kesehatan penolong persalinan terhadap keberhasilan pemberian ASI adalah menginformasikan kepada ibu tentang pentingnya ASI dan bagaimana menyusui yang benar agar pemberian ASI menjadi lancar. Peningkatan pengetahuan ibu tentang pelaksanaan ASI esklusif sebaiknya dilakukan pada saat ibu menjalani masa kehamilan bukan pada saat ibu sudah melahirkan. (Fikawati, 2009)
KAMPANYE TERBUKA “ASI SAJA SAMPAI USIA 6 BULAN” SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN GIZI PADA BAYI DI DUSUN GUNUNG KAWUNG DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 Hariyani Sulistyoningsih; chanty Yunie HR; Tupriliany Danefi; novi siti fatimah; aeni nooranisa
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i02.291

Abstract

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu fondasi kesehatan, perkembangan dan terutama kelangsungan hidup anak. Pemberian ASI eksklusif menghindari anak dari penyakit seperti diare, pneumonia dan gizi buruk yang merupakan penyebab umum kematian anak di bawah 5 tahun (WHO, 2017).World Health Organization (WHO) menyebutkan target pencapaian ASI eks-klusif tahun 2025 sebesar 50%, tetapi saat ini pencapaian secara global, hanya 38% bayi di bawah usia enam bulan yang disusui secara eksklusif (WHO, 2017). Target pem-berian ASI eksklusif di Indonesia tahun 2015 sebesar 55.7%, angka ini masih jauh dari target nasional yaitu 80%.Cakupan pemberian ASI di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 55,7% dan pada jika mengacu pada target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 39%, maka secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan telah mencapai target. Menurut provinsi, kisaran cakupan ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan antara 26,3% (Sulawesi Utara) sampai 86,9% (NusaTenggara Barat). Dari 33 provinsi yang melapor, sebanyak 29 di antaranya (88%) berhasil mencapai target renstra 2015 (Kemenkes RI, 2016).Sedangkan Pada tahun 2016 di Indonesia diketahui bahwa jumlah persentase bayi mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sebesar 29,5% dan bayi yang mendapat ASI usia 0-5 bulan sebesar 54,0% (Kemenkes RI, 2017).Pemberian ASI ekslusif di Jawa Barat sebanyak 349.968 Bayi umur 0-6 bulan dari 754.438 jumlah bayi 0-6 bulan (46,4%) gambaran ini masih dibawah cakupan nasional 52,3% terlebih Target nasional sebesar 80% walaupun demikian terdapat 2 kab/kota yang telah melampaui target nasional yaitu Kota Bandung 97,4% dan Kota Sukabumi 85,1% (Jawa Barat, 2016)Berdasarkan tabel profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya cakupan tidak diberikan ASI eksklusif sebanyak 76,64% (Dinkes Kab Tasikmalaya, 2016).Bayi yang tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif memiliki risiko kematian karena diare 3.94 kali (Ekawati et al., 2015). Estimasi37menunjukkan bahwa dalam praktik pemberian ASI eksklusif yang dapat mencegah kematian balita sebesar 11.6% (Black et al., 2013).Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan ibu, motivasi dalam memberikan ASI, kurangnya pelayanan konseling, kurangnya kampanye ASI eksklusif, peran petugas kesehatan, ibu bekerja, kampanye susu formula, sikap ibu, dan dukungan keluarga (Irma dan Kustati, 2013; Wulandari, 2015).Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan oleh mahasiswa PBL 1 Tahun 2018.terdapat bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif sebanyak 6 bayi (11,6%) di Dusun Gunung Kawung Desa Cikunir Kecamatan Singaparna pada tahun 2018. Dengan adanya program Indonesia sehat pendekatan keluarga yang bertujuan untuk meningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang di didukung dengan perlindungan financial dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakkat dengan memiliki 12 indikator yang diantaranya adanya pemberian ASI Eksklusif terhadap bayi. Oleh karena itu untuk upaya peningkatan sikap positif terhadap pemberian ASI Eksklusif, penulis melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan dengan metode penyuluhan dan metode kampanye terbuka.
Nutritional Status and Lifestyle Factors Contributing to the Regulation of Reproductive Quality in Adolescent Females Lilis Lisnawati; Tupriliany Danefi
Genius Journal Vol. 4 No. 2 (2023): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v4i2.267

