Claim Missing Document
Check
Articles

KREATIVITAS DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI BERKARAKTER LINGKUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KREATIF PRODUKTIF MELALUI LESSON STUDY Sujinah -; Ngatmain -; Maria Endang Widyastuti; Pheni Cahya Kartika; Insani Wahyu Mubarok; R. Panji Hermoyo
Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.894 KB) | DOI: 10.30651/didaktis.v13i3.52

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kreativitas dalam pembelajaran menulis puisi berkarakter lingkungan dengan menerapkan model kreatif produktif melalui lesson study mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Kreativitas yang dimaksud meliputi kreativitas dosen dalam pembelajaran, kreativitas mahasiswa dalam pembelajaran, dan kreativitas dalam puisi yang dihasilkan. Masing-masing kreativitas dilihat dengan menggunakan observasi, angket, penilaian produk. Penelitian ini dilakukan empat siklus. Kreativitas dosen dalam pembelajaran dari siklus ke siklus semakin meningkat, yang ditandai pada siklus 1 dosen bisa menghargai hasil pikiran kreatif siswa; pada siklus 2 dosen bisa membantu mahasiswa mengintegrasikan materi belajar kedalam situasi yang nyata; siklus 3 dosen lebih kreatif dalam pemanfaatan media belajar mereduksi hal-hal yang terlalu abstrak dalam materi belajar; dan siklus 4 dosen bisa membantu siswamengintegrasikan materi belajar ke dalam situasi yang nyata. Kreativitas mahasiswa dalam pembelajaran semakin meningkat yang ditandai dengan penggunaan media yang bervariasi dan adanya refleksi yang dilakukan pada setiap siklus dan kreativitas menulis puisi semakin meningkat, yang didominasi pada orisinal (tema, tipografi, gaya penulisan), kebaruan (tema, nama baru yang diciptakan sendiri, gaya penulisan), penggunaan imajinasi, emosi (kaya pengungkapan perasaan), simpati terhadap lingkungan, diksi, dan daya fantasi.Kata kunci: kreativitas; kreatif produktif; menulis puisi
MENINGKATKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR YANG LEBIH BAIK PADA MATA KULIAH LINGUISTIK UMUM MELALUI LESSON STUDY R. Panji Hermoyo; Sujinah .; Maria Endang P; Asror .
Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.906 KB) | DOI: 10.30651/didaktis.v15i2.91

Abstract

AbstrakLesson Study merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar di kelas yang melibatkan beberapa dosen yang terdiri dari beberapa siklus. Melalui lesson study diharapkan proses belajar mengajar di kelas menjadi lebih baik.Pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Uni- versitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), lesson study sudah diterapkan sejak tahun 2012 hingga sekarang. Pada semester gasal tahun 2014, lesson study diterapkan pada mata kuliah Linguistik Umum dengan mahasiswa yang masih di semester satu. Diharapkan dalam lesson study pada semester gasal, mahasiswa yang masih baru dapat mempelajari linguistik umum dengan baik sebagai dasar dari ilmu bahasa yang lainnya. Metode yang digunakan dengan pengamatan langsung, instrumen pengumpulan data meliputi (1) lembar pengamatan kegiatan dosen model, (2) lembar penilaian proses dan hasil diskusi mahasiswa.Lesson Study semester gasal tahun 2014 dilakukan empat siklus, setiap siklus dosen model yang berbeda dan selalu dihadiri oleh beberapa observer juga perwakilan dari tim monitoring evaluasi internal. Peningkatan proses belajar mengajar pada mata kuliah linguistik umum mulai terlihat pada siklus dua; pada siklus satu, mahasiswa terlihat belum maksimal dalam belajar; siklus dua, mahasiswa mulai terlihat aktif dalam belajar; pada siklus tiga, mahasiswa semakin aktif dan kreatif dalam mengerjakan tugas; dan pada siklus empat, mahasiswa sangat aktif dan antusias dalam merespon tugas- tugas yang diberikan dosen.Keaktifan mahasiswa dalam proses belajar semakin baik, terlihat dengan kreativitas dan beragam kalimat jawaban yang disampaikan oleh mahasiswa.Kata kunci: lesson study, linguistik, belajar
UPAYA PENINGKATAN PERMAINAN DRAMA PADA PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA MELALUI LESSON STUDY DENGAN METODE BRAINSTORMING PADA MATA KULIAH PENYUTRADARAAN DAN PEMENTASAN Maria Endang Pudyastuti; Sujinah .; R. Panji Hermoyo
Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Vol 15, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.814 KB) | DOI: 10.30651/didaktis.v15i3.90

