Claim Missing Document
Check
Articles

Ilmuwan sosial berkarakter untuk Indonesia berkemajuan Setiawan, Benni
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 18 No. 2 (2018): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v18i2.29236

Abstract

Social science is often considered the second caste in the current system, whereas social science provides a humanist face for humanity and nationality. Therefore social scientists need to convey their thoughts to proclaim the truth. Social scientists should have a distinctive character that makes it no less competitive with science and technology scientists. Social scientists have an important role in building Indonesia. This paper presents the exposure of the character of social humanities scientists to be able to contribute to humanitarian and national development. At least, there is one main character for a humanities social scientist plus three other characters. The main character for a social scientist is intelligent and morally puritanical. The second character for a social scientist is being wasathiyyah. The third character that social scientists need to have is being able to work with anyone. The fourth character is social scientists could build a center of excellence.Ilmu sosial seringkali dianggap kasta kedua dalam sistem saat ini, padahal ilmu sosial memberikan wajah humanis bagi kemanusiaan dan kebangsaan. Oleh karena itu ilmuwan sosial perlu menunjukkan pemikirannya untuk mewartakan kebenaran. Ilmuwan sosial selayaknya memiliki karakter khas yang menjadikannya tidak kalah saing dengan ilmuwan sains dan teknologi. Ilmuwan sosial mempunyai peran penting dalam membangun Indonesia. Tulisan ini mengemukakan paparan karakter ilmuwan sosial humaniora untuk dapat berkontribusi bagi pembangunan kemanusiaan dan kebangsaan. Setidaknya, ada satu karakter utama bagi seorang ilmuwan sosial humaniora ditambah tiga karakter lanjutan. Karakter utama bagi seorang ilmuwan sosial ialah cerdas berilmu dan puritan secara moral. Karakter kedua bagi seorang ilmuwan sosial adalah bersikap wasathiyyah. Karakter ketiga yang perlu dimilki oleh ilmuwan sosial adalah mampu bekerjasama dengan siapa pun. Karakter keempat adalah ilmuwun sosial dapat membangun pusat keunggulan.
Menulis buku ajar di tengah perkembangan artificial intelligence (ai) Andriyanti, Erna; Sudartinah, Titik; Setiawan, Benni
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 23 No. 2 (2023): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v23i2.66386

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui proses kreatif menulis buku menggunakan artificial intelligent (AI). Kemunculan AI yang sangat cepat tidak perlu dikhawatirkan. AI dapat menjadi alat bagi guru untuk menulis, membantu mengembangkan ide, dan menemukan beberapa persoalan yang bisa diangkat. Oleh karena itu, dalam menulis buku, guru perlu memanfaatkan AI sebagai sarana. AI dapat membantu guru dalam mempercepat penulisan buku. AI pun dapat membantu guru menemukan ide-ide baru, sehingga kualitas pembelajaran semakin baik. Buku dari hasil kolaborasi ide AI dan kreatifitas guru pun dapat meningkatkan jumlah publikasi. Guru pun dapat terbantu untuk jenjang karir kenaikan pangkat. Selain itu, kualitas Pendidikan Indonesia akan semakin baik, karena tersedia bahan ajar yang memadai dan selalu diperbarui dalam rentang waktu yang relatif pendek.The purpose of this article is to reveal the creative process of writing a book using artificial intelligence (AI). The very rapid development of AI can be used as a tool for teachers to write, help develop ideas, and find several problems that can be researched. It helps teachers speed up book writing and can also help them find new ideas, so that the quality of learning becomes better. Books resulting from the collaboration of AI ideas and teachers' creativity can also increase the number of publications, which is useful for career advancement. Apart from that, the quality of Indonesian education will improve, because adequate open materials are available and are always updated in a relatively short time span. 
Transformasi makna budaya tradisi nguras enceh pada generasi milenial Qurrota A'yun, Bintan Auliya; Aini, Syarifah Nur; Assyihabi, Rahmatullah; Setiawan, Benni
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 24 No. 1 (2024): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v24i1.68789

