Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Studi Literatur: Penetapan Kadar Bahan Kimia Obat Deksametason pada Sediaan Jamu Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Oktaviani, Anggi Dela; Rusmalina, Siska
Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika) Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah JKA (Jurnal Kesehatan Aeromedika)
Publisher : Politeknik Kesehatan TNI AU Ciumbuleuit Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58550/jka.v10i1.238

Abstract

ABSTRAK Jamu merupakan obat herbal yang telah digunakan masyarakat Indonesia untuk kesehatan dan penyembuhan. Namun, masih ditemukan adanya penambahan bahan kimia obat (BKO) secara ilegal oleh distributor untuk meningkatkan efek farmakologinya. Salah satu BKO yang sering ditemukan pada jamu adalah deksametason. Deksametason memiliki beberapa efek samping jika digunakan secara tidak tepat dan berlebihan, seperti peningkatan tekanan darah, osteoporosis, dan sindrom cushing. Tujuan dari penelitian ini adalah mereview jurnal analisa bahan kimia obat deksametason pada jamu, guna mengetahui efektivitas Spektrofotometri UV-Vis terhadap hasil penetapan kadar. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur, yaitu berdasarkan penelusuran jurnal 10 tahun terakhir pada basis data Sinta dan Google Schoolar menggunakan kata kunci yang dikombinasi deksametason, spektrofotometri UV-Vis, sediaan jamu, dan penetapan kadar deksametason. Maserasi dapat menjadi pilihan utama sebagai metode ekstraksi sampel karena lebih efisien dalam melarutkan deksametason yang ada pada jamu. Selain itu, penggunaan metanol dalam maserasi terbukti dapat melarutkan deksametason dengan baik dan mampu memberikan nilai kadar yang optimal dalam sampel. Rentang panjang gelombang yang memberikan hasil efektif pada penetapan kadar deksametason dalam jamu adalah 239-241nm. Panjang gelombang ini dipilih karena sesuai dengan panjang gelombang maksimum serapan deksametason. Dengan menggunakan panjang gelombang tersebut, maka dapat diperoleh intenstitas serapan sinyal yang maksimum.
STUDI LITERATUR: PENETAPAN KADAR BAHAN KIMIA OBAT SIBUTRAMIN HIDROKLORIDA PADA SEDIAAN JAMU PELANGSING DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Zamrotun, Siti; Rusmalina, Siska
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61685/jibf.v9i1.132

Abstract

Jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang telah digunakan secara turun temurun. Sediaan jamu tidak boleh mengandung bahan kimia obat sesuai aturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 pada Pasal 7 Ayat 1. Beberapa peneliti melakukan penelitian BKO sibutramin hidroklorida dengan metode spektrofotometri UV-Vis dan dipublikasi dalam bentuk jurnal atau artikel. Penemuan bko dalam produk pelangsing herbal ditemukan di Kalimantan Selatan, Surakarta, Medan, dan Manado, sehingga diperlukan pengawasan terhadap jamu berbahan kimia obat terutama sibutramin hidroklorida. Penelitian ini dilakukan guna memberikan gambaran sistem penetapan kadar sibutramin hidroklorida dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada studi literatur. Penelusuran artikel dilakukan pada database Google Schoolar dengan kata kunci sibutramin hidroklorida, metode spektrofotometri UV-Vis, bahan kimia obat pada jamu, obat tradisional, dan penetapan kadar sibutramin hidroklorida. Kata kunci tersebut dikombinasikan dengan baik menggunakan kata penghubung “DAN”. Strategi penelusuran dibatasi dengan beberapa filter seperti jenis jurnal nasional, tahun publikasi 2013- 2023, fulltext, serta berbahasa Indonesia dan Inggris. Hasil review penetapan kadar sibutramin hcl pada sediaan jamu pelangsing yaitu menggunakan metode maserasi pada preparasi sampel dengan pelarut aqua destilata. Nilai panjang gelombang yang diperoleh dalam rentang 223-266 nm, nilai koefisien determinasi 0,9871-0,9988, nilai koefisien korelasi dalam rentang 0,9935-0,9998, dan seri kosentrasi dalam rentang 5-150 ppm.
Analisis Kualitatif Rhodamin B Pada Selai Strawberry Curah Di Pasar Induk Kajen Dengan Metode Benang Wol Dan Kromatografi Lapis Tipis Wijayaning Tias, Ardiani Rizkiana; Rusmalina, Siska
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 13, No 1 (2023): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v13i1.3033