Abstract

ABSTRAKLatar belakang diadakan Lesson study (LS) karena adanya keinginan agar parapendidik bisa inovatif dalam menyelesaikan masalah di kelas, dengan cara berkolaborasi dengan teman sejawat agar bisa saling mengisi, saling memperbarui ilmunya. Dalam pertemuan tersebut merupakan suatu kegiatan untuk menyelesaikan masalah dalam tugas memberi kuliah.Berdasarkan UU no14 tahun 2005 tentang guru dan dosen PP 20, 32, 34 menyatakan bahwa guru dan dosen hendaknya mendapatkan peningkatan kemampuan dalam paedagogik, kepribadian, hubungan masyarakat, dan profesional oleh karena itu sangatlah positif atas diselenggarakan Lesson Study.Dari temuan dalam pelaksanaan Lesson Study ternyata memberi kuliah itu hendaknya diawali dari pemahaman skemata mahasiswa dulu supaya efektif dalam memberi kuliah. Selain tersebut di atas mahasiswa ada yang belum bisa belajar mandiri. Maksudnya mau belajar jika dikondisikan oleh dosen.Temuan berikutnya pada pelaksanaan kegiatan Lesson Study dosen menyiapkanperangkat sangat lengkap mulai dari RPP, deskripsi materi, media, rubrik, LKM dan penguasaan materi sangat positif. Pengelolaan kelas dan penggunaan IT sangat positif.Tentu saja dengan pemilihan metode brainstorming sangatlah tepat untuk memberi mata kuliah penyutradaraan dan pementasan. Sesudah melaksanakan Lesson Study dosen sudah mendapatkan masukan dari pakar /teman sejawat (dianggap pakar karena LS dilaksanakan di kampus) mendapatkan gambaran mahasiswa mampu mengusai materi yang diberikandosen dengan metode Brainstorming nampak bisa menyerap mata kuliah penyutradaraan dan pementasan terbukti mahasiswa makin peka perasaannya dan makin muda berekspresi dalam bermain drama secara total.Setiap siklus dilaksanakan mahasiswa makin kuat dalam penguasaan karakter tokoh yang dibawakan. Setiap tugas dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sehingga latihan out door maupun in door berjalan lancar, team work berjalan lancar seolah-olah mengalami terapi jiwa. Yang jelas karakter mulai membaik. Paling tidak ada harapan baik bagi dunia pendidikan.Kata kunci : lesson study, brainstorming, penyutradaraan dan pementasan.
ANALISIS KRITIK SASTRA PUISI “SURAT KEPADA BUNDA: TENTANG CALON MENANTUNYA” KARYA W.S. RENDRA R. Panji Hermoyo
Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.995 KB) | DOI: 10.30651/didaktis.v15i1.40