Abstract

Introduction : Many health problems of adolescents cause a decline in their quality of life, including reproductive-related problems such as anemia, malnutrition, and obesity. Chronic nutritional dysfunction among adolescents has raised concerns since it may lead to stunting. Objective :This study examines the correlation between nutritional status and lifestyle (including habitual patterns of diet, exercises, and use of insecticides or mosquito repellent, consumption of Fe tablets and folic acid) and reproduction quality (including ages, menarche, menstrual cycle, PMS score, and length and length and severity of dysmenorrhea). Method : We used an analytic survey method with a cross-sectional study design. The population was young women aged 16-24 years, with a total of 80 people. Result : Data were not normally distributed or homogeneous; we used a non-parametric approach with the Spearman correlation test α = 0.05. The chi-square test resulted in a Sig value of 0.292 > 0.05, and the Spearman Rank correlation test results in Sig. (2-tailed) of 0.152 or a Sig (2-tailed) value of 0.152 > 0.05. Conclusion : The results indicate that the reproductive quality of adolescents is multifactorial. The nutritional status and lifestyle of adolescents are only part of the factors determining the optimization of reproductive function.
Determinan Faktor Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif pada Balita Stunting di Desa Cikunir Danefi, Tupriliany
Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia Vol 11 No 03 (2021): Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia (Indonesian Midwifery Scientific Journal) Sek
Publisher : Q PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jiki.v11i03.1258

Abstract

Stunting dapat terjadi dalam kehidupan awal, terutama pada 1000 hari pertama sejak pembuahan sampai usia pertumbuhan dua tahun. Prevalensi stunting pada balita berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 sebanyak 37,2% dan pada tahun 2018 prevalensi ini menurun secara nasional menjadi 30,8% [2]. Menurut Unicef Framework faktor penyebab stunting pada balita salah satunya yaitu asupan makanan yang tidak seimbang. Asupan makanan yang tidak seimbang termasuk dalam pemberian ASI eksklusif yang tidak diberikan selama 6 bulan [3]. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya gambaran determinan faktor yang mempengaruhi pemberian ASI ekslusif pada balita stunting di Desa Cikunir. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Analisis data yang digunakan dengan analisis univariat. Hasil penelitian didapatkan usia rata rata di 32,9 tahun, pendidikan ibu tamat SD (45,65%), pekerjaan IRT (95,65%), faktor pengetahuan kurang (63,04%), faktor sikap negative (52,17%), faktor sosial ekonomi dibawah UMR (82,61%), faktor dukungan suami negative (71,74%), faktor dukungan keluarga/orang tua positif (58,70 %), faktor dukungan tenaga kesehatan positif (78,26%). Saran bagi penelitian ini adalah tetap perlu peningkatan promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai pemberian ASI secara eksklusif untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI ekslusif dan dapat mengatasi permasalahan balita stunting.
STUDI KASUS ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKARAME KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 Nurfalah, Asri Novia; Danefi, Tupriliany
Jurnal Kesehatan Bidkemas Vol 14 No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/bidkes.v14i1.487

