Claim Missing Document
Check
Articles

Perubahan Karakteristik Kimia dan Mikrobiologis Jruek Drien (Durian Fermentasi Khas Aceh) selama Fermentasi Murna Muzaifa; Ryan Moulana; Yuliani Aisyah; Zainuddin Zainuddin; Faidha Rahmi
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Vol. (10) No. 2, Oktober 2018
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.153 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v10i2.6123

Abstract

Jruek drien is one of traditional fermented food of Aceh. This product made from flash of durio that fermented without starter addition. Explorative research has been conducted to examine the change of chemical and microbiological characteristics of jruek drien during fermentation. This study used completely randomized design with single factor (length of fermentation: 1,3,5 and 7 days). The parameters analyzed were water content, pH, total acid, total sugars, total lactic acid bacteria and yeast. The results showed that water content and acid total were increased while pH and sugar content were decreased. The highest total of lactic acid bacteria was found on day 3. Yeast detected only on early fermentation and no detected on 7th day.
Pemanfaatan Pasta Sukun (Artocarpus altilis) pada Pembuatan Mi Kering Novi Safriani; Ryan Moulana; Ferizal Ferizal
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Vol.(5) No.2, June 2013
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.9 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v5i2.1004

Abstract

The aim of this study was to determine the best treatment combination between the ratio of wheat flour and breadfruit pasta, and the combination of the drying temperature and time to produce dried noodles with good quality and preferred by consumers. The effect of the ratio of wheat flour and breadfruit pasta (70:30%, 60:40%, and 50:50%), and the combination of the drying temperature and time (60°C, 70 minutes and 70°C, 60 minutes) on the quality of the dried noodles were investigated. The results showed that the best quality of the dried noodles based on the organoleptic and cooking quality test obtained from the combination of the treatment of ratio of wheat flour and breadfruit pasta = 70:30% and the combination of drying temperature and time = 700C for 60 minutes with the following characteristics: water content of 8,78%, fat content of 13,67%, protein content of 11.90%, ash content of 1,35%, and carbohydrate content of 65,22%. The organoleptic value of the best dried noodles before rehydration: color of 2,75; flavor of 2,83; texture of 2,73; whereas after the rehydration, the best dried noodles has organoleptic values: color of 2,81; flavor of 2,92; and taste of 2,77.
Penggunaan Kayu Bakar Untuk Penyulingan Sere Wangi Dengan Luasan Hutan Pinus di Kecamatan Blangjerango Kabupaten Gayo Lues Jamaludin Jamaludin; Martunis Martunis; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.543 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i1.16724

Abstract

Abstrak. Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Aceh dengan luas wilayah seluas 571.958 Ha yang terdiri dari 11 kecamatan dan 136 kampung. Sekitar 40% masyarakat Gayo Lues bergantung hidup dari sere wangi, salah satunya adalah masyarakat di Kecamatan Blangjerango. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkiran berapa luas hutan pinus yang di manfaatkan sebagai sumber kayu bakar bagi penyulingan minyak sere wangi. Penelitiaan ini dilakukan di Kecamatan Blangjerango khususnya yang memiliki kebun sere wangi yaitu di  Kampung Peparik Gaib, Penosan dan Sekuelen. Pengambilan dan pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling. Terdapat 127 titik ketel penyulingan yang masih aktif beroperasi di ketiga lokasi peneltian sehingga menghabiskan kayu bakar sebanyak 2.667 m3 dan 444.500 kg sere wangi atau setara dengan 4,3 Ha lahan hutan pinus dan 51 Ha lahan sere wangi. Dengan mengambil kayu bakar dari hutan pinus tentunya akan menyebabkan tegakan pinus berkurang dan banyaknya pembukaan lahan untuk penanaman sere wangi.Abstract. Gayo Lues is one of the regencies located in Aceh Province with an area of 571,958 hectares which consists of 11 sub districts and 136 villages about 40% of the Gayo Lues community depends on sere wangi life, one of which is the people in the Blangjerango sub district, this study aims to determine the approximate extent of pine forests that are used as a source of firewood for the refining of citronella oil. This research was conducted in Blangjerango sub district especially those with sere wangi gardens namely in the villages of Peparik Gaib, Penosan and Skuelen. Retrieval and date collection using purposive sampling method. There are 127 refineries are still actively operating in the three research locations so that they use up 2,667 m3 of firewood and 444,500 kg of sere wangi or the equvalent of 4,3 hectares of sere wangi land. By taking firewood from the forest, of couse, willcause less pine stands and more land clearing for planting sere wangi. 
Persepsi Publik Terhadap Kompleksitas Kewisataan di Kampung Wisata Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues Sudirman Sudirman; Iqbar Iqbar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.972 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13727

