Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Respon Mahasiswa Terhadap Penyelesaian Soal Koneksi Matematis Melalui Taksonomi Fink Kanisius Mandur; Fransiskus Nendi; Fulgensius Efrem Men; Silfanus Jelatu
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM) Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Pendidikan Matematika (JPM)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jpm.v7i1.8973

Abstract

Student response is an important aspect of learning because it helps educators understand student development. One of the frameworks used to analyze student responses to cognitive, affective, and metacognitive aspects is the Fink taxonomy. This study aims to find patterns of student response rates in solving mathematical connection through Fink's taxonomy. This research method is qualitative. The data collected were data on the ability of mathematical connections to measure student responses to cognitive and metacognitive aspects taken using test instruments as well as data on social and caring dimensions to measure student responses to affective aspects that were taken using questionnaires. The results of this study are student responses at the basic knowledge level of 18.42%, application of 12.79%, integration of 12.22%, social dimensions 23.28%, caring aspects of 22.34%, and metacognitive 10.95. % and student response results at the level of basic knowledge of 18.94%, application of 13.16%, integration of 11.23%, social dimensions 23.87%, caring aspects of 22.78%, and metacognitive of 10.02%. Student responses to cognitive, affective, and metacognitive aspects provide an overview for educators to pay attention to students' abilities and attitudes in building knowledge independently on a subject matter.
Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa SMP Kristianti Sry Wahyuningsih Brinus; Alberta Parinters Makur; Fransiskus Nendi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.24 KB) | DOI: 10.31980/mosharafa.v8i2.439

Abstract

AbstrakRendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis siswa di kelas VIII SMP Negeri 4 Langke Rembong tahun ajaran 2018/2019 menjadi latar belakang masalah penelitian ini. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kontekstual terhadap pemahaman konsep matematis siswa di sekolah ini. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu, dengan menggunakan desain Posttest Only Control Group Design.  Populasi yang dipilih  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Langke Rembong  sebanyak 211 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dan anggota sampel dalam penelitian ini adalah 60 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen tes pemahaman konsep matematika yang berbentuk tes uraian. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman konsep matematika siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada pemahaman konsep matematika siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Model pembelajaran kontekstual dinilai dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Contextual Learning Model’s Effect on Mathematical Concept Understanding of Middle School StudentsAbstractThe low ability to understand the mathematical concepts of students in grade VIII Langke Rembong 4 Public Middle School 2018/2019 school year fits the background of the problem of this research. The goal of this study was to discover the effect of contextual learning models on understanding the mathematical concepts of students in this school. This type of research is quasi-experimental research, using the design of the Posttest-Only Control Group Design. The population chosen in this study were all eighth -grade students of Langke Rembong 4 SMP Negeri as many as 211 people. The sampling technique used random sampling and the sample members in this study were 60 people. Data was collected by using mathematical concept understanding test instruments in the form of description tests. The results of the study show that understanding the mathematical concepts of students who are taught by the contextual learning model is better than understanding the mathematical concepts of students who are taught with conventional learning models. The contextual learning model is assessed to be able to relate the material learned with real-life situations.
PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN COVARIABEL MOTIVASI BERPRESTASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI AKADEMIK MATEMATIKA Fransiskus Nendi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.588 KB) | DOI: 10.36928/jpkm.v10i2.175