Abstract

Rhodamine B is one of the synthetic dyes that is prohibited in food. However, this substance is still often added to processed food by some persons. The purpose of adding these dyes is to make processed food more attractive, attractive to consumers, and reduce production costs. Rhodamine B that enters the body can cause irritation of the digestive tract, poisoning, impaired liver function, impaired kidney function, and can cause cancer and death. The Kajen Main Market is a meeting place for sellers and buyers to carry out buying and selling transactions. Bulk strawberry jam can be found or purchased at the Main Kajen market. To protect consumers around the Kajen Main Market, it is necessary to research the Rhodamine B content in the jam sold at that market. This research is included in the descriptive observational with a sample of bulk strawberry jam sold at the Kajen Main Market, Pekalongan Regency. Rhodamine B in the sample can be determined using the Thin Layer Chromatography (TLC) method, and wool yarn. Data analysis for the determination of Rhodamine B content using the TLC method was carried out by comparing the Rf value and the appearance of the color of the spots between the samples and the reference standard. A positive result if the Rf value and spot color of the sample and standard have the same result. The wool thread method is based on the bonding of the Rhodamin B color to the fat-free wool thread which is not washed off by water. In this study, from a total of 6 bulk strawberry jam samples, it was concluded that the results of the negative analysis contained the substance Rhodamine B. It can be concluded that it was negative because even thoughthe Rf results of the samples and standard standards were the same, the samples did notshow clear and bright colored spots on the silica plate when viewed through visible light and UV light, the Rf results show the same number, it is assumed that there are other additives that affect these results. In addition, the negative results were also confirmed by the wool yarn test, which also showed a negative result because the sample dyes absorbed into the wool fiber fibers could be washed off by water, unlike the reference standard which still left color on the wool fiber fibers and was not washed off by water. It is recommended to carry out further research in order to know the content of preservatives and saccharin in bulk strawberry jam
Studi Peninjauan Kualitas Minyak Goreng Hasil Pemanasan Berdasarkan Pada Bilangan Penyabunan Rusmalina, Siska
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 9, No 2 (2019): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v9i2.957

Abstract

 Minyak goreng termasuk dalam 9 bahan pokok makanan yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga tingkat kebutuhan minyak goreng sangat tinggi. Minyak goreng dapat mengalami kerusakan akibat reaksi oksidasi dari suatu pemanasan. Salah satu pemicu terjadinya reaksi oksidasi adalah pemanasan. Minyak yang dipanaskan akan turun kualitasnya atau bahkan menjadi rusak.  Masyarakat banyak menggunakan minyak goreng dengan lama pemanasan yang tidak lama dan digunakan secara berulang. Hal ini akan  mempengaruhi kualitas dari minyak goreng tersebut. Minyak goreng dengan kualitas jelek, apabila dikonsumsi dapat menimbulkan penyakit hipertensi, jantung, dan stroke. Penentuan kualitas minyak dapat dilakukan dengan mengukur bilangan penyabunan yang terdapat pada sampel minyak goreng.  Tujuan penelitian ini yaitu  mengetahui hubungan lama pemanasan  terhadap kualitas minyak goreng yang ditinjau dari bilangan penyabunan.Sampel yang digunakan adalah minyak goreng curah yang banyak dikonsumsi oleh konsumen dan dari produsen yang berbeda di Kota Pekalongan. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengujian ini mengacu pada syarat mutu minyak goreng berdasarkan SNI 7431 : 2015. Angka penyabunan pada minyak goreng sesuai SNI 7431 : 2015 adalah 180 – 265 mg kOH/g. Penetapan angka bilangan penyabunan digunakan metode titrasi asidi alkalimetri.Hasil pengujian bilangan penyabunan pada kelima sampel yaitu 183.2 - 240.22 mg NaOH/gram.  Hasil tersebut tidak  melebihi batas standar yang ditetapkan oleh SNI 7431 : 2015 yaitu 180 - 265 mg.  Namun jika dilihat dari parameter lama pemanasan seluruh sampel mengalami kenaikan bilangan penyabunan pada tiap kenaikan lama pemanasan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin lama minyak goreng dipanaskan, maka akan semakin besar pula tingkat kerusakan dan penurunan kualitas dari minyak goreng tersebut. Keywords: Kualitas, Minyak Goreng, Lama Pemanasan, Bilangan Penyabunan
Studi Literatur: Penetapan Kadar BKO Parasetamol Pada Jamu Menggunakan Metode KLT Dan Spektrofotometri UV-Vis Cintya Jaya, Lulu; Rusmalina, Siska
Pharmacogenius Journal Vol 3 No 1 (2024): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v3i01.317