Abstract

Abstrak, Kabupaten Gayo Lues memiliki keanekaragaman objek wisata yang meliputi air terjun, bukit-bukit dan lembah dengan kondisi alam yang masih asri dengan keberadaan hutan yang belum terjamah. Kondisi alam yang indah dan masih asri tersebut dapat dimanfaatkan dalam bentuk pengelolaan ekowisata. Ekowisata merupakan salah satu kegiatan strategis bagi implementasi konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Program ini dapat meningkatkan fungsi ekologi, sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Beberapa aktivitas wisata di Gayo Lues yang sudah berjalan dengan arah wisata alam/ ekowisata, diantaranya yaitu Kampung Wisata Agusen. Untuk menjamin keberhasilan program ini maka diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu penelitian ini berjtujuan untuk memberikan gambaran kualitas maupun kuantitas dari komleksitas kewisataan di Kampung Wisata Agusen berdasarkan persepsi publik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tahapan observasi, wawancara, pengisian kuisioner, dan studi kepustakaan. Informan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga kelas yaitu dinas pariwisata, masyarakat setempat dan pengunjung dengan jumlah responden sebanyak 83 responden. Kompleksitas kewisataan di Kampung Wisata Agusen dilihat dari persepsi responden hanya fasilitas dan keramahan masyarakat yang cukup baik, sementara keorganisasian pengelolaan, aksesibilitas dan promosi wisata masih kurang baik dimana dari hasil persentase yang didapat di bawah 50%.Public Perceptions of the Complexity of Tourism in Agusen Tourism Village, Blangkejeren District, Gayo Lues RegencyAbstract, Gayo Lues Regency has a diversity of attractions that include waterfalls, hills and valleys with natural conditions that are still beautiful in the presence of untouched forest. These beautiful and beautiful natural conditions can be utilized in the form of ecotourism management. Ecotourism is one of the strategic activities for the implementation of conservation of natural resources and the environment. This program can improve the ecological, social and economic functions of the local community. Some tourist activities in Gayo Lues that have been going in the direction of nature / ecotourism tourism, including the Agusen Tourism Village. To guarantee the success of this program, sustainable management is needed. Therefore this study aims to provide an overview of the quality and quantity of the tourism complexities in Agusen Tourism Village based on public perception. This study used a descriptive qualitative method with stages of observation, interviews, questionnaire filling, and literature study. The informants in this study were divided into three classes, namely the tourism office, the local community and visitors with 83 respondents. The complexity of tourism in the Agusen Tourism Village can be seen from the respondents' perceptions only that the facilities and hospitality of the community is quite good, while the organizational management, accessibility and promotion of tourism are still not good where the percentage of results obtained is below 50%.
Laju Pertumbuhan Kebun Serai Wangi di Kabupaten Gayo Lues M. Ichwanul Afgan Hutasuhut; Ryan Moulana; Martunis Martunis
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.791 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i2.15877

