Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Stereotype Threat ditinjau dari Self-Efficacy pada Resimen Mahasiswa (Menwa) Wanita di Universitas “X” saniatuzzulfa, rahmah; Nur Fitria, Julia
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 15, No 1 (2019): Insight : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.608 KB) | DOI: 10.32528/ins.v15i1.1700

Abstract

Resimen wanita merupakan kelompok minoritas dalam organisasi Menwa di Perguruan Tinggi. Kegiatan dalam Menwa yang tergolong lebih banyak melibatkan aktivitas fisik ini, seringkali dianggap bahwa kegiatan ini lebih layak diperuntukkan untuk kaum laki-laki. Hal tersebut menyebabkan resimen wanita banyak merasakan adanya ancaman stereotip (stereotype threat) dari masayarakat ketika mengikuti kegiatan ini. Ancaman stereotip yang dirasakan ini dapat menyebabkan beberapa dampak psikologis, seperti kecemasan atau bahkan penurunan semangat dalam melakukan kewajibannya sebagai anggota Menwa. Salah satu faktor yang berkaitan dengan stereotype threat adalah kepercayaan diri (self-efficacy). Self-efficacy yang tinggi mampu membuat individu percaya akan kemampuan dirinya, mampu menyesuaikan dirinya dengan ancaman yang mengintai dirinya, meningkatkan kreativitas dan kebebasan dalam memilih hal-hal yang dinilai baik untuk dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk meilhat hubungan antara self-efficacy dengan stereotype threat pada resimen wanita. Penelitian dilakukan pada 40 orang resimen wanita yang dipilih dengan menggunakan total populasi yang ada. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala self-efficacy dan skala stereotype threat. Analisis data menggunakan analisis regresi linier sederhana menghasilkan nilai p=0,000 (p<0,05) dengan nilai Fhitung>Ftabel (46,022>4,09). Artinya terdapat hubungan antara self-efficacy dengan stereotype threat. Nilai r2 sebesar 0,548, menunjukkan bahwa self-efficacy memberikan sumbangan efektif sebesar 54,8% pada stereotype threat.
Pengaruh Pendampingan Deteksi Dini Gangguan Psikologis Terhadap Kemampuan Regulasi Emosi Pada Caregiver Lansia Di Kelurahan Gonilan, Sukoharjo setyowati, rini; Saniatuzzulfa, Rahmah; Setyaningrum, Rohmaningtyas Hidayah
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 15, No 1 (2019): Insight : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.49 KB) | DOI: 10.32528/ins.v15i1.1595

Abstract

Penelitian  ini bertujuan  untuk  mengetahui pengaruh pendampingan deteksi dini gangguan psikologis terhadap kemampuan regulasi emosi pada  caregiver  lansia.  Penelitian   ini  mempergunakan  desain  non randomized one group pretest-post test design. Subjek dalam penelitian  ini adalah 16 orang caregiver lansia berjenis perempuan yang berasal dari posyandu lansia di Kelurahan Gonilan,  berusia  39-57 tahun.  Subjekyang tergabung menjadi satu kelompok menerima perlakuan berupa pendampingan deteksi dini gangguan psikologis.   Perlakuan  terdiri  dari  2  pertemuan diberikan  selama  2 minggu dengan  durasi antara 150 menit hingga 180 menit setiap pertemuan. Alat ukur yang digunakan adalah skala kemampuan regulasi emosi ( r=0,915), wawancara, observasi, evaluasi proses dan hasil.  Pretest disajikan  sebelum  perlakuan dan posttest  disajikan  setelah  perlakuan. Hasil  analisis uji beda menggunakan wilcoxon t (Zhitung=-2.463 dan p=0,0085<0,05) menunjukkan perbedaan signifikan antara sebelum dan setelah pemberian perlakuan.  Dengan   demikian   dapat disimpulkan  bahwa  pendampingan deteksi dini gangguan psikologis berpengaruh terhadap kemampuan regulasi emosi pada caregiver lansia.
PERAN DUKUNGAN SOSIAL PADA STRES AKULTURATIF MAHASISWA ASING DI UNIVERSITAS SEBELAS MARET Ramania, Bernadeta Pramesi; Andayani, Tri Rejeki; Saniatuzzulfa, Rahmah
Indigenous Vol. 4 No. 2, 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/indigenous.v4i2.6530

