Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Humaniora

Selayang Pandang Reproduksi Gender di Indonesia Faruk Faruk
Humaniora No 6 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.948 KB) | DOI: 10.22146/jh.1873

Abstract

Masih terdapat banyak persoalan lain yang dihadapi oleh wanita,yang menunjukkan betapa konsep kesetaraan yang dinyatakan secara ideal dalam Undang-Undang Dasar 1945 di atas, masihlah amat jauh dan kenyataan. Ada persoalan masih amat rendahnya tingkat upah yang diberikan pada  pekerja wanita, ada soal masih amat rendahnya tingkat kenyataan wanita untuk banyak bidang pekerjaan di sektor publik, ada persoalan kekerasan yang selalu mengancam dan ditimpakan pada wanita, dan banyak lagi yang lainnya. Kenyataan ketimpangan di atas dapat saja dikembalikan kepada faktor historis, yaitu bahwa titik berangkat wanita dalam melaksanakan hak-hak kesetaraannya seperti yang diimperatifkan oleh Undang-Undang Dasar di atas tidak sama dengan laki-laki.
Memasuki Dunia Imajiner: Soal Sastra Mutakhir dan Kritiknya Faruk Faruk
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1870.875 KB) | DOI: 10.22146/jh.1910

Abstract

Sastra Indonesia di awal perkembangannya dapat digolongkan sebagai sastra yang terus-menerus merepresentasikan hasrat-hasrat manusiaakan sebuah dunia lain, dunia yang dibayangkan sebagai sebuah situasi dan kondisi sorgawi, yang memungkinkan orang memperoleh kesenangan dan kebahagiaan yang sejati, sempurna, lengkap. Sebaliknya, dunia ini, kehidupan di sini dan kini dipahami sebagai kehidupan yang hanya berisi penderitaan meskipun mengandung harapan. Itulah sebabnya, karya-karya sastra Indonesia yang awal itu dapat pula disebut sebagai karya-karya realisme idealistis meski sering disebut hanya sebagai karya-karyaromantik (lihat Faruk 1994).
"Aku" dalam Semiotika Riffaterre Semiotika Riffaterre dalam "Aku" Faruk Faruk
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1777.361 KB) | DOI: 10.22146/jh.1942

Abstract

Tak dapat di ragukan lagi Chairil Anwar adalah seorang penyair besar. Setiap tahun, hingga sekarang, karya-karyanya masih terus diperingati, direproduksi, dibaca, dan direpresentasikan. Yang akan dibicarakan dalam makalah ini hanya salah satu puisi penyair tersebut, yaitu "Aku" yang terhimpun dalam kumpulan Deru Campur Debu (1965). Pilihan atas "Aku" ini dapat dianggap semaunya, tetapi dapat pula atas dasar tingkat popularitasnya yang cukup tinggi. Yang mendorong pemahaman kembali puisi-puisi lama seperti karya Chairil di atas bukan semata-mata kenyataan subjektifnya. Apabila dilihat dari caranya, kedua pembacaan mengenai karya-karya Chairil di atas tidak hanya terjadi karena kualitas internal karya-karya penyair itu sendiri, melainkan juga karena terjadinya perubahan cara pandang terhadap estetika dan bahkan kehidupan secara keseluruhan.