Abstract

Abstrak. Serai Wangi (Cymbopogon nardus) adalah tanaman yang menghasilkan Minyak Atsiri yang didapatkan dari hasil penyulingan daunnya. Seiring dengan terus meningkatnya harga Minyak Serai Wangi akan menyebabkan terus meningkatnya pembukaan lahan untuk kawasan pertanian khususnya Perkebunan Serai Wangi yang menjadi komoditi primadona di Kabupaten Gayo Lues. Laju pertumbuhan luas Perkebunan Serai Wangi di Kabupaten Gayo Lues dalam rentan waktu tahun 2009 sampai tahun 2019 adalah sebesar -1.48%. Berdasarkan pencetakan Perkebunan Serai Wangi baru terdapat penambahan luas 3.867 Ha dan 4.857 Ha lahan yang terkonversi dari Perkebunan Serai Wangi.Growth Rate of Serai Wangi Plantation in Gayo Lues RegencyAbstract. Lemongrass (Cymbopogon nardus) is a plant that produces Essential Oil which is obtained from the distillation of its leaves. Along with the continuing increase in the price of Lemongrass Oil, it will cause the increase in land clearing for agricultural areas, especially the Serai Wangi Plantation which is the belle commodity in Gayo Lues Regency. The growth rate of Serai Wangi Plantation in Gayo Lues Regency in the vulnerable period of 2009 to 2019 is -1.48%. Based on the printing of the new Serai Wangi Plantation, there is an additional area of 3,867 hectares and 4,857 hectares of land converted from the Serai Wangi Plantation.
Kajian Penggunaan Boraks dan Formalin pada Produsen Mi Basah di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar Teuku Muchlis Mz; Rini Ariani Basyamfar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.922 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v1i1.1119

Abstract

Abstrak.  Mi merupakan salah satu produk olahan yang sangat digemari oleh masyarakat. Saat ini penggunaan boraks dan formalin sebagai bahan pengawet pada mi basah telah membuat masyarakat terutama pihak konsumen menjadi resah, hal ini disebabkan mengkonsumsi mi basah yang mengandung boraks dan formalin akan berbahaya bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan boraks dan formalin pada mi basah yang berada di kota Banda Aceh dan Aceh Besar dan menggali pengetahuan produsen dan konsumen terhadap pemakaian boraks dan formalin. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan kepada produsen mi basah dan masyarakat tentang bahaya penggunaan boraks dan formalin yang dilarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan survey yang bersifat deskriptif atau tinjauan yang mengkaji sejumlah sampel mi yang akan diambil dari beberapa produsen mi basah yang ada di sekitar kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Metode survey dilakukan dengan metode wawancara dengan produsen di lokasi pengambilan sampel. Wawancara dilakukan berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disusun, pertanyaan yang ditanyakan bersifat terbuka berupa kuisioner. Berdasarkan hasil survey, pengetahuan produsen terhadap bahaya penggunaan boraks dan formalin sudah cukup baik, hal ini dapat dibuktikan dengan hampir seluruh responden produsen menjawab pertanyaan kuisioner dengan benar. Pada umumnya pengetahuan responden (produsen mi basah) terhadap boraks dan formalin tergolong cukup baik, tetapi tidak mengurangi keinginan responden untuk tetap menggunakan boraks dan formalin. Abstract. Noodle is one of processed products which is highly favored by people. Nowadays, the use of borax and formaldehyde as preservatives in wet noodles has made public especially the consumers restless because consuming a wet noodle containing borax and formaldehyde will be harmful to the health. This study aimed to identify the content of borax and formaldehyde in wet noodles in the city of Banda Aceh and Aceh Besar and to gain the knowledge of producers and consumers about the use of borax and formaldehyde. This research was then expected to provide the knowledge about dangers of using prohibited borax and formaldehyde to the wet noodles manufacturers and the public. This research used a descriptive survey approach or a review that examined numbers of noodles taken from several wet noodles manufacturers around the city of Banda Aceh and Aceh Besar. Survey methods was conducted by interviewing the producers at the sampling sites. Interviews were conducted based on a list of structured questions and open-ended questions were asked in a questionnaire form. Based on the survey results, the knowledge of producers against the dangers of using borax and formaldehyde were fairly good. This could be proved by almost all respondents answering the questions correctly. In general, the knowledge of the respondent (wet noodles manufacturers) on borax and formaldehyde was fairly good, but it did not reduce the willingness of the respondents to keep using borax and formaldehyde.
Penerimaan Konsumen terhadap Teh Celup Herbal Ruku-Ruku (Ocimum tenuiflorum L.) dengan Penambahan Bunga Kenanga (Cananga odorata) dan Daun Stevia (Stevia rebaudiana) Ayu Sahfitri; Ryan Moulana; Heru Prono Widayat
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.037 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v4i4.12515

