Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Urinasi dan Penampakan Ekor Berdiri Tegak Sebagai Indikator Tingkah Laku Kawin Rusa Timor (Cervus timorensis) Betina di Penangkaran Aro-M Manokwari: Urinating and an Upright-Tail Appearance as Indicators of the Female Timor Deer (Cervus timorensis) Mating Behavior in Aro-M Captive Facility, Manokwari Freddy Pattiselanno; Alfrida Gobay; Frandz Rumbiak Pawere
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.82

Abstract

Abstract A deeper knowledge regarding the biology of the reproduction of tropical deer in its natural habitat is limited. The appearance of a standing tail and increased urination behavior are sexual characteristics of female deer. This research aims to study the mating behavior of females based on urination activity and upright-tail appearance in female Timor deer. The results showed that the lowest urination frequency of female deer (12.37%) occurred between 10.0012.00, while the highest (22.22%) was between 08.00-10.00. The appearance of tails that stand upright most often occurs in 06.00 - 08.00 (26.55%), and the lowest (8.19%), observed at 12.00-14.00. This study concludes that urination activity and appearance of upright tails was an indicator of the sexual desire of female deer to be mated by the male. Keywords: Behavior; Captivity; Female deer; Mating; Urinating Abstrak Pengetahuan yang mendalam mengenai biologi reproduksi rusa tropik yang ditangkarkan pada habitat aslinya masih sangat terbatas. Penampakan ekor yang berdiri tegak dan tingkah laku urinasi yang meningkat merupakan ciri rusa betina yang sedang berahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku kawin berdasarkan aktivitas urinasi dan penampakan ekor berdiri tegak pada rusa timor betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi urinasi rusa betina terendah (12,37%) terjadi pada periode 10.00- 12.00 sedangkan yang paling tinggi (22,22%), pada periode 08.00-10.00. Penampakan ekor yang berdiri tegak paling sering terjadi pada periode 06.00–08.00 yaitu (26,55%), dan terendah (8,19%), teramati pada pukul 12.00-14.00 wit. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa aktivitas urinasi dan penampakan ekor berdiri tegak dapat digunakan sebagai indikator birahi rusa berina yang siap untuk dikawini pejantan. Kata kunci: Penangkaran; Rusa betina; Tingkah laku; Kawin; Urinasi
Identifikasi Telur Cacing pada Saluran Pencernaan Satwa Liar yang Dipelihara Masyarakat di Manokwari, Papua Barat: Identification of Worm Eggs in the Digestive Tract of Wild Animals Maintained by the Community in Manokwari, West Papua Dwi Nurhayati; Alnita Baaka; Freddy Pattiselanno
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 11 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i2.159

Abstract

Investment of parasitic worms of captive wildlife was an impact on their health condition. This study was conducted to determine the intensity of parasitic worm infection in wild animals kept by communities in Manokwari, West Papua. The Natif method was used, by centrifuge of 20 birds and 20 mammals (Kangaroo and Deer) faeces collected from the sites. Sampling was carried out from October to November 2016. The analysis of collected faecal samples showed that bird species were not indicated (negatively infected by worm). In mammals, Nematodes and cestodes were found. Identification of existing findings showed that 3 (three) types of worm eggs were found, namely Taenia sp in kangaroos (Macropodidae), Ascaris sp (berembrio), and stronyle sp in deer (Cervus timorensis). The highest parasites intensity was stronyle sp (10 worm eggs) and the lowest intensity was Ascaris sp (3 worm eggs) .The rate of infection and investment of parasitic worm eggs in wild animals in Manokwari was categorised relatively low.
Deskripsi Daging Rana Arfaki (Anura; Ranidae) yang Dikonsumsi Masyarakat Moiley di Pegunungan Arfak: Description of Rana Arfaki (Anura; Ranidae) Meat Consumed by Moiley Communities at the Arfak Mountain Freddy Pattiselanno; Anita Oce Athabu; Daniel Yohanes Seseray
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.199