Abstract

Penggunaan Pendekatan Kontekstual dengan Covariabel Motivasi Berprestasi dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Akademik Matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pendekatan pembelajaran kontekstual terhadap prestasi belajar konsep dasar matematika dengan kovariabel motivasi berprestasi. Populasi penelitian adalah prestasi akademik mahasiswa semester II PGSD STKIP Santu Paulus Ruteng Tahun Akademik 2013/2014 yang berjumlah 634 unit. Sampel pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara random kelas berjumlah 126 Unit. Penelitian ini dirancang dalam bentuk quasi eksperiment dengan desain posttest only control group design. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket motivasi berprestasi, tes kemampuan numerik dan tes prestasi belajar konsep dasar matematika. Data dianalisis menggunakan ANAKOVA. Hasil penelitian menunjukan bahwa, 1) terdapat perbedaan prestasi belajar konsep dasar matematika mahasiswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dengan konvensional (Fhitung=14,46 > Ftabel =3.94); 2) terdapat perbedaan prestasi belajar konsep dasar matematika mahasiswa yang mengikuti pendekatan pembelajaran kontekstual dan konvensional setelah dikendalikan motivasi berprestasi (Fhitung=27.03 > Ftabel=3.94); dan 3) terdapat kontribusi yang signifikan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar konsep dasar matematika dengan koefisien determinan sebesar 29.5%.
Penguatan Kompetensi Pedagogik Guru melalui Penggunaan Dynamic Geometry Software dalam Pembelajaran Matematika Silfanus Jelatu; Ricardus Jundu; Emilianus Jehadus; Fransiskus Nendi; Alberta Parinters Makur; Gabariela Purnama Ningsi; Lana Sugiarti
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 5 No 4 (2020)
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/002.202054.400

Abstract

STRENGTHENING TEACHER PEDAGOGICAL COMPETENCIES THROUGH THE USE OF DYNAMIC GEOMETRY SOFTWARE IN MATHEMATICS LEARNING. The selection of strategies, methods, models, and media of appropriate mathematics learning is a form of implementation of a teacher's pedagogical competence. In the 2013 curriculum, the teacher not only sets a scientific approach as a reference in implementing the learning process but also demands innovation to accommodate the right media as well. The role of instructional media, especially dynamic media, is very important in learning mathematics in both elementary and junior high schools. The media was used to explain abstract mathematical problems to be concrete, motivate students, stimulate student learning activities, and help the effectiveness of the learning process. Technological devices such as computers are one of the tools that can be used as dynamic mathematics learning media. Mathematical learning collaboration with ICT devices has been widely carried out in urban and rural areas in Indonesia. Dynamic Geometry Software (DGS) in the form of GeoGebra is a learning medium specifically developed to facilitate the learning of geometry, algebra, and calculus. Therefore, this community service activity (PkM) is intended to strengthen the teacher's pedagogical competence through the use of dynamic learning media using Dynamic Geometry Software (DGS) in the form of GeoGebra in mathematics learning in junior high schools. This PkM aims to train teachers to be able to operate or create mathematics learning media assisted by DGS, especially in learning geometry to students. By making their own, teachers can add insight and increase creativity in making learning media. The supported subjects in these community service activities were junior high school mathematics teachers in Ruteng City. As for the results obtained after the PKM activities, the teachers can operate and create mathematics learning media using DGS in the form of GeoGebra.
THE INFLUENCE OF CONCEPTUAL UNDERSTANDING PROCEDURES (CUPs) LEARNING MODELS CONCEPT OF UNDERSTANDING OF CONCEPT STUDENT MATH Emilianus Jehadus; Maximus Tamur; Silfanus Jelatu; Kristianus Viktor Pantaleon; Fransiskus Nendi; Stanislaus Sepi Defrino
Journal Of Educational Experts (JEE) Vol 3, No 2 (2020): Journal of Educational Experts (JEE)
Publisher : Kopertis Region IV Jabar and Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30740/jee.v3i2p53-59