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran dukungan sosial pada stres akulturatif  mahasiswa asing di Universitas Sebelas Maret (UNS). Populasi dalam penelitian kuantitatif ini berjumlah 111 mahasiswa. Subyek dalam penelitian ini berjumlah dengan menggunakan teknik incidental sampling dan snowball sampling. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan skala stres akulturatif (reliabilitas 0,913) dan skala dukungan sosial (reliabilitas 0,855). Hasil teknik analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa dukungan sosial berperan pada stres akulturatif secara signifikan ditunjukkan dengan nilai Fhitung > Ftabel (8,451>4,05), nilai p 0,006 (p<0,05) dan koefisien korelasi (R) sebesar -0,394. Sumbangan efektif variabel prediktor terhadap variabel kriterium adalah -15,5%. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa, dukungan sosial memiliki peran negatif sebanyak 15,5% pada tingkat stres akulturatif pada mahasiswa asing yang sedang menempuh studi di UNS.
Relevansi antara self efficacy dengan kecemasan sebelum bertanding pada atlet futsal putri Aliyyah, Aliyyah; Wicaksono, Bagus; Saniatuzzulfa, Rahmah; Mukholid, Agus
Jurnal SPORTIF : Jurnal Penelitian Pembelajaran Vol 6 No 1 (2020): Jurnal SPORTIF: Jurnal Penelitian Pembelajaran
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.965 KB) | DOI: 10.29407/js_unpgri.v6i1.14080

Abstract

The athletes performance will be excellent with the support of healthy mind. Psychological state such as anxiety must be lessened to achieve the desired performance. Several previous studies suggest that anxiety is closely related to self-efficacy. Positive self-efficacy helps the athletes in controlling their anxiety. This study aims to determine the relationship between self-efficacy and anxiety before the match. The research involves 44 female futsal athletes of Sebelas Maret University in Surakarta. To measure the variables in this study, the anxiety scale before the match (reliability = 0.927) and self-efficacy scale (reliability = 0.859) are used. Hypothesis test result of r = -0.334 shows that there is a negative and significant relationship between self-efficacy and anxiety before the match, which means the lower self-efficacy, the higher athletes’ anxiety before the match (P = 0.023; p <0.05). This research is limited to female futsal athletes. Further studies are expected to involve male athletes and other sports.
Konsep diri dan motivasi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pada remaja panti asuhan “x” Tanri Fatma Utami; Rahmah Saniatuzzulfa
Cognicia Vol. 9 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Fakultas Psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v9i2.16623

Abstract

The low number of high school graduates in Purworejo who continue their education to college is caused by the students’ concerns about the high cost of education and lack of student confidence in their abilities. One of those who experienced this was an orphanage teenager. Teenagers in orphanages are teenagers who are deliberately entrusted by their parents to get a decent life and education. This study aims to determine the relationship between self-concept and motivation to continue education to college. The sample recruitment was determined using cluster random sampling method and found 81 teenage orphanages as participants. The instruments used are the Motivation Scale Continuing Education to Higher Education with 43 (a = 0.930) and the Self Concept Scale with 25 (a = 0.870). The results of a simple regression analysis showed that there is a significant positive relationship between self-concept and motivation to continue education to college (F = 105.700; p < 0.05; r = 0.756). SE contributed 57,632% of the motivation to continue their education to college.   Keywords: Motivation to continue study to the college, orphanage teenager, self-concept
Hubungan antara Kecemasan dan Status Sosial yang Dipersepsikan dengan Kecenderungan Status Sosial yang Dipersepsikan pada Komunitas Gundam Solo Ulfah Mubarok; Bagus Wicaksono; Rahmah Saniatuzzulfa
Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa Vol 6, No 1 Jun (2021): Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa
Publisher : Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku pembelian kompulsif merupakan blablabla Perilaku pembelian kompulsif merupakan perilaku pembelian dimana konsumen memiliki dorongan yang sulit dikontrol untuk melakukan pembelian berulang pada kategori produk tertentu. Salah satu kelompok sosial yang memiliki kecenderungan perilaku pembelian kompulsif adalah Komunitas Gundam Solo. Perilaku pembelian kompulsif dipengaruhi oleh faktor psikologis berupa kecemasan dan faktor sosial berupa status sosial yang dipersepsikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kecemasan dan status sosial yang dipersepsikan dengan kecenderungan perilaku pembelian kompulsif pada Komunitas Gundam Solo. Sampel penelitian ini adalah 73 anggota aktif Komunitas Gundam Solo. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria subjek secara berkala melakukan pembelian model perangkat Gundam, serta berada dalam komunitas. Instrumen yang digunakan yaitu skala perilaku pembelian kompulsif (α = 0,880), TMAS (Taylor’s Manifest Anxiety Scale) (α = 0,910), dan skala status sosial yang dipersepsikan (α = 0,908). Teknik analisis data yang digunakan penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda.
Hubungan Electronic Word of Mouth dan Hedonic Shopping Motivation dengan Perilaku Konsumtif Produk Make Up pada Mahasiswi Ayu Kusumaningrum; Bagus Wicaksono; Rahmah Saniatuzzulfa
JURNAL PSIKOLOGI Vol 14, No 1 (2018): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v14i1.4698

