Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Macroalgae Biodiversity in Ondong Coastal Waters. Kandati, Feibe R. S.; Kepel, Rene Charles; Rangan, Jety Kornela; Gerung, Grevo S.; Salaki, Meiske Sofie; Lasabuda, Ridwan
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34136

Abstract

This research was conducted in the coastal waters of Ondong, West Siau District, Siau Islands Regency Tagulandang Biaro with the aim of knowing the composition of macroalgae taxa through a morphological approach. Data retrieval is done by using the Line Transect quadratic method. The results of the study found 15 species consisting of 3 divisions, 3 classes, 10 orders, 12 families, and 12 genera.AbstrakPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir pantai Ondong, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Line Transect kuadrat. Hasil penelitian menemukan 15 spesies yang terdiri dari 3 divisi, 3 kelas, 10 ordo, 12 famili, dan 12 genera.
Identification of Coraline Algae In Meras Waters Bunaken District Pondaag, Kristy Sofia; Gerung, Grevo Soleman; Sinjal, Chatrien Annita; Sondak, Calvyn F. A.; Tilaar, Sandra O.; Kreckhoff, Reny L.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.42462

Abstract

Marine algae are part of marine organisms, especially plants, and are included in lower plants that do not have different skeletal structures such as roots, stems, and leaves. Although it looks different, algae is actually just a form of the thallus. Coralline algae belong to the Rhodophyta Division, Class Florideophycidae, Order Corallinales. Coralline algae are divided into two parts based on their shape (morphology), namely non-geniculate and geniculate. This study aims to identify the types of coralline algae that are crustose (non-geniculate) and branched (geniculate) found in Meras, Bunaken District and can explain the morphology of coralline algae in diffuse non-geniculate and geniculate forms. This research was conducted in Meras, Bunaken District by means of SCUBA diving at a depth of 3 – 7 meters, and samples were taken using the cruising survey method. After that, the samples were brought ashore for the next identification process. The results of the research that has been conducted on samples of coralline algae obtained in Meras, Bunaken District are that there are 2 types of non-geniculate, namely Peyssonnelia caulifera and Peyssonnelia Orientalis, and 1 species of geniculate, namely Tricleocarpa fragilis identified.Keywords: Identification, Coralline Algae, MerasAbstrakAlga laut adalah bagian dari organisme laut khususnya tumbuhan dan termasuk dalam tumbuhan tingkat rendah yang tidak mempunyai perbedaan susunan kerangka seperti akar, batang dan daun. Walaupun terlihat memiliki perbedaan, sebenarnya alga hanya merupakan bentuk talus belaka. Alga koralin tergolong kedalam Divisi Rhodophyta, Kelas Florideophycidae, Ordo Corallinales. Alga koralin terbagi menjadi dua bagian berdasarkan bentuknya (morfologi), yaitu non geniculate (tidak bercabang) dan geniculate (bercabang). Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi jenis alga koralin bentuk tidak bercabang (non geniculate) dan bentuk bercabang (geniculate) yang terdapat di Perairan Meras, Kecamatan Bunaken serta dapat menjelaskan morfologi alga koralin bentuk tidak bercabang (non geniculate) dan bentuk bercabang (geniculate). Penelitian ini dilakukan di Perairan Meras Kecamatan Bunaken dengan cara SCUBA diving pada kedalaman 3 – 7 meter dan sampel diambil menggunakan metode survey jelajah. Setelah itu sampel dibawa ke darat untuk proses identifikasi selanjutnya. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan pada sampel alga koralin yang didapat di Perairan Meras, Kecamatan Bunaken adalah terdapat 2 jenis spesies alga koralin bentuk tidak bercabang (non geniculate) yaitu Peyssonnelia caulifera dan Peyssonnelia orientalis serta 1 jenis spesies alga koralin bentuk bercabang (geniculate) yaitu Tricleocarpa fragilis yang berhasil teridentifikasi.Kata Kunci: Identifikasi, Alga Koralin, Meras
Gastropods in tidal of Bulo, Mandolang District, North Sulawesi Azzahra Aulina; Ompi, Medy; Kaligis, Erly Yosef; Rumampuk, Natalie Detty C; Rimper, Joice Rinefi T.S.L; Gerung, Grevo S.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.51083

