Claim Missing Document
Check
Articles

Tindak Tutur Ilokusi Searle dalam Film Pendek Jarak Antar Kanvas Karya Turah Parthayana Dilanti, Perina; Yarno, Yarno; R. Panji Hermoyo
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i2.3707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis-jenis tindak tutur ilokusi, dan (2) fungsi tindak tutur ilokusi dalam film pendek Jarak Antar Kanvas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang diucapkan oleh aktor dan aktris yang ada dalam film pendek Jarak Antar Kanvas (2023). Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik simak dan teknik catat. Pada pembahasan pertama, akan dirincikan jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam film ini. Selanjutnya, peneliti akan menganalisis lebih dalam mengenai tindak tutur ilokusi tersebut berdasarkan fungsi-fungsinya yang sesuai dengan teori menurut Searle. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan lima jenis tindak tutur ilokusi, yaitu (1) tindak tutur ilokusi asertif, (2) tindak tutur ilokusi direktif, (3) tindak tutur ilokusi komisif, (4) tindak tutur ilokusi ekspresif, dan (5) tindak tutur ilokusi deklaratif. Secara keseluruhan, tuturan yang termasuk ke dalam tindak tutur ilokusi berjumlah 26 tuturan dan tindak tutur ilokusi yang paling banyak digunakan dalam film ini adalah tindak tutur ilokusi asertif yang berjumlah 9 tuturan.
Tuduhan Dinasti Politik pada Podcast Kiky Saputri Roasting Kaesang Pangarep: Analisis Wacana Kritis Pratama, Aditya Bima; Yarno, Yarno; Hermoyo, R. Panji
Kode : Jurnal Bahasa Vol. 13 No. 2 (2024): Kode: Edisi Juni 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/kjb.v13i2.59582

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menjawab anggapan yang tidak baik tentang tuduhan dinasti politik serta melihat konstruksi ideologi oleh narasumber. Kaesang Pangarep merupakan narasumber serta tertuduh sebagai pelaku dinasti politik, sehingga penelitian ini mampu menjawab tuduhan tersebut. Platform Youtube merupakan media yang akan digunakan dalam penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan berupa narasi dan gambar atau perilaku dalam video yang kemudian dijelaskan secara deskriptif. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yakni Analisis wacana kritis teori Norman Fairclough dengan mengidentifikasi isi podcast melalui dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-kultural. Hasil penelitian menunjukkan penjelasan dari narasi yang ditayangkan pada video dengan faktor sebuah teks dalam tayangan, pengolahan dan kegunaan tayangan, serta konteks sosial yang terdapat pada luar proses produksi tayangan yakni tingkatan situasional, institusional, dan sosial.
Pengembangan Materi Ajar BIPA Melalui Budaya Lokal Jawa Timur Suher, Suher; Hermoyo, Panji
ELSE (Elementary School Education Journal) : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol 1 No 1 (2017): AGUSTUS
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/else.v1i1.869

Abstract

Materi ajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) baru dikenalkan kepada mahasiswa di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada semester genap 2015/2016. Buku ajar yang digunakan sebatas buku umum BIPA. Tujuan dari penelitian adanya pengembangan materi ajar dengan pengenalan budaya lokal dan makanan khas Jawa Timur kepada orang asing melalui pembelajaran BIPA. Metode yang digunakan menggunakan penelitian pengembangan (research and development). Pengembangan bahan ajarnya berupaya menggali berbagai potensi kekayaan budaya dan makanan khas di Jawa Timur. Materi ajar BIPA akan mengajarkan bahasa Indonesia dan pengenalan budaya di Indonesia untuk orang asing/ mahasiswa asing yang belajar di Indonesia, sehingga orang asing yang bekerja di Indonesia tidak hanya memahami bahasa, tetapi juga mengenal dan paham budaya lokal di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Hasil dari buku ajar tentang kebudayaan dan makanan khas Jawa Timur salah satunya ludruk, reog, karapan sapi, lontong balap, rujak cingur  dan tahu campur. Dari prosentase angket yang sudah divalidasi, kurang setuju ada enam butir pernyataan dengan rata-rata tidak lebih dari 10 %. Mahasiswa yang menyatakan setuju antara 32 % sampai 74 %. dan yang sangat setuju  21 % sampai 68 %.Sehingga mahasiswa yang lulus di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya akan mempunyai buku ajar berkualitas sehingga  menjadi guru BIPA yang profesional. Kata kunci: BIPA, Budaya, Materi Ajar
Peranan Budaya Lokal Dalam Materi Ajar Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) Hermoyo, R. Panji; M, Suher
ELSE (Elementary School Education Journal) : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar Vol 1 No 2b (2017): DESEMBER
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/else.v1i2b.1060

