Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

PEMBENTUKAN IDENTITAS HIBRID TOKOH IMIGRAN DALAM ROMAN LANDNAHME KARYA CHRISTOPH HEIN Wedar Pahala Lingga; N. Rinaju Purnomowulan; Muhamad Adji
Metahumaniora Vol 9, No 2 (2019): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i2.22674

Abstract

Artikel ini berjudul “Pembentukan Identitas Hibrid Tokoh Imigran dalam Roman Landnahme Karya Christoph Hein”. Artikel ini bertujuan untuk mengemukakan pembentukan identitas hibrid tokoh imigran dalam Roman Landnahme Karya Christoph Hein. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan deskriptif. Penenlitian ini menggunakan teori hibriditas Bhabha (1994) dan integrasi imigran Heckmann (2015). Hasil dari penelitian ini adalah (1) tokoh mengalami pe-liyan-an karena ia seorang imigran, (2) adaptasi tokoh dengan budaya Jerman yakni melalui pengaitan diri dengan masa lalu dan peniruan budaya lain, dan  (3) identitas hibrid yang dimanifestasikan tokoh yakni menggunakan dialek campuran dalam berkomunikasi. Penelitian ini membuktikan bahwa identitas adalah konsep yang cair.
Subjektivitas Perempuan: Pekerja Seks dalam Tiga Karya Utuy Tatang Sontani Ritma Fakhrunnisa; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22872

Abstract

Penelitian ini mengambil topik subjektivitas perempuan pekerja seks dalam tiga karya Utuy Tatang Sontani: Selamat Jalan Anak Kufur, “Menuju Kamar Durhaka”, dan “Doger”. Tiga pekerja seks tersebut ditampilkan melalui tokoh Titi, Aku, dan Selendang Merah. Dengan menggunakan metode kritik feminis yang berfokus pada isu tubuh dan ruang perempuan, pembahasan dibagi menjadi dua bagian yang berkaitan dengan tubuh, ruang, dan subjektivitas pekerja seks. Berdasarkan hasil analisis dapat dimaknai bahwa: (1) tubuh dan ruang pekerja seks ditampilkan sebagai aset ambivalen dalam posisinya sebagai subjek dan objek; (2) posisi subjek-objek yang bahagia berkaitan erat dengan perspektif yang digunakan tokoh dalam memandang pekerja seks. Oleh sebab itu, dapat diargumentasikan bahwa Utuy memosisikan tiga tokoh perempuannya dalam posisi subjek dan objek yang tidak ajek.This research talks about the subjectivity of women sex workers in Utuy Tatang Sontani’s works titled Selamat Jalan Anak Kufur, “Menuju Kamar Durhaka”, and “Doger.” Women sex worker are portrayed through characters named Titi, Aku, and Selendang Merah. By using a feminist literary criticism method that focuses on women’s body and space, the discussion has been divided into two sections related to body, space, and subjectivity of the sex workers. Body and space are the crucial aspects for the characters in Utuy’s works when achieving their status as a subject. Based on the results of the analysis it can be interpreted that: (1) the bodies and spaces of the sex workers are depicted as an ambivalent asset in their position both as subject and object; (2) the position of happy subject-object status of the sex workers is closely related to the perspective used by the character in looking at sex workers. Therefore, it can be argued that Utuy positioned the three women characters in the position of subjects and objects that were not fixed.
REPRESENTASI SISTEM GENDER DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL DI JAWA BARAT Muhamad Adji; Dadang Suganda; Awaludin Nugraha
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.28898