Abstract

Arus globalisasi dan modernisasi yang masif disertai dengan lemahnya rasa cinta tanah air membuat kebudayaan dan jati diri bangsa terkikis. Kebudayaan yang sudah berkurang peminatnya terutama mdari generasi muda ialah  tradisi Nguras Enceh yang berada di Makam Raja Raja Imogiri. Permasalahan tersebut berkaitan dengan minimnya komunikasi budaya berupa komunikasi yang sempat terhenti atau berjalan tidak maksimal dikarenakan perbedaan generasi dan perbedaan penyampaian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan subjek penelitian yang terlibat ini adalah para abdi dalem yang bekerja di Makam Imogiri, Bantul dan generasi milenial yang bertempat tinggal di wilayah sekitar Makam Imogiri Bantul. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain itu, model analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif Milles dan Hubberman berupa reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi. Penelitian ini akan mengeksplorasi mengenai pemaknaan generasi muda terhadap Tradisi Ngurah Enceh, peran generasi muda yang berada di daerah sekitar Makam Raja-Raja Imogiri pada Tradisi Nguras Enceh, dan communication gap yang terjadi antara abdi dalem dengan pemuda di sekitar Makam Raja-Raja Imogiri. The massive waves of globalization and modernization, coupled with a weakened sense of patriotism, have eroded the culture and national identity of the nation. One of the diminishing cultural traditions, especially among the younger generation, is the Nguras Enceh tradition held at the Imogiri Royal Cemetery. This issue is related to the lack of cultural communication, where communication has been halted or not maximized due to generational differences and differences in communication styles.The research conducted adopts a qualitative approach involving subjects such as the palace servants (abdi dalem) working at the Imogiri Cemetery in Bantul and the millennial generation residing in the surrounding area of Imogiri Cemetery in Bantul. Data collection techniques in this study include observation, interviews, and documentation. Additionally, the data analysis model used is the interactive analysis model by Milles and Hubberman, involving data reduction, data presentation, and conclusion/verification stages. This research aims to explore the meaning of the Ngurah Enceh tradition for the younger generation, the role of the younger generation in the vicinity of the Imogiri Royal Cemetery in the Nguras Enceh tradition, and the communication gap that exists between the palace servants and the youth around the Imogiri Royal Cemetery.
The changing piety and spirituality: a new trend of Islamic urbanism in Yogyakarta and Surakarta Alam, Lukis; Setiawan, Benni; Harimurti, Shubhi Mahmashony; Miftahulhaq, Miftahulhaq; Alam, Meredian
Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Vol 13, No 2 (2023): Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijims.v13i2.227-252

Abstract

The prevalence of urban spiritualism is on the rise among residents of major cities.One observable manifestation of urban spiritualism is the growing number ofdiverse social recitation gatherings. The present research looks into four distinctprofiles of assemblies that have emerged in the urban areas of Yogyakarta andSurakarta. The four assemblies comprise Muslim United and Teras Dakwah. InSurakarta, it is worth noting the presence of two prominent organisations, namelyMajelis Ar-Raudhah, established by Habib Novel Alaydrus, and Majelis BusytanulAsyiqin, founded by Habib Syech Assegaf. This study elucidates the techniquesemployed by the aforementioned four assemblies to disseminate moderatereligious knowledge within urban circles, as well as their respective reactions tothe evolving spiritual dynamics observed within urban communities. The presentstudy employs a qualitative methodology, specifically a field study approach. Thefindings of this study suggest a shift in the dominance of religious authority amongrenowned ustadz and habaib figures. By endorsing the dissemination of widelyrecognised da’wah conducted by these prominent individuals, it contributesto the enhancement of religious literacy among urban populations. The studyfindings also interpret the santrinisation and piety activities observed in urbancommunities as a tangible expression of the veracity of religious teachings.
STRATEGI KOMUNIKASI GURU SMA ISLAM TERPADU DALAM MENGHASILKAN SISWA YANG UNGGUL Hastasari, Chatia; Aw, Suranto; Setiawan, Benni
Informasi Vol. 46 No. 2 (2016): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.853 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v46i2.11438

Abstract

The study aims to explain how the concept of integrated Islamic and the strategy of the teacher in SMA IT Abu Bakar Yogyakarta and SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta produce the superior students. It refers to the development of SMA IT which always puts ethics, religion and the quality of the students. However, the main key to produce the superior students is the role of professional teacher who encourages the strong characteristic of students. The method of this research is qualitative and takes place in SMA IT Abu Bakar and SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Furthermore, the samples of this research consist of twenty teachers. The result is that (1) SMA IT Abu Bakar and SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta combine three elements such as the cooperation among the shool, societies, and family; the structured and programmed curriculum from kindergarten to university; tsaqafah Islam and science oriented. These are done to produce a superior student who masters science and technology and also has a good characteristic. (2) The communication strategy of the teachers in SMA IT Abu Bakar and SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta is effective. It can be seen from the fulfillment of communication elements on communication strategy which is used by the teacher to produce a superior student.Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah strategi komunikasi yang digunakan oleh guru sebagai agen perubah sosial, karena peran guru disini sangat penting dalam menghasilkan siswa yang unggul baik dalam bidang akademik maupun dalam bidang moral (akhlak mulia). Oleh karenanya, guru dituntut untuk tidak hanya mengajarkan mata pelajaran umum melainkan juga keagamaan hingga pelajaran mengenai akhlak. Hal ini dibutuhkan demi memberikan pembekalan "dasar moralitas" yang tergali dari kearifan tradisi kultural dan nilai-nilai doktrinal agama Islam yang kuat.Berdasar latar belakang di atas, maka penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan islam terpadu dan mengetahui strategi komunikasi guru di SMA IT Abu Bakar Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dalam menghasilkan siswa yang unggul. Selanjutnya peneliti menggunakan metode penelitian Focus Group Dsicussion (FGD) untuk memperoleh gambaran strategi komunikasi guru SMA IT dalam menghasilkan siswa yang unggul. Hasil penelitian ini nantinya akan dipublikasikan dalam jurnal lokal yang memiliki ISSN atau jurnal nasional terakreditasi.