Abstract

Materi ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) masih sangat asing ditelinga sebagian masyarakat. Bahkan dikalangan akademik juga masih awam, karena mata kuliah ini masih baru dan belum banyak dikenal luas masyarakat. Buku ajar BIPA juga sangat terbatas, hanya kalangan tertentu saja yang memilikinya. Budaya lokal khususnya di Jawa Timur sangat beragam. Budaya lokal ini yang natinya bisa digunakan dalam materi ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing agar mahasiswa asing benar-benar seperti hidup dinegaranya sendiri. Tujuan penelitian ini adanya peranan budaya lokal yang dapat dijadikan materi BIPA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini tentang beberapa peranan budaya lokal Jawa Timur seperti; reog, karapan sapi, ludruk dan okol yang bisa dijadikan referensi pengenalan bahasa dan budaya Indonesia ke mahasiswa asing yang belajar di Indonesia. Sehingga dosen maupun guru yang mengajar mahasiswa asing lebih mudah mendidik dan mengenalkan  bahasa Indonesia.KataKunci: budaya lokal, BIPA, materi
IMPLEMENTASI PROJECT BASED LEARNING DALAM KETERAMPILAN MENULIS CERPEN SASTRA HIJAU SISWA KELAS XI SMA MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA Yuliani, Yuliani; Affandy, Ali Nuke; Hermoyo, R. Panji
Lingua Franca:Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 2 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/lf.v8i2.20778

Abstract

The implementation of project based learning in the skills of writing green literary short stories for class XI students of SMA Muhammadiyah 2 Surabaya aims to describe the implementation of the project based learning model in learning and the results of green literary short stories for class XI students of SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. This study uses a mixed methods type of the embedded design, which is a research method that combines quantitative and qualitative data simultaneously, with one of the data as a support. The population of this study was class XI MIPA SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. While the sample is class XI MIPA 3 and XI MIPA 6 as many as 55 students. The sampling technique for this research was purposive sampling. Data collection was carried out using observation techniques and documentation of learning achievement tests. Data were analyzed with descriptive statistics. The results of this study are the implementation of the project based learning model consisting of six steps, that is: a) determining the project to write green literary short stories; b) designing short story completion steps; c) preparation of project implementation schedule; d) short story completion; e) presentation of short stories; and f) evaluation of the process and results of short stories. Green literary short stories by students fulfill the criteria of: a) use of ecological diction; b) feeling hurt over the destroyed earth; c) efforts to free the earth from destruction; d) stories based on love for the earth; and e) resistance to unfair treatment of the earth. Monitoring activities carried out affect the results of student short stories. The more actively students participate in monitoring, the better the green literary short stories produced. Thus, the project based learning model is appropriate to be applied in learning to write green literary short stories in class XI SMA Muhammadiyah 2 Surabaya.
DINAMIKA PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN PELAJAR DALAM KONTEKS DOMINASI BAHASA DAERAH DI MAN Aminah, Siti; Hermoyo, R. Panji
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i1.9006