Abstract

Abstract In Papua, especially in the Arfak Mountains, one of wild animals that commonly used as a non-animal protein source is frogs. Although it has been consumed by local people for generations, there is no representative information on the characteristics of Arfak frog meat. This study aims to determine the body weight and weight of carcass of Arfak frogs (Rana arfaki) comsumed by the Moiley communtiies in the Arfak Mountains. In addition, this study also attempts to reveal the physical quality and processing techniques of consumed Arfak forg meat. We used descriptive method with observation techniques in the field. The results show that an average body weight of Arfak frogs consumed in Mbenti is 2.53 ± 0.81gr, with an average of carcass percentage 46.77% and non-carcass percentage 53.23%. The physical quality of the meat is, fresh and looks intact, the color of flesh and muscles is white to yellowish white, has a distinctive aroma, and elastic texture as well as strong muscles. The pH value of fresh meat is an average of 7.03. Various meat processing techniques are practiced including fried, stir-fry, grilled and smoked, and pickling/smoked is more preffered bacuse it is easy and the meat can keep longer as a source of food for household animal protein. Keywords: Arfak; Cosnsumption; Meat; Quality; Rana arfaki Abstrak Di Papua khususnya di Pegunungan Arfak, salah satu jenis satwa yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber protein hewani non-ternak adalah katak. Meskipun telah dikonsumsi oleh masyarakat lokal secara turun temurun, sampai saat ini belum tersedia informasi yang representatif tentang karakteristik daging katak Arfak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bobot badan dan berat karkas katak Arfak (Rana arfaki) yang dikonsumsi masyarakar Moiley di Pegunungan Arfak. Selain itu juga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik dan teknik pengolahan daging katak Arfak yang dikonsumsi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi atau pengamatan langsung di lapangan. Rataan bobot badan katak Arfak (Rana arfaki) yang dikonsumsi oleh masyarakat di Mbenti yaitu 2,53 ± 0,81gr dengan rataan persentase karkas yaitu 46,77% dan persentase non-karkasnya sebesar 53,23%. Kualitas fisik daging katak Arfak yaitu memiliki karakteristik segar dan tampak utuh, warna daging dan otot putih hingga putih kekuningan, memiliki aroma khas, dengan tekstur elastis serta memiliki otot kuat. Sedangkan nilai pH daging katak Arfak segar yang dikonsumsi oleh masyarakat yaitu rata-rata adalah 7,03. Teknik pengolahan daging yang dilakukan oleh masyarakat beragam antara lain goreng, tumis, bakar dan asap. Cara asar/asap lebih disenangi karena mudah dilakukan dan dapat memperpanjang masa simpan daging sebagai cadangan sumber pangan protein hewani rumah tangga. Kata kunci: Arfak; Daging; Konsumsi; Kualitas; Rana arfaki
Jenis Kelelawar Pemakan Buah (Pteropodidae) di Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari Freddy Pattiselanno; Petrus I. Bumbut
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 28, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2011.28.2.263

Abstract

A study of bats was aimed to collect information on the presence of fruit bats that predicted involved in pollination or seed dispersal of certain commercial fruit plants within and around the Taman Wisata Alam Gunung Meja, Manokwari.  Forty five individual consists of 8 (eight) species: Dobsonia minor, Dobsonia moluccensis, Macroglossus minimus, Nyctimene aello, Nyctimene albiventer, Nyctimene draconilla, Rousettus amlexicaudatus and Syconicteris australis have been captured and identified during the survey.  It was assumed based on observation of vegetation found around the study site that the presence of fruit bats species help to maintain and contribute to seed dispersal of the fruit plants.  Further study is required to obtain accurate data through the stomach content collection of the observed bats.  Land conversion and illegal hunting was frightened influence the bat habitat and population which finally impact to fruit production.
PENDAMPINGAN DAN PEMBINAAN SARANA PENGOLAHAN USAHA PETERNAKAN KAMBING PE DI DISTRIK AIMAS, KABUPATEN SORONG: Assistance and Training of PE Goat Processing Facilities in Aimas District of Sorong Muhammad Djunaidi; Trisiwi Widayati; Gino N. Cepeda; Tatak Reko Purwanto; Freddy Pattiselanno
IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022): IGKOJEI: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/igkojei.v3i2.299