Abstract

Perkembangan tren make up mendorong mahasiswi ikut membeli produk make up terbaru tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Hal ini ditambah adanya electronic word of mouth di internet dan hedonic shopping motivation dari dalam diri individu yang mendorong munculnya perilaku konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan electronic word of mouth dan hedonic shopping motivation dengan perilaku konsumtif terhadap produk make up. Penelitian dilakukan pada 61 mahasiswi Psikologi Universitas Sebelas Maret yang dipilih menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian ini adalah skala perilaku konsumtif, skala electronic word of mouth, dan skala hedonic shopping motivation. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis regresi ganda.Hasil penelitian menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05), artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara electronic word of mouth dan hedonic shopping motivation dengan perilaku konsumtif terhadap produk make up. Secara parsial, terdapat hubungan positif yang signifikan antara  electronic word of mouth dengan perilaku konsumtif terhadap produk make up (p=0,000 < 0,05) dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara hedonic shopping motivation dengan perilaku konsumtif terhadap produk make up (p=0,006 < 0,05). Nilai R2 sebesar 0,381, menunjukkan bahwa electronic word of mouth dan hedonic shopping motivation secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 38,1% pada perilaku konsumtif terhadap produk make up.
Pemberdayaan Komunitas Melalui Metode Partisipatory Rural Appraisal Kesehatan Psikologis Lansia : Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Rohmaningtyas Hidayah Setyaningrum; Rahmah Saniatuzzulfa; Rini Styowati
Wacana Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.804 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v11i1.136

Abstract

AbstrakPentingnya keberadaan lansia dalam keluarga memberikan konsekuensi terhadap perlindungan dan peningkatan pelayanan kesehatan lansia yang holistik. Proses penuaan yang dapat menimbulkan penurunan kondisi fisik, sosial-ekonomi, dan psikis membuat peran lansia dalam keluarga menjadi terganggu. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memberdayakan komunitas melalui teknik Partisipatory Rural Appraisal untuk memecahkan permasalahan keluhan psikologis lansia sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan lansia yang hidup di dalam keluarga. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) sekaligus wawancara pada kader lansia dengan membentuk kelompok diskusi dari Pengurus PKK, Kader Posyandu Lansia Bahagia Abadi X dan Sari Mandiri 07, Ketua RW/RT di Gonilan, Sukoharjo. Hasilnya sebanyak 15 lansia merasakan keluhan fisik, 6 lansia mengalami perubahan pola makan, 6 lansia sulit konsentrasi, 14 lansia mengalami perubahan pola tidur, Dari diskusi PRA penanganan yang diusulkan adalah konsultasi ke dokter, makan bergizi, minum vitamin, tetap belajar, konsultasi ke psikolog atau psikiater, refreshing, reuni, tetap beraktivitas, istirahat, dan saling berkunjung. Disarankan perlunya pendampingan deteksi dini gangguan psikologis lansia untuk mengurangi masalah psikologis yang dialami  lansia.Kata kunci: Participatory Rural Appraisal; Kesehatan Psikologis Lansia; Kesejahteraan Keluarga, Psikoedukasi
Hubungan Antara Kecenderungan Kepribadian Narsistik Dan Financial Literacy Dengan Perilaku Konsumtif Pada Mahasiswa Andi Tenriawaru; Bagus WIcaksono; Rahmah Saniatuzzulfa
Wacana Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.729 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i2.126