Abstract

Lahirnya kritik sastra telah melengkapi bidang studi sastra atau wilayah ilmu sastra menjadi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Sering orang mencampuradukkan ketiga bidang studi ini padahal ketiganya mempunyai wilayah yang berbeda walaupun saling berhubungan, saling menunjang, dan saling mengisi. Salah satunya teori strukturalisme genetic, strukturalisme genetik yaitu bentuk analisis yang melengkapi strukturalisme murni yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intristiknya saja. Analisis Strukturalisme Genetik memasukkan faktor genetik dalam karya sastra, Genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra itu diciptakan. Dominan pada priode tertentu di Barat dan Indonesia karena memasukkan Struktur sosial dalam kajiaannya. Seperti puisi “surat kepada bunda: tentang calon menantunya”Karya W.S. Rendra. Pengarang menuangkan karya bertemakan perjuangan seorang anak untuk mendapatkan ridho Ibunya. Nilai sosial yang disampaikan yaitu hendaknya kita mengatakan segala-sesuatu dengan sejujur-jujurnya kepada Ibu sebagai orang tua kita. Suatu realitas yang hampir hilang, tetapi pengarang mengingatkan kembali dan menunjukkan masih adanya potret seorang anak yang masih membutuhkan kejujuran diri pada ibunya. Kata kunci : kritik sastra, nilai social, strukturalisme genetik
Pendidikan karakter dalam film animasi Riko The Series produksi garis sepuluh Rizqy Dwi Rahmayanti; Yarno Yarno; R. Panji Hermoyo
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v7i1.15139

Abstract

Penguatan karakter sangat penting bagi anak-anak karena ini merupakan peletakan pondasi karakter yang mampu membawa anak tumbuh dengan baik di masa depan. Penelitian ini bertujuan menganalisis, dan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter dalam film animasi Riko The Series produksi Garis Sepuluh. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan teknik analisis konten atau isi (content analysis). Sumber data dalam penelitian ini berupa film animasi Riko The Series Produksi Garis Sepuluh yang ditayangkan di platform Youtube. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, kalimat, dan adegan tokoh. Data dikumpulkan dengan teknik simak catat. Analisis data menggunakan konsep Miles dan Huberman dengan tiga tahap. Pertama, reduksi data yang meliputi langkah menyeleksi, meringkas, dan mengklasifikasi data. Kedua, penyajian data sesuai dengan klasifikasi fokus penelitian. Ketiga, pembuatan simpulan berdasarkan data yang telah dikumpulkan sesuai dengan fokus penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa Riko memiliki karakter unggul atau baik (good character). Karakter tersebut meliputi (1) religius, (2) rasa ingin tahu tinggi, (3) kerja keras, (4) kreatif, (5) mandiri, (6) menghargai prestasi, dan (7) tanggung jawab. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa karakter-karakter unggul tersebut bisa digunakan untuk penguatan pendidikan karakter bagi anak di masa pandemi Covid-19. Diperlukan proses panjang, pengetahuan, contoh, praktik, dan pembiasaan dalam proses penguatan karakter.
Minat Belajar Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Melalui Mobile Learning di Masa Pandemi Covid-19 R. Panji Hermoyo; Himmatul Mursyidah
SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9, No 2 (2021): JUNI 2021
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32682/sastranesia.v9i2.1913

Abstract

Dosen dan mahasiswa harus melaksanakan proses belajar mengajar dari rumah masing-masing atau pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19. Hal tersebut membuat dosen harus bisa menumbuhkan minat belajar mahasiswa. Di sisi lain, pembelajaran di rumah secara otomatis harus menggunakan teknologi untuk mempermudah prosesnya. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi Covid-19 adalah telepon genggam atau seluler. Metode pembelajaran menggunakan seluler dikenal sebagai mobile learning atau m-learning. Pengguna m-learning dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan sumber daya pendidikan yang berada jauh, dari yang biasanya belajar di kelas ataupun menggunakan personal computer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat belajar melalui m-learning bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) pada masa pandemi Covid-19. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik survei. Penelitian dibatasi pada kelas teori belajar dengan jumlah 40 mahasiswa PBSI semester 1 tahun akademik 2020-2021. Hasil penelitian diperoleh bahwa minat belajar mahasiswa PBSI menggunakan m-learning selama pandemi Covid-19 adalah baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan rata-rata lebih dari 50% mahasiswa merespon positif terhadap m-learning, yaitu merasa bersemangat, mudah mencapai tujuan pembelajaran, mudah memahami, menjadikan lebih kreatif, mudah mempelajari materi, senang, merasa bermanfaat, mudah mengumpulkan tugas, berdampak positif pada aspek kejujuran, dan menghemat biaya. 
KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MENULIS PRESS RELEASE DENGAN PENDEKATAN STUDENT CENTER LEARNING Idhoofiyatul Fatin, R. Panji Hermoyo, Aris Setiawan
Belajar Bahasa Vol 2, No 2 (2017): Belajar Bahasa
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bb.v2i2.829