Abstract

Indonesia, memiliki beragam jenis pengobatan tradisional yang dapat kita temui di berbagai daerah. Pengobatan tradisional menunjukkan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap jenis pengobatan yang berbasis pada pengetahuan lokal. Dari berbagai jenis pengobatan tradisional yang ditawarkan tergambar pandangan masyarakat Indonesia terhadap sistem gender. Gender mengacu pada identitas, peran, dan relasi yang disematkan pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Tulisan ini akan menguraikan konstruksi gender yang terepresentasi dalam dunia pengobatan tradisional melalui jenis-jenis pengobatan yang ditawarkan. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Dalam menganalisis data penelitian digunakan teori gender. Dari hasil analisis terhadap jenis pengobatan tradisional yang ditawarkan ditemukan bahwa pada umumnya sistem pengobatan yang ditujukan untuk laki-laki berkaitan dengan masalah keperkasaan, sedangkan pengobatan yang tujukan untuk perempuan berkaitan dengan masalah kesuburan. Dengan demikian, dari pengobatan tradisional tergambar konstruksi gender normatif yang berkaitan dengan konsep maskulinitas dan femininitas.
REPRESENTASI PERNIKAHAN DALAM MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS DAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Stefani Ratu Lestari; Muhamad Adji; Amaliatun Saleha
Metahumaniora Vol 10, No 1 (2020): METAHUMANIORA, APRIL 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i1.26023

Abstract

Penelitian ini membahas dua karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Midah Simanis Bergigi Emas (1955) serta Gadis Pantai (1962). Kedua karya ini menggunakan tokoh utama perempuan muda dengan mengangkat tema pernikahan dalam budaya patriarkis, serta mengungkit isu perjodohan, perceraian, serta kelas sosial yang meliputi tokoh perempuan di dalam kedua karya ini.  Kedua karya ini menampilkan perjuangan Midah dan Gadis Pantai dari awal hingga akhir pernikahan mereka, serta pandangan mereka mengenai pernikahan yang telah mereka lalui. Penelitian ini menggunakan teori representasi untuk menganalisis unsur-unsur pernikahan di dalam kedua karya ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kedua karya ini menampilkan permasalahan pernikahan yakni: (1) Permasalahan Kelas Sosial, (2) Pandangan Para Tokoh terhadap Pernikahan, dan (3) Representasi Perempuan Kuat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pramoedya menampilkan masalah pernikahan melalui kehidupan Midah dan Gadis Pantai serta tokoh-tokoh yang ditemui Midah dan Gadis Pantai.Kata Kunci: Pramoedya, Pernikahan, Kelas Sosial, Representasi
Representasi Sikap Kebangsaan Anak Muda dalam Hegemoni Negara pada Novel Populer Muhamad Adji
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18878

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang sikap kebangsaananak muda Indonesia pada tiga novel populer yaitu Ali Topan Anak Jalanan karya TeguhEsha, Lupus: Makhluk Manis dalam Bis karya Hilman Hariwijaya, dan Balada Si Roy karya GolaGong. Alasan pemilihan objek penelitian di atas adalah karena ketiga novel tersebut memilikitingkat popularitas yang tinggi pada tiap zamannya sehingga membuat tokoh utamanyamenjadi representasi anak muda Indonesia pada zamannya masing-masing. Pertanyaanpertanyaanyang memandu tulisan ini adalah 1) Bagaimana keindonesiaan digambarkanpada ketiga novel tersebut dan 2) Bagaimana sikap kebangsaan direpresentasikan tokohanak muda pada ketiga novel tersebut. Dari hasil kajian didapatkan simpulan bahwasikap kebangsaan yang ditampilkan pada ketiga novel tersebut memiliki tingkatan yangberbeda-beda. Novel Ali Topan Anak Jalanan menunjukkan sikap kebangsaan dengan lebihkritis. Hegemoni orde Baru pada masa itu belum berhasil karena novel populer masihmenampilkan tokoh anak muda yang kritis dan cenderung memberontak terhadap nilainilaiideologi Orde Baru. Periode ’80-an menampilkan novel populer dengan tokoh anakmuda yang memiliki sikap kebangsaan yang terbelah. Pertama, anak muda yang dapatmenerima realitas yang dikontruksi Orde Baru, dengan menjalani sistem tersebut danmemposisikan dirinya sebagai bagian dari sistem tersebut. Hal itu direpresentasikan olehtokoh Lupus dalam novel Lupus: Makhluk Manis dalam Bis. Kedua, anak muda yang tidakdapat menerima realitas yang dikonstruksi Orde Baru, dengan cara keluar dari bagiansistem tersebut. Hal itu direpresentasikan oleh tokoh Roy dalam Balada Si Roy.Kata kunci: kebangsaan, anak muda, novel populer, Orde BaruAbstractThis study aims to obtain a picture of Indonesian nationalism in the three popularnovels that were Ali Topan Anak Jalanan by Teguh Esha, Lupus: Makhluk Manis dalam Bisby Hilman Hariwijaya, dan Balada Si Roy by Gola Gong. The reason for choosing the object ofresearch above is that all three novels are recognized to have high levels of popularity in eachera so that made the main characters became a representation of Indonesian youth at that time.The questions that guide the writing are 1) How Indonesianness described in the third novel?2) How does nationalism represented by youth in these three novels. From the study results isobtained the conclusion that nationalism is displayed on the third novel has a level different.Ali Topan Anak Jalanan show a nationalism more critically. The New Order’s hegemony atthat time has not been successful because the novel still showing a critical youth and tends torevolt against the ideological values of the New Order. The ‘80s period featured a popular novelwith a youth character who had a split nationalism. First, the youth who can accept the realitythat the New Order has constructed, with the system and position itself as part of the system.It was represented by the Lupus’s character in the Lupus: Makhluk Manis dalam Bis. Second,the youth who can not accept the facts constructed by the New Order, by going out from thatpart of the system. It was represented by Roy’s character in the Balada Si Roy.Keywords: nationalism, youth, popular novel, New Order
Budaya dalam Pengajaran Bipa: Respons Orang Asing terhadap Budaya Sunda dalam Hubungan Lintas Budaya Muhamad Adji
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20703