Abstract

ABSTRACT Indonesian plays a strategic role in national education as both an academic language and a medium for fostering national character. However, within the reality of a multilingual society, its use among students often coexists with local languages that continue to function strongly in social interaction. This study aims to describe patterns of Indonesian language use among students of MAN 1 Merangin in the context of the dominance of local languages, to identify factors influencing students’ language choices, and to analyze the implications for Indonesian language proficiency. The study employs a qualitative approach with a descriptive design. Data were collected through classroom and interactional observations, semi-structured interviews with students and teachers, and analysis of students’ written documents. Data analysis involved stages of data reduction, data display, and conclusion drawing to obtain a comprehensive understanding of students’ linguistic dynamics. The findings indicate that Indonesian is predominantly used in instructional settings and formal communication, while local languages are more frequently employed in non-academic interactions due to social closeness, cultural identity, and a sense of solidarity. Code-switching and code-mixing emerge contextually as adaptive communication strategies. These findings suggest that the continued use of local languages does not necessarily weaken mastery of formal Indonesian; rather, it requires appropriate pedagogical management so that both languages can function harmoniously within the educational environment. ABSTRAK Bahasa Indonesia berperan strategis dalam pendidikan nasional sebagai bahasa akademik sekaligus sarana pembentukan karakter kebangsaan. Namun, dalam realitas masyarakat multibahasa, penggunaannya di kalangan pelajar kerap berdampingan dengan bahasa daerah yang masih kuat berfungsi dalam interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola penggunaan Bahasa Indonesia oleh siswa MAN 1 Merangin dalam konteks dominasi bahasa daerah, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pilihan bahasa, serta menganalisis implikasinya terhadap kemampuan berbahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran dan interaksi siswa, wawancara semi terarah dengan siswa dan guru, serta analisis dokumen tertulis siswa. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai dinamika kebahasaan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia digunakan secara dominan dalam ranah pembelajaran dan komunikasi formal, sedangkan bahasa daerah lebih sering dimanfaatkan dalam interaksi nonakademik karena faktor kedekatan sosial, identitas kultural, dan rasa kebersamaan. Praktik alih kode dan campur kode muncul secara kontekstual sebagai strategi komunikasi yang adaptif. Temuan ini menegaskan bahwa keberlangsungan bahasa daerah tidak serta-merta melemahkan penguasaan Bahasa Indonesia formal, melainkan memerlukan pengelolaan pedagogis yang tepat agar kedua bahasa dapat berfungsi secara harmonis dalam lingkungan pendidikan.
LINGUISTIK PENDIDIKAN: PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA UNTUK SISWA SMP Sahara, La; Hermoyo, R. Panji
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i1.9010

Abstract

ABSTRACT The limited ability of students to use the Indonesian language appropriately reflects a mismatch between the expected language competencies and classroom learning practices. This study aims to evaluate the effectiveness of developing Indonesian language teaching materials based on a thematic approach for eighth-grade students at SMP Negeri 3 Satu Atap Tabona, Pulau Taliabu Regency. The research employed a Research and Development (R&D) method, which included needs analysis, product design, expert validation, and limited field testing with students. The research subjects consisted of expert validators and eighth-grade students, while data were collected through learning achievement tests, response questionnaires, and classroom observations. The results indicate a significant improvement in students’ understanding of the proper use of the Indonesian language, as reflected in the shift of learning outcomes from a low category prior to the implementation of the teaching materials to a high category afterward. These findings confirm that thematic-based Indonesian language teaching materials are not only feasible but also effective in improving the quality of language learning and in linking linguistic content with students’ learning experiences in a more contextual and meaningful manner. ABSTRAK Keterbatasan kemampuan peserta didik dalam menggunakan Bahasa Indonesia secara tepat mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara tuntutan kompetensi berbahasa dan praktik pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia berbasis pendekatan tematik pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Satu Atap Tabona, Kabupaten Pulau Taliabu. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) yang mencakup tahapan analisis kebutuhan, perancangan produk, validasi oleh ahli, serta uji coba terbatas kepada peserta didik. Subjek penelitian melibatkan validator dan siswa kelas VIII, dengan teknik pengumpulan data berupa tes hasil belajar, angket respon, dan observasi proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman siswa terhadap penggunaan Bahasa Indonesia sesuai kaidah, ditandai dengan pergeseran capaian belajar dari kategori rendah sebelum penggunaan bahan ajar menjadi kategori tinggi setelah implementasi. Temuan ini menegaskan bahwa bahan ajar Bahasa Indonesia berbasis pendekatan tematik tidak hanya layak digunakan, tetapi juga efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mampu mengaitkan materi kebahasaan dengan pengalaman belajar siswa secara lebih kontekstual dan bermakna.
Fenomena Kesantunan Berbahasa Di Media Sosial Instagram Rahmatan Lil Alamin; R. Panji Hermoyo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7068