Abstract

Pendahuluan: Jamu merupakan obat tradisional yang banyak diminati oleh masyarakat karena tidak menimbulkan efek samping sehingga aman dikonsumsi. Namun banyak produsen tidak bertanggung jawab yang menambahkan BKO untuk meningkatkan penjualan. Salah satu BKO yang seringkali ditemukan pada jamu yaitu parasetamol. Berdasarkan hasil penelusuran peneliti selama 10 tahun terakhir, banyak dilakukan penelitian tentang BKO pada jamu namun belum ada penelitian yang melakukan review terkait hal tersebut. Tujuan: Mereview jurnal tentang analisis bahan kimia obat parasetamol pada jamu untuk mengetahui efektifitas metode KLT dan Spektrofotometri UV-Vis terhadap hasil penetapan kadar. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode studi literatur dengan melakukan review pada jurnal yang didapatkan selama 10 tahun terakhir pada database google scholar menggunakan kata kunci seperti BKO, parasetamol, spektrofotometri UV-Vis, dan KLT. Hasil: Penelusuran dilakukan menggunakan kata kunci pada database google scholar berdasarkan kriteria inklusi dan sesuai PICO sehingga didapatkan 4 jurnal yang relevan. Berdasarkan hasil review, sebanyak 75% jurnal pada metode KLT menggunakan pelarut etanol dan sebanyak 25% menggunakan pelarut air dengan fase diam silika gel GF254. Untuk fase geraknya 75% menggunakan etil asetat : etanol : amonia (85:10:5) dan 25% menggunakan kloroform : etanol (90:10). Pada uji spektrofotometri UV-Vis 100% menggunakan pelarut etanol. Hasil dari metode preparasi sampel yang digunakan pada uji KLT 75% menggunakan metode filtrasi dan 25% menggunakan metode ekstraksi cair-cair, sedangkan pada uji spetrofotometri UV-Vis preparasi sampel 100% menggunakan metode filtrasi. Jenis detektor yang digunakan yaitu 100% menggunakan detektor UV-Vis. Kesimpulan: Berdasarkan hasil review jurnal, pelarut yang dapat digunakan untuk analisis  BKO parasetamol pada jamu dengan metode KLT maupun spektrofotometri UV-Vis yaitu pelarut air dan etanol menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak etil asetat, etanol, amonia (85:10:5) serta kloroform, etanol (90:10). Preparasi sampel dapat menggunakan metode filtrasi atau ekstraksi cair-cair dikarenakan prosesnya yang dilakukan tanpa pemanasan sehingga tidak mengurangi kadar parasetamol pada sampel.
Analisis Kadar Air, Keasaman, dan Gula Reduksi Madu Budidaya secara kimiawi Siska Rusmalina; Kharismatul Khasanah; Annisatul Farokhah; Dwiki Abdul Mutholi
An-Najat Vol. 2 No. 2 (2024): MEI : An-Najat: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v2i2.1649