Abstract

AbstrakProgram BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) memberikan kesempatanpada orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai pintu gerbang untukmengenal Indonesia lebih dalam lagi. Dengan semakin banyaknya orang asingmengunakan bahasa Indonesia, semakin terbuka kesempatan bagi bahasa Indonesiauntuk menjadi bahasa internasional. Hal itu dapat dilakukan melalui strategi kebudayaan.Strategi kebudayaan yang dapat dilakukan dalam mengenalkan Indonesia dalampembelajaran BIPA adalah melalui pengenalan budaya lokal yang menjadi ujung tombakdari kebudayaan Indonesia. Kebudayaan lokal yang hidup dalam masyarakat setempatmemberi kesempatan bagi orang asing untuk melihat dan memahami kekayaan budayaIndonesia yang beragam. Tulisan ini bertujuan mengetahui pengetahuan dasar mahasiswaasing terhadap budaya Sunda dan bagaimana respon mereka dengan dijadikannya budayaSunda sebagai bagian dari pembelajaran BIPA. Penelitian ini merupakan penelitiandeskriptif dengan pemerolehan data melalui kuesioner dan referensi kepustakaan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pengenalan aspak-aspek budaya lokal, dalam hal inibudaya Sunda, dalam pengajaran BIPA merupakan kebutuhan utama bagi orang asingagar dapat bertahan hidup dan beradaptasi dalam lingkungan sosial budaya tempatmereka hidup serta membangun kesalingpengertian dalam hubungan lintas budaya. Olehkarena itu, hal-hal yang penting bagi orang asing adalah budaya lokal yang dirasakanlangsung dalam kehidupan keseharian mereka di Indonesia.Kata kunci: budaya Sunda, pengajaran BIPA, respon, orang asing, lintas budayaAbstractThe BIPA program (Indonesian for Foreign Speakers) provides an opportunity forforeigners to learn Indonesian as a gateway to know Indonesia more comprehensively. With theincreasing number of foreigners using Indonesian language, the more open the opportunity forIndonesian language to become an international language. This can be done through a culturalstrategy. The cultural strategy that can be done in introducing Indonesia in BIPA learning isthrough the introduction of local culture that is the spearhead of Indonesian culture. Local culture hat lives in local communities provides opportunities for foreigners to see and understand Indonesia’s diverse cultural richness. This paper aims to find out the basic knowledge of foreign students towards Sundanese culture and how they respond to the use of Sundanese culture as part of BIPA learning. This research is a descriptive study by obtaining data through questionnaires and literature references. The results show that the introduction of aspects of local culture, in this case Sundanese culture, in the teaching of BIPA is a major need for foreigners to survive and adapt in the socio-cultural environment in which they live and build understanding in cross-cultural relations. Therefore, the things that are important for foreigners are the local culture that is directly affected in their daily lives in Indonesia.Keywords: Sundanese culture, BIPA teaching, response, foreigners, cross-cultural