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan memahami konsep matematika yang diajarkan siswa menggunakan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUPs) dengan kemampuan memahami konsep matematika yang diajarkan siswa dengan menggunakan model pembelajaran langsung pada siswa kelas VIII di SMPN 2 Langke Rembong. NTT, Indonesia. Quasi Experimental Research dengan desain Posttest-Only Control Group Design melibatkan siswa kelas 358 di SMP 2 Langke Rembong, yang berjumlah 355 orang. 65 anggota sampel dipilih menggunakan random sampling. Analisis data menggunakan statistik parametrik melalui uji-t yang didahului dengan melakukan uji prasyarat analisis. Perhitungan ukuran efek dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh model pembelajaran CUP terhadap pemahaman siswa tentang konsep matematika menggunakan persamaan Hedges. Sebagai hasil analisis disimpulkan bahwa kemampuan untuk memahami konsep matematika siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran CUP lebih baik daripada kemampuan untuk memahami konsep matematika siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran langsung, pada tingkat signifikansi 0,05. Analisis lebih lanjut memperoleh ukuran efek 0, 53 yang menunjukkan bahwa efek CUPs pada kemampuan siswa untuk memahami konsep matematika berada dalam kategori sedang. Ini berarti bahwa penerapan model CUP tidak memiliki pengaruh besar pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Fakta ini memberikan pertimbangan bagi pendidik dan peneliti untuk mempertimbangkan variabilitas yang mungkin memediasi efek CUP pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. 53 menunjukkan bahwa pengaruh CUPs pada kemampuan siswa untuk memahami konsep matematika berada dalam kategori sedang. Ini berarti bahwa penerapan model CUP tidak memiliki pengaruh besar pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Fakta ini memberikan pertimbangan bagi pendidik dan peneliti untuk mempertimbangkan variabilitas yang mungkin memediasi efek CUP pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. 53 menunjukkan bahwa pengaruh CUPs pada kemampuan siswa untuk memahami konsep matematika berada dalam kategori sedang. Ini berarti bahwa penerapan model CUP tidak memiliki pengaruh besar pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Fakta ini memberikan pertimbangan bagi pendidik dan peneliti untuk mempertimbangkan variabilitas yang mungkin memediasi efek CUP pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.
PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN IPA BERBASIS KONTEKSTUAL DI MANGGARAI UNTUK BELAJAR SISWA PADA MASA PANDEMIC COVID-19 Ricardus Jundu; Fransiskus Nendi; Valeria Suryani Kurnila; Hildegardis Mulu; Gabariela Purnama Ningsi; Ferdinandus Ardian Ali
LENSA (Lentera Sains): Jurnal Pendidikan IPA Vol. 10 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : Faculty of Teaching and Education, University of Wiraraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/lensa.v10i2.112

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan video pembelajaran IPA SMP berbasis pendekatan kontekstual sesuai latar belakang siswa di kabupaten Manggarai. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE (analyze, design, development, implementation, and evaluation). Tahapan yang akan dilakukan yaitu tahap analisis yang dilakukan meliputi: analisis pengetahuan atau kompetensi sasaran, karakteristik sasaran, dan peralatan yang menunjang penggunaan media; tahap perancangan yang dilakukan meliputi: pemindahan informasi dari fase analisis ke dalam bentuk dokumen yang menjadi tujuan dibuatnya video pembelajaran; tahap pengembangan yang dilakukan meliputi: kegiatan produksi atau mengembangkan video pembelajaran, inti dari kegiatan ini adalah pengambilan gambar berupa perekaman gambar dengan menggunakan kamera, dimana pengembangan video dilakukan menggunakan beberapa aplikasi yaitu videoscribe, photoshop, dan editor video; tahap implementasi yang dilakukan meliputi video pembelajaran diterapkan pada siswa kelas VII SMP; dan tahap evaluasi meliputi kegiatan: penilaian media berdasarkan evaluasi formatif. Hasil penelitian pengembangan ini yaitu dihasilkannya video pembelajaran IPA SMP kelas VII berbasis pendekatan kontekstual Manggarai yang bisa digunakan guru dalam proses pembelajaran untuk membantu siswa di Manggarai memahami konsep materi berdasarkan hasil validasi ahli materi sebesar 92,5% dan ahli media sebesar 96% serta hasil uji coba pada kelompok kecil yaitu kelayakan isi sebesar 93,33%, penyajian sebesar 93,89%, dan bahasa sebesar 94,28%. Dengan demikian, video pembelajaran ini bisa digunakan siswa untuk membantu proses belajarnya dari rumah sehingga dengan mudah memahami konsep IPA dasar.
IMPLEMENTASI PENILAIAN OTENTIK OLEH GURU BAHASA INGGRIS DI FLORES Hieronimus Canggung Darong; Erna Mena Niman; Fatmawati Fatwamati; Fransiskus Nendi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 7 No. 1 (2022)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v7i1.2639