Abstract

ABSTRAK     Mahasiswa dalam tahap perkembangan dapat dikategorikan sebagai remaja akhir. Remaja dengan tugas perkembangan mencari identitas diri dan menjadi pribadi yang unik ini menjadikan remaja memiliki perhatian dalam segi penampilan dan gaya hidup. Hal ini berdampak pada perilakunya, rela membelanjakan uang untuk keinginan semata. Remaja dengan kecenderungan kepribadian narsisitik mencintai dirinya secara berlebihan sehingga terdorong untuk berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif juga semakin meningkat apabila seseorang tidak memiliki financial literacy yang memadai karena dapat mengakibatkan pemborosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecenderungan kepribadian narsistik dan financial literacy dengan perilaku konsumtif, mengetahui hubungan antara kecenderungan kepribadian narsistik dengan perilaku konsumtif, dan mengetahui hubungan antara financial literacy dengan perilaku konsumtif pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta.Subjek dalam penelitian adalah 93 mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Instrumen penelitian yaitu skala perilaku konsumtif (reliabilitas 0,910), skala kecenderungan kepribadian narsistik (reliabilitas 0,932), dan skala financial literacy (reliabilitas 0,905). Analisis uji simultan F menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecenderungan kepribadian narsistik dan financial literacy dengan nilai Fhitung=71,702>Ftabel=3,10 (p=0,000<0,05;r=0,784). Secara parsial, terdapat hubungan positif yang signifikan antara kecenderungan kepribadian narsistik dengan perilaku konsumtif (r = 0,670 ; p-value 0,000 < 0,05) dan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara financial literacy dengan perilaku konsumtif (r = -0,227 ; p-value 0,030 < 0,05). Artinya, semakin tinggi kecenderungan kepribadian narsistik maka semakin tinggi perilaku konsumtif. Semakin tinggi financial literacy maka semakin rendah perilaku konsumtif. Sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel kecenderungan kepribadian narsistik sebesar 51,93% dan variabel financial literacy sebesar 9,50% dengan total sebesar 61,43%. Kata kunci: Financial Literacy, Kecenderungan Kepribadian Narsistik, dan Perilaku Konsumtif
Penerimaan dan Kualitas Hidup Caregiver dengan Kekambuhan pada Pasien Rawat Jalan Skizofrenia Medina Hayati; Rin Widya Agustin; Rahmah Saniatuzzulfa
Philanthropy: Journal of Psychology Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/philanthropy.v5i2.3171

Abstract

Abstract. Relapse is a state of recurrence and worsening symptom experienced by patient. Acceptance and quality of life of caregivers can affect their attitude toward patient and might be affecting the possibility of schizophrenia relapse. This study intended to seek the correlation between caregiver s acceptance and quality of life with relapse of schizophrenia outpatient in Surakarta Regional Psychiatric Hospital that involved 35 caregivers with incidental sampling technique. The measurement used on this study are BPRS for assessing schizophrenia relapse (α = 0,908), Caregiver Acceptance Scale (α = 0,934), and Caregiver Quality of Life Scale (α = 0,960). This study used multiple linear regression analysis to analyze the output. Based on the data showed that the level of acceptance and quality of life perceived by caregivers didn t affect the likelihood of relapse of schizophrenia outpatient in Surakarta Regional Psychiatric Hospital.Keywords: Acceptance, Caregiver, Schizophrenia Relapse, Quality of LifeAbstrak. Relapse merupakan keadaan muncul kembali dan bertambah parah simptom yang dialami oleh pasien skizofrenia. Penerimaan dan kualitas hidup dari caregiver dapat mempengaruhi sikapnya dalam merawat pasien sehingga mungkin mempengaruhi kemungkinan terjadinya relapse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan dan kualitas hidup caregiver dengan relapse pada pasien rawat jalan skizofrenia di RSJ Daerah Surakarta yang melibatkan 35 caregiver dengan teknik incidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah Skala Relapse Skizofrenia (α = 0,908), Skala Penerimaan Caregiver (α = 0,934), dan Skala Kualitas Hidup Caregiver (α = 0,960). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji regresi linear berganda. Berdasarkan hasil data penelitian menunjukkan bahwa tingkatan penerimaan dan kualitas hidup dari caregiver tidak memiliki pengaruh terhadap munculnya relapse pada pasien rawat jalan skizofrenia di RSJ Daerah Surakarta.Kata Kunci: Caregiver, Kualitas Hidup, Penerimaan, Relapse Skizofrenia