Abstract

A tidal area is a part of the coast that is influenced by the rise and fall of the tides. The area is a dynamic area, which experiences exposure to the air when low tide comes, easily mixed with fresh water in the rainy season and inundation. Marine flora and fauna that live in the area can adapt to it. The purpose of this study was to identify gastropod species and the density of each species that were found attached to the hard substratum in the tidal area of Bulo, Mandolang District, North Sulawesi. Data were collected by line transect and squared methods. Gastropod samples obtained were treated by using 70% alcohol. The length of each species was measured before being identified at the species level. The results show 175 individuals consisting of 30 species from 14 families were recorded. Substrat of rock and dead coral were covered and dominated the intertidal bottom. The highest density of Gastropods in the tidal area of Bulo, Mandolang District, North Sulawesi was the species of Cellana radiata. The density of Cellana radiata was 3.8 ind./m², while for the other 20 species of gastropods, each species was 0.07 ind./m². Physical and biological factors that affected the presence and density of gastropod species are discussed. Keywords: Gastropods; Density; Tidal; Mollusc; Bulo Village. Abstrak Daerah pasang surut adalah salah satu daera di pesisir yang dipengaruhi oleh air pasang tinggi dan rendah. Daerah ini adalah sebagai daerah yang dinamamis, di mana adalah daerah yang terekspos dengan sinar matahari pada saat pasang rendah, mudah bercampur dengan air tawar di saat musium hujan, serta daerah yang mudah dijangkau oleh masyarakat pensisir. Biota yang hidup di daerah ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan-perubahan lingkungan ini. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis Gastropoda dan mengetahui kepadatan jenis-jenis Gastropoda, yang menempati substrat keras di daerah pasang surut Bulo Kecamatan Mandolang, Sulawesi Utara. Pengumpulan data adalah dengan menggunakan metode ‘line transect’ dan kuadrat. Sampel Gastropoda yang didapatkan diberi alkohol 70%, Panjang masing-masing spesies diukur sebelum diidentifikasi pada tingkat spesies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 175 individu yang terdiri dari 30 spesies dari 14 famili. Kepadatan tertinggi Gastropoda di daerah pasang surut Bulo Kecamatan Mandolang, Sulawesi Utara adalah Cellana radiata yang memiliki kepadatan 3.8 ind./m2, sedangkan 20 jenis Gastropoda lainnya memiliki kepadatan untuk setiap jenis, yaitu 0.07 ind./m2. Kata kunci: Gastropoda; Kepadatan; Pasang Surut; Moluska; Desa Bulo.
Isolation and Potential of Plastic-Degrading Bacteria from Plastic Waste Fatti, Clara; Rumampuk, Natalie Detty C.; Gerung, Grevo Soleman; Wullur, Stenly; Mamuaja, Jane Marianne; Ginting, Elvy Like
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 13 No. 1 (2025): ISSUE JANUARY-JUNE 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v13i1.58358