Abstract

Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia diantaranya masih didominasi oleh perdarahan (42%), salah satu penyebab perdarahan adalah anemia. Data Puskesmas Sukarame tahun 2017 tercatat sebanyak 143 (31,43 %) ibu hamil yang mengalami anemia. Pada tahun 2018 tercatat sebanyak 43 (19,63 %) ibu hamil yang mengalami anemia. Meskipun terjadi penurunan secara signifikan namun keadaan ini mengindikasikan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan pada ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sukarame. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran Kasus Anemia Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sukarame Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2019. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus untuk menggambarkan faktor risiko, komplikasi dan penatalaksanaan anemia pada ibu hamil. Responden ibu hamil trimester III dengan anemia yang berjumlah 2 orang. Hasil penelitian, faktor risiko terjadinya anemia pada subjek I diantaranya yaitu status ekonomi, pendidikan, umur ibu dan kepatuhan konsumsi tablet Fe sedangkan pada subjek II diantaranya yaitu status ekonomi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, jarak kehamilan, paritas dan status gizi serta ditemukan adanya komplikasi pada persalinan yang disebabkan anemia pada subjek I yaitu retensio plasenta sedangkan pada subjek II yaitu atonia uteri. Berdasarkan karya tulis ilmiah dapat disimpulkan faktor risiko terjadinya anemia pada subjek I diantaranya yaitu status ekonomi, pendidikan, umur ibu dan kepatuhan konsumsi tablet Fe sedangkan pada subjek II diantaranya yaitu status ekonomi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, jarak kehamilan, paritas dan status gizi serta ditemukan adanya komplikasi pada persalinan yang disebabkan anemia pada subjek I yaitu retensio plasenta sedangkan pada subjek II yaitu atonia uteri. Ibu hamil hendaknya lebih memperhatikan kesehatan selama kehamilan dengan cara meningkatkan kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan sesuai dengan anjuran petugas kesehatan dan meningkatkan konsumsi makanan bergizi.
LITERATURE REVIEW: POLA PEMBERIAN ASI PADA BAYI USIA 7 - 12 BULAN Danefi, SST., M.Kes, Tupriliany
Jurnal Kesehatan Bidkemas Vol 14 No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/pph7q805

Abstract

ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan hasil sekresi dari payudara pada ibu yang hamil maupun setelah ibu melahirkan. ASI yang dikeluarkan segar dan bebas dari kontaminasi bakteri sehingga menurangi risiko gangguan pada sistem pencernaan bayi (Depkes RI. 2015). Menurut catatan RISKESDAS pada tahun 2010 dalam Situasi dan Analisis ASI Eksklusif yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan RI (2014), presentase pola menyusui pada bayi usia 0 bulan di Indonesia adalah 39,8% menyusu secara eksklusif, 5,1% menyusu secara predominan, dan 55,1% menyusu secara parsial. Presentase menyusu secara eksklusif makin menurun dengan meningkatnya kelompok usia bayi (Kementerian Kesehatan. 2014). Metode yang digunakan untuk menyusun  literature review yaitu menggunakan electronic data base. Artikel dikumpulkan dengan melakukan penelusuran/pencarian jurnal menggunakan Google Scholar sesuai dengan kriteria. Hanya artikel yang memuat teks penuh (full text) yang akan dimasukkan dalam review ini. Searching pertama dilakukan dengan memasukkan kata kunci pertama “Pola Pemberian ASI”. Hasil menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi pemberian ASI berpengaruh pada perkembangan bayi usia 7-12 bulan sebagian besar 10-12 kali dalam sehari, Durasi Pemberian ASI selama 5-15 menit dan waktu dalam pemberian ASI 2-3 jam.
The Relationship Between Breastfeeding, Nutritional Status, and Exclusive Breastfeeding History with Stunting Danefi, Tupriliany; Fenty Agustini; Anik Purwanti; Irfa Nurfajiah
Genius Journal Vol. 5 No. 2 (2024): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v5i2.408