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan mahasiswa dalam menulis press realease dengan menggunakan pendekatan Student Center Learning (SCL). Press release merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan media massa yang dibuat oleh humas suatu organisasi atau instansi kepada redaksi media massa agar meliput kegiatan yang dilakukan oleh instansi maupun perorangan tersebut. Dalam pembelajarannya, digunakan SCL karena pendekatan ini mampu mengkondisikan mahasiswa lebih aktif, mandiri, dan bertanggung jawab sepenuhnya atas pembelajaran yang dilakukannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan observasi dan dokumentasi pada teknik pengumpulan datanya. Objek penelitian ini adalah mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya yang menempuh mata kuliah Kehumasan sejumlah 22 mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kemampuan mahasiswa dalam membuat press release baik, yaitu mahasiswa mampu mengidentifikasi, menulis dan mengkombinasikan unsur 5W+1H dalam press release. Beberapa kelemahan yang muncul pada tulisan mahasiswa adalah belum tepat dalam mengidentifikasi unsur “How” dan berpengaruh dalam menggunakan bahasa ilmiah.Kata Kunci:menulis,press release, SCL
MEMBENTUK KOMUNIKASI YANG EFEKTIF PADA MASA PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI Panji Hermoyo
Pedagogi : Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1, No 1 (2015): FEBRUARI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.311 KB) | DOI: 10.30651/pedagogi.v1i1.21

Abstract

R. Panji HermoyoDosen FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya ABSTRAKKomunikasi dilakukan oleh manusia dalam berbagai kegiatannya untuk mempermudah kehidupannya. Komunikasi sering dilakukan manusia yang sudah dewasa yang dianggap sudah mampu, pintar, dan cerdas. Komunikasi menitikberatkan pada komunikator dan komunikan dalam menyampaikan suatu pesan. Komunikasi untuk anak usia dini tentu berbeda dengan orang dewasa. Pada anak usia dini, komunikasi  harus selalu didampingi oleh orang tua ataupun orang dewasa. Hakikat Komunikasi  adalah proses pernyatan antarmanusia. Yang  dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan  menggunakan bahasa sebagai penyalurnya. Pada anak usia dini, anak menjadi komunikator ketika sedang bertanya kepada orang tua, teman bahkan guru, isi pesan yang disampaikan anak didominasi oleh pikiran anak. Anak yang sering bertanya cenderung aktif dalam melihat atau mendengar sesuatu. Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa di mana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Kata-kata pertama adalah ucapan seorang anak setelah mampu bicara dengan orang lain. Kata-kata pertama merupakan cara seorang anak untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, biasanya dianggap sebagai proses perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh kematangan kecerdasan. Kematangan kecerdasan tersebut biasanya ditandai dengan kemampuan anak usia dini untuk menyusun kata dalam berbicara. Kemampuan ini akan terus berkembang jika anak usia dini sering berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Pada masa usia dini anak mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa di mana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Pada usia 0-2 tahun masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja. Komunikasi yang efektif pada anak usia dini syaratnya antara lain; orang tua perlu memilih waktu yang tepat untuk berkomunikasi pada anak, bahasa yang digunakan harus bisa dimengerti oleh anak, sikap ketika berkomunikasi, jenis kelompok di mana komunikasi akan dilaksanakan. Kata kunci: komunikasi, anak usia dini,  masa keemasan.     AbstractCommunication is done by humans in a variety of activities to facilitate life. Communication is often done adults who are considered capable, smart, and intelligent. Communication focuses on the communicator and communicant in conveying a message. Communication for early childhood is different from adults. In early childhood, communication must always be accompanied by a parent or an adult. Communication is the essence of human statement. It is one's minds or feelings to others by using language as distributors. In early childhood, children become communicators when being asked to parents, friends and teachers, the content of the message the child is dominated by a child's mind. Children are often asked tend to be active in seeing or hearing anything. At the early age children experience the golden age who is the child begins to sensitive to accept a variety of stimuli. Sensitive period for each child is different, along with the rate of growth and development of individual children. The first words are the words of a child after being able to talk with another person. The first words of a child are a way to deliver the message to others, usually considered as a process of language development is influenced by the maturity of intelligence. Maturity intelligences are usually characterized by the ability of young children to arrange words in speaking. These capabilities will continue to evolve if young children often communicate or interact with others. At the early age children experience the golden age is a period in which the child begins to receive sensitive to various stimuli. At the age of 0-2 years of a child's ability is limited to reflex movements, early language, time and space are now close it. Effective communication in early childhood condition, among others; parents need to choose the right time to communicate to the child, the language used should be understood by the child, an attitude when communicating, the type of group in which communication will be implemented. Keywords: communication, early childhood, the golden age.
Al-Qur’an Memorization Animation: Solusi Mudah Menghafal Al-Qur’an Pada Anak TPA Nurul Huda Uswatun Khasanah; Riska Wahyuni; Moh. Rusli; Mochmammad Abhipraya Aryaputra; R. Panji Hermoyo
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 4 No 3 (2021)
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.126 KB) | DOI: 10.29303/jpmpi.v4i3.969