Abstract

Plastic waste is an environmental issue, including in marine environments. One method of managing plastic waste is through biodegradation using bacteria. This study aims to isolate bacteria from plastic waste in Malalayang, and North Sulawesi waters, and test their potential to degrade plastic using laboratory experimental methods. Bacteria were isolated using a Nutrient Agar (NA) medium and then tested for their ability to degrade plastic using a Nutrient Broth (NB) medium containing plastic fragments. The NB medium with plastic fragments was incubated using an orbital shaker at room temperature with agitation at 130 rpm for 30 days. Five bacterial isolates were successfully obtained from plastic waste: isolates C1, C2, C3, C4, and C5. Four of the bacterial isolates were found to be capable of degrading plastic, as indicated by the reduction in the dry weight of the plastic after 30 days of incubation. The highest plastic weight reduction was shown in isolate C2, with a decrease of 2.95%, while the lowest reduction was observed in isolate C4, with a decrease of 2%. Keywords: Bacteria, Isolation, Biodegradation, Plastic. Abstrak Sampah plastik merupakan masalah lingkungan termasuk lingkungan laut. Salah satu pengelolaan sampah plastik adalah melalui biodegradasi menggunakan bakteri. Penelitian ini bertujuan mengisolasi bakteri dari sampah plastik Perairan Malalayang, Sulawesi Utara dan melakukan uji potensi bakteri tersebut dalam mendegradasi plastik menggunakan metode eksperimen laboratorium. Bakteri diisolasi menggunakan medium Nutrient Agar (NA), kemudian diuji kemampuan mendegradasi plastik dengan menggunakan medium Nutrient Broth (NB) yang berisi potongan plastik. Medium NB berisi potongan plastik diinkubasi menggunakan orbital shaker pada suhu ruang dengan agitasi 130 rpm selama 30 hari. Lima isolat bakteri berhasil diisolasi dari sampah plastik, yaitu isolat C1, C2, C3, C4 dan C5. Didapatkan empat isolat bakteri yang mampu mendegradasi plastik, yang ditunjukkan dengan pengurangan berat kering plastik setelah diinkubasi selama 30 hari. Pengurangan berat plastik tertinggi ditunjukkan oleh isolat C2 sebesar 2,95 %, sedangkan pengurangan berat terendah oleh isolat C4 sebesar 2 %. Kata kunci: Bakteri, Isolasi, Biodegradasi, Plastik.
Effects of Tidal Dynamics on the Variation of Physicochemical Parameters in Bitung Port Waters Suputri, Putu Ayu; Rumampuk, Natalie Detty C.; Sumilat, Deiske A.; Pelle, Wilmy E.; Gerung, Grevo S.; Darmawan, Putu Deny; Niode, Burhan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 14 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v14i1.67605

Abstract

This study aimed to evaluate the influence of tidal dynamics on the spatial and temporal variability of physicochemical parameters in Bitung Port waters. Sampling was conducted at three representative sites under high and low tide conditions. Parameters including temperature, pH, salinity, turbidity, DO, TDS, and conductivity were measured in situ, while TSS and heavy metals (Cu, Pb, Zn, Cd, and Ni) were analysed in the laboratory. Descriptive statistics, Kruskal-Wallis test, and Linear Mixed Model (LMM) were applied. Results showed that DO and pH were significantly higher during high tide, while turbidity, TDS, salinity, and conductivity were significantly higher during low tide. Spatial variability was low during high tide but increased significantly during low tide, indicating stronger local influence. The integration of interquartile range (IQR) analysis revealed higher variability of dissolved and suspended parameters during low tide, while DO exhibits higher variability during high tide due to intensified mixing processes. These findings highlight that tidal dynamics act as a key regulator of water quality distribution in semi-enclosed port systems. Incorporating tidal phase into monitoring strategies is essential for effective environmental management and supports the implementation of sustainable green port practices. Keywords: tidal dynamics, seawater quality, Bitung Port, physicochemical parameters, LMM Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dinamika pasang surut memengaruhi variasi parameter fisika-kimia air laut, baik secara ruang maupun waktu, di perairan Pelabuhan Bitung. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi yang dianggap mewakili kondisi perairan, dengan mempertimbangkan fase pasang dan surut. Parameter yang diukur langsung di lapangan meliputi suhu, pH, salinitas, kekeruhan, DO, TDS, serta konduktivitas. Sementara itu, parameter seperti TSS dan kandungan logam berat (Cu, Pb, Zn, Cd, dan Ni) dianalisis di laboratorium. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Kruskal-Wallis, dan Linear Mixed Model (LMM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai DO dan pH secara signifikan lebih tinggi pada saat pasang. Sebaliknya, kekeruhan, TDS, salinitas, dan konduktivitas cenderung meningkat pada saat surut. Dari sisi spasial, variasi parameter relatif kecil ketika pasang, namun meningkat saat surut, yang mengindikasikan kuatnya pengaruh faktor lokal. Analisis Interquartile Range (IQR) juga memperlihatkan bahwa parameter terlarut dan tersuspensi lebih bervariasi saat surut, sedangkan DO menunjukkan variasi lebih besar saat pasang akibat proses pencampuran yang lebih intens. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa dinamika pasang surut berperan penting dalam mengatur distribusi kualitas air di perairan pelabuhan semi-tertutup. Oleh karena itu, fase pasang surut perlu dipertimbangkan dalam kegiatan pemantauan lingkungan guna mendukung pengelolaan pelabuhan yang berkelanjutan. Kata kunci: pasang surut, kualitas air laut, pelabuhan Bitung, parameter fisika-kimia, LMM