Abstract

Teh herbal biasanya dibuat dari bagian tumbuhan seperti daun, bunga, biji, akar dan kulit kayu yang diseduh dengan air mendidih. Teh celup merupakan teh yang dibungkus dengan kertas yang memiliki pori-pori halus yang tahan panas. Pengolahan teh herbal celup yaitu dengan dilakukan penyotiran bahan baku, pengeringan dengan dijemur dibawah sinar matahari hingga kering, penghalusan bahan, pengayakan, pembungkusan atau pengemasan bahan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komposisi dari pembuatan teh celup herbal daun ruku-ruku dengan penambahan bunga kenanga dan stevia serta  untuk mengetahui  tingkat penerimaan  konsumen terhadap teh celup herbal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor 1 adalah yaitu Formulasi ruku-ruku dan Kenanga (K) dan faktor 2 adalah penambahan stevia (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi daun ruku-ruku dengan penambahan bunga kenanga (K) dan daun stevia (S)  tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar air dan nilai organoleptik pada uji hedonik yaitu warna, rasa. Penambahan stevia (S) berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar abu, sedangkan perbandingan percampuran ruku-ruku dan bunga kenanga (K) berpengaruh nyata (P0,05) terhadap uji organoleptik (hedonik) aroma. Hasil dari penerimaan konsumen yang paling bagus pada perlakuan K3S3 (ruku-ruku =2g:kenanga =0,4g: Stevia=0,7g) yaitu 6,85%. 
Kajian Pembuatan Bubuk Serai Dapur (Cymbopogon citratus) dengan Kombinasi Suhu dan Lama Pengeringan Syifaush Shadri; Ryan Moulana; Novi Safriani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.692 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v3i1.6435

Abstract

Abstrak. Tanaman serai merupakan tanaman herbal yang sering dijumpai sekitar perkarangan rumah atau kebun-kebun di Aceh.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengeringan terhadap mutu bubuk serai dapur yang dihasilkan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengolahan serai dapur menjadi bumbu dan meningkatkan nilai ekonomis dari serai dapur (Cymbopogon citratus)  serta dapat mempermudah pemanfaatan serai ke dalam masakan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor yaitu suhu pengeringan (S) dan lama pengeringan (W). Faktor 1 yaitu suhu pengeringan (S) terdiri atas 3 taraf meliputi S1= 40°C, S2= 50°C, dan S3= 60°C. Faktor kedua yaitu lama pengeringan (W) terdiri atas 2 taraf yaitu W1=24 jam, dan  W2=48 jam. Produk yang dihasilkan selanjutnya dianalisis kadar air, kadar abu, total flavonoid, aktivitas antioksidan, dan organoleptik (hedonik) untuk warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik yang ditentukan berdasarkan uji organoleptik hedonik adalah kombinasi perlakuan lama pengeringan 48 jam  dan suhu pengeringan  60°C (W2S3) dengan kadar total flavonoid 7,03% dan aktivitas antioksidan 46,67 %. Abstact. Lemongrass is one of herbs that are often found around home garden or plantation field in Aceh. The purpose of this research was to find out the influence of temperature and drying time to the quality of the generated lemongrass powder. The results of this study are also expected to be a reference in the processing of lemon grass into spices and increase the economic value of lemongrass kitchen (Cymbopogon citratus) and can facilitate lemongrass into the dish. This research was done by using factorial Randomized Block Design (RAK) with 2 factors ie drying temperature (S) and drying time (W). The first Factor was drying temperature (S) consisted of 3 levels of S1 = 40°C, S2 = 50°C, and S3 = 60°C. The second factor was the drying time (W) consisted of 2 levels of W1 = 24 hours, and W2 = 48 hours. The resulting product was then analyzed for water content, ash content, total flavonoid, antioxidant activity, and organoleptic (hedonic) for color and aroma. The results showed that the best treatment was W2S3 treatment (combination between 60oC and 48 hours drying) with a total flavonoid level of 7.03% and an antioxidant activity of 46.67%. This was determined based on organoleptic (hedonic) test.
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Bambu dan Kontribusinya Terhadap Pengerajin di Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues Syamsul Bahri; Ryan Moulana; Akhmad Baihaqi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.129 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v7i3.20944