Abstract

ABSTRACT  The Ettawah Crossbreed Goat (PE) as a type of small ruminant has several advantages because it is a dual purpose type, which is capable of producing meat and milk. The "Guidance for Improvement of Agricultural Product Processing Facilities" from the Ministry of Agriculture through the Department of Animal Husbandry and Animal Health of West Papua Province, mandates the activities of PE Goat Farming Business Assistance and Development of Processing Facilities Development in Aimas District, Sorong Regency. The activity is carried out by the Department of Animal Husbandry, Faculty of Animal Husbandry, University of Papua in Manokwari. Respondents are PE goat breeders from farmer groups Setia Kawan, Margo Tani and Margo Utomo in Aimas District, they are assisted by the Animal Husbandry and Veteriner Service of West Papua Province. The success of a good PE goat agribusiness is indicated by the better linkage (network) between related aspects from upstream to downstream. In the development of PE goat agribusiness in Aimas, Sorong, three types (levels) of business, namely: 1) production level, 2) processing level and 3) marketing level need to be developed synchronously to achieve optimal results.  Keywords: COVID-19;  Participatory Rural Appraisal; Vaccination    ABSTRAK  Kambing Peranakan Ettawah (PE) sebagai salah satu jenis ruminansia kecil memiliki beberapa keunggulan karena merupakan tipe dual purposes yang mampu menghasilkan daging dan susu. Program “Pembinaan Perbaikan Sarana Pengolahan Hasil Pertanian” dari Departemen Pertanian melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat, mengamanatkan kegiatan Pendampingan Usaha Peternakan Kambing PE dan Pembinaan Pengembangan Sarana Pengolahan di Distrik Aimas Kabupaten Sorong.  Pelaksana kegiatan adalah Jurusan Paternakan Fakultas Peternakan Universitas Papua di Manokwari dan sebagai responden adalah peternak kambing PE dari kelompok tani Setia Kawan, Margo Tani dan Margo Utomo di Distrik Aimas sebagai peternak binaan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat. Keberhasilan agribisnis kambing PE yang baik diindikasikan dengan semakin baiknya jalinan (jaringan) antar aspek-aspek terkait mulai dari hulu sampai dengan hilir.  Dalam pengembangan agribisnis kambing PE di Aimas, Sorong, tiga macam (tingkat) usaha yaitu: 1) tingkat produksi, 2) tingkat pengolahan dan 3) tingkat pemasaran perlu dikembangkan secara sinkron untuk mencapai hasil yang optimal.  Kata kunci: Aimas; Kambing PE; Peternakan; Sorong.
KUSKUS (Phalangeridae) DI PAPUA: ANTARA PEMANFAATAN DAN KONSERVASI Agustina Y.S. Arobaya; Johan F.Koibur; Maria J.Sadsoeitoeboen; Evie W. Saragih; Jimmy F. Wanma; Freddy Pattiselanno
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v3i1.4167

Abstract

Kuskus adalah salah satu satwa yang menjadi target perburuan yang dari waktu ke waktu yang cukup marak dilakukan di Papua.  Tetapi menurut peraturan yang berlaku di Indonesia, kuskus termasuk dalam jenis hewan yang dilindungi dengan undang-undang. Tulisan ini mengkompilasi hasil berbagai studi tentang pemanfaatan kuskus dan dampaknya terhadap usaha pelestarian kuskus dalam menunjang konservasi satwa liar di Papua. Tujuan pemanfaatan kuskus yaitu dijual sebagai hewan peliharaan dan dikonsumsi sumber protein hewani keluarga. Perburuan kuskus dilakukan dengan menggunakan alat buru yang bervariasi mulai dari tradisional sampai modern. Perburuan kuskus dengan cara menebang pohon pakan dan tempat berlidung kuskus berdampak negatif terhadap perusakan habitat dan penurunan populasi kuskus di alam. Oleh karena itu tindakan perlindungan kuskus perlu terus dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan plasma nutfah yang ada, aplikasi kearifan tradisional masyarakat setempat dan mendukung usaha domestikasi kuskus.Kata kunci: Kuskus, konservasi, perburuan, Papua
Kearifan Tradisional Suku Maybrat Dalam Perburuan Satwa Sebagai Penunjang Pelestarian Satwa Pattiselanno, Freddy; Mentansan, George
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 14, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Widlife management as food resources in the tropical areas is very rarely done. Traditional wisdom as an aspect that plays an important role in wildlife sustainability still put into practice by certain tribals. Study on traditional wisdom of Maybrat ethnic group was done to observe the practice of traditional wisdom create important impact to the effort of wildlife sustainability in Sorong Selatan Regency. The results indicate that traditional wisdom practice such as the use of hunting tools, places for hunting and wildlife hunted that indirectly give positive impact in order to support wildlife sustainability in Sorong Selatan.
Morfometri Organ Reproduksi Pademelon Kelam (Thylogale brunii) Jantan Amos Rumsayor; Irba Unggul Warsono; Freddy Pattiselanno
Jurnal Veteriner Vol 23 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.932 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.2.228