Abstract

Introduction: Stunting remains a nutritional problem facing Indonesia. The nutritional intake of breastfeeding mothers is closely linked to the production of breast milk, which is also a key factor in ensuring the adequate nourishment of infants and toddlers. Objective: The research aims to determine the relationship between the nutritional status of breastfeeding mothers, the history of exclusive breastfeeding, and the incidence of stunting in infants under five in Cikunir Village. Method: The type of research used is quantitative with analytical methods which aims to determine the relationship between the nutritional status of breastfeeding mothers, the history of exclusive breastfeeding, and the incidence of stunting in babies under five. The population is mothers who have babies aged 6-24 months in Cikunir Village, the sampling technique used purposive samples, samples were 52, the data presentation method was in tabular form, the analysis used descriptive and analytical analysis, the instrument used a questionnaire consisting of questions regarding the nutritional status of breastfeeding mothers, factors which affect nutritional status, history of exclusive breastfeeding, incidence of stunting. Result: The results of the statistical test on the relationship between the nutritional status of breastfeeding mothers and the incidence of stunting obtained a p-value of 0.307, so that 0.307 > alpha (0.05), while the results of the statistical test of the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting obtained a p-value of 0.020 so that it was 0.020 < alpha. (0.05). Conclusion: There is no relationship between the nutritional status of breastfeeding and the incidence of stunting, and there is a relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting. The researcher postulates that if the nutritional status during pregnancy and breastfeeding is normal, yet the mother is ignorant, unable, or unwilling to obtain information about the nutrition that must be met during this period, this will result in stunting of the child. The prevention of stunting should commence with the provision of education and integrated services for pregnant women and mothers with children up to the age of two.
The Impact of Video Based Health Education on Sundanese Mothers Perceptions of Parenting Practices for Toddlers Hartiningrum, Chanty Yunie; Danefi, Tupriliany; Fitriani, Sinta
Genius Journal Vol. 5 No. 2 (2024): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v5i2.416

Abstract

Introduction: Parenting during infancy and toddlerhood plays a crucial role in shaping children's physical, social, and intellectual development, with effective parenting during these early years having long-lasting effects on a child’s health and independence. Cultural values and family traditions influence parenting practices, and educational media, such as videos, can improve perceptions and behaviors by engaging audiences and providing relevant, contextual information. Objective: This study aims to determine the influence of health education through video media on the perception of mothers with infants under five about parenting patterns in the Sundanese ethnicity in Cikunir Village. Method: This quantitative study employs a quasi-experimental design to assess the impact of video-based health education on mothers' perceptions of toddler parenting. The population consists of mothers with children aged 0-60 months in Cikunir Village, with purposive sampling used to select 57 participants. Data were presented in tables, and descriptive and analytical analysis was performed using pre-test and post-test questionnaires. Result: Statistical analysis revealed a significant effect of health education on mothers' perceptions, with a p-value of 0.000, indicating a statistically significant result (p < 0.05). Conclusion: Health education through video media significantly influences mothers' perceptions of parenting patterns in the Sundanese ethnic group. Early intervention in child growth and stunting prevention is essential for promoting age-appropriate development in infants.
Analysis of Maternal Health in Local Area Monitoring-Maternal and Child Health (LAM-MCH) Indicators in Pagerageung Health Center Danefi, Tupriliany; Susanti , Santi
KIAN JOURNAL Vol 2 No 1 (2023): KIAN JOURNAL (March 2023)
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.495 KB) | DOI: 10.56359/kian.v2i1.231

Abstract

Objective: The purpose of this research is to know the description of the results of the analysis of maternal health in the indicators of LAM-MCH  in Sukamaju Village, the Working Area of ​​the Pagerageung Health Center, Tasikmalaya Regency, in 2022.   Methods: The research method used is a descriptive method. Data analysis used with univariate analysis. Results: The results showed that the coverage indicator for K1 visits was 87.08%, the coverage indicator for K4 visits was 78.20%, the coverage indicator for delivery by health personnel was 87.51%, the coverage indicator for postpartum visits was 87.51%, the achievement coverage indicator Early detection of risk factors and complications of obstetrics by health workers and the public at 26.66% Conclusion: The conclusion of this study is that indicators of maternal health have not been achieved, especially coverage of K1, K4, delivery of health workers, postpartum visits and handling of obstetric complications cases. Suggestions for this research are the need for mutually supportive cooperation between pregnant women, midwives (health workers), and also the community or regional cadres.