Abstract

Abstrak, kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi deforestasi yang disebabkan oleh kegiatan manusia di antaranya ilegal loging, kebakaran hutan dan lahan, serta konflik kepentingan yang tidak lagi mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan menurunnya pasokan kayu, sehingga perlu dilakukan upaya pengelolaan hutan salah satunya meningkatkan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Peran para pelaku ekonomi pedesaan perlu mendapat perhatian seperti program pengembangan hasil hutan bukan kayu unggulan dan dapat mengoptimalkan bambu. Apabila pemanfaatan bambu sudah optimal dan mampu menjadi salah satu sumber utama pendapatan masyarakat pedesaan, salah satunya potensi bambu yang berada di kecamatan Dabun Gelang, sangat menjanjikan kedepannya, sehingga membuat masyarakat lebih mudah dalam mendapatkan hasil hutan. mengurangi ketergantungan terhadap hasil hutan kayu, dan dapat mengoptimalkan hasil hutan bukan kayu.Menentukan nilai ekonomi usaha kerajinan bambu yang dimanfaatkan. Data yang diperoleh melalui penelitian di lapangan baik melalui wawancara maupun kuesioner kemudian dianalisis. Kontribusi pengrajin bambu terhadap taraf perekonomian masyarakat Kecamatan Dabun Gelang dan perkembangan usaha Pengrajin bambu  layak dikembangkan.Utilization Of Non-Wood Forest Products (Ntfps) Bamboo A nd Its Contribution To Crafter Incomers In Dabun Gelang District, Gayo Lues RegencyAbstrack. In the last 10 years there has been deforestation caused by human activities, including illegal logging, forest and land fires, as well as conflicts of interest that no longer consider environmental sustainability. This condition causes a decrease in the supply of wood, so it is necessary to make forest management efforts, one of which is to increase the use of non-timber forest products. The role of rural economic actors needs attention such as development programs, superior and can optimize bamboo. If the use of bamboo is optimal and is able to become one of the main sources of income for rural communities, one of which is the potential of bamboo in the Dabun Gelang sub-district, very promising in the future, thus making it easier for the community to obtain forest products. reduce dependence on wood forest products, and optimize non-timber forest products. Determine the economic value of the bamboo handicraft business used. The data obtained through research in the field either through interviews or questionnaires are then analyzed . The contribution of bamboo craftsmen to the economic level of the people of Dabun Gelang Subdistrict and the development of bamboo craftsmen's businesses deserves to be developed.
Strategi Pengembangan Hutan Desa Gembulo Berkah Kampung Agusen Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues Cut Tika; Ryan Moulana; Abubakar Abubakar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.473 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18652