Abstract

Pengetahuan tentang organ reproduksi pademelon kelam jantan sebagai sumber genetik lokal hampir tidak ada. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ukuran dari bagianbagian organ reproduksi, dan deskripsi fisik (letak, bentuk, warna dan tekstur) bagian-bagian dari organ reproduksi pademelon kelam (Thylogale brunii) jantan. Penelitian ini dilakukan di Kampung Horna, Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Laboratorium Fisiologi dan Reproduksi Hewan, Fakultas Peternakan Universitas Papua antara bulan September dan Oktober 2017. Tiga organ reproduksi jantan pademelon kelam (T. brunii) digunakan dalam penelitian ini, dan morfologi dari organ reproduksi ini telah dipelajari. Deskripsi fisik antara lain bentuk, letak, warna, dan tekstur organ reproduksi T. brunii jantan pada umumnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan organ jantan marsupial lainnya seperti kanguru dan beberapa walabi jenis lain. Organ reproduksi T. brunii jantan terdiri atas sepasang skrotum bersama epidedimis di dalamnya, sepasang vas deferens, bladder (kantung kemih), kelenjar prostat, sepasang crus penis, sepasang bulbus rethralis, tiga pasang kelenjar cowper, penis, dan kepala penis (glans penis).
Persepsi Masyarakat Terhadap Lingkungan Pemeliharaan Ternak Babi yang Diumbar di Kampung Gaya Baru dan Sekitar Pasar Wosi, Manokwari Freddy Pattiselanno; Budi Santoso; Odiktur Marani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 21, No 1 (2023): January 2023
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.21.1.115-124

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon masyarakat terhadap dampak peternakan babi yang dipelihara secara umbar di Kampung Gaya Baru. Penelitian ini di lakukan pada bulan Mei-Juni 2018. Respon masyarakat diperoleh melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner berbasis skala Likert dan observasi langsung di lapangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung, wawancara dan studi kepustakaan dengan analisis data statistik deskriptif menggunakan skala likert serta perangkat lunak Microsoft Excel. Hasil perhitungan selanjutnya ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik, serta dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian terhadap persepsi masyarakat di Kampung Gaya Baru dan wilayah sekitar Pasar Wosi berada pada kategori terganggu dengan total nilai persepsi 1529. Responden dapat bertahan sampai dengan saat ini karena mereka cepat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada.
Produksi Gas Buangan Ternak Babi yang Diumbar di Gaya Baru dan Sekitar Pasar Wosi, Manokwari Odiktur Marani; Budi Santoso; Freddy Pattiselanno
Dinamika Lingkungan Indonesia Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/dli.10.1.p.19-28