Abstract

. Honey is a sticky, sweet liquid produced by bees or other insects from flower nectar. It has a distinct flavor compared to sugar and sweeteners, varying based on the plant source. Government-established quality standards protect consumers, ensure fair trade, and align with current regulations and technologies. This study aims to assess the quality of cultivated pure honey through organoleptic evaluation, water content analysis, acidity testing, and reducing sugar content analysis. Using a descriptive observational method and random sampling, samples from different honey types and brands were selected. Quantitative analysis determined water content using an oven-drying method, acidity using acid-base neutralization, and reducing sugar content using the iodometric method with Luff Schoorl reagent, following SNI 8664-2018 requirements. The study found varying organoleptic characteristics among different brands due to differences in bee species, floral sources, and production locations. Among the 18 samples tested, 10 met the water content standard, 14 met the acidity standard, but none met the reducing sugar content standard, indicating overall non-compliance with all requirements.
The Optimation of Fermentation Time, Antibacterial Activity and Profiling Secondary Metabolite of Symbiont Fungi from Sponge Gelliodes fibulata Rusmalina, Siska; Mahfur, Mahfur; Hasanah, Nunung; Wiyono, Mochamad Ardy; Ekayanti, Nonik Nur; Nathania, Jacinda Caroline
Pharmaciana Vol. 14 No. 2 (2024): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/pharmaciana.v14i2.27137

Abstract

Symbiont fungi are organisms that live in sponges tissue. Sponges are known to contain many metabolites which have the potential to be used as raw materials for medicine. Sponge Gelliodes fibulata is belongs to category demospongiae. The purpose of this study was to determine the optimal time to obtain the best secondary metabolite profile results in the sponge symbiont fungus Gelliodes fibulata. This research is included in experimental research. Beginning with the fungi culture of the sponge Gelliodes fibulata. Followed by a fermentation process with variations in time 2, 4, 6, 8, 10, 12, and 14 days to get the secondary metabolites produced. A liquid extraction process is carried out to obtain secondary metabolites produced during fermentation. The final stage is to carry out qualitative analysis with TLC and antibacterial testing with the well-diffusion method. The results obtained show that the long fermentation time influences the secondary metabolites obtained, and the metabolites possessed influence their antibacterial activity. The profile of secondary metabolites from TLC showed that the 10th day of fermentation had the most complex secondary metabolites and the highest yield 0.086%. The results of antibacterial activity showed that the 10th day of fermentation had the largest inhibition zone with 7.75 ± 0.44 mm compared to the other days of fermentation.
THE OPTIMATION OF FERMENTATION FOR METABOLITE PRODUCTION BY SYMBIONT Penicillium nalgiovense FROM THE SPONGE Gelliodes fibulata Rusmalina, Siska; Mahfur, Mahfur; Ermawati, Nur; Maliah, Nabilatun; Ananda, Luthfiah; Bintang Pratama, Kevin; Evi Ulfiani , Riska; Abdul Aziz, Danang; Husain, Khafidz; Ilma Faza, Febi; Hidayatullah, Adib
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v10i1.1682

Abstract

The fungi are sponge symbionts.  The fungus Penicillium nalgiovense acc MK087096  is a symbiont of the sponge Gelliodes fibulata. This symbiont has antibacterial activity, which supports the development of sponge-based drugs that are as effective as antibiotics. However, the primary challenge in developing marine resource-based medicine is the availability and sustainability of sponge raw materials. Fermentation biotechnology using sponge symbiont fumgi is an effective solution to address these challenges, as it allows the production of bioactive secondary metabolite compounds in large quantities, which can be used as raw materials for pharmaceutical preparation. The aim of this study was to determine the optimal medium and fermentation duration for producing secondary metabolites with antibiotic properties from the symbiotic fungus Penicillium nalgiovense, isolated from the sponge Gelliodes fibulata. This study was conducted naturally. The symbiotic fungus from the sponge Gelliodes fibulata was cultivated to facilitate growth. Fermentation was conducted with variations in secondary metabolite harvesting times of 2, 4, 6, 8, 10, and 12 days.  Secondary metabolites were obstained using liquid-liquid extraction with ethyl acetate. The optimal medium and fermentation time were determined based on the yield percentage for each medium across the six time variations. The fermentation biotechnology of the symbiotic fungus Penicillium nalgiovense acc MK087096 from the spone Gelliodes fibulata was carried out on SDB, PDB, also coconut flake-enriched PDB media.  The results showed the growth of the fungus and the production of bioactive secondary metabolites with antibiotic properties ...
Identifikasi Rhodamin B Pada Blush On di Toko Kosmetik Daerah Podosugih Pekalongan Barat Menggunakan Metode KLT dan Benang Wol Nila Al Khusna; Siska Rusmalina
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6: Mei 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i6.1614