Abstract

Instagram adalah salah satu contoh bagaimana media sosial telah berevolusi menjadi platform komunikasi publik yang memungkinkan keterlibatan tanpa batas antara orang-orang dari berbagai latar belakang sosial. Dalam situasi ini, penggunaan bahasa mencerminkan teknik sosial untuk mempertahankan hubungan dan citra diri seseorang, selain berfungsi sebagai media komunikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kesantunan di bagian komentar Instagram dari sudut pandang praktis. Dengan menggunakan data dari komentar pada tiga unggahan Instagram dengan berbagai konteks hiburan, sosial, dan isu sensitive metode studi kualitatif deskriptif digunakan. Teori tindak tutur Searle dan metode kesantunan Brown dan Levinson digunakan untuk menganalisis data, yang dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi non-partisipan. Temuan studi menunjukkan bahwa tindak tutur ekspresif, seperti pujian dan dorongan, mendominasi komentar pengguna Instagram. Taktik paling popular yang bertujuan untuk mempertahankan citra online yang positif, ditentukan sebagai kesantunan positif. Namun, karena hal-hal seperti anonimitas, polarisasi opini, dan keterbukaan arena publik internet, pelanggaran kesantunan juga sering terjadi, terutama dalam unggahan yang membahas isu-isu kontroversial. Selain itu, penggunaan tanda baca dan emoji sangat membantu melembutkan ucapan dan memperjelas maksud pembicara. Secara keseluruhan, temuan studi ini mendukung gagasan bahwa bersikap sopan di Instagram adalah strategi komunikasi adaptif yang didorong oleh tujuan sosial, konteks, dan dinamika interaksi daring. Diharapkan studi ini akan memajukan pengetahuan tentang pragmatik komunikasi media sosial dan literasi digital.
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA SISWA SD MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS Balan, Orance Federika; Humaira, Husina; Hermoyo, R. Panji
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9684

Abstract

Writing skills are essential basic competencies that must be mastered by elementary school students as a means of expressing ideas, but in reality the quality of students' writing is still very low due to the many errors in the application of language rules. The focus of the problem in this study is directed at the analysis of language errors that include aspects of spelling, syntax, morphology, and word choice in grade IV students of SD Inpres Sikam, East Nusa Tenggara. The important steps or stages of this study use the Classroom Action Research approach which is implemented through two systematic cycles, including the planning stage, implementation of actions with structured exercises, process observation, and critical reflection. Based on the findings of the research, quantitative data shows a significant downward trend in the number of language errors by 31%, from a total of 198 errors in cycle I to 157 errors in cycle II. In detail, a significant decrease is seen in the morphology aspect by 57%, word choice by 46%, neatness of writing by 37%, syntax by 34%, and spelling by 18%. These findings prove that identifying dominant error patterns makes it easier for teachers to provide targeted corrective feedback to students. The main conclusion confirms that the application of classroom action research through error analysis is very effective in improving the understanding of language rules and increasing the quality of students' writing skills in a sustainable manner through dynamic instructional improvements. ABSTRAK Keterampilan menulis merupakan kompetensi dasar esensial yang harus dikuasai siswa sekolah dasar sebagai sarana ekspresi gagasan, namun pada kenyataannya kualitas tulisan siswa masih sangat rendah akibat banyaknya kesalahan penerapan kaidah bahasa. Fokus masalah dalam penelitian ini diarahkan pada analisis kesalahan berbahasa yang mencakup aspek ejaan, sintaksis, morfologi, hingga pilihan kata pada siswa kelas IV SD Inpres Sikam, Nusa Tenggara Timur. Langkah atau tahapan penting penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan melalui dua siklus sistematis, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan dengan pemberian latihan terstruktur, observasi proses, serta refleksi kritis. Berdasarkan temuan hasil penelitian, data kuantitatif menunjukkan adanya tren penurunan jumlah kesalahan berbahasa secara signifikan sebesar 31 %, dari total 198 kesalahan pada siklus I menjadi 157 kesalahan pada siklus II. Secara terperinci, penurunan signifikan terlihat pada aspek morfologi sebesar 57 %, pilihan kata 46 %, kerapian tulisan 37 %, sintaksis 34 %, serta aspek ejaan 18 %. Temuan ini membuktikan bahwa identifikasi pola kesalahan yang dominan memudahkan guru dalam memberikan umpan balik korektif yang tepat sasaran bagi siswa. Simpulan utama menegaskan bahwa penerapan penelitian tindakan kelas melalui analisis kesalahan sangat efektif dalam memperbaiki pemahaman kaidah bahasa serta meningkatkan kualitas keterampilan menulis siswa secara berkelanjutan melalui perbaikan instruksional yang dinamis.    
IDEOLOGI NASIONALISME DALAM TUTURAN UPACARA BENDERA: ANALISIS WACANA KRITIS WODAK PADA SISWA SMA Elmirna, Nora; Rahma, Ulfa; Hermoyo, R. Panji
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9685