Abstract

The research aims to estimate the manure production and calculate the methane gas produced by the pig free-ranging system in Gaya Baru and the surrounding of Wosi Market in Manokwari. This research is conducted from May to June 2018. The methods used in this study are observation, interviews, and literature study. Direct observations in the field are carried out by calculating the pig population and estimating the body weight by measuring body length and chest circumference according to the Winter formula. Furthermore, the calculation of the amount of fresh dung (KTS) of pigs is carried out. The parameter observed in this research is the methane gas produced by the systems. Research is conducted by observation, interview, and literature review with a descriptive statistical approach. The free-ranging pig systems in Gaya Baru and its surroundings produce ammonia at 0.246617 ppm/day, biogas of 10.95m3/year, equivalent to 3996.75m3 per year, and methane of 10.85 m³ per day, or equivalent to 130.18 m³ per year. If this condition is allowed to continue, this will have a social impact, but also environmental and health problems around the research sites.
Co-Authors A. Emaury A. Farwas A. Wondikbo Abidin Fenitruma Agustina Y.S. Arobaya Agustinus Gatot Murwanto Alberth Mampioper Alfredo O. Wanma Alfredo Ottow Wanma Alfredo Ottow Wanma Alfrida Gobay Alnita Baaka Alosius Numberi Amos Rumsayor Angel N Tethool Angel N. Tethool Angel Novita Tethool Angelina N. Tethool Anita Oce Athabu Ansarudin, Muhamad Apituley, Frank Leo Arief, Geraldy Arnold Halitopo Arobaya, Agustina Y. S. Arya Sadewa Cahyaputra Athabu, Anita Oce Budi Santoso Budi Santoso Budiono (Budiono) Bukorpioper, Ira Iriani Cahyaputra, Arya Sadewa DA Iyai, DA Daniel Y. Seseray Deny A Iyai Deny A Iyai, Deny A Deny A. Iyai Dwi Djoko Rahardjo Dwi Djoko Rahardjo Dwi Nurhayati Dwi Nurhayati, Dwi Edwin Galfani Abidondifu Eli F. Karubaba Evi S.H. Kararbo Evi W. Saragih Fahry Rafli Fahry Rafli Fahry Rafli Fenitruma, Abidin Fernando Duwiri Frandz Rumbiak Pawere Fransiska R. V. Sitanggang George Mentansan Gino Nemesio Cepeda Goban, Yosefina M. Gobay, Alfrida Herman Manusawai, Herman Hotlan Manik Hotlan Manik Hotlan Manik I. Rumayomi Ikram Karim Ikram Karim Ilindamon, Amsal Inriani, Noveling Irba Unggul Warsono Irba Unggul Warsono Iyai, Deni A. J. Manusawai Jan Hendriek Nunaki Jerianto Tawala Madja Jimmy F. Wanma Johan F. Koibur John Arnold Palulungan Kararbo, Evi S.H. Karim, Ikram Karubaba, Eli F. Keliopas Krey Krockenberger, Andrew Kuswanto Kuswanto Kuswanto Kuswanto Lekitoo, Marlyn N Lukas Y Sonbait Lukas Yowel Sonbait Lukas Yowel Sonbait Madja, Jerianto Tawala Mandibodibo, Paulus Manik , Hotlan Maria J.Sadsoeitoeboen Martha Kayadoe Martha Kayadoe Martha Kayadoe Matheos Rayaar Maturbongs, Rudi A. Mohamad Jen Wajo Muhamad Ansarudin Muhammad Djunaidi MUHAMMAD IRFANSYAH LUBIS Muhammad Junaidi N. Towansiba Natanael Natumnea Natumnea, Natanael Noviyanti Noviyanti Numberi, Alosius Odiktur Marani Odiktur Marani Onesimus Yoku Petrus I. Bumbut Priyo Sambodo Rafli, Fahry Randa, Sangle Y Randa, Sangle Yohanes Rante Tasak, Albida Rayaar, Matheos Sangle Y. Randa Sangle Yohanes Randa Sientje D. Rumetor Stepanus R. Pakage dan B.W. Irianti SY Randa, SY T Sraun Tatak Reko Purwanto Tepinus Morip Tethool, Angel N. Trisiwi Wahyu Widayati Utami, Galuh Putri Windhani Waite, Aldo Firdaus Wanaputra, Amadion Andika Wanma, Alfredo Ottow Warsono, Irba Unggul Wika Rumbiak Yosefina M. Goban