Abstract

Seiring berkembangnya zaman, banyak kosmetik yang terbuat dari bahan alami, dan banyak juga yang ditambahkan dengan pewarna agar memberikan efek warna pada saat diaplikasikan oleh penggunanya. Berdasarkan Peraturan Kepala BPOM RI Nomor HK.07.4.42.01.16.84 Tahun 2016 Tentang Rhodamin B termasuk salah satu zat pewarna yang tidak dapat digunakan dalam kosmetik Namun Rhodhamin B masih ditemukan dalam sediaan kosmetik. Rhodamin B yang terpapar kedalam tubuh manusia dapat menakibatkan iritasi saluran pernapasan, karsinogenik dan kerusakan hati Untuk melindungi kosumen dari konsumsi kosmetik yang mengandung Rhodhamin B, maka diperlukan penelitian deskripstif observasional guna memperoleh gambaran kandungan pewarna Rhodamin B dalam produk Blush On, terutama di daerah Podosugih Pekalongan Barat menggunakan metode KLT dan Benang Wol. Metode KLT mrupakan teknik pemisahan suatu senyawa yang mengandalkan distribusi suatu senyawa yaitu fase diam dan fase gerak. Prinsip metode benang wol dengan mendeteksi warna yang melekat pada benang wol untuk memisahkan suatu zat menjadi bagian-bagian penyusunnya. Sampel yang digunakan pada penelitian sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan. Pada penelitian ini didapat hasil bahwa 14 sampel Blush On dari toko kosmetik didaerah Podosugih Kecamatan Pekalongan Barat negatif mengandung pewarna Rhodamin B. Hasil ini diperkuat dengan tidak terikatnya warna Blush On pada benag wol. Nilai Rf uji KLT antara sampel dengan baku pembanding tidak sama, dan bercak sampel tidak memberikan warna merah saat pengamatan secara visual serta tidak memberikan warna flourensi yang sama dengan baku pembanding.
UJI RHODAMIN B PADA SAUS TOMAT DI PASAR COMAL DENGAN METODE KLT DAN BENANG WOL Siska Erlina; Siska Rusmalina
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6: Mei 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i6.1618

Abstract

Penambahan pewarna pada makanan digunakan untuk menarik konsumen supaya lebih berminat dengan sesuatu produk yang dijual. Tidak jarang sebagian produsen menggunakan pewarna sintetik pada produknya yang biasanya digunakan untuk pewarna tekstil. Salah satu pewarna sintetik yang umumnya ditambahkan ke dalam makanan adalah Rhodamin B. Rhodamin B termasuk zat pewarna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam produksi makanan dan minuman yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 772/MENKES/PER/IX/1998. Penyalahgunaan Rhodamin B dapat menyebabkan kanker hati bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan pewarna rhodamin B pada saus tomat di Pasar Comal Kabupaten Pemalang, dengan menggunakan metode deskriptif observasional, yaitu metode penelitian yang dilakukan untuk memperoleh gambaran suatu keadaan dengan melakukan observasi. Dengan demikian penelitian ini untuk menggambarkan kandungan Rhodamin B pada saus tomat dengan metode KLT dan benang wol. Dari 8 sampel saus tomat yang telah diuji melalui uji benang wol dan KLT tidak ada sampel yang identik atau negatif mengandung Rhodamin B, hal ini didasarkan pada benang wol yang dapat tercucikan oleh air dan pada saat diamati di bawah sinar UV tidak memberikan warna orange. Dari kedelapan sampel saus tomat yang telah diuji menunjukkan bahwa semua sampel yang ada tidak identik atau tidak mengandung pewarna Rhodamin B.