Abstract

Nationalism is often considered a natural characteristic, yet it is routinely produced through educational institutions to shape students' collective identity. The main focus of this research is to examine the construction of nationalist ideology in the speech of the flag ceremony at SMA Negeri 02 Bombana using Ruth Wodak's Critical Discourse Analysis model of Discourse-Historical Approach. The research stages were conducted qualitatively through the process of transcribing the speech of the ceremony instructor, field observations, and in-depth interviews to understand the institutional context. Data analysis focused on discursive strategies that include aspects of nomination, predication, argumentation, perspectivization, and the intensification and mitigation of meaning. The research findings indicate that nationalism is constructed through the framing of the inclusive identity of "we" as the subject of the nation who bears moral responsibility. This narrative dominates all segments of the ceremony with an emphasis on the topos of obligation and the threat of being left behind to legitimize students' compliance with school rules. Furthermore, institutional power relations are disguised through the use of paternalistic greetings that make ideological instructions feel like nurturing advice. The main conclusion confirms that the flag ceremony functions as a mechanism for reproducing state ideology that is normative and sacred in nature within the educational ecosystem. This discursive practice successfully transformed critical awareness into disciplinary compliance without any open resistance through very intensive and systematic national symbolism in a sustainable manner to create pure loyalty among all students. ABSTRAK Nasionalisme sering kali dianggap sebagai karakter yang alami, padahal ia diproduksi secara rutin melalui institusi pendidikan guna membentuk identitas kolektif siswa. Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji konstruksi ideologi nasionalisme dalam tuturan upacara bendera di SMA Negeri 02 Bombana dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis model Discourse-Historical Approach milik Ruth Wodak. Tahapan penelitian dilakukan secara kualitatif melalui proses transkripsi tuturan amanat pembina upacara, observasi lapangan, serta wawancara mendalam untuk memahami konteks institusional. Analisis data difokuskan pada strategi diskursif yang mencakup aspek nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, serta intensifikasi dan mitigasi makna. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme dibangun melalui pembingkaian identitas inklusif "kita" sebagai subjek bangsa yang memikul tanggung jawab moral. Narasi tersebut mendominasi seluruh segmen upacara dengan penekanan pada topos kewajiban dan ancaman ketertinggalan guna melegitimasi kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah. Selain itu, relasi kuasa institusional disamarkan melalui penggunaan sapaan paternalistik yang membuat instruksi ideologis terasa sebagai nasihat pengasuhan. Simpulan utama menegaskan bahwa upacara bendera berfungsi sebagai mekanisme reproduksi ideologi negara yang bersifat normatif dan sakral dalam ekosistem pendidikan. Praktik diskursif ini berhasil mengubah kesadaran kritis menjadi kepatuhan disipliner tanpa adanya resistensi terbuka melalui simbolisme nasional yang sangat intensif dan sistematis secara berkelanjutan guna menciptakan loyalitas murni pada seluruh peserta didik.