Abstract

Abstrak. Hutan desa adalah hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat desa. Penelitian ini bertujuan untuk Mengidentifikasi faktor–faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengelolaan hutan desa dan mengetahui strategi yang perlu dilakukan dalam pengelolaan hutan desa Kampung Agusen, agar dapat berhasil dengan baik. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif diskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini Faktor internal: Pemerintah Kabupaten Gayo Lues sangat mendukung dalam pengelolaan hutan desa, tingkat wawasan masyarakat dalam berusaha tani cukup tinggi, adanya tenaga pendamping dalam proses pengajuan ijin IUPHD, dan terbentuknya program kelompok patroli dalam hutan desa. Dan faktor eksternal: Potensi sumber pendapatan masyarakat, potensi penggunaan dan pemanfaatan fungsi hutan, perencanaan pengelolaan hutan desa diimplementasikan dengan pola tanaman campuran (agroforestri). Sedangkan strategi yang dapat ditawarkan dalam pengembangan hutan desa Gembulo Berkah Kampung Agusen, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh adalah strategi (S-T; Strenght-Threats), yaitu strategi diversifikasi, memanfaatkan seluruh kekuatan untuk menghindari ancaman.Abstract Village forest is a state forest managed by the village and used for the welfare of the village community. This study aims to identify the internal and external factors that influence the success of village forest management and to find out the strategies that need to be carried out in the management of the village forest of Kampung Agusen, in order to be successful. This research uses descriptive and quantitative qualitative research. The results of this study Internal factors: The Government of Gayo Lues Regency is very supportive in village forest management, the level of community insight in farming is quite high, the presence of assistants in the IUPHD permit application process, and the formation of a patrol group program in the village forest. And external factors: Potential sources of community income, potential use and utilization of forest functions, village forest management planning implemented with mixed cropping patterns (agroforestry). Meanwhile, the strategy that can be offered in the forest development of Gembulo Berkah village, Agusen Village, Gayo Lues Regency, Aceh Province is a strategy (S-T; Strength-Threats), namely a diversification strategy, utilizing all strengths to avoid threats.
Co-Authors . Satriana . Satriana Abubakar Abubakar Akhmad Baihaqi Akhsarul Habibi Amrina Maulida Ashabul Anhar Ashabul Anhar Asmawati Asmawati Ayu Sahfitri Bahlina Mohammad Nur Baringin Limbong Cut Tika Cut Yulvizar Desy Wulandari desy wulandari Dina Annisa Elvira Iskandar Faidha Rahmi, Faidha Ferizal Ferizal Hairul Basri Hendri Syah heriyanto ariga Heru Prono Widayat Hesti Meilina Imanuddin Nasri Indri Puspita Indah Indri Puspita Sari Iqbar Iqbar Irfan Irfan Ismail Sulaiman Jamaludin Jamaludin Juanda Juanda Kasrin Kasrin Lola Adres Yanti M. Dani Supardan M. Dani Supardan M. Ichwanul Afgan Hutasuhut M. Ichwanul Afgan Hutasuhut Maliq Mustapa Martunis - Martunis Martunis Martunis Martunis Martunis Martunis Martunis Martunis Martunis Martunis Matpiah Matpiah Mirna Rahmah Lubis MMSI Irfan ,S. Kom Muhammad Dani Supardan Muhammad Dani Supardan Muhammad Rusdi Muhammad Rusdi Munirayati Munirayati Murna Muzaifa Murna Muzaifa Murna Muzaifa Murna Muzaifa Mustaqimah Mustaqimah Nida El Husna Nilda, Cut Novi Safriani Novi Safriani Novi Safriani Novia Mehra Erfiza Novia Mehra Erfiza Putri Tawarnate Radiana Sofyan Rahmah Humairah Rahmin Rahmin Raida - Agustina Raida Agustina Reni Rafika Yani Reza Febri Pramanta Ria Rosika Rini Ariani Basyamfar Rizky Agustin Tanjung Saida Rasnovi Saida Rasnovi Salma Safrina Hashilah Harahap Santi Noviasari Satriana Satriana Satriana Satriana Satriana Satriana Satriana Serlinta Bangun Sri Haryani Sri Ningrum subhan subhan Subhan Subhan Sudirman Sudirman Sulasutri Sulasutri Syamsul Bahri Syifaush Shadri Teti Arabia Teuku Ferijal Teuku Muchlis Mz Teuku Rushariandi Trisma Rezeki Umi Fathanah Wardiah Wardiah Warhamna Warhamna Wirda Aina Yanti Meldasari Lubis Yulia Annisa Yulia Sari Ismail Yuliani Aisyah Yuliani Aisyah Yuliani Aisyah Zainuddin Zainuddin