Abstract

Kegiatan pembelajaran yang baik dan bermakna juga memerlukan sebuah penilaian yang baik. Perencanaan dan proses pembelajaran harus diakhiri dengan sebuah tahapan penilaian yang berkualitas. Penelitian desain kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui praktik, masalah, dan kendala guru dalam kegiatan penilaian otentik. Penelitian melibatkan guru bahasa Inggris yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sekolah Bahasa Inggris di Flores. Data diambil dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa implementasi penilaian otentik untuk mata pelajaran bahasa Inggris belum berjalan dengan baik. Kesiapan guru terkait instrumen, penentuan tipe penilaian, dan prosedur penilaian menjadi masalah dalam penerapannya. Selain itu, alokasi waktu dan kemampuan siswa merupakan tantangan yang dihadapi guru dalam menjalankan proses penilaian. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan sebuah instrumen, penentuan tipe, dan prosedur penilaian dengan baik.
Komunikasi Matematis Dalam Terang Literasi Matematika Kristianus Viktor Pantaleon; Fransiskus Nendi; Emilianus Jehadus
JOURNAL OF SONGKE MATH Vol. 2 No. 1 (2019): June Edition
Publisher : UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.752 KB)

Abstract

This descriptive theoretical study aims to explain in detail and complete aspects of mathematical communication in mathematical literacy. Communication in mathematical literacy has two important components, namely receptive and constructive. In each process of solving a problem, the two components of communication will always be contained. Professional teachers must properly understand the two components in order to measure students' mathematical communication skills correctly. To be easy to understand, the two components must be conveyed or stated correctly, coherently, and clearly. Emphasis on these three components then distinguishes mathematical communication from other mathematical abilities, such as problem solving, reasoning and proof, connection and representation
Reformulasi Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Asesmen Kinerja Dalam Mewujudkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP Fransiskus Nendi; Sebastianus Fedi; Antonius Landing
JOURNAL OF SONGKE MATH Vol. 3 No. 1 (2020): June Edition
Publisher : UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah(1) untuk mengungkap hasil kajian tentang reformulasi model pembelajaran kontekstual (CTL) bermuata asesmen kinerja dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa SMP dan (2) mengkaji perbedaan pemahaman konsep matematis siswa SMPNegeri 6 Ruteng-Rentung yang diajarkan dengan pendekatan kontekstual berbasis asesmen kinerja dan pendekatan pembelajaran langsung. Dikajinya pemahaman tersebut dalam penelitian ini mengingat pemahaman ini sebagai isyarat untuk menggali daya matematis yang lebih kompleks. Penelitian ini pada dasarnya termasuk dalam kategori deskriptif kualitatif dan eksperimen semu. Dengan kata lain, yang dilakukan adalah mengungkap fakta dan keadaan pada saat penelitian berjalan serta mengungkapkan pemahaman konsep matematis siswa apa adanya. Langkah-langkah penelitian ini diawali dengan reformulasi model pembelajaran bermuatan asesmen kinerja, dan kemudian melakukan treatment menggunakan model-model tersebut. Selanjutnya memberikan soal-soal yang mengukur pemahaman konsep matematis kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan tindependen. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Rentung tahun pelajaran 2016/2017. Sampel penelitian adalah kelas VIII A dan kelas VIIIC. Hasil tes pemahaman konsep matematis siswareformulasi pembelajaran kontekstual bermuata asesmen kinerja berada pada kisaran rata-rata 70,08 dengan simpangan baku sebesar 67,61. Rata-rata nilai tersebut menunjukan bahwa pemahaman konsep matematis siswa berada pada kategori cukup baik. Berdasarkan hasil kajian dan pengalaman empiris, menggambarkan siswa kurang mampu mengungkapkan makna konsep yang ditemukan, respons untuk mengidentifikasi masalah dan membedakan contoh atau bukan contoh cukup baik, kurang teliti dalam memanfaatkan simbol-simbol untuk mempresentasikan konsep-konsep, kurang paham dalam mengubah bentuk representasi kebentuk lain, sudah mengenal konsep namun belum maksimal mampu menginterpretasikan konsep, cukup baik dalam membedakan konsep.Kemudian, uji hasil eksperimen menunjukan>, artinya ditolak dan diterima, yang berarti bahwa pemahaman konsep matematika peserta didik dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual berbasis asesmen kinerja lebih baik dibandingkan pemahaman konsep matematika peserta didik dengan menerapkan model pembelajaran langsungTujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah(1) untuk mengungkap hasil kajian tentang reformulasi model pembelajaran kontekstual (CTL) bermuata asesmen kinerja dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa SMP dan (2) mengkaji perbedaan pemahaman konsep matematis siswa SMPNegeri 6 Ruteng-Rentung yang diajarkan dengan pendekatan kontekstual berbasis asesmen kinerja dan pendekatan pembelajaran langsung. Dikajinya pemahaman tersebut dalam penelitian ini mengingat pemahaman ini sebagai isyarat untuk menggali daya matematis yang lebih kompleks. Penelitian ini pada dasarnya termasuk dalam kategori deskriptif kualitatif dan eksperimen semu. Dengan kata lain, yang dilakukan adalah mengungkap fakta dan keadaan pada saat penelitian berjalan serta mengungkapkan pemahaman konsep matematis siswa apa adanya. Langkah-langkah penelitian ini diawali dengan reformulasi model pembelajaran bermuatan asesmen kinerja, dan kemudian melakukan treatment menggunakan model-model tersebut. Selanjutnya memberikan soal-soal yang mengukur pemahaman konsep matematis kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan tindependen. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Rentung tahun pelajaran 2016/2017. Sampel penelitian adalah kelas VIII A dan kelas VIIIC. Hasil tes pemahaman konsep matematis siswareformulasi pembelajaran kontekstual bermuata asesmen kinerja berada pada kisaran rata-rata 70,08 dengan simpangan baku sebesar 67,61. Rata-rata nilai tersebut menunjukan bahwa pemahaman konsep matematis siswa berada pada kategori cukup baik. Berdasarkan hasil kajian dan pengalaman empiris, menggambarkan siswa kurang mampu mengungkapkan makna konsep yang ditemukan, respons untuk mengidentifikasi masalah dan membedakan contoh atau bukan contoh cukup baik, kurang teliti dalam memanfaatkan simbol-simbol untuk mempresentasikan konsep-konsep, kurang paham dalam mengubah bentuk representasi kebentuk lain, sudah mengenal konsep namun belum maksimal mampu menginterpretasikan konsep, cukup baik dalam membedakan konsep.Kemudian, uji hasil eksperimen menunjukan>, artinya ditolak dan diterima, yang berarti bahwa pemahaman konsep matematika peserta didik dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual berbasis asesmen kinerja lebih baik dibandingkan pemahaman konsep matematika peserta didik dengan menerapkan model pembelajaran langsung
Pelatihan Penyusunan Instrumen Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Di Smk Bina Kusuma Ruteng Viviana Murni; Fransiskus Nendi; Ricardus Jundu; Fulgensius Efrem Men; Kristianus Viktor Pantaleon; Emilianus Jehadus; Eufrasia Jeramat
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i8.6031