Abstract

TPA has a goal to improve students' ability to read, write, understand and practice the Qur'an. At TPA Nurul Huda, which is located in Bendo Hamlet, RT 03, RW 04, Karanganyar Village/Sub-district, Ngawi Regency has a problem, namely the low memorization ability of students. This is caused by several factors, including the heterogeneity of children's ages between 5 and 12 years, unattractive media and teachers who have difficulty finding ways to improve children's ability to memorize the Qur'an. The purpose of this community service PKM activity is to provide solutions to the problems experienced by TPA Nurul Huda. The solution given is an animated video learning media called Al-Qur’an Memorization Animation. Service activities are carried out for 4 months starting from June to September 2021. The methods used in this service are socialization, training (implementation), mentoring, measurement, and regeneration. The result of this activity is that the children of TPA Nurul Huda experienced a significant increase in memorizing the Qur'an as indicated by the pretest and posttest assessments.
KAJIAN SEMANTIK TENTANG OPINI PUBLIK DI MEDIA MASSATERHADAP ISU GENDER R. Panji Hermoyo
p-ISSN 2356-0576
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Muhammadiyah Purworejo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37729/btr.v6i12.6140

Abstract

Abstrak: Kajian semantik tentang opini publik ini merupakan kumpulan gagasanperorangandalamruanglingkup tertentu sehingadapat memberi sugestisekumpulan orang-orang. Tujuan  penulisan ini adalah untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap opini publik di media massa terhadap isu gender dilihat dari semantik. Media Massa saat ini merupakan media dalam menyampaikan informasi perubahan kepada masyarakat sehingga bisa dikatakan sebagai alat konstruksi sosial yang paling ampuh. Permasalahannya pesan yang dibawa media massa tidak saja bersifat positif namun juga bersifat negatif, bahkan kadang-kadang pesan positif dimodifikasi hingga menjadi negatif.Isu Gender yang selalu menjadi perhatian publik, membuktikan bahwa dengan adanya isu Gender akan terjadi pendapat dari setiap individu di dalam kelompok masyarakat. Sikap masyarakat yang menilai isu Gender merupakan kecenderungan atau presdisposisi untuk menanggapi suatu persoalan atau situasi. Jadi, sikap tertahan didalam yang bila menghadapi suatu rangsangan bisa diekspresikan keluar dalam bentuk opini. Pemahaman yang salah dalam mengartikan makna opini publik, media massa dan gender akan menimbulkan masalah di masyarakat. Kajian dari Semantik diperlukan dalam setiap kata yang muncul di tengah masyarakat agar tidak menimbulkan pro dan kontra.   Kata kunci : semantik, opini publik, media massa, gender