Abstract

ABSTRAK Asesmen Kompetensi Minimum merupakan penilaian kemampuan minimum yang dilakukan kepada peserta didik. Kemampuan minimum yang dimaksud adalah kemampuan paling dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik pada jenjang tertentu, yaitu literasi membaca dan numerasi. AKM mengukur kompetensi berpikir atau bernalar peserta didik ketika membaca teks (literasi) dan menghadapi persoalan yang membutuhkan pengetahuan matematika (numerasi). Tidak semua guru memiliki pengetahuan dan keterampilan menyusun instrumen, contohnya para guru di SMK Bina Kusuma Ruteng. Oleh karena itu, tim pengabdian kepada masyarakat melaksanakan kegiatan pelatihan penyusunan instrumen Asesmen Kompetensi Minimum untuk para guru SMK Bina Kusuma Ruteng. Pelatihan dilakukan untuk mengembangkan kompetensi guru dalam menyusun instrumen AKM sehingga mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kegiatan pelatihan diikuti oleh 30 guru SMK Bina Kusuma Ruteng. Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu wawancara, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini dapat berpengaruh positif terhadap kemampuan dan keterampilan para guru dalam menyusun instrumen  Asesmen Kompetensi Minimum. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa pelatihan memiliki kualitas dengan kategori baik sekali (4.75) dan memberikan dampak dalam kategori kategori baik sekali (4.92). Terbukti bahwa para guru bisa menyusun instrumen AKM dengan baik. Sedangkan, dampak pelaksanaan pelatihan masuk dalam kategori baik sekali (4.82). Mitra mampu menyusun instrumen PKM dengan benar, hal ini dapat dilihat pada tugas yang dipresentasikan oleh mitra. Instrumen yang dihasilkan ini diharapkan dapat menjadi penduan bagai para guru dan calon guru untuk mengembangkan dan menggunakan instrumen AKM pada proses pembelajaran dan penilaian di kelas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan ini dapat mengembangkan kompetensi guru dalam menyusun instrumen AKM, sehingga guru mampu menyelenggarakan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kata Kunci: Pelatihan, Penyusunan, Instrumen, AKM  ABSTRACT Minimum Competency Assessment is a minimum ability assessment carried out on students. The minimum ability in question is the most basic ability that must be possessed by students at a certain level, namely reading literacy and numeracy. AKM measures the thinking or reasoning competence of students when reading texts (literacy) and dealing with problems that require mathematical knowledge (numbering). Not all teachers have the knowledge and skills to compose instruments, for example, teachers at SMK Bina Kusuma Ruteng. Therefore, the community service team carried out training activities for the preparation of Minimum Competency Assessment instruments for teachers of SMK Bina Kusuma Ruteng. The training was conducted to develop teacher competence in compiling the AKM instrument to support the achievement of the expected learning objectives. The training activity was attended by 30 teachers of SMK Bina Kusuma Ruteng. This activity was carried out through several stages, namely interviews, planning, implementation, and evaluation. This activity can have a positive effect on the ability and skills of teachers in preparing the Minimum Competency Assessment instrument. Based on the results of data analysis, it was found that the quality of the training was in the very good category (4.75) and had an impact in the very good category (4.92). It is proven that the teachers can arrange the AKM instrument well. Meanwhile, the impact of the implementation of the training is in the very good category (4.82). It is proven that the teachers can arrange the AKM instrument well. Meanwhile, the impact of the implementation of the training is in the very good category (4.82). Teachers can develop PKM instruments correctly, this can seen in the tasks presented by teachers. The result of instrument is expected to be a guide for teachers and prospective teachers to develop and use the AKM instrument in the learning and assessment process in the classroom. So, it can concluded that this training activity can develop teacher competence in preparing AKM instruments, so that teachers are able to organize learning effectively and efficiently. Keywords: Training, Preparation, Instruments, AKM